Dilema

Dilema
Kawin Lari


__ADS_3

Setelah makan malam Moetia ke kamar mamanya sambil membawa dokumen perjalanan bisnis nya.


Moetia mengetuk pintu kamar Soraya,


Tok! tok! tok!


"Ma, Moetia masuk ya!" seru Moetia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Soraya.


Saat itu Soraya sedang merapikan meja riasnya,


melihat Moetia masuk Soraya menoleh,


"Iya sayang, ada apa?" tanya Soraya lembut.


Moetia duduk di depan Soraya dan memberikan dokumen perjalanan bini bisnisnya ke Singapura.


Soraya meraih map yang diberikan oleh Moetia dan membacanya.


Wajahnya mendadak berubah sedih,


"Apa ini Moetia besok kamu harus ke Singapura dan itu untuk satu minggu! Astaga kenapa baru mengatakannya sekarang nak?" tanya Soraya sedih.


"Aku juga baru menerima tugas ini tadi siang ma dari dari Om Chairul!" jawab Moetia apa adanya.


"Sayang, satu Minggu dan keluar negeri." ucap Soraya lagi lalu berpindah tempat duduk di samping moetia.


Soraya menggenggam erat tangan putri tunggalnya itu,


"Bagaimana ini, apa tidak bisa di cancel?" tanya Soraya.


Moetia menggelengkan kepalanya,


"Ini urusan pekerjaan ma, mama tidak perlu cemas! akan ada banyak karyawan lain disana, bukan hanya aku saja!" terang Moetia agar mamanya tidak mengkhawatirkan nya.


Seharusnya setelah mendengarkan penjelasan Moetia, Soraya tenang. Tapi tetap saja Soraya mencemaskan Moetia, bagaimana pun juga Moetia belum pernah ke luar negeri sendirian. Sebelumnya pasti bersama dirinya dan Aries.


Tak lama, Aries keluar dari kamar mandi. Dia mendekati Sora yang terlihat sedih.


"Kamu apakan mama mu nak? kenapa dia terlihat sedih seperti itu?" tanya Aries lalu mengambil kacamata nya dan mengambil sebuah buku yang ada di atas meja.


Aries duduk bersandar di sandaran tempat tidur lalu membuka bukunya.


Sebelum Aries membaca buku, Soraya meletakkan dokumen Moetia di atas buku yang hendak Aries baca.


"Apa ini?" tanya Aries


"Lihat putrimu! katanya besok pagi dia harus pergi ke Singapura selama satu minggu untuk perjalanan bisnis dan dia baru memberitahuku sekarang!" keluh Soraya.


Aries malah terkekeh pelan,


"Lalu apa masalahnya? ini juga kan untuk urusan bisnis urusan pekerjaan jika ingin anakmu sukses maka jangan menghalanginya, Moetia juga harus mandiri. Lagipula perjalanan bisnis seperti ini dia tidak akan sendirian, benarkan Moetia?" tanya Aries menoleh ke Moetia.


Moetia menganggukkan kepalanya, dan Soraya berdecak kesal.


"Iya, tapi ini terlalu mendadak bahkan mungkin Moetia belum menyiapkan pakaiannya ya kan?" tanya Soraya menoleh ke Moetia.


Moetia lagi-lagi menganggukkan kepalanya, dan membuat Aries terkekeh lagi.


"Sudah lah nak, jangan cemaskan mama mu! kadang dia memang suka berlebihan. Daripada kamu memikirkan yang tidak-tidak. Lebih baik pijat pundak suami mu ini, rasanya pegal sekali!" seru Aries menggoda Soraya.

__ADS_1


Moetia tersenyum lalu mengambil dokumen nya,


"Baiklah, Laila dan Majenun. Lanjutkan lah keromantisan kalian. Anak kalian ini akan bersiap-siap dulu. Selamat malam!" ucap Moetia sambil mengedipkan sebelah matanya pada papa nya.


Moetia lalu keluar dari kamar Soraya dan Aries.


"Sudahlah ma, Moetia sudah dewasa dia sudah dua puluh lima tahun, biarkan dia mandiri. Kita hanya perlu percaya padanya. Apa kamu lupa? saat seumuran Moetia dulu kamu bahkan sudah punya putri kecil berumur tiga tahun kan?" tanya Aries yang sebenarnya menggoda Soraya lagi.


Wajah Soraya merona, dia segera bangkit dari duduknya dan hendak keluar.


"Mau kemana? pijit aku dulu!" seru Aries.


Soraya berdecak kesal tapi tetap mengikuti kemauan suami tercintanya yang sudah menemani nya selama lebih dari dua puluh tujuh tahun.


Di dalam kamar, Moetia sedang memasukkan pakaian dan keperluan lainnya ke dalam koper nya.


Tiba-tiba saja Manda masuk, karena pintu kamar Moetia memang masih dia buka.


"Hei, kamu mau kemana? apa kamu akan pindah ke apartemen yang diberikan oleh Theo itu?" tanya Manda antusias.


