Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
sedikit ketahuan


__ADS_3

.


.


.


"sayang?? siapa Dia? apa kamu pernah pacaran? apa dia yang kamu maksud mantan suami brengs*k mu itu?" tanya Rovert.


Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "sebelum aku bertemu dengan Randy."


"kamu menyebut namanya sayang? dia hanya brengs*k." Rovert seketika langsung cemburu.


Xabara menjatuhkan rahangnya, "lalu aku sebut apa? dia memang Randy kan? lagian kenapa kamu marah padanya? dia sudah mati."


Rovert terdiam, "benarkah?." tanya Rovert.


Xabara menggeleng kepalanya pelan karna heran saja lalu Ia melanjutkan langkahnya, ketika Ia berjalan ada seorang wanita yang rambutnya sudah memutih tidak sengaja melihat Xabara.


"Abaroni?" gumam Wanita itu sangat pelan tapi Xabara mendengarnya.


Xabara menoleh ke Wanita itu dan mendekati wanita itu yang terbelalak ketakutan.


"nenek kenal Papa saya?" tanya Xabara.


"Pa-Pa??" gumam wanita itu melihat penampilan Xabara dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Xabara memperhatikan wajah wanita itu, "siapa nenek ini? apa dia yang tinggal di tempat kami? tapi kenapa aku tidak mengingatnya?" batin Xabara.


Xabara tidak mungkin mengenal banyak tetangganya sementara Ia masih sangat kecil saat itu dan tidak banyak bermain di Luar kecuali bersama Keluarganya saja, Rovert tiba disamping Xabara.


"ja-jadi benar ka-kau Anak Abaroni?" tanya Wanita beruban itu dengan tergagap bahkan kakinya terlihat gemetar.


"iya nek." jawab Xabara.


"ti-tidak mungkin ka-kau anaknya Abaroni, dia hanya punya 1 anak perempuan dan sudah meninggal karna terlalu banyak menghirup asap."


Xabara mendekati Nenek itu, "aku baik-baik saja Nek, setelah diselamatkan oleh seseorang aku ikut Orang itu."


"ap-apa?"


"akhirnya ditemukan juga." batin Rovert yang diam menebak situasi itu.

__ADS_1


"Nenek? bisa kita bicara bertiga? kami hanya ingin tau kebenaran hari itu saja, dia Xabara sekarang adalah Istri Tuan Maldev jadi aku harap Nenek tidak usah takut apapun."


"...?" hening.


Wanita itu hendak pergi tapi ditahan oleh Xabara.


"Nenek ingin hidup tenang kan?" pertanyaan Xabara membuat wanita itu bergetar takut.


hanya sekali melihat saja Xabara langsung tau kalau wanita itu hidup penuh ketakutan selama ini, Ia seperti menyimpan rahasia besar yang tidak bisa diungkapkan tapi rahasia itu mencekiknya sepanjang waktu.


"katakan pada kami apa saja yang Nenek lihat puluhan tahun yang lalu? kami akan mengatasinya lalu Nenek tidak akan dihantui rasa bersalah lagi." sambung Rovert.


"Nenek??" panggil Xabara.


"aku hanya ingin tau kebenaran itu, selama ini aku berpikir kematian Keluargaku karna para Mafia itu, apa ada hal yang tidak aku ketahui Nek? bisa katakan padaku? aku berjanji akan menjaga rahasia yang Nenek ungkapkan padaku."


setelah bujuk membujuk cukup lama, Nenek itu pun mau membawa Xabara dan Rovert ke Pondoknya serta menyuguhkan minuman ke pasangan itu dengan tangan bergetar.


"duduklah Nek !? kenapa Nenek takut? kalau pelakunya bukan Nenek kenapa harus takut? sebagai saksi Nenek tidak boleh takut mengungkapkan kebenaran." Xabara.


Rovert bersidakap dada melihat gerak-gerik wanita itu, Ia yakin ada rahasia besar di masa itu sampai bisa membuat wanita itu hidup penuh ketakutan sepanjang hidupnya.


mereka duduk diam di kursi rotan selama 1 jam, baik Xabara maupun Rovert tidak memaksa wanita itu mengungkapkan kesaksiannya dengan cepat.


Xabara dan Rovert saling pandang, "tidak akan." jawab keduanya serentak dan terlihat serius.


"sebenarnya malam itu aku melihat sesuatu, ketika suamiku mendekati mereka dan memberi arahan malah di bunuh lalu dibakar bersama Keluargamu, ak-aku benar-benar syok sampai sekarang aku selalu dihantui rasa bersalah karna sikap pengecutku."


