
.
.
.
ke esokan malamnya,
Rovert dan Xabara berada di Taman LoveXabara menunggu hantu-hantu yang ditakuti pengunjung taman itu.
"kenapa sayang?" tanya Rovert menekan kepala Xabara yang melihat situasi.
"tidak..! aku tidak menyangka Taman ini akan sepi." jawab Xabara.
Rovert mengulum senyum, "kalau begitu anggap saja aku mereservasi tempat ini bagaimana?"
Xabara menatap Rovert, "bisa tidak otakmu itu serius saja?." tanya Xabara dengan wajah datarnya.
Xabara merasa kesal setiap kali Xabara berbicara dengan Rovert selalu saja membalas kata-kata Xabara dengan godaan atau candaan sedangkan Rovert malah tertawa mengecup punggung tangan Xabara yang membuang muka sambil menarik tangannya.
"seriuslah..!" titah Xabara.
"seberapa serius aku sayang? aku dibantu oleh Ratu Higanbana apa yang aku takutkan hmm? aku tidak merasa kalau tidak serius akan membuatku kalah karna kamu disisiku, XeniaXabara tidak pernah kalah." ujar Rovert.
Xabara tersenyum lalu memukul lengan Rovert sampai Pria yang telah terukir di hatinya Xabara itu mengaduh sambil tertawa melihat wajah cantik Istrinya tersenyum seperti merasa terhibur oleh kata-katanya.
"kamu benar-benar mengerikan." kata Xabara malah membuat Rovert sumringah.
"Say...? hmm.?" Rovert hendak berbicara tapi melihat ada Orang berpakaian putih dengan bersimbah darah pun melihat ke arah Orang itu.
"sudah datang?" Xabara melepas seatbeltnya.
"mereka terjebak sayang, mereka mengira ini Mobil pengunjung Taman." kata Rovert.
"aku ingin menghantam mereka sampai mat*." senyum miring Rovert.
Xabara melihat ke arah Rovert dan setuju saja apa yang Rovert lakukan.
"ayo sayang..!" ajak Rovert sambil membenahi dirinya yang menyamar sebagai Boy (suaminya Anita) begitu juga dengan Xabara yang menyamar menjadi Anita.
Xabara menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua keluar dari Mobil itu.
__ADS_1
"kalian lah dalangnya?" tanya Rovert seketika menyeringai.
Para hantu-hantu itu terkejut ada pengunjung yang tidak takut pada mereka biasanya selalu lari tapi nyali para hantu palsu itu diberani-beranikan, mata hantu-hantu palsu itu melotot melihat sosok wanita dengan gigi kelinci dan kacamata tebal memegang bunga Higanbana tengah menatap misterius mereka semua.
DEG!!!
"Bu-Bunga Higanbana?" batin semua hantu-hantu palsu itu seketika gemetar.
"sepertinya kalian sudah menebak Bunga yang aku bawa, kalian tau Bunga ini jika jatuh ke tanah maka kalian yang berjumlah 20 hantu akan mati biar jadi penunggu Taman ini sekalian tidak usah pura-pura lagi." kata Xabara menyeringai menakutkan.
seketika para hantu-hantu itu yang pucat semakin pucat bukan karna make up saja tapi wajah asli mereka juga memang benar-benar pucat, tangan mereka kian gemetaran.
"aku senang menjadikan kalian penunggu yang sebenarnya di tempat ini." sambung Rovert melempar jarum ke salah satu hantu yang langsung terkapar mengalami kejang-kejang dan mat* ditempat.
seketika Hantu-hantu yang lain gemetaran ada yang melarikan diri mencari tempat persembunyian tapi sayangnya Xabara maupun Rovert sudah tau identitas 20 hantu pura-pura itu.
"yess...! tidak meleset!" Rovert malah senang pelemparan jarumnya semakin sempurna walau jaraknya sangat jauh.
"nah...! itu penunggu 1, siapa yang mau jadi penunggu kedua?" tanya Rovert melangkah ke arah mereka semua yang lari kocar-kacir.
Xabara memijit pelipisnya melihat kekacauan yang Rovert lakukan, "bisa-bisanya dia melempar jarum sampai semua semakin berantakan."
Xabara berjalan tenang ke arah lain dan menemukan salah satu hantu yang bersembunyi.
"ini namanya Pocong ya?" tanya Xabara dibelakang Orang yang bersembunyi itu.
