Dilema

Dilema
Kesalahpahaman Manda


__ADS_3

Di kediaman Bagas, Belinda dan Chairul di buat terkejut atas tindakan Bagas yang terekam oleh para wartawan dan sudah menyebar kemana-mana.


"Apa perempuan yang dimaksud Bagas itu adalah Moetia?" tanya Belinda pada Chairul.


"Anak itu, benar-benar!" teriak Chairul kesal.


Roni bahkan sampai menutup telinganya mendengar teriakan Chairul.


Tak kalah heboh, Soraya yang melihat berita di televisi sampai menangis karena berita yang tersebar itu.


Bagaimana bisa Bagas mencium sahabat dari tunangannya sendiri didepan pacar dan tunangan mereka.


Soraya mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Moetia, tapi tak bisa.


Dia akhirnya menghubungi Aries


"Halo ma!" sapa Aries


"Pa, apa papa sudah mendengar berita tentang Moetia?" tanya Soraya sambil menangis.


"Ada apa ma? jangan menangis. Bicara dulu, papa baru selesai meeting, dan belum melihat berita apapun!" seru Aries cemas.


"Moetia pa, Moetia," Soraya tidak bisa melanjutkan kalimatnya dan malah terisak.


"Mama tenang dulu, papa pulang sekarang ya. Tunggu papa!" seru Aries


Soraya masih terus menangis, seorang asisten rumah tangga nya menghampirinya dan memberikannya tissue.


"Bibi sudah lihat berita di televisi tentang nona Moetia, nya. Dan bibi percaya pada nona, gadis yang kita rawat dan kita lihat dia bertumbuh dari kecil hingga sekarang itu tidak akan melakukan hal yang tidak baik, nya. Nyonya jangan cemas, masalah ini pasti akan cepat selesai." ucap sang bibi yang sudah bekerja puluhan tahun pada keluarga Soraya.


Soraya menghapus air matanya, dan merangkul asisten rumah tangganya itu.


"Makasih ya Bi, tapi pemikiran seperti itu hanya bagi kita yang sudah mengenalnya puluhan tahun. Bagi orang luar,! Soraya menggelengkan kepalanya berkali-kali


"Entah apa yang akan dipikirkan orang luar tentang Moetia," seru Soraya dan kembali menangis.


Si bibi yang sedih melihat nyonya nya begitu sedih juga ikut menangis.


Sementara itu di hotel, Manda sedang sibuk mencari Theo. Dia bertanya pada resepsionis kamar atas nama Theo.


Setelah tahu nomer kamarnya, Manda segera mencari Theo.


Tibalah Manda di depan pintu kamar Theo, dia segera membukanya dan melihat Theo yang sedang duduk mengelus rahangnya yang tadi terkena bogem mentah dari Bagas.


"Theo, ada apa dengan wajahmu?" tanya Manda lalu duduk di depan Theo sambil menyentuh memar lebam di rahangnya.


"Bibir mu sobek? sebaiknya kita ke rumah sakit!" seru Manda.


Theo menepis tangan Manda,


"Tidak perlu," sahutnya singkat.


Theo lalu memperhatikan Manda, tidak ada raut kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa kemari?" tanya Theo


"Ku kira kamu sedang naik ke jembatan penyeberangan dan lompat dari atas sana!" ucap Theo terus terang.


Manda berbisik ngeri,


"Apa aku segila itu?" tanya Manda


"Soal Moetia dan Dimas tadi, akulah yang harusnya disalahkan..."


"Aku tahu!" sela Manda santai.


Theo terlihat bingung,


"Maksudmu?" tanya Theo.


"Aku tahu kamu dan Bagas bertaruh kan? Reno sudah mengatakan nya padaku. Tapi aku kemari ingin protes padamu! Kalian para pria harusnya tidak boleh bertaruh hal semacam itu, taruhan mencium seorang wanita, apalagi di depan pacarnya! Kalian keterlaluan!" seru Manda.


Theo benar-benar dibuat terperangah dengan apa yang baru saja Manda jelaskan.


Jadi dia mengira semua kejadian tadi karena taruhan nya dengan Bagas?


"Lalu?" tanya Theo pura-pura bodoh.


Manda menarik tangan Theo agar berdiri,


"Lalu apa lagi? jelaskan pada semua orang bahwa ini semua adalah perbuatan konyol kalian, atau Moetia akan jadi bulan-bulanan nantinya!" seru Manda.


