
.
.
.
"baiklah No? Ehh? Xabara." jawab Aya yang masih belum terbiasa memanggil Xabara.
Xabara terkekeh pelan lalu mengelus kepala Aya, "latih lidahmu dengan benar kalau tidak anakku akan memanggilmu Nyonya, kamu tau anakku akan lahir lebih kurang 7 bulan lagi kan?"
Aya mengangguk pelan dengan kepala tertunduk melihat perut Xabara, "pasti lucu sekali anak-anak No ? Eh .. Xabara, ada berapa anak mu Xabara?"
Barrest tidak sengaja melihat Kepala Aya di elus oleh Xabara, Ia kaget sebab Aya selalu saja membentaknya jika Barrest mengelus kepala Aya walau Barrest bisa mengelus kepala Aya meskipun kepalanya harus di pukul oleh Aya tak membuatnya putus asa sebab Ia suka mengelus kepala Aya.
Xabara menautkan kedua alisnya, "maksudmu Aya? memang anakku ada berapa? pasti 1 lah tidak mungkin 2 karna anak kembar itu masalah keturunan."
"bisa saja Tuan Muda Topcer menendang bola sampai jadi 2 atau 3, itu tergantung Pria nya." jawab Aya sumringah.
Xabara menyentil kening Aya yang malah nyengir sambil mengelus keningnya, "kamu pikir aku gawang nya ya?" Xabara bertanya dengan mata melotot galak.
Aya terkikik membuat Xabara memutar bola matanya dengan malas dan Ia melihat Clara sedang beranjak pergi menuju Toilet.
"temani aku!?" Xabara menarik lengan Aya membuat Barrest dan Rovert sontak terlonjak melihat kedua perempuan cantik itu tiba-tiba pergi.
"ayo kita susul !" ajak Rovert
Barrest dan Rovert hendak menyusul kedua perempuan cantik itu tapi malah dicegat oleh rekan-rekan kerja mereka yang baru saja tiba di Acara itu.
Zein yang sedang ada dipanggung menyampaikan alasan Ia mengadakan Pesta hanya bisa terhenti sejenak melihat Xabara pergi tapi Ia hanya berpikir Xabara sedang ke Toilet, lalu Ia melanjutkan pembicaraannya.
Xabara memasuki Toilet dan melihat Clara sedang berkaca yang tampak terkejut melihat dari pantulan cermin ada Xabara.
"haii?? bagaimana kabarmu?" tanya Xabara seakan merasa tidak bersalah.
__ADS_1
Clara mengepalkan tangannya, "kenapa aku harus bertemu denganmu? apa masalah yang kau buat tidak cukup untukku?? gara-gara kau karirku merosot jauh dan sekarang Enderita berada di puncak kesuksesan, aku hanya bekerja sebagai Model jal*ng untuk biaya hidupku sendiri..! apa kau belum puas? tidak bisakah kau membiarkanku hidup sendiri? aku tidak mau mencari masalah denganmu jadi tidak usah munafik...!!"
"Kauuu??" Aya hendak menjambak wanita sombong itu tapi Xabara menahan lengan Aya.
"Xabara mulutnya harus diajar." geram Aya tanpa sadar begitu lancar memanggil Xabara dengan sebutan nama bukan terbata Nona lagi.
"tidak apa !?" jawab Xabara menyunggingkan senyum tipisnya.
"beginikah caramu berterimakasih padaku? aku hanya membantumu mendapatkan Pria yang kau inginkan, aku ingin kau tau kalau Shen bukan Pria yang mudah untuk diajari jadi cara yang tepat untuk menyatukan kalian menggores harga dirinya." kata Xabara.
Aya tercengang tidak menyangka alasan Xabara masih memikirkan Clara.
Clara menatap Xabara tidak percaya, "kau membantuku?? jangan munafik padaku!"
Xabara menghela nafas, "aku tau kau memang jal*ng tapi kau bukan tipe wanita munafik, kau terlalu mencintai si bodoh itu hanya saja kecemburuanmu yang takut kehilangannya maka nya kau memusuhiku."
Clara diam saja sambil menatap tajam Xabara, Ia harus berhati-hati bersikap pada Xabara yang pernah membuatnya hancur dalam sekejab.
Aya pun melihat Clara dan Xabara bergantian, "sebenarnya mereka ini musuhan atau tidak? kenapa aku berpikir mereka ini teman yang sedang bermusuhan hanya karna kesalahpahaman?" batin Aya terheran-heran.
