Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
Bonus Chapter 11


__ADS_3

.


.


.


"hei anak kecil..? kamu yakin bisa bermain anggar?" tanya anak laki-laki didepan Alena.


Alena memiringkan pandangannya, "memangnya kenapa?" tanya Alena memang dasarnya polos tapi ia tau kalau anak didepannya tengah meremehkannya.


"badanmu sekecil ini bisa apa? apa Kota kalian sudah gila mengutus bocah sepertimu sebagai perwakilan Provinsi? mau buat malu Ibu Kota kalian ya?" ejek anak didepan Alena.


Alena melakukan peregangan dengan tubuh mungilnya tidak ada yang tau kalau Ia adalah Murid terbaik dari ribuan Murid yang mendaftar sebagai perwakilan Provinsi.


"bocah ini sombong sekali..! jangan nangis kalau kenak pukul ya? aku tidak akan berbelas kasih walaupun kau perempuan dan masih kecil." kata anak laki-laki itu dengan sinis ke Alena yang pura-pura tidak dengar ucapannya.


"ooh..? namamu Alena ya?" kata anak didepan Alena mulai peregangan jemari tangannya supaya lebih lentur dan bisa mudah mengalahkan Alena nanti.


Alena melirik sekilas ke anak itu yang namanya dikenal dalam dunia Anggar sebagai Anak Macan Anggar karena kemampuannya itu, Alena tidak menggunakan koneksi apapun tapi para pemain Anggar yang lain malah menyogok Panitia Anggar untuk mengganti lawan anak itu dengan Alena yang dianggap remeh juga oleh para Anggar yang lain.


Alena mengedarkan matanya ke arah penonton dan matanya sedikit berbinar melihat Xabara, Ana, Ratu dan Rovert disana dengan pakaian tertutup. Ratu terlihat berkaca-kaca seolah takut Alena terluka sedangkan Rovert terlihat marah akan sesuatu seperti tidak senang Alena diremehkan oleh banyak orang.


Xabara mengepalkan tangannya, "benarkah sayang? mereka mengalihkan Alena ke Anak itu?" bisik Xabara ke Ana yang baru saja dapat informasi dari panggung belakang.


"iya Mommy..! mereka bilang kalau Denil itu merupakan Anggar terkuat sementara banyak lawan yang takut padanya jadi mereka menyogok panitia untuk mengganti lawan, Alena yang terkena imbasnya." bisik Ana juga.


Xabara memejamkan matanya, "Mommy akan habisi Panitianya."


Ana menahan lengan Xabara, "nanti aja Mom..! sebentar lagi acara Anggar nya akan mulai, lagian kakak yakin Alena bisa mengalahkan Denil yang kelihatan anak sombong itu."


"ada apa sayang?" tanya Ratu dibalas gelengan cepat oleh Xabara dan Ana.


Ratu menghela nafas, "benarkah tidak ada apa-apa?" tanyanya tidak percaya.


"Kakak haus Nenek.!" kata Ana dengan senyuman.


Ratu pun percaya lalu mengeluarkan minuman yang ia beli untuk Ana sedangkan Rovert sejak tadi sudah merah padam, jika bukan karna banyak Orang pastilah Rovert sudah membanting Orang-orang yang meremehkan Putrinya.


"Huuh...!! sabar Rovert..! sabar..! jangan karna emosimu anakmu jadi di diskualifikasi." batin Rovert menahan diri dari amarahnya.

__ADS_1


Rovert memejamkan matanya ketika membuka mata Ia melihat Alena tersenyum manis ke arahnya dan melempar kode hati ke arahnya membuat hati Rovert luluh menangkap kode hati Alena dan memasukkannya ke dadanya, Alena tertawa lebar melihat Keluarganya lalu memasang Atribut Anggar nya sebagai bentuk perlindungannya sebab Olahraga melatih ketangkasan tangan itu akan dimulai.


1....2 ....3 ....


Mulai...!


Denil yang menjadi lawan Alena tampak bermalas-malasan seolah tidak merasa tertantang sama sekali melawan Alena, Alena berjalan tenang dengan Foil (Atribut Anggar yaitu senjatanya) di tangannya.


"apa kau sakit?" tanya Alena dengan heran.


"aku tidak bersemangat melawanmu, apa kau tidak lihat anak kecil? semua Orang mendukungku." jawab Denil dengan sombong.


Alena melihat ke arah penonton, "oh..! itu karna mereka belum tau kemampuanku."


Denil melebarkan matanya, "anak ini seolah mampu saja melawanku." gumam Denil.


"apa kau tidak tau bocah? aku ini sudah menjadi pemain handal di Dunia Anggar ini, kau itu masih anak baru lahir kemarin." ejek Denil.


