
.
.
.
"aku bisa saja mengecohnya tapi aku ingin tau siapa Orang didalamnya?." gumam Xabara yang beruntung saja memang sedang menyamar.
Xabara mendengus merasa bosan pun langsung memutar Mobilnya dan berhenti seketika Mobil yang mengikutinya pun berhenti mendadak. Xabara menoleh tajam ke arah Mobil itu, tak berapa lama menunggu Pengemudi Mobil itu keluar membawa senjata api yang bersiap akan menembak jika Xabara melarikan diri.
"aku akan menembak ban mobilmu kalau kau lari!!?" suara lantang lelaki itu.
Xabara memicingkan matanya, "ciih..!! Colder rupanya."
Colder adalah pemimpin mafia the the Cold yang kini tengah bersekutu dengan Lios demi menemukan sosok XeniaXabara, kedua Mafia itu tengah bergabungkan kekuatan dan pasukannya hanya untuk menemukan Xabara.
Colder menelan salivanya merasa berdebar untuk pertama kalinya akan melihat sosok Ratu Higanbana yang melegenda dan sangat diidamkan oleh semua Pemimpin Mafia bahkan Pengusaha hebat dari berbagai kalangan bisnis pun menargetkan sosok yang digadang-gadangkan dewi itu.
Kriieettt!!
Xabara membuka pintu Mobilnya tapi belum keluar, "kau memang ingin menghabisiku??"
"tidak !!? aku hanya berjaga kalau kau kabur." jawab Colder.
sepatu bot hitam penuh rantai berpijak di aspal lalu keluarlah sosok Xabara dengan pakaian tertutupnya, ikat pinggang melingkar dipinggang kecilnya membuat tubuh Xabara yang proposional terlihat.
"inikah sosok dewi itu? pantas saja disebut dewi, tubuhnya saja sebagus ini." batin Colder perlahan menurunkan senjatanya.
Xabara menutup pintu Mobilnya dengan keras hingga Colder terkejut lalu Xabara menyeringai mendekati Colder, hawa membun*h sosok itu memang terasa bagi seorang Pemimpin seperti Colder.
"woo!!? aku tidak menyangka diumurku yang ke 30 tahun baru bisa menemukan sosok yang aku puja." kata Colder.
Xabara menyunggingkan senyum tipisnya, "sepertinya kau memang sedang beruntung berpapasan denganku lalu mengejarku."
Colder mengatakan dengan jelas bahwa Ia mengenali Mobil XeniaXabara dari Lios, Xabara membuang nafas pelan mendengarnya.
Colder mendekati Xabara tapi gadis itu tidak bergerak mundur sama sekali, "aku tidak akan macam-macam! aku bahkan tidak membawa senjata."
Xabara memperhatikan gerak-gerik tubuh Colder saat tiba di dekatnya ternyata Colder berusaha melepas penutup wajahnya, Xabara mengangkat kakinya ke udara dan menendang sebanyak 2 kali yaitu lengan Colder lalu dada Colder hingga Pria itu termundur beberapa langkah.
"kau terlalu meremehkanku!" kata Xabara mengeluarkan belati kecilnya dan berlari mengejar Colder.
__ADS_1
perkelahian antara 2 pemimpin Mafia pun terjadi, Colder sampai tak henti-hentinya berdecak karna kemampuan Xabara jauh diatas kemampuannya.
"aku harus bergerak cepat sebelum gadis ini mengalahkanku." batin Colder lalu mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya.
Xabara melebarkan matanya melihat benda itu lalu segera berputar dengan cara yang sangat elegan dan gerakan Xabara yang cepat disituasi genting menancapkan belati itu ke tangan Colder sampai benda itu terjatuh. Xabara menginjak tangan Colder yang merintih kesakitan.
"kau sangat picik!! tapi sayang aku lebih picik darimu." kata Xabara lalu segera mengambil belatinya dan melempar setangkai bunga Higanbana.
"K--Kau??" Colder.
Xabara menoleh ke Colder yang sedang diambang rasa sakit, "kau akan mati dengan racun bunga kematianku."
"Ja--Jangan?? to--tolong aku!!" pinta Colder lirih.
Xabara mengabaikannya saja, Ia tidak pernah berbelas kasih pada siapapun yang mengusiknya. sebagai orang yang telah lama hidup di dunia gelap sudah jelas ekspresi wajah sangat profesional didunia mereka, setiap anggota Mafia memiliki cara menyelamatkan diri nya masing-masing dari kejamnya dunia itu, Kasihan? siapa yang memiliki rasa kasihan tidak akan bisa menjadi pemimpin Mafia. jadi tak heran lagi kalau para anggota Mafia sangat jago berakting sebab kalau meletakkan rasa kasihan diatas status mereka, maka mereka yang punya belas kasihan akan mati.
