
Kondisi Belinda kritis, dokter yang menanganinya mengatakan kalau kondisi bunda sangatlah lemah.
Obat yang dia konsumsi selama ini hanya mengurangi rasa sakit dan mencegah penyakitnya kambuh.
Kabar yang mengejutkan nya tadi membuat kondisinya benar-benar memburuk. Chairul dengan setia menemani Belinda dan terus berada di sisinya. Dia memaksa untuk tetap berada di dalam ruangan gawat darurat saat dokter menangani Belinda.
Sampai penanganan selesai lalu Belinda di pindahkan di ruangan rawat.
Chairul menggenggam erat telapak tangan Belinda yang tidak terpasang jarum infus. Matanya sudah memerah dan wajahnya sendu.
"Bertahan lah Bu, ayah dan anak-anak selalu membutuhkan mu! kami sangat menyayangimu! kamu harus kuat ya Bu, demi ayah, Bagas, Roni dan Reno!" bisik Chairul di telinga Belinda.
Roni juga duduk di sofa sambil melipat tangannya dan meletakkan nya di depan mulutnya. Roni terus berdoa agar Belinda bertahan dan segera sadar.
'Ya tuhan, kuatkan lah ibu ku. Ringankan lah rasa sakitnya ya tuhan, jika bisa biar aku saja yang merasakan sakit yang ibu rasakan!' batin Roni dengan wajah tak kalah sendu dari Chairul.
Beberapa menit kemudian Bagas datang bersama Reno, mereka langsung masuk ke kamar rawat Belinda.
Bagas segera berlari dan menghampiri Belinda, dia menuju ke sisi sebelah nya lagi dari Chairul dan menyentuh lembut lengan Belinda.
"Ibu, Bagas datang. Ibu harus kuat. Lihat Bagas juga datang bersama Reno. Cepatlah sadar Bu, Bagas ingin menceritakan sesuatu pada ibu!" seru Bagas terus mengusap lembut lengan Belinda.
Reno bahkan sudah meneteskan air mata dari sudut matanya namun buru-buru dia hapus karena tidak ingin membuat yang lain jadi lemah.
Reno ikut bersuara.
"Tante, Tante harus kuat. Bertahanlah Tante!" lirihnya yang berdiri tepat di samping Bagas.
Sudah beberapa jam berlalu tapi Belinda belum juga sadarkan diri. Roni bahkan sudah tertidur dengan posisi duduk di sofa. Bagas dan Reno masih terus berdoa dan menunggu serta mengawasi semua peralatan medis dan infus Belinda.
Sementara Chairul masih menggenggam erat tangan Belinda dan terus memandang wajah istri tercinta nya itu sambil sesekali mengecup punggung tangan Belinda.
Sementara itu di apartemen Bagas dan Moetia, Moetia terbangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah jam yang menempel di dinding yang menunjukkan pukul empat dini hari.
Moetia menoleh ke sebelahnya dan tidak mendapati Bagas disana.
"Bagas tidak ada, dimana dia?" gumam Moetia.
Moetia menyibak selimutnya dan memeriksa di luar kamarnya. Moetia menyalakan lampu dan sangat sunyi.
Moetia tersenyum kecut.
"Dia tidak pulang, apa terjadi sesuatu padanya?" gumam Moetia cemas.
Tapi kemudian dia malah tersenyum kecil sambil memukul kepalanya pelan.
"Aih, apa yang aku pikirkan. Tidak boleh berfikiran jelek, aku harus berfikir positif. Pasti Bagas baik-baik saja, dia pasti menginap di rumahnya karena Tante Belinda merindukannya." gumam Moetia lagi menghibur diri sendiri.
Moetia pun mengambil air minum dan kembali ke kamarnya. Pengaruh obat membuatnya banyak mengantuk.
__ADS_1
Matahari sudah naik, Aries dan Soraya berencana menemui Chairul untuk mendiskusikan masalah konferensi pers Manda yang meresahkan itu.
Bahkan sampai saat ini, rumah Aries masih di datangi beberapa wartawan meskipun tidak sebanyak kemarin.
Tetapi ketika Aries menghubungi sekertaris Chairul, sekertaris nya mengatakan bahwa Chairul sedang berada di rumah sakit karena Belinda penyakit nya kambuh.
"Soraya, seperti nya kita tidak bisa membahas masalah ini dulu!" seru Aries setelah menutup panggilan teleponnya.
Soraya menatap kecewa pada Aries.
"Apa maksudmu? nama baik Moetia di pertaruhkan disini!" bantah Soraya.
"Mbak Belinda masuk ke rumah sakit, penyakit nya kambuh!" jawab Aries.
"Astaga!" seru Soraya terkejut sampai menutup mulutnya.
"Pasti dia sudah mendengar berita ini, Manda benar-benar membuat semua orang kesulitan!" ceplos Soraya.
Aries memegang kedua lengan Soraya pelan.
