
.
.
.
Rovert kembali ke Xabara dan mengajak Istrinya untuk istirahat di Ruangan yang sudah ia sewa begitu juga dengan Barrest.
"maaf ya nak? kalian jadi repot karena kami, bagaimana jika kalian pulang saja sayang? Tante akan jaga Irene disini bersama Lion." Iria.
Xabara dan Aya tersenyum lalu kedua wanita cantik itu memegang tangan Iria serta mengatakan Irene seperti sahabat baik bagi mereka berdua, apapun masalah yang menimpa Irene adalah masalah mereka juga.
"betapa beruntungnya putriku bertemu dengan kalian berdua." Iria memegang pipi Aya dan Xabara yang sangat cantik juga begitu baik.
Iria mengingat masa kuliah Irene sangat sedih dan akhirnya Ia mengerti kalau roda dunia itu selalu berputar memang benar-benar nyata sehingga anaknya diberikan sosok Xabara dan Aya, tentu saja Iria tidak bosan-bosan mengucap syukur akan hal itu belum lagi Putrinya mendapatkan Pria yang sangat mencintai Irene seperti Lion.
"ayo sayang..!" ajak Rovert.
Xabara berpamitan pada Iria begitu juga Aya yang dibawa oleh Barrest, tak lama kemudian Guntur masuk ke Kamar penginapan Irene dan melihat Lion tidak beranjak sedikitpun dari bangku itu sambil memandang lekat Irene bahkan menggumamkan hal yang sama yaitu meminta maaf pada Putrinya karna lalai.
Guntur dan Iria tidur disofa membiarkan Lion melakukan apa saja yang Ia mau, mereka juga tidak bisa membujuk Lion karena wataknya memang keras kepala.
di Kamar penginapan khusus Rovert dan Xabara,
"sayang? apa yang kamu pikirkan hmm?" tanya Rovert dengan lembut ke Xabara yang menatap lurus ke langit-langit kamarnya.
Xabara memutar kepalanya ke arah Rovert, "ak-aku hanya teringat Kakek angkatku, apa yang terjadi pada Lion sama dengan yang aku alami hanya saja Lion masih beruntung." lirih Xabara.
Rovert menopang sisi kepalanya dengan telapak tangannya memandang Xabara sementara tangan lainnya memainkan rambut panjang Xabara dan juga mengelus pipi Xabara yang halus.
"itu karena mu maka nya Lion tidak mengalami hal yang sama denganmu sayang." jawaban Rovert yang diluar nalar itu membuat Xabara menatap Rovert dengan serius.
"aku?" tanya Xabara seakan tidak mengerti.
Rovert mengulum senyum, "jika kamu tidak meletakkan GPS di gaun Irene sudah jelas Lion akan gila karena terlambat dan aku tau dia tidak akan bisa sepertimu sayang yang sangat kuat bahkan semakin tangguh meski kehilangan Orang tersayangmu."
Xabara terdiam, "jadi aku membantu Lion jadi tidak mengalami hal yang sama denganku?"
__ADS_1
Rovert menganggukkan kepalanya, "jangan sedih lagi ya? kamu itu penyelamat Lion yang hampir saja kehilangan Orang tersayangnya."
Xabara tersenyum mendengarnya seakan semua yang Ia lakukan begitu berarti bagi Lion dan perasaan Xabara menjadi lebih tenang karena penyesalannya dulu seperti terobati dengan menyelamatkan orang yang sempat lalai menjaga Orang terkasihnya.
"kamu itu luar biasa, aku sangat beruntung menjadi suamimu sayang." ucap Rovert merapikan anak rambut Xabara.
"Rovert, kamu begitu berubah !?" kata Xabara sambil menatap Rovert dengan seksama.
"apanya yang berubah?" tanya Rovert memperhatikan tangannya dengan bingung.
Xabara tersenyum tidak menjawab malah merapatkan tubuhnya ke Rovert dan menduselkan sisi kepalanya dibelahan dada bidang Pria yang sangat dewasa itu bagi Xabara, Rovert mengulum senyum mengecup sayang kening Xabara dan ikut terpejam sambil memeluk erat Xabara.
.
pagi-pagi,
Irene perlahan membuka matanya, samar-samar Ia mendengar gumaman lirih seseorang lalu Ia melihat ke arah asal suara.
