Dilema

Dilema
Senang Di atas Penderitaan Orang Lain


__ADS_3

Chairul membawa Belinda ke rumah sakit. Saat menuju ke rumah sakit Belinda sempat tersadar dan terus menyebut nama Bagas.


Chairul meminta Reno menjemput Bagas dan membawanya ke rumah sakit karena sangat mencemaskan kondisi Belinda.


Reno pun pergi ke apartemen Bagas, setelah bertemu Bagas Reno menceritakan segalanya pada Bagas. Tentang apa yang menyebabkan Belinda sampai jatuh pingsan.


Reno sengaja mengajak Bagas mengobrol di balkon apartemen agar Moetia tidak mendengar percakapan mereka.


"Dasar perempuan sial**. Dia benar-benar tidak tahu malu ya!" rutuk Bagas kesal.


"Tenang dulu, sekarang kita harus ke rumah sakit dan menemani Tante Belinda dalam masa sulitnya ini!" seru Reno.


Bagas terlihat berfikir.


"Lalu bagaimana dengan Moetia, dia juga belum sehat benar." kata Bagas.


Reno juga memikirkan hal itu.


"Tapi apa menurutmu kita benar-benar tidak perlu memberitahukan padanya kabar yang sebenarnya. Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya berita itu sudah masuk media sosial, media cetak dan elektronik. Benjamin sedang berusaha tapi belum bisa menghapus semuanya!" jelas Reno.


"Sebentar!" ucap Bagas lalu menggeser pintu balkon dan melangkah menuju kamar dimana Moetia berada.


Moetia sedang membaca sebuah buku novel di tangannya. Sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya.


"Siapa yang datang?" tanya Moetia karena sejak Bagas membuka pintu ketika ada bel tadi dia belum kembali ke kamar.


"Oh, itu tukang servis elektronik, televisi kita rusak sayang. Jangan menyalakan nya nanti kamu bisa tersengat aliran listrik. Tukang nya akan pulang dulu membeli alat yang di perlukan. Sayang aku ada urusan, aku pergi sebentar ya!" kata Bagas lembut.


"Ini sudah malam! kamu mau kemana?" tanya Moetia.


"Menemui ibu ku!" jawab Bagas cepat.


Moetia mengangguk paham.


"Baiklah, hati-hati di jalan ya." sahut Moetia.


Moetia sadar bahwa ibunya Bagas belum tahu tentang pernikahan mereka. Jadi Moetia memilih untuk tidak membuat Belinda terkejut mengingat riwayat penyakit jantung yang dia derita.


Bagas pun pergi ke rumah sakit bersama Reno.


Di tempat lain, di sebuah cafe. Gio baru saja akan tampil. Tapi dia terkejut mendengar beberapa orang bergunjing tentang Manda.


Gio memperhatikan ucapan mereka sambil menyetel gitarnya.


"Ih, gak nyangka ya sahabatnya sendiri lho yang nikung. Sampai nikah diam-diam. Kasian banget sih si Manda!" seru seorang penonton perempuan yang duduknya paling dekat dengan panggung.


Konsentrasi Gio mulai terpecah, dia jadi tidak fokus sampai harus mengganti chord beberapa kali.


Diana yang memang selalu memperhatikan penampilan Gio melihat nya dari jauh dan tahu Gio sedang tidak nyaman.


Diana mendekati panggung dan menanyakan apakah Guo baik-baik saja.

__ADS_1


"Hei, apa kamu sakit?" tanya Diana sedikit berbisik dekat dengan Gio.


"Tidak kak, aku baik-baik saja." Jawab Gio yang mulai memetik senar gitarnya.


Diana sedikit menjauh dan memperhatikan penampilan Gio.


Sebuah lagu tentang cinta dia selalu nyanyikan untuk seseorang yang bahkan tidak percaya saat Gio mengungkap kan perasaan nya.


Mata Gio menatap nanar ke depan dengan lantunan musik dari gitarnya.


🎶Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan ku bicara


Agar kau juga dapat mengerti


🎶Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah kulupa kurasakan


Tanpa tahu mengapa


Yang kutahu inilah cinta


🎶Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


🎶Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


🎶Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyuman mu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


🎶Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


🎶Cinta karena cinta

__ADS_1


Jangan tanyakan mengapa


🎶Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


🎶Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Suara tepuk tangan bergemuruh, tapi tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa sang penghibur hatinya sangat lah kesepian.


Di rumah Moetia, Soraya masih sibuk menghibur Malika yang benar-benar sangat sedih melihat kelakuan anaknya itu. Berkali-kali di hubungi Manda yang nomernya aktif tidak menerima panggilan dari Malika. Bahkan tidak membalas satu pun pesan yang dikirimkan Malika padanya.


"Dia pasti baik-baik saja!" seru Soraya menenangkan Malika.


"Jangan membelanya terus Soraya, anak itu benar-benar keterlaluan!" seru Malika kesal.


Sementara itu di apartemen barunya Manda sedang asik melakukan perawatan kecantikan bersama Olivia dan Berty teman satu agency nya.


"Tuh, bener kan apa kata ku. Video kamu pasti viral!" seru Berty yang bangga karena ide konferensi pers ngenes itu datangnya dari dia.


Manda dan Olivia mengangguk dan tertawa senang.


"Tahu gitu, aku juga mau dong bikin video biar viral! kayak si Manda!" sambung Olivia.


"Cus, Sono cari pacar orang kaya dan famous. Kalo pacar kamu cuma fotografer sih sudah viral nya!" seru Berty sambil cekikikan.


Mendengar ponsel Manda terus berdering. Berty meminta Manda memeriksanya terlebih dahulu.


Manda yang sedang melakukan perawat kuku sangat malas mengangkat teleponnya.


"Males ah, siapa juga yang telepon malam-malam gini. Biarin aja!" jawabnya yang merasa mengecat kukunya lebih penting dari pada mengangkat telepon.


"Tapi bener gak sih berita itu Manda?" tanya Berty penasaran.


"Ih, sis kepo di kurangin ya! yang penting kan endors bertaburan dan syuting iklan berhamburan. Situ juga kan ikut kebagian seneng!" seru Olivia.


Manda tidak menjawab kedua temannya itu, dia masih serius dengan apa yang dilakukannya.


"Lagian ya Manda, ku itu cantik terkenal pula. Ngapain sih betah banget bertahun-tahun nungguin Bagas Chairul Wiguna itu?" tanya Berty lagi.


Di bandingkan dengan Olivia, Berty memang lebih kritis bertanya orangnya. Dia juga ikut berperan dalam konferensi pers itu karena pacarnya adalah salah satu pemilik sebuah perusahaan pertelevisian.


"Kalo Berty sih gak mau tuh jadi budak cinta. Kita ini model lho, yang kita jual apa? penampilan. Lama-lama makin tua makin peyot mana ada yang mau pakai kita lagi, kalau Berty gak mau tuh ngandelin cinta buat hidup. Mumpung masih cantik, nikmati hidup ada cowok kaya yang mau serius ajakin nikah. Udah bahagia di hari tua!" cuap cuap Berty masih sambil membalurkan lulur ke kedua kaki dan tangannya.


Manda memperhatikan ucapan Berty dengan baik. Kalau di pikir-pikir benar juga katanya. Manda menggelengkan kepala sekilas lalu lanjut mewarnai kukunya.


Dia tidak tahu bahwa karena ulahnya ibunya sangat sedih dan cemas. Dan karena ulahnya pula Belinda sampai masuk rumah sakit.

__ADS_1


Sementara dia bisa tertawa dan melakukan perawatan kecantikan dengan santai bersama teman-teman nya.


__ADS_2