
.
.
.
Rovert memperhatikan Xabara, "sedang apa kau di Bar ini? kenapa menargetkan Bian? apa dia mantan suamimu?."
Xabara terkekeh pelan tapi menutupi bibirnya, "aku tidak akan menjawabnya karna kita tidak cukup dekat hingga harus tau hal pribadi."
Rovert mengangguk saja, "kalau begitu maafkan aku."
"baiklah!" jawab Xabara lalu berdiri dan melangkah pergi sedangkan Rovert tidak mencegah Xabara hanya memijit pelipisnya.
di pintu,
"aku bisa membantumu menemukan Pria tua itu jika kau mau." kata Xabara didepan pintu.
Xabara merasa terlambat 1 langkah dari Rovert tapi berdasarkan analisisnya Rovert bukanlah Pria biasa, entah mengapa Xabara mulai meragukan identitas Pria itu walau bukan anggota mafia tapi Rovert seperti kelompok pendata besar yang bisa mencari tau kebenaran data seseorang.
Rovert menoleh ke Xabara, "kau bilang apa?" tanya Rovert yang memang tidak mendengar perkataan Xabara karna musik.
Xabara menoleh dan tersenyum misterius, "katakan padaku jika kau butuh bantuan supaya kau bisa membantuku membalaskan dendamku."
Rovert berdiri lalu melangkah ke arah Xabara, "bantuan seperti apa yang bisa kau berikan padaku?." tanya Rovert.
"jika ada seorang Penjahat harus di bunuh tidak usah diserahkan pada pihak berwajib karna prosesnya lama dan pelaku kejahatan tidak akan jerah terutama bagi Pria yang bermain licik demi mendapatkan kedudukan." ujar Xabara.
Rovert langsung mengerti arah pembicaraan Xabara, "aku bisa melakukannya tapi nama baik Perusahaanku bisa dalam bahaya jika aku menghabisinya, semua sudah terekspos ke media sulit bagiku membunuhnya padahal aku tau kalau dia adalah pelaku yang membunuh Papaku."
"serahkan padaku!" kata Xabara lalu langsung pergi dari Rovert.
Rovert berdiri menatap pintu yang sudah tertutup, "ada apa ini? kenapa aku merasa tercekik lagi oleh dirinya? sebenarnya siapa dia? aku sudah berusaha mencari tau tapi hanya seorang gadis biasa, sebenarnya apa pekerjaannya?."
Rovert sudah mencari tau di semua Pekerja Agen Rahasia terbaik. namun, tidak ada pekerja dengan nama Xabara atau wajah Xabara yang menyamar sebagai gadis hitam.
"apa dia anggota khusus tentara?." tebak Rovert.
ke esokan harinya,
Rovert bekerja seperti biasa dan disambut oleh Barrest (Asistennya), para pekerja Rovert hanya melihat kedua Pria mapan dan tampan itu dari jauh saja.
"bagaimana pencarianmu tentang Pria tua itu?." tanya Rovert sembari melangkah menuju Lift.
Barrest menoleh ke Rovert dengan mata memicing curiga lalu Rovert menaikkan sebelah alisnya.
"kau tidak dengar pertanyaanku?." tanya Rovert dengan dingin.
"justru aku ingin bertanya padamu Tuan, bagaimana kau mengenal Ratu Higanbana?." tanya Barrest serius.
__ADS_1
Rovert mengerutkan keningnya, "apa maksudmu? aku bertanya tentang Pria tua itu kenapa kau bertanya tentang Ratu kematian itu?."
"Pak tua itu sudah mati ditangan Ratu itu dan aku pikir Tuan terlibat atau memang Pria tua itu yang mencari masalah dengan Ratu Mafia itu." ujar Barrest.
Rovert terkejut sesaat, "mati?"
Rovert seketika mengingat perkataan Xabara terakhir kali bahwa serahkan semua pada Xabara, apa maksudnya perkataan itu.
"ada apa ini? apa tebakanku benar?." batin Rovert menebak Xabara adalah bagian dari anggota Higanbana.
.
di Ruangan Rovert,
"Tuann?" panggil Barrest menepuk tangannya diwajah Rovert hingga Pria itu tersadar dari lamunannya tapi tidak merasa bersalah sama sekali telah membuat Barrest kesal.
"apa Tuan mendengarku?." tanya Barrest.
"bisakah kau mencari tau siapa saja anggota Higanbana?." tanya Rovert serius.
Barrest mengerutkan keningnya, "tidak untuk anggota yang itu, jangankan batang hidung mereka menemukan bau mereka saja aku tidak bisa ! bukankah Tuan sendiri tau Higanbana adalah Mafia yang mendominasi di dunia gelap, maka nya banyak musuh yang ingin menargetkan mereka bahkan Para Ketua Mafia lainnya mau memiliki Ratu Higanbana yang mereka ketahui adalah perempuan."
