
Setelah makan siang, Bagas dan Moetia memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi pantai karena cuacanya cukup bersahabat. Tidak terlalu terik, malah sedikit mendung.
Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan, sesekali Bagas mencuri-curi untuk sekedar mencium pipi Moetia yang bersemu merah karena Bagas terus saja memanggilnya istri ku sepanjang jalan.
Mendung makin pekat, Bagas mengajak Moetia kembali ke penginapan mereka.
Moetia perlahan menghentikan langkahnya, dia melihat ke arah laut yang sedang pasang.
Hingga ombak pun mengenai kakinya sangat kencang.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Sepertinya akan pasang, apa kita aman tinggal di penginapan? penginapan kita kan di atas laut!" tanya Moetia.
Bagas tersenyum.
"Tenang saja sayang, bangunan itu berdiri di atas pondasi yang kuat, jika tidak mana mungkin selama bertahun-tahun masih berdiri kokoh meskipun didirikan di atas laut!" jelas Bagas.
Moetia mengangguk paham, tadinya dia cemas.
Bagas menggenggam kedua tangan Moetia lalu mengecup nya mesra.
"Pernikahan kita juga akan seperti itu, landasan cinta yang sangat kuat akan membuat kita berdua mampu menghadapi segala rintangan bahkan badai yang terjadi di masa depan nanti." ucap Bagas penuh keyakinan.
Moetia tersenyum mendengar apa yang baru saja Bagas katakan.
Bagas memeluknya dan mereka berdua melihat ke arah laut, sesekali deru ombak menyapu kaki mereka.
"Apa kamu ingat, kita pernah bertemu di pantai saat malam hari?" tanya Bagas.
Moetia mengangguk perlahan,
"Sejak saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkan mu!" aku Bagas.
Moetia terdiam dan menatap manik mata menghanyutkan milik Bagas.
"Aku seperti tersihir oleh mu, sejak pertama kali menyentuh tanganmu, rasanya aku ingin selalu menyentuhnya, ada yang kurang saat kamu jauh dariku!" lanjut Bagas.
Bagas menyentuh lembut wajah Moetia,
"Aku sepertinya sudah cinta mati padamu istriku!" ucap Bagas lembut.
Bagas mendekatkan dahinya ke dahi Moetia, dia sudah lega karena mencurahkan segala isi hatinya pada wanita yang sangat dicintai nya itu.
"Moetia, apapun yang terjadi di masa depan. Atau setelah kita kembali ke Bandung nanti, berjanjilah padaku, jangan pernah meninggalkan aku!" pinta Bagas dengan suara lembut dan tatapan mata yang sendu.
Moetia tersenyum,
"Aku berjanji, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, walaupun kamu yang memintanya!" sahut Moetia.
"Apa aku sudah tidak waras? mana mungkin aku memintamu pergi!" bantah Bagas.
Moetia hanya tersenyum lalu memeluk Bagas. Mereka menghabiskan waktu mengobrol dan terus menyusuri pantai.
Hingga gerimis turun lalu Bagas menggandeng tangan Moetia dan mengajaknya berlari menuju penginapan.
Sebelum Bagas dan Moetia sampai di penginapan mereka, hujan sudah turun deras.
__ADS_1
Mereka berdua jadi basah kuyup saat tiba di penginapan.
"Maaf sayang, kamu jadi basah kuyup begini!" sesal Bagas mencoba menyapu air yang membasahi rambut dan wajah Moetia.
"Tidak apa-apa, ayo cepat masuk. Kita harus mandi dan mencuci rambut kita, atau kita akan terkena flu!" seru Moetia.
Bagas langsung membuka pintu penginapan dan mengambilkan handuk untuk Moetia.
"Kamu duluan!" seru Bagas meletakkan handuk yang diambilnya tadi ke kepala Moetia.
Moetia tersenyum,
"Baiklah!" jawab Moetia lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Selagi Moetia mandi, Bagas pergi ke area dapur dan menyiapkan teh manis hangat untuk istrinya tercinta.
Bagas mengambil cangkir bersih yang ada di rak piring di atas meja.
Bagas memanaskan air dan membuka toples gula.
Bagas berfikir untuk membuatkan teh yang istimewa untuk istrinya.
Dia memasukkan teh, gula, susu dan menambahkan sedikit lada ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih.
