Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
mendatangi


__ADS_3

.


.


.


Rovert melihat Xabara berbalik pun mengulum senyum, Ia menarik pinggang Xabara lalu tangan Xabara diletakkan di perutnya.


"lakukan apa saja yang kamu inginkan sayang? aku hanya alg*j*mu kan?" gemas Rovert yang menurunkan harga dirinya didepan sang kekasih hati.


Xabara meraba perut Rovert dengan hati-hati sementara Rovert terus saja memandang Xabara tidak berkedip sedikitpun, lama-lama Rovert tidak tahan dengan godaan Xabara segera menyandarkan dagunya di bahu Xabara.


"sayangg?" bisik Rovert terdengar lemas.


Xabara diam saja sambil meraba punggung Rovert yang kokoh, Rovert memejamkan matanya menekan nafs* nya yang menggebu dan Ia tidak boleh melampiaskannya pada Xabara yang sedang hamil, namun belasan menit kemudian Rovert mengangkat tubuh Xabara.


"aku tidak kuat." bisik Rovert.


Rovert tercengang ketika Xabara lah yang memulainya, Ia berpikir mungkin bawaan calon anaknya sebab Ia teringat kembali kata-kata dokter yang bilang Xabara lagi masa morning sickness, siklus perubahan sikap Xabara bisa jungkir balik oleh sebab itu Rovert tidak boleh heran.


Rovert sangat puas dengan hubungan mereka berdua, "aku lagi yang bekerja sayang."


Xabara seperti wanita mes*m, Ia tidak memikirkan apa-apa lagi sampai hasr*tnya itu harus terpenuhi bahkan malah menikmati ronde kedua yang dilakukan oleh Rovert.


"hoshh--hossh...!" Xabara tumbang di pelukan Rovert.


Rovert tertawa segera Ia menggendong tubuh Xabara serta membersihkannya dengan sangat lembut seolah tubuh Xabara adalah kertas yang tidak boleh tergores. rasa lelah Rovert bekerja siang malam langsung hilang entah kemana sejak bercint* dengan Xabara malah Xabara yang kelelahan bermain 2 ronde dengan Rovert.


biasanya mereka bermain lebih dari 2 Ronde tapi mungkin bawaan hamilnya Xabara dan Rovert pun tidak mau melakukannya berkali-kali kalau Xabara sendiri sedang berisi kecuali di trisemester akhir nanti.


.


pagi-pagi sekitar jam 8,


Rovert memandang Xabara yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya, Rovert tak henti-henti tersenyum melihat Xabara.


"apapun perasaanmu aku bahagia sayang." batin Rovert mengelus pipi Xabara.


Rovert menoleh ke Ponselnya yang bergetar, Ia perlahan bangkit lalu keluar dari Ruangan itu dan mengangkat panggilan Barrest tepat di Ruangan kerjanya, tujuan Rovert tidak mau mengganggu Xabara.


"bagaimana?" tanya Rovert.


"kami sudah menemukan alamat tempat tinggal dari Rumah terakhir yang kami datangi, katanya pemilik lamanya tinggal di desa pinggir pantai barat tapi dia tidak yakin apa pemilik lamanya masih hidup." kata Barrest.

__ADS_1


"Tuan? apa Nona ada bersama anda?" tanya Aya menyambar.


"Xabara ada bersamaku...! kalian tenang saja serahkan sisanya padaku, terimakasih kalian telah bekerja keras untukku dan Xabara sebagai hadiahnya aku akan berikan kalian tiket bulan madu kemana pun kalian mau selama 15 hari." kata Rovert.


Aya terdengar membantah tapi Barrest malah menginginkan tiket bulan madu itu di Bali saja tidak usah keluar negeri.


Rovert menatap datar ke arah depan, "kalian bertengkar saja di Rumah jangan di telingaku."


Rovert mematikan panggilannya secara sepihak sambil mengusap telinganya yang panas mendengar perdebatan Aya dan Barrest, sungguh panas sekali telinganya tapi kalau Xabara mengomel anehnya telinga Rovert tidak panas.


Rovert tersenyum tipis, "semoga saja masih hidup, apa aku bawa Xabara?" gumam Rovert.


Rovert tidak ingin membawa Xabara tapi mengingat Istrinya tidak bisa tidur jika tidak dipeluk olehnya Ia berpikir 2 kali untuk meninggalkan Xabara.


"aku bisa melindunginya." gumam Rovert percaya diri.


tanpa membangunkan Xabara sama sekali Rovert menggendong Xabara sepanjang perjalanan banyak yang iri dengan kemesraan pasangan itu, mereka sangat gemas jika menjadi Xabara bisa dipeluk oleh Rovert, membayangkannya saja pikiran liar mereka menari-nari apalagi jika berada di posisi Xabara.


