
.
.
.
"An juga sayang?" tanya Rovert sekali lagi memastikan.
"iya, tapi Ana mencuri apa?" tanya Xabara balik.
Rovert menggenggam tangan Xabara, "akan aku beritau di Restaurant nanti.!? aku sangat lapar."
Xabara pun mengikuti Rovert dengan alis mengerut seolah penasaran apa yang dicuri oleh Putri kecilnya itu dari Rovert sampai tidak mau diberitau didepan orang.
.
di Restaurant,
"kenapa sayang?" tanya Rovert heran melihat Xabara yang tengah bersidakap dada memandangnya.
"apa yang dicuri Ana-ku?" tanya Xabara serius.
Rovert menghela nafas panjang, "pisau, gunting, jarum hmm...? sejenis senjata tajam."
Xabara melebarkan matanya, "apaaa?"
Rovert menatap Xabara serius, "iya sayang..!? awalnya aku pikir hanya kebetulan aja tapi lama-lama semua yang ada di Ruangan kerjaku terus saja menghilang sampai aku menemukan senjata yang hilang di dalam kotak mainannya."
Rovert menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "di-dia suka sekali dengan senjata tajam tapi aku senang Ana-ku tidak terluka."
Xabara terdiam, "Ana mencuri senjata tajam?"
"tapi An mencuri apa sayang?" tanya Rovert.
"cuma Asi yang aku tampung." jawab Xabara yang merasa An tidak normal tapi Putrinya malah jauh lebih tidak normal.
Rovert pun ikut diam, "kenapa mereka tertukar?"
Xabara lagi-lagi diam sama sekali tidak bersuara, Ia benar-benar tidak menyangka kalau Ana yang kelihatan menggemaskan dan lucu ternyata bisa juga mengecohnya yaitu mencuri senjata tajam, sungguh aneh tapi dilihat dari cara Rovert berbicara tidak ada kebohongan sama sekali.
"tidak apa sayang..!? aku sudah menyimpan semua jenis senjata tajam jadi Ana tidak akan bisa melihatnya." ujar Rovert serius.
Xabara menghela nafas, "kenapa mereka harus ikut gen-ku sebagai pencuri?"
__ADS_1
Rovert menahan senyumnya melihat raut wajah putus asa Xabara, Ibu mana yang mau melihat anaknya mengikuti jejaknya terutama anak perempuan sebab bagi Xabara seorang anak perempuan harusnya berdandan dan belanja saja.
"itu bukan hal buruk sayang..! ayo makanlah..! setelah ini aku akan cari informasi yang kamu minta padaku." pinta Rovert dengan serius.
Xabara mengambil segelas jusnya lalu meneguknya dan mulai menyantap makanannya, walau tidak berselera tapi demi anaknya tentu Xabara tidak boleh membiarkan diri sendiri kehilangan nutrisi.
.
malam-malam,
Xabara memeriksa kotak mainan Ana dan An, Ia berhati-hati mengeluarkan semuanya satu persatu sampai Xabara menemukan sebuah benda yang mirip dengan pisau dan Ia membuka sarungnya ternyata memang pisau.
"in.. ini?" Xabara mengingat lagi Para Pelayan dapur sering mengeluh kehilangan pisau dapur yang ukurannya besar.
Xabara membongkar mainan anak-anaknya lagi sampai menemukan semua pisau yang hilang dari dapur, Xabara terduduk di lantai dengan tatapan nanar mengingat hanya An yang suka ke dapur mencuri Asinya ternyata juga mengambil pisau dapur.
"1 tahun? anakku suka mainan benda tajam??" gumam Xabara dengan ekpresi tidak berdaya.
Xabara meraup wajahnya, "aku menyesal menjadi seorang ratu Higanbana, kalau saja aku hidup normal pasti anak-anakku tidak akan seperti ini." gumam Xabara sungguh menyesal.
jika memikirkan masa lalu Xabara hanya bisa menyesali diri padahal bukan dirinya mau menjadi seorang pembun*h tapi memang keadaan yang membuatnya harus seperti itu.
hap...!
Xabara kaget ketika tangan besar melilit tubuhnya.
ternyata Rovert sudah melihat Xabara yang begitu menyesal karna anak-anaknya benar mengikuti jejak Xabara.
"benarkah?" tanya Xabara merasa lebih baik mendengar perkataan Rovert.