Xabara menyunggingkan senyumnya lalu memegang perutnya, "apa ini tidak bisa membuatmu mengerti kalau aku hanya ingin Rovert menjadi Pria satu-satunya dalam hidupku?"
Clara melihat perut Xabara, "ckkk..? kau ingin aku mengucapkan selamat? aku tidak sudi mengatakannya."
"Xabara dia??" Aya sudah geram sekali akan sikap sombong Clara.
"tahan Aya..! dia hanya berpikir aku mau berteman dengannya, buat apa aku berteman dengan nya? aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman supaya dia tidak mengusikku kedepannya." ujar Xabara.
Clara melihat arah lain masih tidak mau menyapa karna harga dirinya yang tidak mau memperlihatkan betapa menderitanya Ia bersama Pria yang Ia cintai begitu membencinya tapi begitu terang-terangan memuja Xabara padahal mereka sudah menikah.
"aku hanya ingin kau bertahan walau masuk ke Rumah tangga seperti didalam neraka sekalipun bersamanya, kalau kau kalah jangan menyapaku sampai kau bisa mendapatkan hatinya tapi kalau kau tidak sanggup kalah dariku karna harga dirimu itu silahkan bunuh diri sendiri..? aku menang kan??"
Clara melototkan matanya menoleh tajam ke arah Xabara yang memang bermulut pedas.
__ADS_1
"kenapa aku harus menyapamu ha? kau fikir aku mau berteman dengan wanita munafik sepertimu?" geram Clara.
"siapa tau kau mau pamer menang dariku." balas Xabara mengangkat bahunya acuh lalu menarik lengan Aya.
"aku sudah selesai bicara dengannya, ayo pergi!!" ajak Xabara dan pergi dari Toilet itu.
Clara mematung mendengarnya, semenjak menikah dengan Dr. Shen memang hidupnya seperti di Neraka tapi karna perasaan Cintanya yang sudah buta itu membuatnya mau bertahan walau harus menjadi jal*ng sekalipun, Ia tetap bertahan meski tidak dinafkahi oleh Shen yang begitu membencinya.
Clara menangis seketika membayangkan masalah hidupnya tapi Ia terus menghapus air matanya, apapun akan Ia tahan demi bersama Shen.
"Xabara kenapa kamu tidak menamparnya?" tanya Aya dengan kesal.
Xabara tersenyum, "kalau dia masih menghinaku mungkin aku akan menghabisinya tapi apa kamu tidak mendengar perkataannya tadi? dia sendiri tidak mau berurusan denganku, Cintanya membuatnya menjadi wanita bodoh." jawab Xabara.
Aya menekuk kedua alisnya, "mau dia bodoh atau tidak kalau mengusikmu itu sudah Neraka baginya."
"aku sudah cukup menghukumnya Aya, sisanya biar dia sendiri yang menentukan kebahagiaannya. aku rasa mereka sangat cocok sama-sama bodoh." kata Xabara.
Aya mencerna kata-kata Xabara, "iya kamu benar Xabara, dr. Shen itu juga sangat bodoh."
mereka saling pandang lalu tertawa bersama seakan merasa lucu dengan permasalahan mereka, Clara sebenarnya jahat tapi jahatnya karna Perasaan Cinta yang sudah membutakannya namun karna Clara tidak tau Identitas Xabara jadi menghukum Clara hidup di Neraka hingga ingin bunuh diri tapi ternyata Clara lebih kuat dari yang Xabara pikirkan sampai rela menjadi jal*ng hanya karna ingin tetap bersama si dokter bodoh Shen itu.
"sayang? kamu kemana aja?" Rovert tiba-tiba muncul di balik tembok menarik lengan Xabara yang kaget.
Aya pun sempat syok karna tidak menyadari keberadaan Rovert mungkin karna tidak ada niat jahat dalam diri Rovert hingga mereka tidak bisa menebak keberadaan Rovert, Ia melihat Xabara yang tidak ada reaksinya sebagai Ketua Mafia.
"apa Xabara mencintai Tuan Rovert?" batin Aya memperhatikan tangan Xabara malah memegang bahu Rovert terlihat mesra seperti pasangan yang saling mencintai.
Aya tau Xabara tidak bisa dikejutin pasti jiwa bar-barnya keluar langsung membanting orang itu tapi saat bersama Rovert malah berbeda.
.
.
__ADS_1
.