
.
.
.
Lienda dan Ratu pun mulai berbicara serius tentang Barrest bersama Aya, Ratu tentu setuju jika Aya menikah dengan Barrest walau Ia sempat kesal dengan Pria itu karna dikenal publik sebagai kekasih Rovert (g*y) tapi sebenarnya Ratu juga tau kalau Barrest itu Pria yang baik.
beberapa hari kemudian,
Xabara tengah berdandan dengan sangat memukau untuk penampilan nya di Acara besar Perusahaan Rovert kebetulan Perusahaan milik Xabara dibidang perhiasan dan berlian di percaya menjadi bagian dari acara itu.
Ratu dan Lienda telah berangkat ke pameran itu sekaligus membeli Perhiasan spesial dari Perusahaan milik Xabara, berbeda dengan Taylor yang juga membuat perhiasan serta gaun tapi Perhiasannya di Produksi dari Luar Negri sedangkan Xabara membuat nya di dalam negeri ada tempatnya tersendiri.
"sayang? kenap...?" Rovert terpaku melihat penampilan Xabara.
"bagaimana Rovert? gaunku dari punya Tante Taylor dan Perhiasannya dariku, cocok kan?" Xabara malah bertanya pada Rovert tentang penampilannya.
Rovert tersenyum, "sangat indah!"
Xabara tersenyum tipis lalu kembali membenahi kalung berliannya yang akan ramai di kalangan Orang elit dan jumlah di dunia hanya 3 dengan desain khusus dari Xabara.
Rovert dengan bangga membawa Xabara ke Acara Pesta besar Perusahaannya, didalam sana ada pameran besar-besaran dari Perusahaan Tiffany milik Xabara.
"itu menantuku!!" tunjuk Ratu ke Xabara yang baru saja tiba bergenggaman tangan dengan Rovert.
Taylor dan Lienda tersenyum saja karna bisa mereka tebak Xabara adalah menantu kesayangan Ratu.
"tidak ku sangka gaun itu akan sangat indah di tubuh Xabara dibanding Modelku di Amerika." keluh Taylor.
"tubuhnya seindah itu pantas lah..! tapi aku dengar dia hamil kenapa malah terlihat seksi? apa dia memang hamil Ratu?" tanya Lienda yang tidak percaya Rovert maupun Barrest sebab Ia tau kedua Pria itu pembohong.
"Xabara memang hamil dan aku memastikannya sendiri." jawab Ratu dengan bangga akan menjadi seorang nenek.
mereka bergosip bertiga sementara Xabara menyambut Vellen dan Obel yang ternyata datang ke Acara itu, Vellen banyak memesan perhiasan dari Perusahaan Xabara yang sangat elegan dan bernilai bahkan memuji bentuknya terbilang unik serta sangat menarik, Xabara begitu ahli mendesain bentuk Perhiasan itu sehingga terlihat indah dikenakan oleh wanita glamor tapi ada juga perhiasan yang tidak terlalu berlebihan di tubuh wanita yang suka kesederhanaan.
"nilai jual Perhiasanmu sangat tinggi Xabara." puji Vellen.
Xabara tersenyum, "sebenarnya aku hanya melakukan yang terbaik Tan." balas Xabara.
tak berapa lama kemudian Irene datang bersama Ray yang terlihat terpaksa datang ke Acara itu.
"Irene??" Xabara memeluk Irene yang begitu heboh padanya.
__ADS_1
"Xabara kamu cantik sekali." puji Irene.
Xabara terkekeh sedangkan Ray menatap remeh padanya, "kenapa Pria ini bersamamu? apa tidak ada Pria lain?"
"aku tidak punya teman lain selain Sepupu bodohku ini saja." jawab Irene.
Ray menatap tak senang Xabara, "heeiii!! kenapa kau begitu sombong dan angkuh? apa kau tidak tau siapa aku?"
Irene memukul lengan Ray, "jangan macam-macam sama Sahabatku."
"memangnya siapa dia Irene? apa dia anak Presiden atau Raja? tapi aku lihat wajahnya tidak ada aura bangsawannya sama sekali malah seperti seorang penjahat." Xabara malah bertanya ke Irene.
Ray mengepalkan tangannya, "kau beruntung kalau kau terlahir sebagai perempuan jika terlahir sebagai lelaki mungkin kita sudah bertarung diatas ring."
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "kalau bukan anak Raja tidak usah mengancam seorang Xabara."
"ciih..!! Irene kenapa kau harus berteman dengan wanita jal*ng sombong sepertinya?" tanya Ray ke Irene.