Theo menepis tangan Manda,


"Buat acara konferensi pers lagi, kalau perlu hari ini juga!" seru Manda


Theo berfikir sejenak, mungkin ada baiknya ucapan Manda ini. Setidaknya nama baik tiga perusahaan akan terselamatkan.


"Baiklah, aku akan hubungi Austin!" jawab Theo


"Lalu dimana Moetia? bukankah tadi kamu membawanya?" tanya Manda celingukan mencari Moetia.


"Dia sudah pergi!" jawab Theo singkat


"Lalu apa yang terjadi dengan rahang mu itu? apa Moetia yang melakukannya?" tanya Manda.


Theo terdiam, dan Manda malah terkekeh..


"Ha ha ha rasakan itu, makanya jangan seenaknya menjadikan kami kaum wanita taruhan! rasakan!" seru Manda mengejek Theo.


'Wanita ini tidak tahu, bahwa dirinya sedang berjalan di benang yang tipis' batin Theo


"Berhenti menertawakan ku Manda, atau saat kamu menangis nanti aku tidak akan menghibur mu!" seru Theo


"Itu tidak mungkin, kamu akan selalu datang menghibur ku saat aku sedih dan menangis!" ucap Manda penuh percaya diri.


Theo hanya menggeleng kan kepalanya.

__ADS_1


"Oh ya, Theo. Apa kamu melihat Bagas?" tanya Manda pada Theo.


Theo mengangkat bahunya sekilas,


"Tidak tahu dan tidak perduli!" jawabnya ketus.


Manda mengibaskan tangannya,


"Sudahlah, aku akan mencarinya sendiri. Jangan lupa konferensi pers nya agar masalah ini cepat selesai!" seru Manda sebelum keluar dari kamar Theo.


Theo lalu menghubungi Austin,


"Halo, apa kamu sedang kesakitan? mau ku antar ke rumah sakit?" tanya Austin


"Aku tidak selemah itu, aku ingin minta kamu mengadakan konferensi pers lagi!" kata Theo sambil mengelus rahangnya yang masih nyeri.


"Untuk apa? Kamu pikir aku tidak ada kerjaan lain apa?" tanya Austin


"Oh aku tahu! kamu pasti ingin mengumumkan kebodohanmu pada seluruh dunia?" tanya Austin lagi mengejek Theo.


"Austin, aku ini adik ipar mu! apa kamu sama sekali tidak menghargai pilihan Audrey?" tanya Theo kesal


"Aku rasa saat Audrey menerimamu dia sedang sakit mata! mungkin juga dia bahkan buta!" sahut Austin cuek.


"Kamu yang sakit mata!" balas Theo


"Jaga bicaramu tuan muda, kamu sedang meminta bantuan ku, apa kamu ingin juga pukulan di rahang kiri mu!" peringatan dari Austin pada Theo.


"Baiklah, baiklah aku to the point saja. Reno telah menyelesaikan masalah ini." jelas Theo


"Benarkah? sejak kapan dia sepintar itu?" tanya Austin tak percaya


"Tadi Manda menemui ku, aku heran kenapa dia bahkan tidak menangis setelah kejadian tadi. Ternyata Reno mengatakan padanya bahwa aku dan Bagas sedang bertaruh siapa yang berani mencium Moetia di depan umum!" terang Theo


"Penjelasan macam apa itu, kalian anggap Moetia itu apa? itu sama saja kalian mempermalukan Moetia! " protes Austin.


"Hei kakak ipar, kamu tahu benar bahwa hal sebenarnya bukan itu. Aku minta kamu mengadakan konferensi pers dan aku akan meminta maaf pada Moetia di acara itu." jelas Theo.


"Kamu memang harus melakukan nya, semua ini memang salah mu!" sambung Austin kesal


"Iya aku tahu, jadi tolonglah. Kalau bisa hari ini juga!" pinta Theo.


"Baiklah, aku usahakan. Paling lambat nanti malam." jawab Austin yakin


"Thanks bro!" seru Theo


Theo menyimpan kembali ponselnya, dia duduk lagi di atas sofa dan memijit pelipisnya sendiri.


"Aku tidak menyangka, semua akan jadi rumit begini? Theodore Denisovich kamu benar-benar dalam masalah!" gerutunya sendiri.


...💕💕💕💕💕💕💕💕...


...Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...

__ADS_1


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2