
.
.
.
"kenapa aku harus mendengarkanmu?" senyum miring Xabara.
"XeniaXabara, kau harus gunakan kemampuan tanganmu saja." ujar Ralista lagi.
"kau ingin masa lalu terulang lagi?" sinis Xabara.
Ralista terdiam, "kali ini aku tidak akan kalah, aku hanya ingin memperkenalkanmu Pria yang akan membuatmu merasa beruntung."
Rovert mengepalkan tangannya, Ia maju 1 langkah tapi dengan cepat Xabara menahan lengan Rovert.
"kau tidak lihat ada suamiku disini?" tanya Xabara dengan nada dingin.
"kalau dia bisa melawan Dia dan tidak kalah, boleh saja." balas Ralista dengan nada seakan menantang Rovert.
"Ka-Kauu!" Rovert begitu marah.
"Boyyy!!" seru Xabara langsung membuat Rovert terdiam karna namanya sekarang memang Boy.
"aku tidak terima di rendahkan oleh wanita tua ini Sayang." kata Rovert ke Xabara.
sayang? batin semua Orang semakin yakin kalau Boy memang suami XeniaXabara bahkan tidak terima direndahkan.
Ralista melebarkan matanya, "apa bagusmu ha?" teriak Ralista dengan marah disebut wanita tua.
"dalam hidupku hanya Nona XeniaXabara saja yang bisa merendahkanku, lain dari itu tidak akan aku izinkan." kata Rovert dengan nada rendah namun terkesan mengancam begitu serius.
"jadi kau mau melawannya sekarang?" tanya Xabara memiringkan pandangannya.
"aku ingin melawan Wanita tua ini lalu membuat tulang rusuknya patah supaya tidak berani menantangmu lagi." jawab Rovert.
"Boy!!?" Xabara melemah lembut.
"Sayang? aku akan melawannya untuk menguji kemampuannya, kalau dia mengadu pada Pria itu nanti akan aku hadapi." Rovert.
Rovert yang sudah tidak tahan ingin menghajar wanita angkuh itu pun langsung mendekati mereka, Ade di suruh menjauh oleh Rovert jadi hanya bisa menonton sebab menurut Rovert bawahannya itu telah melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa ada warga yang terluka.
__ADS_1
Ralista benar-benar tidak nyaman dengan ejekan Rovert tentu akan buktikan kemampuannya yang tidak berkurang meski umurnya sudah terbilang tua.
"aku akan memberimu pelajaran." kata Ralista dengan geram juga melangkah ke Rovert.
Xabara diam sambil melipat kedua tangannya didepan Dada, mau bagaimana lagi jika Rovert tetap bersikeras menantang Ralista.
Xabara menatap tajam para bawahan Ralista yang menundukkan kepala mereka seketika, hanya dengan pandangan saja sudah membuat mereka takut memang Xabara seorang pembun*h handal dengan aura mengelilinginya itu membuat siapapun tau sudah banyak korban berjatuhan lewat tangan seorang XeniaXabara.
Rovert berhadapan dengan Ralista.
"kau hanya Orang kecil yang kebetulan mendapatkan Seorang XeniaXabara, apa kau sekuat itu sampai berani merendahkanku dengan sebutan wanita tua?" sinis Ralista.
"yah..! wanita tua yang dengan mudahnya terjatuh karna pukulan telak sekali Istriku, kau hanya berani bersembunyi dibalik Nama Pria yang kau banggakan itu saja." kata Rovert meremehkan.
Ralista yang geram disebut berani bersembunyi pun langsung menyerang Rovert.
Rovert dengan cepat mengelak, Rovert tidak mengalah sedikitpun walau yang Ia lawan adalah perempuan hanya sekali 3 kali Rovert mengelak lalu melakukan perlawanan sudah berhasil membuat Ralista terjatuh mengenai Kursi kebanggaannya sendiri.
"Nyonya??" panik para bawahan Ralista.
Ralista menolak dengan kasar bantuan mereka semua lalu kembali bangkit sendiri melawan Rovert, kali ini Ralista melawan dengan segala kekuatannya sampai Rovert mengerti bahwa Ralista memang seorang petarung.
Xabara memperhatikan saja pertarungan mereka sampai Rovert berhasil memukul perut Ralista yang melangkah mundur seketika.
Ralista menjerit keras sehingga para bawahannya ketakutan.
"aku benar-benar terlalu meremehkanmu ya? pantas saja kau bisa menikahi seorang XeniaXabara ternyata kau sangat hebat dalam bertarung." Ralista memang akui Rovert sangat kuat dengan kecepatan tangan yang begitu tidak wajar bagi ukuran seorang petarung.
