Dilema

Dilema
Chairul's Mission 3


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bagas sudah menarik kaki Theo yang masih berada di alam mimpi.


"Bangun!" teriak Bagas.


Theo membuka matanya perlahan lalu duduk dan mengucek matanya pelan.


"Ada apa? ini masih pagi!" protes Theo.


"Cepat mandi, Moetia sudah menunggu kita!" seru Bagas.


Theo menepuk jidatnya sendiri,


"Astaga aku lupa, ini kan hari pernikahan mu.."


Mulut Theo di bungkam oleh Bagas dengan tangannya,


"Diam, cepat mandi. Aku tunggu di mobil. Cepatlah!" perintah Bagas pada Theo.


Bagas keluar dari kamar Theo dan menuju ke kamar Moetia.


Bagas melihat Moetia masih berdiri diam menatap ke arah meja, seperti nya dia sedang memikirkan sesuatu yang berat, matanya bahkan tak berkedip untuk beberapa detik.


Bagas memeluk Moetia dari belakang, lalu mencium puncak kepala Moetia, tentu saja itu karena tinggi mereka terpaut sekitar dua puluh centimeter.


Moetia berbalik lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.


"Apa yang kita lakukan ini benar?" lirih Moetia.


Bagas membelai lembut rambut Moetia.


"Kamu berubah pikiran?" tanya Bagas.


Moetia mengangkat kepalanya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya,


"Bukan, hanya saja papa dan mama ku..."


"Seperti yang sudah ayahku katakan, papa mu akan datang!" ucap Bagas menenangkan Moetia.


Moetia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dalam rangkulan Bagas. Sekilas dia melihat ke arah pintu kamar kedua orang tuanya, rasanya sungguh tak percaya jika dia harus menikah tanpa kedua orang tuanya berada di sisinya.


Moetia dan Bagas sampai di area parkir hotel, disana ternyata anak buah Benjamin, Adam sudah menunggu mereka di depan mobil.


"Selamat pagi tuan muda, nona muda!" sapanya sopan sambil membungkukkan badannya.


"Selamat pagi Adam!" sahut Bagas.


Moetia dan Bagas sudah berada cukup lama di dalam mobil.


"Adam, pergilah ke kamar Theo dan seret dia kemari!" seru Bagas.


"Baik tuan muda," jawab Adam lalu keluar dari mobil.


Dari lift Theo baru saja keluar dan segera berlari menghampiri Adam.


"Mana tuan mu?" tanya Adam.


"Sudah di dalam dan sedang menunggu anda tuan Theo!" jawab Adam.


Theo segera masuk ke dalam mobil.


"Maaf, tadi aku mencari ponselku dulu!" ucapnya ngos-ngosan.

__ADS_1


Setelah Adam masuk ke dalam mobil mereka berempat pun pergi meninggalkan area hotel dan menuju ke sebuah pantai yang cukup jauh satu jam perjalanan dari hotel.


Disana terdapat sebuah bungalao yang cukup besar, dan beberapa villa yang di sewakan.


Chairul menyewa itu semua untuk dua hari demi kebahagiaan putra sulungnya itu.


Satu jam kemudian Moetia dan yang lain tiba di tempat yang dituju.


Bagas membukakan pintu mobil untuk Moetia, tempat itu sudah di dekorasi sedemikian rupa.


"Om Chairul benar-benar ya!" ucap Theo terkagum-kagum dengan apa yang sudah dipersiapkan Chairul untuk Bagas dan Moetia.


Seorang wanita mendekati mereka.


"Selamat datang, kalian anak-anak tuan Chairul kan? mari ikuti saya!" sapa ramah Nurlaila penanggung jawab yang ditunjuk Chairul untuk acara ini.


Moetia, Bagas dan Theo mengikuti Nurlaila ke sebuah ruangan, disana terdapat ruang rias dan ganti pakaian.


"Silahkan nona Moetia, anda bisa ganti pakaian dan asisten saya akan merias anda!" ucap Nurlaila sopan.


Moetia mengangguk pelan,


"Baiklah!" jawabnya.


"Tuan Bagas dan tuan Theo, ruangan kalian di sebelah. Silahkan!" ucap Nurlaila lagi.


Theo dan Bagas pun pergi ke ruangan sebelah untuk berganti pakaian.


Theo memilih setelan tuxedo berwarna hitam.


"Apa kamu mau menghadiri pemakaman?" tanya Bagas.


"Suruh siapa hanya ada dua setel pakaian disini! ayah mu itu sungguh luar biasa ya, aku tidak menyangka dia akan membantumu diam-diam seperti ini. Bagaimana reaksi Tante Belinda ya? saat tahu kamu dan ayahmu mengkhianati nya?" seru Theo berterus terang.


Bagas kesal dan memukul lengan Theo dengan hanger pakaian.


"Diam, bahasa mu tidak enak sekali rasanya di dengar. Aku dan ayah tidak mengkhianati ibu, aku sudah memenuhi janji ibuku pada om Ahmad, tapi ibu hanya berjanji untuk pertunangan bukan pernikahan!" bantah Bagas.