"hmm..? kamu tau perumpamaan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya kan?" gemas Rovert.
Xabara tersenyum sambil melihat ke arah lantai lalu Rovert mencium bahu serta leher Xabara.
"jangan pikirkan hal buruk lagi ya? kita hanya tinggal menjauhi dan menyembunyikan benda tajam dari Mansion ini terutama beritau pelayan supaya tidak meletakkan pisau ditempat yang mudah dijangkau oleh anak-anak kita."
Xabara menganggukkan kepalanya.
"sudah lebih baik?" tanya Rovert lembut dan Xabara lagi-lagi tersenyum lalu memutar kepalanya ke Rovert.
"terimakasih." ucap Xabara dengan tulus karna Rovert selalu bisa membuatnya tenang mengingatkannya selalu pada Papa dan Kakek angkatnya saja.
Rovert mencium bibir Xabara, "kamu itu anugerah sayang !!? jangan salahkan dirimu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana negara ini tanpa seorang Ratu Higanbana pasti kejahatan akan sangat merajalela."
__ADS_1
Xabara menunduk sambil tersenyum sungguh cantik lalu Rovert memeluk Xabara dengan lembut serta mengelus kepala Xabara.
"aku sangat mencintaimu Ratu Higanbana-Ku sayang." ungkap Rovert dengan senyuman.
Xabara tersenyum saja tanpa membalas kata-kata Rovert tapi Ia membalas pelukan Rovert yang tiada lelah mengutarakan perasaannya walau Xabara tidak terlalu menginginkannya tapi jujur saja sebagai perempuan normal yang haus akan cinta sudah jelas Xabara suka, karena harga dirinya jauh lebih tinggi maka nya Xabara tidak mengatakan apa-apa.
"jangan sedih lagi ya?" bujuk Rovert.
Xabara menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya dibahu Rovert, inilah alasan mengapa manusia itu ditakdirkan hidup berpasangan oleh Tuhan semesta sebab saling ketergantungan satu-sama lain itu sangatlah penting untuk kebaikan manusia itu sendiri.
disaat Xabara sudah menjadi lebih baik Rovert malah mengajak Xabara keluar Mansion dengan Motor besarnya, Awalnya Xabara menolak tapi karna Rovert memaksa akhirnya mengikuti juga.
"pegang yang kuat sayang..!" pinta Rovert sambil memegang tangan Xabara dan melingkar di perutnya.
Xabara memicingkan matanya, "aku baik-baik saja tanpa harus memegangmu."
Rovert menggeleng kepalanya, "aku akan melaju dengan kecepatan tinggi...! kita ke Pasar malam!"
Xabara mendengar kata Pasar Malam pun bergegas memeluk Rovert membuat senyum Rovert kian melebar lalu menutup kaca helmnya serta memainkan gas Motornya dan melaju kencang menembus angin malam tanpa merasa kedinginan karena ada kehangatan masing-masing.
.
Xabara mengerutkan keningnya ketika Rovert pergi lewat jalan lain, "Pasar malam dimana?? kenapa jalan ini?" tanya Xabara berteriak disisi Rovert.
Rovert mengelus punggung tangan Xabara yang memeluknya dari belakang dan menepuknya pelan, "aku bawa kamu ke Pasar Malam yang baru buka..!"
Xabara tidak lagi bersuara hanya menyandarkan dagunya di bahu kokoh Rovert sambil melihat jalanan yang mereka lalui, mereka berdua seperti pasangan kekasih yang belum memiliki anak.
Motor Rovert kini melaju dengan kecepatan pelan lalu Xabara menegakkan badannya tapi tangannya memegang pinggang Rovert sambil melihat sekeliling penuhnya gemerlap lampu.
"tempat apa ini?" batin Xabara yang tidak tau ada tempat seindah itu.
Rovert tersenyum lalu menghentikan kendaraannya dan membuka helmnya menoleh ke Xabara yang benaknya seperti penuh tanda tanya dengan tempat baru itu.
"aku membuat taman hiburan tema Dubai atas nama Istriku, lihat itu?" tunjuk Rovert.
Xabara melihat arah tunjuk Rovert tiba-tiba papan nama yang penuh dengan lampu itu menyala tertera nama.
"Love Xabara."
Xabara tercengang melihat Taman hiburan itu atas nama dirinya.
.
__ADS_1
.
.