"kenapa aku tidak tau?." tanya Rovert.
Barrest memutar kedua bola matanya dengan malas, "Tuan tidak pernah peduli dengan apapun selain cara untuk menjatuhkan Pak tua itu saja."
Rovert diam karna perkataan Barrest memang benar.
.
Xabara melihat gerak-gerik Randy yang tampak frustasi akan sesuatu.
"ckkk...! dia pasti gila mencari Rani dan mencariku untuk dijual." gumam Xabara lalu melajukan mobilnya menuju tempat lain.
Xabara bisa melihat Nandini dan Bando didatangi banyak orang, mereka semua menagih hutang pada kedua manusia yang suka berfoya-foya itu padahal uangnya juga pinjam-pinjam.
"mereka juga tidak berubah." decak Xabara tertawa pelan merendahkan.
ditengah kerumunan,
"sebentar ya? beri kami waktu? tolong!!" teriak Nandini.
"iya, putra kami bekerja sebagai pengusaha dan akan dapat gaji besok." sambung Bando.
setelah berhasil membujuk akhirnya Semua penagih hutang itu membubarkan diri dan akan kembali besok sore.
Xabara mendengarnya mengangguk-ngangguk didalam mobil, "iya juga."
Xabara memilih pergi dari sana dan kembali ke Markasnya.
__ADS_1
"bagaimana? apa kau sudah membereskan Pria tua itu?." tanya Xabara dengan anggun duduk si singgasana nya.
"sudah Nona." jawab Aya dengan sopan.
"apa kalian ada yang terluka?." tanya Xabara melihat para anggotanya hanya berjumlah 30 orang tapi kemampuan mereka bisa dianggap 300 orang.
peribahasa mengatakan lebih baik sedikit tapi berguna dari pada banyak hanya merepotkan.
"tidak ada Nona, kami sehat."
"kalian kembalilah pada Keluarga kalian dan bertindak seperti manusia normal, aku akan panggil kalian jika aku butuh dan ingatlah jangan lupa berlatih." kata Xabara.
"baik Nona." jawab mereka serentak lalu bubar teratur.
inilah alasan mengapa anggota Higanbana sulit ditemukan karna mereka semua berbaur dengan masyarakat kalangan biasa sehingga sulit bagi musuh mendeteksi keberadaan mereka semua.
"ada apa Nona?" tanya Aya serius.
Xabara memainkan ujung rambutnya, "aku merasa tempat ini sedang diawasi."
Aya terbelalak, "benarkah Nona? kalau begitu biar kita habisi saja mereka."
Xabara menggeleng kepalanya, "aku belum mau melawan mereka karna hal yang pertama kita urus adalah balas dendamku."
Aya menundukkan kepalanya, "baik Nona."
"dimana pewarna kulitku?" Xabara mengulurkan tangannya dan Aya segera merogoh sesuatu dari saku jaketnya serta memberikan yang Xabara minta.
Xabara memakai pewarna tubuh itu lalu bertindak sebagai Xabara yang jelek serta tidak berguna.
"kenapa Nona menggunakan pewarna lagi? saya bisa pastikan tidak ada yang tau siapa itu Ratu Higanbana." tanya Aya.
"aku ingin keluar dari sini bersamamu kau harus memakainya, mereka datang dengan jumlah yang tidak sedikit kita harus tinggalkan markas ini yang sudah tercium oleh beberapa musuh." jelas Xabara.
Aya menganggukkan kepalanya menuruti Xabara, mereka pun segera keluar dari tempat itu dan ternyata firasat Xabara memang benar. di persimpangan jalan mereka di kerumuni banyak Pria yang memakai khas logo anggota masing-masing.
"Nona?" Aya menoleh ke Xabara.
"tidak apa..! mereka tidak akan mengenali kita." ucap Xabara serius.
semua Mobil di berhentikan dan kebanyakan memang perempuan, betapa menggilanya para Pria itu merayu perempuan-perempuan cantik yang menyetir mobil hingga tiba di Mobil Xabara mereka malah ilfil dan langsung menyuruh mobil Xabara pergi.
Xabara tersenyum tipis, "sudah aku bilang ini yang terbaik."
Aya tersenyum lega karna penyamaran jelek mereka memang ampuh, Xabara tidak peduli direndahkan atau diejek lelaki rendahan karna hidupnya itu memang merepotkan saat menjadi perempuan cantik terutama jika mereka tau kalau Xabara adalah gadis yang di incar banyak Ketua Mafia untuk dimiliki.
.
.
__ADS_1
.