Yang dipikirkan Bagas adalah dengan menambahkan lada, teh nya akan semakin menghangatkan Moetia.
Bagas menyaring teh ke dalam cangkir, tanpa mencicipinya dia hanya mencium aroma yang segar dari teh itu.
Bagas membawa teh itu ke dalam kamar dan meletakkan di atas meja rias Moetia.
Bagas mengambil secarik kertas dan pulpen lalu menulis,
Bagas meletakkan secarik kertas yang berisikan kata-kata romantisnya itu di bawah cangkir teh yang dia siapkan untuk Moetia.
Bagas segera mengambil pakaian ganti dan menunggu Moetia keluar dari kamar mandi.
Beberapa detik kemudian Moetia keluar,
"Cepat sekali!" ucap Bagas.
"Sudah selesai!" jawab Moetia.
Bagas lalu mengecup pipi Moetia dengan cepat sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Moetia hanya tersenyum melihat tingkah Bagas yang menurutnya begitu lucu, dan Moetia sangat menyukainya.
Moetia berjalan ke arah meja rias. Senyum kembali merekah di bibirnya ketika melihat secangkir teh hangat dan secarik kertas di bawahnya.
Moetia meraih kertas itu dan membacanya, senyumnya makin lebar. Karena sangat senang dia sampai mengecup kertas itu.
'Bagas, kamu romantis sekali. Apakah sekarang ini aku harus mulai memanggilnya suami!' batin Moetia.
Moetia mengetuk kepalanya dengan tangannya sendiri.
"Apa yang aku pikirkan?" gumamnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Moetia lalu kembali melihat tulisan itu, dia mengambil lipstik merahnya dan memakainya.
__ADS_1
Setelah memoles lipstik di bibirnya dia kembali mengecup kertas itu.
Bekas bibir Moetia menempel sempurna disana.
Dia lalu duduk dan meminum teh yang dibuatkan Bagas, tapi..
Pruftt!
Moetia menyemburkan lagi teh yang baru saja dia minum.
"Em, ini apa sih?" gerutu Moetia sambil mengelap bibirnya.
Moetia meletakkan kembali cangkir itu di tempatnya lalu mengeringkan rambutnya dan menyisirnya. Moetia membiarkan rambutnya yang panjang terurai begitu saja.
Beberapa saat kemudian Bagas keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos dan celana pendek.
"Sayang, sudah minum tehnya?" tanya Bagas sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Moetia sebenarnya ingin protes karena teh buatan Bagas itu sangat aneh, manis tapi aneh.
Moetia berbalik,
"Sudah, terimakasih banyak ya." seru Moetia.
"Bagaimana rasanya?" tanya Bagas mendekati Moetia lalu mengecup puncak kepalanya.
Moetia bingung harus menjawabnya bagaimana,
"Bagas, apa saja yang kamu masukkan ke dalam cangkir itu?" tanya Moetia lembut.
Bagas mengernyitkan dahi nya,
"Apa rasanya tidak enak? aku akan mencobanya!" seru Bagas mendekati meja rias.
Tapi sebelum Bagas meraih cangkir teh yang berada di atas meja.
Moetia memeluknya dari belakang.
"Bukan seperti itu, aku hanya bertanya apa saja yang kamu masukkan ke dalam cangkir itu? rasanya begitu istimewa, aku mengira kamu memasukkan bumbu cinta di dalamnya?" tanya Moetia menghalangi Bagas agar tidak meminum teh anehnya.
Moetia tidak ingin Bagas merasa sedih karena minuman yang telah susah payah dia buat rasanya tidak enak.
Bagas berbalik dan mengusap kepala Moetia lembut.
"Sayang, kamu sedang merayu ku ya?" tanya Bagas dengan senyuman menyeringai.
Moetia tersenyum kikuk, sepertinya dia sudah salah bicara.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Para readers ku yang tercinta terimakasih masih setia bersama BAMOeT ya....
Maaf jika bab yang kalian baca kurang panjang, tapi sebenarnya sudah lebih dari seribu kata lho! 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak Like kalian, juga komentar nya ya....
Karena sesungguhnya setiap jempol dari kalian itu adalah penyemangat bagi kami para penulis.
__ADS_1
Terimakasih ❤️❤️❤️