
.
.
.
malam itu juga Xabara maupun Rovert tidur bersama sikembar dan Alena, Xabara memandang lekat Putra-Putrinya yang benar-benar mengikuti Gennya.
"sekali Ibu memiliki darah mafia maka anaknya juga." batin Xabara mengelus puncak hidung mungil An.
"sayang? belum tidur?" bisik Rovert.
Xabara melihat ke Rovert yang tersenyum lembut ke arahnya, Rovert mengulurkan tangannya dan Xabara menyambut tangan Rovert. mereka keluar dari Kamar itu dan duduk santai di Rooftop sambil melihat bintang.
"kamu lihat sayang yang mana bintang paling kamu suka? aku akan ambilkan untukmu." tanya Rovert.
Xabara menatap Rovert lalu tertawa kecil melihat wajah serius Rovert, "benarkah? kamu bisa mengambil bintang mana aja yang aku mau.?"
"tentu." jawab Rovert yakin.
Xabara tampak berpikir lalu menunjuk salah satu Bintang yang paling terang menurutnya lalu Rovert menangkap bintang yang ditunjuk Xabara ketika Rovert membuka kepalan tangannya muncullah gelang penuh bintang di tangan Rovert.
Xabara menatap gelang itu, "aku sudah tau kalau kamu memesan gelang berlian di Perusahaanku, ternyata ini?"
Rovert mendengus, "pasti Nur yang memberitaumu, dasar mulut ember bocor." gerutu Rovert.
Xabara tersenyum sedikit terhibur dengan gerutuan Rovert lalu Ia memandang Rovert yang memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Xabara.
"kamu adalah bintang yang paling terang untukku dan Mom sayang, jangan merasa tertekan dengan kelebihan anak kita ya?" bujuk Rovert begitu lembut mengelus pipi Xabara.
Xabara mengulum senyumnya lalu mencubit pipi Rovert, "kamu benar-benar sangat mengerikan ya?"
Rovert mengangguk bangga, "lebih baik besok kita bersenang-senang menghabisi Zein."
Xabara menautkan kedua alisnya, "Zein? kenapa aku harus ikut-ikutan?"
"dia pengedar nark*ba.! dan korbannya banyak dari anak dibawah umur." jawab Rovert.
Xabara melebarkan matanya, "sial*n ...!!? pantas saja dia bisa cepat kaya seperti sekarang."
__ADS_1
"aku tidak akan melepaskannya, berani-beraninya dia menyerangku dengan cara seperti itu. demi cepat sukses dia melakukan penjualan ilegal dan korbannya malah anak dibawah umur, benar-benar tidak termaafkan." kata Rovert.
"tidak usah mengotori tanganmu Rovert serahkan saja pada pihak Polisi dan sebarkan rekaman CCTV mereka yang sedang melakukan transaksi." jelas Xabara.
Rovert malah heran, "lapor polisi? bukan dihabisi?"
Xabara menggeleng kepalanya, "aku takut anakku akan tambah gila dengan hobynya lebih baik aku berhenti saja."
Rovert menganga, "kenapa sayang? hanya karna sikembar menghabisi para penculik itu?"
Xabara diam saja sambil melihat gelang tangan yang Rovert buatkan untuknya dan telah terpasang indah di pergelangan tangannya.
Rovert menghela nafas panjang, "sayang? Kalau aku malah setuju dengan apa yang anakku lakukan, aku tidak akan mau memberi ampunan pada Orang yang menyakiti anakku tapi karna mereka sudah mati tentu saja aku tidak merasa rugi kalau harus membayar biaya ganti ruginya."
Xabara menatap Rovert serius, "walaupun umur mereka masih terlalu kecil? apa itu tidak aneh?"
"kenapa? kamu bahkan sudah menjadi seorang pembun*h diusia yang tidak normal." jawab Rovert.
Xabara mendengus, "baiklah aku akan menemanimu, selesaikan?"
Rovert sumringah sambil mengangguk-ngangguk setuju.
Rovert tersenyum, "itu adalah Hiburan Tuhan untuk Orang-orang yang menderita sayang..! dulu saat aku kehilangan Papaku, aku juga memikirkan hal yang sama denganmu malahan aku ingin mencincang bintang-bintang itu."