"Soraya, jangan bicara begitu. Apalagi di depan Malika. Dia sudah sangat terluka dan sedih akibat perlakuan Manda padanya!" ucap Aries mengingatkan Soraya.
"Maaf, aku terbawa emosi. Aku tidak akan menyinggung Manda di depan Malika. Oh ya, kemarin kami bilang akan mengajakku bertemu dengan Moetia!" ucap Soraya menagih janji Aries.
Aries tersenyum tipis.
"Baiklah, ayo!" ajak Aries mengandeng tangan Soraya.
"Kalian akan pergi menemui mas Chairul sekarang? apakah aku perlu ikut?" tanya Malika berusaha tegar.
Soraya tersenyum.
"Tidak, kami akan menemui Moetia. Mbak Belinda masuk ke rumah sakit..."
"Soraya!" tegur Aries pada Soraya.
Soraya lupa kalau dia tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Malika.
Malika memicingkan matanya.
"Mbak Belinda masuk rumah sakit?" tanya Malika lagi.
Soraya bingung harus menjawab bagaimana, dia menoleh ke Aries yang menatapnya tajam seolah mengatakan agar Soraya tidak boleh memberitahukan hal itu pada Malika.
Tapi Malika termasuk orang yang peka, dia menundukkan wajahnya.
"Ini semua pasti akibat ulah bodoh putriku itu!" ucapnya menyalahkan dirinya sendiri dan Manda.
Soraya mengelus punggung Malika sambil terus menenangkannya serta membesarkan hatinya.
__ADS_1
"Sudah, Malika janganlah saling menyalahkan lagi, baik dirimu ataupun Manda. Kita akan cari solusinya bersama ya!" seru Soraya.
Moetia sedang mencari ponsel nya di sekeliling kamar, dia merasa sangat bosan tidak boleh menyalakan televisi, bahkan laptop pun di sembunyikan oleh Bagas.
"Dimana Bagas menyembunyikan ponselku sih, kenapa juga dia melakukan itu?" gumam Moetia.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Moetia berjalan perlahan membuka pintu.
"Mama!" seru Moetia sambil melebarkan senyumnya saat mamanya merentangkan kedua tangannya padanya.
"Sayang..." seru Soraya yang sudah berkaca-kaca.
Aries tersenyum senang melihat tontonan di hadapannya itu. Dua orang yang sangat dia sayangi dan cintai sama-sama tersenyum penuh kebahagiaan.
Moetia mengajak Aries dan Soraya masuk dan duduk bersama.
Soraya mengelus lembut kepala Moetia.
"Maafkan mama sayang, mama terkejut hingga tidak memperdulikan mu, bagaimana kondisi mu sekarang? mama sudah mendengar semuanya dari mas Chairul, kamu berhak bahagia sayang!" seru Soraya yang sudah berderaian air mata.
Moetia juga senang, dia merasa sangat lega. Kedua orang tuanya akhirnya bisa mengerti dan menerima pernikahan nya dengan Bagas.
Teringat Bagas, Moetia pun ingin menjelaskan bahwa Bagas sedang menemui ibunya di rumahnya, karena hal itu yang diketahui Moetia.
"Ma, Bagas sedang menemui ibunya..."
"Iya mama tahu, dia sedang menemani ibunya di rumah sakit kan?" kata Soraya menyela ucapan Moetia.
Moetia tercengang, dia bahkan tidak tahu hal itu.
"Bagas di rumah sakit? Tante Belinda kambuh lagi ma?" tanya Moetia cemas.
Soraya memandang ke arah Aries yang mengusap kasar wajahnya. Rupanya Bagas tidak memberitahukan berita ini pada Moetia.
"Kenapa Tante Belinda bisa masuk rumah sakit ma?" tanya Moetia lagi.
Moetia mulai berfikir, ponsel dan laptop di simpan oleh Bagas. Dan Bagas juga berpesan agar dia tidak menyalakan televisi dengan alasan rusak.
Moetia meraih remote control televisi dan menyalakannya.
Dan benar saja di salah satu berita gosip yang sedang tayang, menyebutkan berita tentang nya dan Manda.
Sepenggal tayangan saat Manda bicara dan berkata hal buruk tentang nya membuat mata Moetia basah. Moetia menekan dadanya kuat-kuat.
"Sudah sayang jangan di lihat lagi!" seru Soraya khawatir.
Moetia tidak menjawab Soraya, matanya masih tertuju ke layar televisi yang menampilkan gambar dan suara Manda, sahabatnya selama dua puluh lima tahun yang sedang menjatuhkan harga dirinya dan nama baiknya.
Sahabat yang dia bela lebih dari siapapun, sahabat yang demi kesembuhan dan kesadaran nya Moetia rela menukar apapun yang dia punya.
__ADS_1
Sahabat yang demi menyelamatkan nya Moetia hampir saja dilecehkan oleh Marvin.
Air mata Moetia mengalir deras. Mungkin inilah yang orang sebut sebagai luka, sakit yang tak berdarah.