DEG!!
si Pria yang persis seperti pocong itu memutar kepala ke arah Xabara dan melotot kaget, padahal wajah mereka sangat menyeramkan bisa-bisanya mereka yang takut pada sosok gigi kelinci itu.
"aakkhh!" Si pocong palsu berdiri dan meloncat-loncat melarikan diri dari Xabara yang mengikuti pocong itu.
Xabara malah melihat si pocong palsu itu dengan serius sambil memperhatikan kaki si pocong yang meloncat-loncat, tatapannya seolah memberi tau bahwa Ia baru kali ini tau Pocong itu memang melompat-lompat.
"ternyata benar pocong itu seperti kodok suka melompat-lompat, sini aku jadikan pocong beneran." Xabara menarik tali yang mengikat tubuh pocong itu sampai terlepas tapi si pocong masih meloncat-loncat menjauhi Xabara.
"hhuhh!" Xabara memutar kedua bola matanya lalu melakukan cara terakhir yaitu menendang punggung pocong itu sampai tersungkur.
"aku ingin berkelahi dengan hantu sesekali." kata Xabara dengan serius.
"am-ampuni saya Nona..? ampuni saya jangan bunuh saya." pinta si Pocong akhirnya mengeluarkan suara.
__ADS_1
"bunuh? bukankah kau sudah mati?" ejek Xabara.
"am-ampuni saya Nona..? sa-saya hanya menjalankan tugas saja." pekik pocong itu.
Xabara menendang kepala Pocong itu sampai tidak sadarkan diri, Xabara menoleh ke Rovert.
"Rovert lakukan dengan cara manusia biasa, jangan habisi mereka tapi laporkan ke Polisi biar masyarakat tau kalau semua ini hanya kebohongan saja biar tempat ini sepi." titah Xabara.
Rovert yang sudah menghabisi 3 nyawa pun mengangguk setuju, "aku hampir saja lepas kendali."
Xabara menggeleng kepala saja lalu mereka berdua mengumpulkan si hantu-hantu palsu yang tidak sadarkan diri 17 orang dan tak lupa memanggil Polisi malam-malam itu juga.
Polisi yang bekerja 24 jam pun datang ke Lokasi dan mereka terkejut melihat Xabara memegang Bunga Higanbana, sosok gigi kelinci dengan kacamata besar masih kelihatan sangat cantik, mereka semua bertanya-tanya apakah sosok itu Ketua Higanbana atau anggotanya.
Xabara mendekati salah satu Polisi Perempuan yang tidak bisa bergerak sama sekali, "kau seorang perempuan tapi bekerja malam hari ! sepertinya kau punya kemampuan yang setara dengan laki-laki ya?"
si Polisi wanita yang terdiam tanpa berani mengeluarkan sepatah kata karna berhadapan dengan sosok Orang Higanbana yang tidak diketahui wajahnya.
"ini untukmu...! berikan pada Keluarga 3 Pria yang itu." Xabara memberikan Bunga Higanbananya ke Polisi wanita itu yang menerima dengan tangan gemetaran.
"ayo...?" ajak Xabara melirik kesamping berbicara dengan Rovert.
Rovert mendekati Xabara tapi baru beberapa langkah Polisi wanita itu bertanya pada Xabara siapakah Ratu Higanbana.
"kenapa bertanya?" tanya Xabara berbalik sambil memiringkan pandangannya.
"sa-saya korban penculikan 10 tahun yang lalu didalam kapal dan Nona itu menyelamatkanku." jawab si Polisi wanita.
Xabara memiringkan pandangannya lalu kembali ke Polisi wanita itu sambil memperhatikan wajahnya sementara Polisi yang lain hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka tidak punya nyali berbicara atau mewawancarai Xabara.
"Korban penculikan 10 tahun yang lalu?" beo Xabara sambil memicingkan matanya.
sejak Xabara tau dirinya di cintai oleh banyak Orang, Ia tidak lagi bersembunyi sebagai Anita yang dikenal sebagai Orang Higanbana bukan Ratunya kecuali Orang pasar saat itu yang tau Anita adalah Ratu Higanbana.
"Be-benar..? in-ini..! bi-bisakah anda kembalikan ke Nona itu? di-dia memberikan saya pinjaman untuk menjadi seorang Polisi memberantas kejahatan." ujar Polisi Wanita itu mengeluarkan amplop tebal dan menyerahkannya ke Xabara.
.
.
.
__ADS_1