Xabara menoleh ke Rovert mendengarkan keluhan Rovert.
"aku merasa kalau Bintang-bintang itu hanya mengejekku." sambung Rovert tersenyum hambar.
Xabara menepuk pundak Rovert, "mau berciuman?" pertanyaan Xabara itu sontak saja mata Rovert yang tadinya hampa berbinar seketika seperti bocah yang bahagia akan dibelikan mainan baru.
Xabara tersenyum, Ia tidak tau cara menghibur Rovert hanya tau apa yang Rovert suka jadi cara Xabara menghibur Rovert memang terbilang aneh tapi menurut Xabara sudah hal yang sangat langka dan yang paling utama Rovert sangat menyukainya.
Rovert memanyunkan bibirnya dan Xabara mengecupnya cepat lalu mereka bertatapan cukup lama dan cium*n intens diantara keduanya pun terjadi dengan durasi yang cukup lama.
"aku beruntung memilikimu sayang..! kamu adalah bintang terindah yang dijatuhkan Tuhan untukku." ujar Rovert dengan lembut mengusap bibir Xabara yang tersenyum saja.
mereka berpelukan erat saling menenangkan satu sama lain, Xabara tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada Makhluk yang namanya Pria malah Ia berpikir tidak akan pernah jatuh Cinta sebab Ia merasa hatinya sudah mati.
Rovert yang memperlakukannya begitu lembut dan penuh cinta membuat hati beku nya meleleh seiring berjalannya waktu, itu sebabnya Xabara selalu mengatakan Rovert sangat mengerikan karna bisa memiliki hatinya dan membuatnya suka dengan semua kejutan Rovert yang membuat hati wanita manapun berbunga-bunga serta diperlakukan seperti Ratu yang tidak boleh tergores sedikitpun apalagi menyakiti hati Xabara hal itu tidak pernah dilakukan Rovert.
__ADS_1
.
ke esokan harinya,
Xabara dan Rovert pergi ke Markas persembunyian Zein dengan membawa banyak Polisi, pasangan Higanbana itu menyamar sebagai Anita dan Boy yang dikenal sebagai Ratu Higanbana serta tangan kanan setia Anita sekaligus suami Anita.
"si-siapa kalian?" tanya Zein waspada.
Zein sangat syok saat ada yang tau markasnya padahal tidak ada yang tau tempat persembunyiannya itu.
"kau sudah dikepung pengedar!!" seringai Boy.
Zein memperhatikan Boy dengan serius, "kenapa kau sangat mirip dengan Rovert?"
Rovert terkekeh, "aku??" tanya Rovert seolah meledek tebakan Zein salah.
Zein menoleh sekitar seketika mendengar teriakan Polisi bahwa mereka sudah terkepung.
"siapa kalian?" teriak Zein yang panik melihat sekeliling untuk melarikan diri.
"kau tidak akan bisa lari..!" kata Xabara dengan tenang.
Zein pun berlari keluar dari Markasnya lewat pintu rahasia tapi ternyata sudah ada Polisi yang menunggunya, Zein terus mencoba melarikan diri tapi kakinya malah ditembak sehingga Zein tersungkur.
Xabara dan Rovert hanya menunggu dipintu depan lalu Para Polisi datang membawa Zein yang kakinya sudah bersimbah darah.
"terimakasih Nyonya Higanbana yang telah membantu kami mendapatkan dalang dari kerusakan anak Muda akhir-akhir ini." ucap salah satu Polisi yang memiliki pangkat yang tinggi jadi tidak takut pada Xabara sang pembela kebenaran.
"hmm..! kalian jaga dia baik-baik." sambung Rovert.
"ka-kalian Higanbana? ba-bagaimana bisa kalian ikut campur masalahku ha?" teriak Zein menggebu-gebu dengan marah.
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas lalu pergi tapi ditahan oleh Polisi berpangkat tadi, Xabara mengatakan bahwa Ia hanya memberitau sisanya biar Polisi itu saja yang urus tanpa harus membuat seorang XeniaXabara terlibat.
Para Polisi mengagumi jiwa XeniaXabara yang tidak haus akan kepopuleran dan tidak ingin dikenal padahal perbuatannya sangat dikenal banyak orang.
.
.
__ADS_1
.