Xabara kembali ke Apartemennya dan berbincang dengan Aya.
"Nona mau jual Mobil?" tanya Aya.
Xabara berpikir sejenak, "aku rasa tidak usah !! biar aku yang akan merubah bentuk Mobilku sendiri."
Xabara diam saja, "Lios?? huuhh!!? kenapa dia belum menyerah juga? dia memang tidak takut dengan ancamanku?"
Aya mendelik kesal, "seharusnya malam itu anda langsung tancapkan saja jarum ketubuhnya saat dia tertidur."
Xabara menggeleng kepalanya, "aku bukan pengecut yang menyerang disaat lawanku lemah."
Aya menghela nafas berat, "kalau begitu Nona mau memasuki Mansion itu lagi??"
"tidak usah!! kenapa aku harus menemui nya lagi, dia sudah pasang banyak jebakan untukku." keluh Xabara seketika Aya sumringah.
"Nona memasang sesuatu di Mansionnya?" tanya Aya tiba-tiba karna menurutnya tidak mungkin Xabara tau Pria tidak waras itu memasang jebakan untuknya.
"kenapa raut wajahmu senang sekali?" tanya Xabara dengan datar lalu Aya malah cengengesan.
"saya ingin menghabisi Lios itu Nona." tekat Aya dan Xabara mengatakan bahwa Lios bukan tandingan Aya.
.
Xabara kembali ke Apartemen Rovert yang bersebelahan dengannya dan kaget saat Rovert duduk disofa menatap datar dirinya.
__ADS_1
"kau belum tidur?" tanya Xabara entah mengapa Ia merasa gugup karna Ia belum terbiasa disambut seperti ini oleh lawan jenis.
Rovert memejamkan matanya, "aku tidak boleh membuatnya kesal !" batin Rovert menahan diri.
Rovert berdiri dan tersenyum tipis mendekati Xabara yang menatap Rovert seperti menantang jikalau Rovert berani membentaknya, Xabara benci lelaki meninggikan suaranya apalagi mengatur dirinya padahal bukan siapa-siapa.
"kau sudah mandi?" tanya Rovert.
Xabara menaikkan sebelah alisnya, "mandi??"
Rovert menarik lengan baju tidur Xabara tapi gadis itu tidak marah karna Rovert tidak menyentuh kulitnya berdasarkan janji di Surat Kontrak mereka berdua.
Rovert memperlihatkan lewat Ipenya status Perusahaan milik Obel yang memberitau pada dunia bahwa Ia akan menjalin kerja sama dengan X Company Group. Xabara tersenyum karna Rovert tidak memarahi atau menanyakan kemana dirinya pergi.
"kenapa kau tersenyum?" tanya Rovert pura-pura heran.
"memangnya aku tidak boleh tersenyum? peraturan dari mana itu?" ketus Xabara.
Rovert mengusap lehernya, "kau mengerikan saat tersenyum."
"jantungku berbahaya saat kamu tersenyum Xabara." batin Rovert.
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "aku akan terus tersenyum supaya kau takut."
Rovert membuang muka berpura-pura tidak peduli dan Ia seketika bangkit dan berlari ke ranjangnya yang membuat Xabara kaget melihat hal itu.
"aku yang sekarang memilikinya." seringai Rovert.
Xabara mendengus dengan santainya Ia juga ikut berbaring di Ranjang itu.
"heii?? kenapa kau juga ikut tidur disini? siapa yang mengizinkanmu??" cecar Rovert membalik pertanyaan Xabara seperti meledek.
Xabara menarik selimut itu dengan paksa, "aku lelah!! lagian kau bersiap saja mati kalau sampai merayap ke atas tubuhku."
Xabara memejamkan matanya hingga Rovert kehabisan akal. Ia tidak pernah berpikir akan tidur 1 ranjang dengan Xabara padahal bukan melakukan apapun hanya tidur saja, kamar mereka memang tidak hanya itu saja tapi namanya tidak mau mengalah punya kamar kecil membuat mereka berada di Kamar yang sama. Kamar Rovert adalah yang terluas dan Ranjangnya juga panjang serta luas karna didesain khusus memang untuk Kaum Pria yang memiliki tinggi tubuh melebihi mayoritas kebanyakan lelaki.
.
.
.
__ADS_1