Dilema

Dilema
Amarah Austin dan Soraya


__ADS_3

Gio masih berdiri di ujung lorong kamar hotel dimana tadi dia melihat Bagas menarik paksa Moetia.


Gio merasa sangat khawatir pada Moetia, karena tadi Gio mendengar Bagas berteriak dari dalam.


Setelah beberapa menit Gio menunggu, akhirnya Bagas keluar dari kamar itu dengan membanting pintu kamar itu sangat kencang.


Dia terlihat kesal saat keluar dan menuju ke lift.


Setelah Bagas masuk ke dalam lift, Gio mendekati kamar itu dan membukanya.


Matanya langsung tertuju pada Moetia yang sedang duduk dan menundukkan kepalanya di sofa.


Samar-samar Gio mendengar isakan dari Moetia,


Hati Gio sungguh hancur melihat Moetia dalam keadaan seperti itu,


"Moetia," lirih Gio dengan wajah yang sangat sedih.


Moetia menengok ke arah Gio lalu berlari memeluknya.


"Gio, aku ingin pergi dari sini. Cepat bawa aku pergi dari sini Gio!" pinta Moetia tanpa melepaskan pelukannya pada Gio.


Gio mengelus punggung Moetia dengan lembut,


"Aku akan membawamu pergi,!" seru Gio merenggangkan pelukannya


Gio merapikan rambut Moetia yang menutupi wajahnya, betapa terkejutnya dan marahnya Gio melihat bibir Moetia terluka seperti bekas gigitan.


Gio meraih dagu Moetia dan melihatnya lebih jelas,


"Moetia, apa Bagas yang melakukan ini?" tanya Gio penuh amarah.


Gio melepaskan Moetia dan melangkah keluar, tapi Moetia buru-buru menarik tangannya.


"Tidak Gio, kita pergi saja dari sini. Aku mohon!" pinta Moetia.


Mendengar permohonan Moetia, Gio pun hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan emosinya.


Gio memakaikan jaketnya pada Moetia lalu merangkul Moetia, dan mengajaknya keluar dari kamar itu.


Gio membawa Moetia ke mobilnya,


"Aku antarkan kamu ke rumah atau..."


"Tolong antarkan aku pulang ke rumah ku saja!" sela Moetia sambil memasang sabuk pengaman.


Gio mengangguk paham, lalu dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Moetia.


Sementara itu Bagas pergi ke mini bar yang ada di hotel itu, sejak tadi ayah dan ibunya terus menghubunginya tapi tidak dia hiraukan.


Tak lam kemudian, Austin datang menghampiri nya. Austin duduk di sebelah Bagas dan ikut memesan segelas minuman beralkohol.


Menyadari keberadaan Austin, Bagas membanting gelasnya ke lantai.


"Sial, bahkan untuk minum pun tidak ada tempat privasi bagiku!" keluh Bagas


Austin meminum minuman yang sudah disajikan bartender,


"Datang lah ke konferensi pers satu jam lagi, kita harus membersihkan nama baik Moetia!" seru Austin.


Bagas menoleh melihat Austin lalu terkekeh,

__ADS_1


"Sial! si bodoh Theodore Denisovich itu sudah mengacaukan segalanya!" keluh Bagas lagi.


Austin menepuk bahu Bagas,


"Dia memang bodoh, tapi dia melakukan semua ini karena dia perduli padamu! Reno sudah mengatasi situasi ini!" seru Austin.


Bagas kembali terkekeh,


"Apa yang bisa diatasi Reno, dia bahkan tidak pernah jatuh cinta. Bagaimana bisa dia mengatasi masalah cinta orang lain?" tanya Bagas.


"Kamu benar, dia memang tidak pernah jatuh cinta. Tapi semua itu dia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri. Dan masalah ini memang dia yang menyelesaikan nya!" jawab Austin yakin.


"Bagaimana si penakut itu melakukan nya?" tanya bagas lalu meminum minumannya lagi.


"Dia mengatakan pada Manda bahwa semua ini adalah kesalahan Theo, dia mengajakmu taruhan hingga semua ini terjadi. Kamu cukup hadir disana dengan Moetia dan Theo yang akan meminta maaf lalu menjelaskan segalanya pada media." jelas Austin.


Bagas meletakkan gelasnya di meja, dia mengingat apa yang tadi dilakukan nya pada Moetia, dan Bagas kini menyesalinya.


Melihat Bagas diam, Austin jadi khawatir.


"Dimana Moetia? jangan katakan kamu melakukan hal buruk padanya karena emosi?" tanya Austin cemas.


Bagas menoleh ke arah Austin sekilas lalu menunduk dan mengambil gelasnya lagi.


"Aku melakukannya," seru Bagas meminum semua minuman yang ada di gelasnya.


Austin mencengkeram kuat kerah baju Bagas hingga gelas yang di pegang Bagas terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan? jangan bilang kamu sudah melecehkannya?" tanya Austin geram.