Rovert membawa Xabara ke Desa Pinggir Pantai Barat itu, berdasarkan pengetahuannya Ia hanya mengikuti arah barat saja.


"hmm?" Xabara menggeliat di samping Rovert.


"udah bangun sayang?" tanya Rovert mengelus kepala Xabara.


Rovert tersenyum, "mencari saksi yang pernah tinggal di Perumahanmu dulu."


Xabara seketika berubah mode serius, "jadi kamu membawaku?"


"iya, kamu pasti ingin ikut kan?" tanya Rovert dengan lembut dan Xabara balas anggukan 2 kali.


Xabara tidak banyak mengingat para tetangga nya puluhan tahun yang lalu kecuali yang tinggal bersebelahan dengan Rumah mereka saat itu.


"Barrest bilang pemilik lama di tempat itu kebanyakan sudah tidak ada, mereka sebagian pindah ke Luar Negri tidak tau Negara yang mana, sebagian sudah meninggal." Rovert.


"wajar saja !? kejadian itu sudah lama sekali, aku saja yang bodoh tidak menyadari ini lebih cepat, kamu pasti menertawakanku kan?" Xabara.


Rovert menggeleng, "kenapa aku harus tertawa sayang? tidak ada yang lucu."


Xabara sedikit terhibur melihat wajah serius Rovert yang tidak merasa lucu sama sekali.


selama 3 jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di Perumahan pinggir pantai barat.


Rovert melihat sekitar ada beberapa kapal Nelayan yang diikat lalu banyaknya perumahan sederhana tak jauh dari tempat Rovert memarkirkan Mobilnya.

__ADS_1


"woo!! ternyata banyak juga yang tinggal disini." gumam Rovert menoleh ke Xabara.


"kenapa melihatku?" tanya Xabara heran.


"aku hanya berpikir apa kamu bisa tidur di Mobil bersamaku sayang? aku pikir disini tidak ada hotel, wisma atau penginapan kecil, hampir merata mereka nelayan ikan dan tempat tinggal mereka rumah dengan 1 kamar menurutku paling banyak 2 kamar."


Rovert melihat ponselnya hanya 1 titik Jaringan saja, "tidak ada jaringan."


"aku tidak butuh apapun selain dipeluk olehmu saja." jawab Xabara membuang muka.


Xabara terlalu malu mengakuinya tapi memang itulah kenyataannya, Rovert menggenggam tangan Xabara lalu mengecupnya lembut.


"itu sebabnya aku membawamu sayang..! aku membuat satu kesalahan dengan tidak pulang kemarin malam, maafkan aku ya?"


Xabara mengangguk dengan senyuman diperlakukan seperti itu oleh Rovert.


"apa masih lelah? apa Istriku lapar?" tanya Rovert dengan gemas menangkup pipi Xabara.


Xabara mengelus perutnya, "anakmu lapar."


Rovert tertawa lalu merangkul Xabara memasuki pemukiman Rumah itu, Ia mencari tempat makan setelah bertanya kesana-kemari akhirnya menemukan Rumah Makan khas makanan laut.


banyak Orang-orang desa yang melewati pasangan tampan dan cantik itu begitu kagum, pakaian mereka terlihat bagus jelas sekali dari Orang Kota.


"apa disini tidak ada jaringan Pak?" tanya Rovert sambil menuangkan segelas air lalu memberikannya ke Xabara yang segera meneguk minuman pemberian Rovert.


"disini jaringannya hanya bisa 1 Tuan itupun sangat sulit kalau cuaca lagi buruk sedikit saja langsung silang Tuan."


"apa tidak ada teknologi lain pak?" tanya Rovert.


"apa Tuan tersesat ya? atau kempes ban? habis minyak?" tanya si Penjual.


"kebetulan ingin ke pantai saja Pak, Istri saya lagi ngidam pengen makan di pinggir pantai menu ikan laut yang baru saja ditangkap." balas Rovert.


si Penjual tersenyum lebar, "kalian pasangan Pengantin ya?"


"sudah lama juga pak tapi belum cukup 6 bulan." jawab Rovert menggaruk kepalanya seperti Pria yang ramah padahal Rovert bukan Pria yang banyak bicara.


Xabara sibuk makan saja, ternyata Ikan hasil tangkapan baru dari pinggir laut langsung dimasak rasanya benar-benar lezat mungkin melebihi makanan di Kota.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2