Alena menggeleng pelan kepalanya, "musuh tidak pandang umur." kata Alena lalu menyerang Denil yang menjatuhkan senjatanya.


hening....


"aku bahkan tidak menyerang dengan kekuatan penuh salahkan tanganmu yang lemah memegang senjatamu." ejek Alena seketika membuat para penonton tertawa dan juri pun menganga mendengar ledekan pedas bocah 6 tahunan itu.


Rovert dan Xabara serta Ana bertepuk tangan menyukai mulut pedas bocah kesayangan Maldev itu, Ratu menganga saja karna Ia tidak tau kalau mulut mungil Alena juga bisa mengeluarkan racun menyakitkan lawan (kata-kata).


Denil mengambil senjatanya lalu melakukan peregangan dan mengatakan hal yang akan membuat Alena gemetar ketakutan tapi bukannya takut Alena malah mengangkat tangannya menantang Denil untuk mendatanginya.


pertarungan sengit pun terjadi, para penonton dan Juri sampai tidak berkedip sama sekali menyaksikan pemandangan itu. kini mereka mengerti mengapa Alena yang sangat muda bisa terpilih sebagai perwakilan Provinsi.


tangan Alena benar-benar lincah serta menyatu dengan gerakan anggunnya saat berputar dan mengelak, Xabara tersenyum manis melihat hal itu karna gerakan Anggun itu hanya milik Ratu Higanbana dan sekarang Alena memilikinya padahal Xabara tidak pernah melatih Alena sama sekali.


sranggh.. ! sringgh...!


Denil Araish mulai kewalahan menyerang Alena yang bisa mengelak, melompat bahkan saat berputarnya pun memiliki nilai seni beladiri yang sangat unik sampai Denil mulai serius melawan Alena, Ia sekarang percaya kalau Alena bukan pemain Anggar biasa yang bisa saja merebut posisinya sebagai Anak Macan Anggar yang terkenal.


sringghhh...!


Atribut Denil patah, hening sesaat.

__ADS_1


"pemenangnya adalah Nona Kecil dari Provinsi Ibu Kota." kata salah satu juri yang berdiri dari duduknya seketika bertepuk tangan.


"huaaahhh!!!"


Prok... prokkk...!! Prokkkk...!


gemuruh tepuk tangan menghiasi tempat itu, Alena melepas pelindung kepalanya lalu meloncat-loncat riang layaknya anak kecil yang bahagia dapat hadiah baru, Rovert berlari ke arah Alena sampai melompati pembatas dan mengangkat tinggi Alena sambil tertawa bangga.


Xabara menepuk jidatnya tapi bibirnya melengkungkan senyuman, sementara Ana tertawa lepas, Ratu sampai lupa menutup rahangnya yang terbuka selebar-lebarnya.


"hahahaha!!!" Alena tertawa riang di gendongan Rovert.


Rovert yang menyamar menciumi wajah Alena demi keamanan Alena sendiri, Alena belum terlalu dikenal oleh publik sebagai Putri Bungsu Maldev hanya orang tertentu saja yang mengetahui itu karna permintaan Xabara yang tidak mau Alena hidup tidak tenang sampai Alena bisa menjaga dirinya sendiri.


Denil menatap kesal Alena yang punya seorang Ayah yang sangat memanjakannya, Alena terlihat bahagia sekali mengambil posisi yang selama ini menjadi kebangaannya beberapa tahun terakhir ini.


Guru Anggar Alena terharu serta bangga menyimpan rekaman Alena yang bertarung dengan Denil, kemampuan Alena benar-benar menakjubkan tidak ada yang tau darah Ratu Higanbana dan Serigala Kanada mengalir dalam nadinya itu.


"hebat sayang...! Papa bangga..!" Rovert mencium lagi wajah Alena dengan gemas dan penuh cinta.


Alena tidak malu diciumi oleh Rovert didepan banyak orang, Ia memang sudah biasa dimanja kecuali An dan Ana yang malu dimanja didepan Umum karna status mereka yang sudah lumayan dikenal sebagai Penguasa Maldev.


.


Xabara dan yang lainnya menaiki panggung kemenangan Alena.


Alena memenangkan mendali emas dan Trofi kemenangan pertama nya mengalahkan sang anak macan Anggar.


"sekarang Anak Macan Anggar itu adalah anak kecil itu." bisik salah satu pemain Anggar begitu kagum dengan kemampuan Alena.


Alena yang awalnya diremehkan kini dikagumi oleh Para Anggar yang lain.


"dia hanya beruntung..! Anak Macan Anggar cuma julukanku saja." kata Denil Araish dengan sombong dan tidak terima lalu pergi dari sana dengan tangan terkepal.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2