
.
.
.
Rovert menggendong Alena yang segera memeluk erat leher Rovert.
"Papa aadek iituutt..! dek idak auu inggal.. hiks.. hiks.." isak tangis Alena di bahu Rovert.
Rovert mengelus kepala Alena dengan lembut, "Mom biarkan Alena ikut denganku Mom, aku akan menjaga Cucumu dengan baik..!"
Ratu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ia ingin ikut tapi pinggangnya masih terasa sakit dan akan sangat menyakitkan jika Ratu tidak tidur di tempat yang empuk.
Rovert membawa Alena ke Mobilnya dan Alena masih memeluk erat leher Rovert sampai Ia didalam Mobil pun tidak mau lepas dari Rovert karna takut digendong oleh Ratu lagi.
Xabara mendekati Ratu, "Mom, kami pergi hmm? lebih baik Mom jaga diri baik-baik ya? kami akan baik-baik saja."
Ratu memohon Xabara menjaga Alena dengan baik karna di hutan bisa saja ada hewan buas yang melukai cucunya, walau cemas tapi Alena yang begitu histeris itu siapa yang akan sanggup melihatnya? Alena adalah anak yang periang jadi ketika sedih sudah jelas hal itu sangat menyakiti hati orang yang sangat menyayanginya.
.
Xabara memasuki Mobilnya dan melihat Alena masih memeluk Rovert dengan erat, "Rovert kamu bisa bawa Mobil? biar aku yang bawa bagaimana?"
"tidak apa sayang..! Alena tidak menghalangi pandanganku." jawab Rovert tersenyum lembut ke Xabara.
Xabara melihat Alena yang masih sangat menempel seperti perangko pada Rovert, Ia tidak cemburu tapi hanya penasaran apa yang Alena dengar sampai tidak mau ditinggal oleh mereka bahkan bisa mandi sendiri serta berganti pakaian sendiri hanya karna ingin mengikuti mereka saja.
"adek jangan nangis lagi ya?" Ana dibelakang pun mendekati Alena yang mengangguk sambil sesegukan dibahu Rovert.
An mengelus tangan Alena yang melingkar kuat di leher Rovert walaupun Xabara berulang kali meminta Alena berpindah ke pangkuannya tapi tetap saja Alena tidak mau lepas dari Rovert yang sangat memanjakan Alena serta menuruti permintaan Alena walau tidak wajar sekalipun namun masih dalam pengawasan Rovert.
sesampainya di Hutan,
__ADS_1
Alena berubah riang dalam gendongan Rovert sementara An dan Ana berlarian dengan mata berbinar akhirnya bisa memasuki Hutan yang tingkat berbahaya nya lebih tinggi dari sebelumnya.
"jangan jauh-jauh dari Mommy..!" teriak Xabara membuat An dan Ana kembali ke Xabara.
Xabara menggandeng kedua tangan sikembar yang jadi penurut tingkat dewa pada Xabara sedangkan Alena masih dalam gendongan Rovert.
setibanya di kedalaman Hutan yang cukup luas, An dan Ana begitu bahagia ternyata Xabara sudah menyiapkan tempat pelatihan sendiri di dalam Hutan itu, Rovert juga sudah membangun Rumah diatas Pohon yang tinggi untuk menjadi tempat istirahat mereka selama 2 hari.
"Sayang? kalian ganti baju ya?" pinta Xabara.
An dan Ana mengangguk semangat lalu Xabara memberikan baju yang sangat nyaman dikenakan anak kembarnya nanti mengikuti pelatihannya, Xabara sebenarnya berat mengajarkan Sikembar tapi melihat betapa semangatnya mereka hati Xabara menjadi lebih tenang dan yakin kalau sikembar pasti bisa melewati pelatihannya walau sulit.
setelah berganti pakaian,
Rovert menyuapi Alena yang duduk di dahan pohon yang kebetulan rendah hanya setinggi perut Rovert tapi batang pohonnya sangat tinggi, Alena begitu senang di dalam hutan itu dan Rovert tugasnya hanya menjaga Alena saja sedangkan sikembar itu tugasnya Xabara yang akan melatih anak-anaknya dengan pelatihan fisik yang ringan sampai kelak yang berat sampai benar-benar kuat.
"berbaris..!" pinta Xabara.
An dan Ana menurut layaknya prajurit kecil yang sangat patuh.
"kami siap Mommy." jawaban An dan Ana berhasil membuat Xabara tersenyum.