Rovert tersenyum miring, "aku berlatih selama ini ketika di Dubai bed*b*h..! aku tidak peduli kau perempuan sekalipun." batin Rovert melangkah lagi ke arah Ralista.
Ralista mundur dengan cara mengesot kebelakang lalu menoleh ke Para bawahannya, "apa kalian hanya akan jadi warga penonton saja? kenapa tidak menyerangnya?" teriak Ralista.
"ta-tapi N-Nyonya?" bantah mereka semua akan takut.
"cepat...!" teriak Ralista.
akhirnya para bawahan Ralista maju dengan langkah ragu-ragu seakan waspada kemampuan Rovert yang sudah mereka lihat secara langsung.
Ralista berjalan tertatih-tatih ke arah Xabara tapi Xabara tidak mundur atau menjauh dari Ralista, Ia malah merasa bangga Rovert bisa membuat Ralista seperti itu karna Rovert seperti sudah terlatih di dunia Mafia bahwa jenis kelamin tidak menjadi halangan untuk saling menghabisi satu sama lain.
"hiyaaa...!!"
__ADS_1
Para bawahan Ralista menyerang Rovert sekaligus, Ade pun tidak terima langsung ikut turun tangan sekalian melatih kemampuannya yang diajar langsung oleh Rovert walau tidak sekuat Rovert tapi 30% kemampuan nya dari pelatihan Rovert sudah jelas bisa menjadikan para Mafia kelas menengah kebawah sebagai bahan percobaan.
Xabara tidak terlalu mengkhawatirkan Rovert dan Ade karna yang menyerang mereka hanya tikus kecil sudah pasti mereka akan berakhir di tanah (maksudnya kalah).
Ralista menatap tajam Xabara, "dari mana kau mendapatkan serigala hitam itu?" tanya Ralista yang langsung tau kalau Rovert adalah Serigala hitam terkenal di Kanada dimasa kejayaannya.
Xabara tertawa kecil, "kau mengenali identitas suamiku? pantas saja."
Ralista mengepalkan tangannya, "kau harus datang di acara perkelahian terbuka 1 minggu lagi di lapangan sepak bola X..! saat itu kau akan melihat Pria yang bisa mengalahkan suamimu itu nanti."
Xabara terkekeh merendahkan, "apa kelebihannya bisa mengalahkan suamiku? kau tidak merasakan kemampuannya tadi? apa dia lebih hebat dari suamiku? atau hanya pandai bermain senjata api dan merakit bom saja?"
Ralista kehabisan kata-kata, "kau akan disandera dalam sangkar emasnya lalu aku menjadi penguasa terkuat di dunia mafia tidak ada lagi Orang yang mengenal XeniaXabara hanya si Ralista sang Nyonya Mawar Hitam."
Xabara diam saja menatap dingin Ralista lalu Ia menampar Ralista sampai melangkah kesamping menahan beban tubuhnya supaya tidak tersungkur sambil memegang pipi kanannya ditampar kuat.
"kau??" Ralista menunjuk wajah Xabara.
"aku hanya minta kau memamerkan wajahmu itu pada Pria itu, aku yang menamparnya karena berani berpikir akan memenjarakanku." sinis Xabara.
Ralista tertawa, baginya sudah pernah meregang nyawa tidak terlalu menakutkan akan segala pukulan dan tamparan musuhnya, sebab Ia juga sudah terbiasa terkena berbagai senjata bahkan tubuhnya penuh dengan bekas luka senjata hanya seorang XeniaXabara saja yang bersih dari luka karna bisa menyembuhkan bekas luka itu sehingga tidak berbekas.
"datanglah XeniaXabara, kau akan tau kemampuannya dan dia dalam perjalanan ke Indonesia demi dirimu." kata Ralista menyeka sudut bibirnya yang berdar*h.
bruughhh...
Ralista menoleh ke para bawahannya yang sudah terkapar di tanah.
"kau akan menjadi lawannya 1 minggu lagi..!" tuding Ralista ke Rovert dengan tajam dan penuh permusuhan.
Xabara mengangkat kakinya dengan sangat tinggi dan memutarnya sehingga mengenai lengan Ralista yang menunjuk Rovert.
takk...!
"ahh!" Ralista memegang lengannya yang sakit.
"kau sangat membelanya ya?" sinis Ralista yang tidak punya tenaga melawan Xabara hanya bisa melangkah mundur dan pergi disusul para bawahannya yang jalannya aneh karna masih sakit terkena pukulan, tendangan serta dibanting oleh Rovert.
.
.
__ADS_1
.