Moetia menggeleng kan kepalanya dengan cepat.


Manda duduk di samping Moetia meletakkan kopernya,


"Lalu untuk apa kamu memasukkan pakaian mu ke dalam koper? jangan bilang kamu mau kawin lari dengan Gio karena om Aries tidak menyukai Gio?" tanya Manda menduga-duga.


Moetia sampai tergelak mendengar ucapan Manda,


"Apa kamu bilang? kawin lari? pikiran dari mana itu Manda?" tanya Moetia balik.


"Mungkin saja kan!" sahut Manda.


Moetia menutup kopernya dan meletakkan nya di lantai.


"Oh ya, tadi kamu bilang Papa tidak menyukai Gio! kenapa kamu bisa bilang seperti itu? tanya Moetia penasaran.


"Dulu waktu kamu tidak ada kabar saat ke luar kota itu, om dan Tante mengajakku menemui Gio untuk tahu apakah kamu menghubunginya!" jelas Manda.


"Lalu?" tanya Moetia.


Manda tersenyum,


"Penasaran banget ya?" tanya nya balik.


"Ayolah Manda, aku hanya ingin tahu kenapa papa tidak suka pada Gio!" seru Moetia.


"Baiklah, dan saat aku bilang kita bisa menemuinya di cafe, om bertanya kenapa menemuinya di cafe? aku jelaskan bahwa dia adalah seorang penyanyi dengan kontrak eksklusif di cafe! Dan reaksi om Chairul saat itu sangatlah tidak senang. Sepertinya dia mempermasalahkan pekerjaan Gio itu! Jadi katakan padaku, apa kamu benar-benar akan kawin lari dengan Gio?" tanya Manda lagi.


Moetia terkekeh geli,


"Astaga Manda, pikiranmu itu benar-benar ya!" seru Moetia.


"Aku ada pekerjaan ke Singapura selama satu minggu. Bukan mau kawin lari dengan Gio. Lagipula aku dan Gio hanya berteman!" jelas Moetia.


Manda tetap memasang ekspresi wajah tak percaya,


"Benarkah? tapi kalian itu serasi lho!" ucap nya semakin memaksa.


"Sudahlah, aku juga tidak akan mampu bersaing dengan ribuan penggemar wanitanya kan?" tanya Moetia menggoda Manda.

__ADS_1


"Pasti bisa Moetia, kamu hanya sedikit lebih berumur!" sahut Manda membalas Moetia.


Moetia membulatkan matanya,


"Apa maksud nya itu?" tanya Moetia sambil berdiri dan menggulung lengan bajunya.


Manda tertawa dan berlari keluar,


"Maksud nya kamu sedikit tua Moetia!" teriak Manda yang sudah berlari keluar dan turun ke lantai bawah.


Moetia menutup pintunya ketika ponselnya berdering, Moetia meraihnya dan melihat ke layar ponsel dengan tulisan.


*Bagas calling...*


"Halo," sapa Moetia.


"Hai sayang, kamu sedang apa?" tanya Bagas lembut.


"Baru selesai packing, dan baru selesai mengobrol dengan tunangan mu!" jawab Moetia lalu duduk dan bersandar di sandaran ranjang nya.


"Moetia!" protes Bagas.


"Aku hanya bercanda, kamu sendiri sedang apa?" tanya Moetia mengalihkan pembicaraan sebelum Bagas murka.


"Sama denganmu, aku baru selesai packing dan mertua mu baru keluar dari kamarku!" seru Bagas menggoda Moetia.


Blush!


Wajah Moetia memerah, mungkin Bagas akan makin menggodanya jika melihat wajah Moetia yang merona saat ini.


"Sayang, aku video call ya!" seru Bagas.


"Tidak!" jawab Moetia dengan cepat.


Terdengar kekehan suara Bagas di ujung telepon.


"Padahal aku ingin melihat wajahmu saat ini!" seru Bagas.


"Terus saja, aku akan tutup teleponnya!" gertak Moetia kesal.


"Baiklah, maaf. Oh ya, aku harap papa dan mamamu mengijinkan mu!" seru Bagas.


"Iya, papa dan mama mengijinkan, tapi apa kamu tahu saat Manda melihat ku berkemas apa yang dia katakan?" tanya Moetia.


"Aku tidak tertarik dengan apa yang dia katakan sayang!" sahut Bagas santai.


"Huh benarkah? dia mengira aku akan kawin lari dengan Gio!" seru Moetia memancing reaksi Bagas.


"Apa?" pekik Bagas.


Moetia terkekeh,


"Reaksi mu berlebihan Bagas!" sahut Moetia senang berhasil membalas Bagas.


"Senang ya temanmu mengira seperti itu, baiklah aku akan kesana dan mengajak mu kawin lari sekarang juga!" seru Bagas.


"Apa?" tanya Moetia tidak percaya.


...💚💚💚💚💚💚💚💚...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 💛💛💛...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2