Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
tiada


__ADS_3

.


.


.


Eka menceritakan lagi lebih rinci masa lalunya saat itu, sesekali Ia harus menghapus air matanya mengingat kejadian itu walaupun sudah sangat lama tapi begitu membekas dalam ingatannya walaupun Nenek Eka berusaha menutupi semua itu serapat-rapatnya.


Rovert merangkul bahu Xabara dengan erat, tangan Xabara bergetar mengetahui semua itu matanya menyala seperti begitu dendam dengan sosok Bagos itu.


"maafkan Aku Xabara..! jika saja malam itu aku memberanikan diri memberitau Keluargamu aku akan mati ditengah jalan menuju Rumahmu, aku selamat sampai saat ini karna berpura-pura tidak tau rencana Orang jahat itu." ucap Nenek Eka.


"sebenarnya aku ingin sekali menceritakannya pada kalian tapi semua sudah terlambat, aku menyimpannya karna aku seorang pengecut tapi jujur saja Xabara, hidupku tidak pernah tenang Xabara..! aku sama sekali tidak pernah nyenyak didalam tidurku, aku seperti ingin mati tapi aku berharap suatu saat akan ada seseorang yang bisa menjadi tempat yang tepat untukku memberitau sebenarnya."


Xabara memejamkan matanya sampai air matanya menetes,


"sayang?" bisik Rovert.


Xabara perlahan membuka matanya, "tidak apa Nek..! Nenek memang tidak bisa berbuat apa-apa, sudah jelas Nenek akan mati terbun*h sebelum memberitau kami."


"apa tidak ada telfon saat itu Nek?" tanya Rovert.


"semua disadap, Rumah Keluarga Xabara di sadap dan aku tau itu dari pesan Long. tanganku terlalu gemetaran sampai mengirim pesan saja tidak berani, ak-aku takut..! Xabara jika kau ingin membun*ku aku akan dengan senang hati merelakannya, hidupku sudah menderita dan kematianku ditanganmu itu lebih aku sukai dibanding kematian ditangan Orang jahat itu." Nenek Eka.


Rovert memandang Xabara sambil mengelus punggung Xabara dengan lembut.


Xabara berpindah tempat disamping Eka lalu memegang tangan Nenek Eka, "terimakasih Nenek sudah memberitauku !?"


"ta-tapi??"


"Nek? Atuk Long sudah seperti Kakek sendiri bagiku, lagian Nenek juga kehilangan Atuk kan? aku yakin Nenek juga dendam pada mereka hanya saja rasa takut Nenek lebih menguasai diri Nenek, iya kan Nek??" tanya Xabara.


Nenek Eka menangis tersedu-sedu, "rasa bersalahku pada Keluargamu lebih besar dibanding kematian suamiku Xabara, tapi aku tidak bisa menghilangkan rasa takutku."


"terimakasih Nenek sudah bertahan sampai aku tau kebenarannya, jika bukan karna Nenek !? pasti aku merasa bersalah karna membiarkan pembun*h Keluargaku masih bernafas dan tertawa di muka bumi ini tanpa menerima hukuman." ujar Xabara dengan serius.


Eka menangis memeluk Xabara bahkan Ia mengatakan beban berat yang menimpa hatinya selama ini telah terangkat sejak memberitau Xabara, Ia tidak takut jika harus dibunuh oleh siapapun setelah berhasil memberitau Xabara rahasianya.

__ADS_1


Xabara mengelus punggung Eka, "Nenek pasti sangat menderita selama ini ya? maafkan aku yang terlambat menyadarinya Nek!?"


Eka memenggeleng-geleng kepalanya sambil melepaskan pelukannya, "jangan meminta maaf Xabara..! jangann !!?"


Xabara memegang tangan Eka lalu berjanji akan membalas kematian Atuk Long untuk Eka, Xabara meminta Eka untuk hidup damai tanpa rasa takut lagi.


Rovert mengepalkan tangannya melihat mata indah Wanita yang Ia cintai berkaca-kaca, sejak tadi Ia memang sudah menahan amarah tapi demi menjaga Xabara tentu Ia harus lebih tegar dari Xabara yang sedang terpuruk.


.


malam harinya di Kamar sederhana Xabara dan Rovert,


Rovert membawa makan malam untuk Xabara, "sayang? kamu tidak mau makan?"


Xabara diam dengan pandangan datar lalu Rovert kembali menegur Xabara begitu lembut sehingga Xabara melihat ke Rovert.