"maafkan aku Baby..! maafkan aku..! bangunlah hukum aku Baby, jangan tidur terus." lirih Lion dengan kepala tertunduk dalam memegang erat tangan Irene dan mengecup tangan Irene penuh penyesalan.
"kamu pasti ketakutan sekali Baby..! maafkan aku! aku lalai hukumlah aku, jangan tidur terus." lirih Lion sekali lagi.
Lion tersentak ketika tangan Irene bergerak membalas genggaman tangannya, Lion berdiri sampai bangkunya terjatuh kebelakang membuat Orang yang di Sofa bangkit dengan wajah khawatir lalu berlari ke arah Ranjang Rumah Sakit.
"Baby? kamu bangun?" Lion menunduk dengan lega melihat Irene sudah sadar.
tangan Irene mengelus rahang Lion, "kenapa kamu berantakan sekali?" tanya Irene dengan lemas.
"jangan bicara..! jangan bicara Baby, istirahatlah? aku akan panggilkan dokter." kata Lion segera mengecup kening Irene dan berlari keluar Ruangan Irene.
Rovert dan Barrest menatap datar saja Lion seperti itu padahal ada tombol darurat mengapa harus lari? sungguh Lion begitu tergila-gila pada Irene padahal kenalnya dengan Irene juga belum cukup 1 bulan.
"Irene?" Xabara dan Aya memandang Irene yang tersenyum.
"kenapa kalian berdua disini? bagaimana dengan keponakan kecilku?" tanya Irene seperti mengomel.
bugh...
__ADS_1
Xabara dan Aya memukul lengan Irene yang tertawa pelan membuat Iria bersama suaminya begitu senang melihat Putri mereka masih normal terlihat tidak takut sama sekali karena penculikan itu.
tak berapa lama kemudian,
Orangtua Barrest datang ke Rumah Sakit membawa Barnes dengan memakai masker supaya tidak terserang virus nantinya begitu juga Sikembar dibawa oleh Ratu dikawal oleh Ade dan Nike (pengawal Maldev).
mereka semua berkumpul satu keluarga, Xabara dan Rovert mengulurkan tangannya ke An dan Ana yang sumringah berlari ke Mereka lalu berpelukan dengan penuh kerinduan.
"muahhh!!" Rovert mencium sayang wajah Ana yang pakai masker begitu juga Xabara yang terus mencium pipi An yang memakai masker anak-anak.
"maafkan Mommy ya sayang?" ucap Xabara memelas ke An yang dengan polosnya mengangguk-ngangguk tapi matanya berbinar.
Xabara melihat ke Ratu yang meminta maaf pada Kedua Orangtua Irene karena baru bisa datang pagi-pagi.
.
Xabara dan Rovert berada di Ruangan khusus untuk menyus*i bayi, Xabara memberi asi kedua anaknya sekaligus sedangkan Rovert menelan saliva saja melihat aksi bibir mungil kedua anak kembarnya itu sebab Ia juga ingin.
"Rovert carikan aku sarapan!?" pinta Xabara.
"aah.. iya sayang, aku carikan tapi pintunya akan aku kunci dari luar dan dijaga oleh Nike sama Ade biar tidak ada yang masuk." jawab Rovert segera berdiri dan Xabara mengangguk setuju.
Xabara menggeleng kepalanya melihat Rovert sudah pergi, Ia tau Rovert sangat mes*m jadi sengaja mengusir Rovert dan jujur saja Xabara memang sedang lapar juga.
Xabara beralih ke An dan Ana yang berpegangan tangan begitu mesra malah tidak bertengkar sama sekali di pangkuan Xabara, Xabara begitu gemas mencium kening kedua Putra-putri kecilnya.
"kelak kalian akan menjadi Putra-Putri Penguasa yang mandiri." ucap Xabara dengan sangat yakin akan pertumbuhan anak-anaknya nanti.
Sikembar tidak pernah menangis jika di tinggal kedua Orangtuanya dan tidak cengeng bersama Ratu, hal itu membuat Xabara yakin kalau An dan Ana akan menjadi pribadi yang sangat mandiri serta tidak mau bergantung pada siapapun termasuk pada kedua Orangtuanya sendiri.
"Mommy bangga sama kalian sayang..!? cepat besar ya?" bisik Xabara dengan lembut.
An dan Ana masih sibuk bermain dengan jemari mereka masing-masing sementara bibir mungil mereka masih asik menyed*t asi Mommynya.
.
.
__ADS_1
.