"Aku juga ingin hidup bahagia bersama orang yang aku cintai!" tambahnya sedikit sedih.


"Baiklah, baiklah. Aku yang salah bicara. Cepat ganti baju, bukankah om Chairul dan papanya Moetia akan segera datang!" seru Chairul.


Bagas dan Theo pun berganti pakaian, setelan jas yang dipakai Bagas berwarna abu-abu, sama dengan warna kebaya modern yang dipakai Moetia.


Moetia juga sudah berganti pakaian, kebaya berwarna abu-abu muda dengan dengan kain batik sebagai bawahannya.


Riasan tipis dan sanggul sederhana sungguh membuat Moetia terlihat sangat berbeda.


Bagas yang melihat penampilan Moetia saat ini tidak dapat mengatakan apapun, dia hanya tersenyum sangat bahagia sangat bangga. Wanita sebaik dan sepolos Moetia akan segera menjadi miliknya.


Theo juga sempat terpana melihat penampilan Moetia.


Moetia dan Bagas di bawa oleh Nurlaila ke aula tengah di lantai dua gedung.


Sementara mereka sedang menuju kesana, Moetia melihat dari kaca jendela seseorang yang sangat dia sayangi sedang berjalan masuk ke dalam gedung bersama dengan Chairul.


Aries sedang berjalan memasuki gedung bersama Chairul di ikuti Benjamin dan beberapa anak buah Chairul.


Moetia menghentikan langkahnya, Bagas dan Nurlaila ikut berhenti.


"Ada apa sayang?" tanya Bagas.

__ADS_1


Moetia tidak bicara tapi matanya berkaca-kaca. Bagas memeluk Moetia dan meyakinkannya agar tidak mundur dari keputusan nya ini.


"Sayang, papamu ada disini sebagai wali mu. Pernikahan kita ini adalah satu-satunya cara agar kita bisa bersama selamanya, atau kamu ingin ibuku menjodohkan mu dengan Reno?" seru Bagas.


Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Bagas membelai lembut wajah Moetia.


"Jadi nyonya Bagas, bisa kita lanjutkan?" tanya Bagas lembut lalu mengulurkan tangannya pada Moetia.


Moetia menyambut uluran tangan Bagas. Theo yang sejak tadi hanya jadi penonton sampai ternganga melihat kesabaran Bagas membujuk Moetia.


Mereka memasuki aula dan duduk di kursi yang telah disiapkan.


Sementara Chairul dan Aries sudah masuk ke dalam gedung.


"Dimana tamu yang lain? apa kita datang terlalu cepat?" tanya Chairul.


"Sebenarnya iya, kita datang terlalu cepat!" jawab Chairul.


Aries menunjukkan wajah tidak suka pada Chairul.


Tapi Chairul menepuk punggung Aries pelan,


"Sabar dulu jangan kesal, kolega bisnis ku meminta bantuan padaku, jadi aku tidak bisa mengecewakan nya bukan?" tanya Chairul.


"Lalu, kenapa aku harus datang juga?" tanya Aries.


"Aku ingin meminta bantuan mu, pengantin wanita yang adalah calon menantu dari kolega ku itu tidak punya wali, sementara mereka harus menikah sekarang juga. Karena jam dua siang nanti kolegaku itu dan keluarganya harus segera terbang ke Dubai. Jadi Aries, aku minta tolong padamu, agar kamu mau menandatangani surat persetujuan sebagai wali si pengantin wanita itu, tolonglah!" jelas Chairul.


"Kenapa tidak kamu saja!" sahut Chairul.


"Apa kamu lupa, kedua anak ku pria. Semua orang dan semua kolega ku tahu itu!" seru Chairul.


"Apa kamu tidak mau menolong ku, bagaimana kalau aku meminta hal ini atas nama Reno!" seru Chairul sedikit menggertak Aries.


Aries menghela nafasnya, dia tidak enak jika menolaknya karena Reno sudah menolong Moetia putri kesayangannya.


"Baiklah, ayo kita hadiri pernikahan ini. Aku akan jadi wali mempelai wanita nya!" seru Aries.


"Tidak perlu, Ben..." Chairul memanggil Benjamin.


Dan Benjamin segera datang membawa secarik kertas.


Chairul mengambil kertas itu dan memberikannya pada Aries.


"Tanda tangani ini saja, dan berikan aku KTP mu!" seru Chairul.


Aries segera menandatangani kertas persetujuan itu lalu mengeluarkan KTP nya.


Chairul mengambil KTP Aries dan menyerahkannya bersama surat kuasa pada Benjamin.


"Berikan ini pada Pihak notaris, dan jika acara nya selesai segera susul aku ke rumah sakit!" perintah Chairul.


Benjamin segera pergi ke lantai dua.


"Mari kita tunggu KTP mu di ruangan sebelah." ajak Chairul pada Aries.


Sementara di aula lantai dua, segera akan berlangsung proses akad nikah Bagas dan Moetia.


...💗💗💗💗💕💗💗💗💗...

__ADS_1


__ADS_2