"Rovert aku bersusah payah mati-matian belajar untuk balas dendam kematian keluargaku, aku mengira semua sudah selesai tanpa aku kira ternyata dalang dari kematian Keluargaku masih hidup, mereka pasti berbahagia, tertawa dan menikmati semua penderitaan kami. Rovert ak-aku sangat bodoh kan?"


Rovert menggeleng kepalanya, "kamu hanya terkecoh sayang itu sebabnya aku kagum kamu berhasil membalas dendam hanya dalam waktu 3 tahun sementara aku?"


Rovert mengulum senyum lalu menangkup pipi Xabara, "balas dendam-mu berhasil sayang hanya saja belum sempurna, kamu mengerti kan maksudku?"


Xabara tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.


"mau makan?" tanya Rovert tapi Xabara menggeleng kepalanya.


"sayang?? balas dendam juga butuh energi." ujar Rovert.


"Cucuku?? balas dendam butuh Kekuatan." ingatan dari kata-kata Demon saat melatih Xabara ketika masih hidup.


Xabara menatap Rovert cukup lama lalu Rovert mendekatkan wajahnya di wajah Xabara begitu dekat dan semakin mendekat.


"jangan karna hama kamu jadi lemah sayang, kamu adalah Ratu Higanbana yang tidak terkalahkan. kamu terlalu luar biasa sampai kamu tidak bisa melihat seorang pengecut terendah yang beraninya main adu domba."


Xabara tersenyum lalu tangannya mengelus rahang Rovert, "kata-katamu selalu saja mengingatkanku pada Orang yang pernah aku sayangi."


Rovert terkekeh pelan, "kalau begitu aku akan menjadi Orang yang kamu sayang kan?"

__ADS_1


Xabara mengangkat bahunya acuh lalu Rovert mengecup pipi Xabara dengan mesra sedangkan Xabara mendorong dada bidang Rovert namun tidak terlalu kuat.


"jadi mau makan?" tanya Rovert.


Xabara akhirnya mau makan berkat bujukan Rovert yang tiada lelah dan begitu sabar menghadapi sifatnya itu.


ke esokan harinya,


Xabara dan Rovert dihebohkan dengan warga yang berteriak bahwa Nenek Eka sedang meregang nyawa.


Xabara yang panik tentu mendatangi Rumah Nenek Eka bersama Rovert, banyak Orang yang mengkerumuni pondok Wanita itu.


Nenek Eka yang melihat Xabara segera mengulurkan tangannya dengan lemah tentu Xabara menyambutnya.


"Nenekkk?" cicit Xabara.


"Ter-Terimakasih telah datang jauh-jauh kesini Xabara, ak-aku bisa mati dengan tenang setelah bertemu denganmu."


"apa Nenek sakit parah selama ini? apa perlu kita ke Rumah Sakit?" tanya Xabara menghapus air matanya.


Nenek Eka menggeleng kepalanya, "aku sudah menderita selama ini nak, biarkan aku menyusul suamiku."


Rovert hanya bisa melihat arah lain sebab tidak kuat melihat Xabara begitu sedih, Para warga yang lain tidak mengatakan apa-apa hanya berpikir Xabara adalah Orang yang bisa membuat Nenek Eka menjadi lebih damai seperti saat ini.


Xabara hanya bisa menahan tangis melihat Orang yang telah memberitau kebenaran tentang kematian Keluarganya meninggal didepan matanya, terlihat sekali Nenek Eka begitu damai seolah penderitaan yang selama ini dipendam olehnya telah sirna.


"Nenek aku tau Nenek bertahan hidup selama ini ingin memberitau kebenaran itu hanya saja Nenek tidak tau kalau aku masih hidup, terimakasih telah menungguku." batin Xabara.


Xabara berdiri dengan kaki yang begitu goyah segera Rovert menahan pinggang Xabara, Xabara membalik tubuhnya menyandarkan keningnya di bahu Rovert sambil menangis tanpa suara.


Rovert mengelus kepala Xabara sementara warga desa pinggir pantai itu begitu berduka dengan meninggalnya Nenek Eka, mereka tau bagaimana baiknya Wanita itu tapi hidupnya tidak sebaik yang dipikirkan Orang lain, semua perempuan yang ada di Desa itu sudah berusaha dekat dengan Eka. namun, sedekat-dekatnya Nenek Eka pada warga disana tetap saja Eka tidak pernah memberitau atau bercerita tentang masa lalunya itu pada siapapun itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2