"bagus sayang..! sekarang kita mulai ya? kalian harus kuat fisik lalu kita bisa berlatih racun dengan Mommy, mauu??" tanya Xabara.
"mauuuu!!" jawab An dan Ana melompat-lompat senang saat mendengar kata Racun semangat sekali mereka berdua.
Xabara tersenyum lalu mulai mengajari anak-anaknya dengan pelatihan yang sama persis saat Xabara masih kecil, sikembar mengikuti dengan semangat tiada keluhan sama sekali dari bibir kecil mereka malah Xabara yang sampai pusing sendiri mengajari anaknya yang tidak mau istirahat saking semangatnya ingin menjadi yang terkuat.
"sudah cukup....!! kalian sudah mengikuti pelatihan Mommy lebih dari yang Mommy tetapkan, kalian harus istirahat...!" titah Xabara dengan tegas.
Ana mengerucutkan bibir mungilnya sementara An menghela nafas kecewa padahal pelatihan yang Xabara berikan masih terlalu mudah bagi mereka.
"ayo mammmm!! maamm!" pekik Alena dengan semangat berlari ke arah Sikembar disusul oleh Rovert yang khawatir Alena berlari seperti itu.
__ADS_1
Xabara memeluk Alena yang memekik kegirangan lalu menggendongnya, "sayang? kamu tidak bosan disini nak?"
Alena menggeleng kepalanya dengan gembira, Xabara mencium sayang wajahnya yang masih sembab Alena sebab tadi menangis histeris cuma karna tidak mau ditinggal oleh mereka.
Rovert melihat Alena bersama Xabara pun mengambil alih dengan menjaga Sikembar, begitulah Rovert dan Xabara sudah tau arti tugas masing-masing tanpa harus diucapkan lagi.
setelah istirahat selama 3 jam, Sore hari sekitar jam 5 Sore sikembar merengek minta latihan lagi.
"kalian tidak lelah sayang? kaki kalian tidak berat?" tanya Xabara merasa heran dengan kehausan anaknya itu yang ingin cepat belajar di tahap racun.
"tidaaakkk? Mommy..!" Ana merengek manja menggoyang tangan Xabara dengan raut wajah memelas.
Alena makan cemilannya saja di pangkuan Xabara terlihat tidak terganggu sama sekali dengan rengekan manja Kakak kembarnya itu. Xabara malah terkejut melihat An juga merengek manja padahal An sangat menjaga wibawanya sebagai Abang yang selalu bisa menjaga harga dirinya tapi sekarang An malah memelas pada Xabara.
"baiklah..! tapi tidak ada pelatihan yang Mommy ajarkan melainkan Mommy mau melihat tahap kemampuan kalian saat berburu." kata Xabara seketika sikembar malah jadi lesu.
"kenapa? mommy tidak mau tau kalian harus perlihatkan ajaran Papa kalian, kalau sampai memalukan Mommy tidak mau mengajari kalian." Xabara.
"Ehhh?" Sikembar langsung panik ketika Xabara bilang tidak mau melatih mereka yang sudah ketagihan dengan pelatihan Xabara.
Rovert sangat percaya dengan kemampuan Xabara sebab tidak ada gunanya Rovert meragukan seorang Ratu Higanbana yang sudah bisa menghabisi 1 markas mafia besar di usia 8 tahun, menurut Rovert pelatihan Xabara memang sulit dan sangat menggunakan fisik serta kelenturan tubuh tapi dilihat kegembiraan serta semangat membara Sikembar membuat Rovert yakin kalau mereka berdua tidak kesulitan sama sekali mengikuti segala latihan yang ditetapkan Xabara.
Sikembar berburu dengan Xabara sementara Alena digendongan Rovert tepatnya dibahu Rovert memegang erat kepala Rovert dan ikut berburu, Rovert begitu gemas dengan tingkah Alena yang sangat bisa diandalkan padahal umurnya masih kecil.
"tuuuh.. Papa." bisik Alena ke arah yang sangat tenang dibalik dedaunan.
Rovert melihat itu mengerutkan keningnya, "disitu tidak ada apa-apa sayang." bisik Rovert juga.
Alena bersikeras meminta Rovert percaya padanya dan benar saja ternyata ada ayam hutan di balik semak-semak itu, Rovert berdecak tidak percaya insting Alena sangat kuat padahal Rovert yakin tidak merasakan ada hewan dibalik semak-semak itu.
"anakku sangat hebat." batin Rovert yang begitu bangga memiliki Sikembar dan Alena yang cerdasnya luar biasa.
.
__ADS_1
.
.