Xabara tersentak mendengarnya, "Korban kebakaran saat itu selain Keluargaku hanya Atuk Long, apa Nenek Istrinya Atuk Long?"


"yaahh! aku Eka Long, Istrinya Long." jawab Nenek Eka dengan sedikit senyuman ada yang mengenal suaminya.


Xabara membekap mulutnya, "ak-aku tidak mengenal Nenek!! maafkan aku Nek, saat itu Aku hanya ingat Atuk Long saja."


"tidak apa, jadi kamu memang Xabara kecil itu ya? aku percaya dalam sekali lihat saja, kau memang sangat mirip dengan Ayahmu." senyum Nenek Eka.


Rovert menyelah, "bisakah nenek ceritakan kejadian saat itu, apa saja yang Nenek lihat?"


"kejadian di hari itu terjadi selama 3 malam berturut-turut, ketika rombongan Orang jahat itu datang di siang hari dengan banyak Mobil asal parkir di jalanan Kompleks mendatangi tempat tinggal Ayahmu Xabara."


"sebenarnya aku tidak tau banyak hal tapi setelah keluar dari Rumahmu Xabara mereka semua keliatan sangat marah, kami para wanita juga takut malamnya mereka datang jadi serentak mengunci Rumah, tetangga bilang kalau komplotan itu adalah Mafia Kejam dan semua orang takut hanya Ayahmu saja yang berani menyinggung Orang itu."

__ADS_1


"besok malamnya aku juga banyak melihat Orang yang bercengkrama tepat disebelah Rumah Kami, saat itu aku menggembok Rumahku lalu kembali dari pintu belakang supaya Orang jahat itu mengira kami tidak ada di Rumah."


Xabara diam karna Ia tau pelaku itu marah karna Papanya menolak tawaran tidak benar itu ke Papanya.


"apa yang mereka bahas?" tanya Rovert.


"kata nya jika peringatan malam ini di abaikan juga besok malamnya Keluargamu akan dihabisi, aku sangat ketakutan saat itu sampai tidak berani keluar untuk memberitau keluargamu lalu ke esokan malamnya Long pulang menginap dari Rumahmu aku memberitau Long tapi Long yang emosian tidak terima langsung menyiapkan senjata melawan mereka, aku hanya bisa mengintip dan itu benar-benar membuatku takut sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kejadian itu."


Xabara dan Rovert masih serius mendengarkan.


"apa ada yang dikenali Nek?" tanya Xabara.


"ahh?? iya...!!? saat itu Long terdengar berteriak menyebut Bagos penghianat, setelah itu aku tidak bisa berpikir jernih lagi karna begitu syok mereka membun*h Long didepan mataku walaupun aku hanya mengintip tapi aku jelas melihat mereka jumlahnya 6 Orang dan 3 diantaranya pakaiannya berbeda pasti bukan bagian dari komplotan Orang Penjahat itu."


setiap Anggota Mafia pasti memiliki model pakaiannya sendiri, jika ada yang tidak memakai baju yang sama jelas itu Orang luar.


"maksudnya Nek?" tanya Rovert.


"bisa saja 3 Orang itu sebagian ada Bagos dan 2 lainnya orang yang mungkin dikenal oleh Ayahmu Xabara."


Rovert menoleh ke Xabara yang tampak terdiam.


"ak-aku tau kau tidak akan percaya Xabara, tapi Long malam itu memang meneriakkan Bagos penghianat." Eka seperti tau Xabara sedang meragukan ceritanya.


"Bagos? siapa itu sayang? apa dia kerabatmu?" tanya Rovert.


Xabara diam lalu Rovert menggenggam tangan Xabara sehingga Xabara menoleh ke Rovert.


"apa dia Kerabatmu?" tanya Rovert.


"aku sudah lama tidak memikirkannya tapi dia memang sudah dianggap Kerabat oleh Papaku, tapi aku tidak banyak ingatan tentangnya" jawab Xabara dengan nada berbeda.


"kuatkan dirimu sayang!!? kita harus mendengarkan Cerita Nenek Eka sampai selesai." pinta Rovert.


Xabara memejamkan matanya tangan Xabara terkepal kuat, Ia tanpa sadar mencengkram tangan Rovert yang menggenggamnya.


"Xabara mengalami hal yang sama denganku." batin Rovert merasa sedih dengan apa yang menimpa Xabara.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2