"diam Ray...! kenapa kau bicara seperti itu? dia sahabatku tidak bisakah kau sopan padanya?" kesal Irene.
"kau lihat sendiri bagaimana sifat angkuhnya itu." ketus Ray.
"aku tidak akan berkata kasar pada Pria murah*n yang menyebutku jal*ng !! apalagi kau menatapku rendah padahal kau masih jauh dibawahku, aku akan sopan jika kau menghormatiku." ujar Xabara.
"wanita sombong ini minta diberi pelajaran." geram Ray hendak mendekati Xabara tapi ditahan oleh Irene dan Rovert menahan dada bidang Ray.
"kau dengar Ray? sekarang ayo kita menjauh!" ajak Irene.
"apa dia pikir aku tertarik pada Istri jal*ngnya itu? heii?? asal kau tau ya? Aku tidak tertar...?"
Rovert menarik kerah Ray lalu membawanya paksa ke tempat yang sepi, Ray meronta sedangkan Irene membekap mulutnya syok dan berlari disusul Xabara. Ratu dan yang lainnya tidak melihat pertengkaran mereka malah sibuk dengan dunia gosip masing-masing.
"lepaskan aku!?" teriak Ray yang tidak menyangka Rovert cukup kuat padahal Rovert bukan anggota Mafia.
Buggghh !!
Ray tersungkur di tinju oleh Rovert.
"aku tidak peduli kau seorang Ketua Mafia sekalipun, kalau kau sudah menyinggung Istriku maka kau harus berurusan denganku."
Ray mengepalkan tangannya lalu bangkit menyeka darah dari sudut bibirnya, "kau tidak peduli dengan jabatanku? baiklah!! mari kita lihat sekuat apa kau melawanku."
Rovert mengangkat tangannya lalu memberi kode untuk Ray menyerangnya.
__ADS_1
"dasar sombong..? kau akan mati ditanganku." geram Ray segera menyerang Rovert yang cepat mengelak.
ditengah pertarungan mereka berdua Xabara dan Irene datang.
"Ya Tuhan...! Ray benar-benar menyebalkan, dia suka berkelahi tapi kenapa tidak lihat situasi?" gerutu Irene.
Xabara melipat kedua tangannya menatap perkelahian itu.
"Xabara maafkan aku !!? dia selalu membuat kekacauan tidak seharusnya aku membawa pengacau." ucap Irene merasa bersalah.
"iya! maafkan aku juga yang tidak tahan mencelanya, aku benci caranya menatapku seperti aku ini begitu rendahan." Balas Xabara juga.
Irene mengangguk, "dia belum pernah terkena pukulan perempuan maka nya dia begitu kasar sama perempuan manapun, aku berharap ada wanita yang berhasil mengalahkannya dan memukulnya sampai babak belur."
Xabara dan Irene melihat ke arah Rovert yang sedang bertarung dengan Ray.
Ray dan Rovert terus bertarung sampai Rovert berhasil menendang Ray hingga melangkah mundur.
"wooo!! ternyata kau ahli bertarung juga." seringai Ray.
Ray kembali menyerang Rovert walau Ia babak belur tapi tidak membuatnya menyerah membalas Rovert hingga Rovert terkena tendangan dari belakang ternyata sudah ada Lios diantara mereka.
"Lios kau datang tepat waktu!" kata Ray tersenyum lebar.
"dasar bodoh..! kenapa kau bisa kalah dengan Pria biasa ini?" umpat Lios.
Rovert melangkah mundur ditengah-tengah Ketua Mafia itu sambil meningkatkan kewaspadaannya, Lios dan Ray menyerang Rovert bersamaan tiba-tiba Xabara muncul menangkis serangan Lios.
Buugghh.!
Lios melangkah mundur menatap Xabara dengan tajam, "wanita lemah seperti kau juga mau menyerangku!"
"Pria sejati tidak akan menyerang musuh dengan cara pengecut!" kata Xabara.
"Xabara pergilah!" usir Rovert sambil menyerang Ray tapi Xabara tidak mengubrisnya.
Irene membekap mulutnya syok melihat kecepatan Xabara yang bisa menangkis serangan kuat Lios padahal sedang memakai gaun.
"kau mengataiku pengecut? akan aku balas perbuatanmu saat itu." umpat Lios.
"aku juga akan balas dendam karna aku juga dendam dengan kata-kata tajammu yang mengataiku jal*ng !" seringai Xabara yang tidak takut lagi akan ketahuan.
.
__ADS_1
.
.