Bagas hanya diam saja, melihat Bagas diam darah Austin seperti mendidih. Bagaimana pun dia sudah mengenal Moetia lebih dari dua tahun, bahkan Austin sudah menganggap Moetia seperti adik nya sendiri.


Austin menghempaskan Bagas dengan kuat hingga hampir terjatuh dari kursinya,


Austin mengepalkan tangannya, dan hampir melayangkan tinjunya pada Bagas tapi dia menahannya.


"Kamu mengatakan Theo bodoh, lihat dirimu sendiri! kamu benar-benar tidak ada bedanya dengan Theo, jika Moetia sampai pergi darimu. Aku bersumpah tidak akan menahannya untuk melakukan itu!" teriak Austin sangat kesal.


Bagas sungguh merasa sangat bersalah,


"Austin, dengar!"


"Diam!!" teriak Austin.


Austin berbalik dan melangkah menuju pintu keluar, tapi sebelum benar-benar keluar dia menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Bagas.


"Datang lah ke konferensi pers nya, dan bersihkan nama baik Moetia!" seru Austin lalu pergi.


Bagas memukul meja bar itu dengan kepalan tangan nya. Dia kembali meminta segelas minuman beralkohol lagi pada bartender.


"Tuan jika anda akan menghadiri konferensi pers, sebaiknya jangan minum lagi. Anda sudah minum lima gelas!" ucap bartender itu mengingatkan Bagas.


Bagas mengeluarkan sebuah kartu dari dompet nya dan memberikan nya pada bartender itu.


"Siapa namamu?" tanya Bagas pada bartender yang seumuran dengan adiknya Roni.


"Pujo tuan!" jawab nya sopan.


"Berapa usiamu?" tanya Bagas lagi


"Sembilan belas tahun tuan!" jawab nya lagi.

__ADS_1


"Sudah punya pacar?" tanya Bagas lagi.


Pujo menggelengkan kepalanya dengan cepat,


"Bagus, kamu tahu wanita itu benar-benar..." Bagas menggeleng kan kepalanya berkali-kali.


Sementara itu di ruang pertemuan, Theo dan Manda terlihat cemas karena tidak bisa menemukan Moetia dan Bagas.


Ponsel mereka bahkan tidak bisa dihubungi.


"Bagaimana? apa Moetia sudah bisa di hubungi?" tanya Theo pada Manda.


Manda memukul lengan Theo dengan kuat,


"Semua ini gara-gara kamu! kalian para pria selalu bertindak tanpa berfikir, benar-benar menyebalkan!" kesal Manda.


Theo mengerutkan dahinya sambil berdecak kesal.


'Kalian lah para wanita yang membuat kami kehilangan akal pikiran kami' batin Theo


Theo menjauh dari Manda dan mencoba menghubungi Bagas lagi.


Theo melihat Austin masuk ke dalam ruangan dan Theo segera menghampiri nya.


"Bagaimana? sudah menemukan Bagas?" tanya Theo cemas.


Austin malah berlalu melewati nya begitu saja dan menghampiri Manda.


Theo terlihat sangat kecewa, akhirnya dia memilih duduk dan terus menghubungi dan mengirimkan pesan pada Bagas.


Austin menarik lengan Manda,


"Telpon rumah Moetia, mungkin saat ini dia sudah pulang!" ucap Austin datar lalu melepaskan lengan Manda.


Manda mengangguk dan segera menghubungi rumah Moetia.


"Halo!" sapa Soraya


"Tante, ini Manda. Apa Moetia sudah pulang?" tanya Manda.


"Belum, Manda sebenarnya apa yang terjadi. Tante sangat mencemaskan Moetia?" tanya Soraya.


"Maaf Tante, sebenarnya semua ini salah Theo dan Bagas. Mereka bertaruh dan membuat Moetia jadi target mereka!" seru Manda gugup


"Apa!!" pekik Soraya


"Iya tante, tapi Tante jangan cemas. Sekarang mereka akan mengadakan konferensi pers dan menjelaskan segalanya dan membersihkan nama Moetia!" sahut Manda


"Astaga, para pria kaya itu sungguh tidak punya perasaan!" kesal Soraya.


"Dengar Manda, jika sesuatu terjadi pada Moetia. Tante akan melupakan bahwa Bagas itu adalah tunangan mu. Tante akan buat perhitungan dengannya!" kesal Soraya dan nada suaranya meninggi.


Manda terlihat takut, karena Soraya tidak pernah berkata kasar dan keras seperti ini sebelumnya.


"Maaf Tante," seru Manda.


"Kenapa kamu yang minta maaf, harusnya dua pria tidak berperasaan itu yang minta maaf" seru Soraya masih sangat kesal.


...💕💕💕💕💕💕💕...


...Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...

__ADS_1


...Think u ❤️...


__ADS_2