
.
.
.
kini Xabara hanya tinggal berdua dengan Ratu di Taman Belakang,
"bagaimana mualmu sayang?" tanya Ratu.
"tidak lagi Mom, aku mual sama parfum Rovert aja tapi sejak dia buang parfum itu enggak mual lagi." jawab Xabara.
Ratu tersenyum, "tidurmu bagaimana sayang? apa ada masalah?"
Xabara terdiam, "kalau disamping Rovert bisa tidur Mom."
Ratu terdiam lalu tertawa kecil, "apa Rovert pernah mengomelimu sayang?"
"tidak ada Mom kecuali hmm? ak-aku sering mengomelinya tanpa sebab mungkin bawaan kehamilanku." jawab Xabara.
Ratu mengelus perut Xabara dengan lembut, "mom tidak sabar menunggu bayimu lahir sayang."
Xabara diam saja sambil tersenyum teringat kata-kata Rovert yang juga tidak sabar menunggu kehadiran bayinya, Xabara membuat keputusan yang sangat menakjubkan yaitu hamil anak Rovert selain anak Orang Kaya-Raya juga akan menjadi seorang Anak yang bisa membuat Ratu bahagia.
mereka bercengkrama di Taman belakang sampai sore hari lalu Rovert datang mencari Istrinya beberapa kali Rovert bersimpuh sambil menempelkan telinganya di perut Xabara, mereka seperti Keluarga bahagia yang saling menyayangi padahal Xabara belum sadar Perasaannya pada Rovert alasannya kalau cemburu itu adalah bawaan bayinya saja.
"sana mandi !" usir Ratu mendorong Rovert hingga tersingkir dari perut Xabara.
"Mom? aku mau mendengar anakku." keluh Rovert.
"mana mungkin anakmu bersuara, sana pergi kamu bawa virus." ketus Ratu sambil menjauhi Xabara dari Rovert.
Xabara tersenyum melihat perdebatan Ibu dan anak itu, Ia merasa terharu mengingat selama ini Xabara tidak pernah merasa perasaan memiliki Keluarga.
"dulu Rovert menyelamatkanku sekarang dia juga memberiku Mom-nya untukku." batin Xabara.
"Mom? aku mau mendengar anakku." keluh Rovert yang didorong-dorong paksa oleh Ratu.
"mandi baru boleh memegang Xabara, enak saja main pegang-pegang itu tubuhmu bisa dijamin bersih dari virus? nanti Xabara bisa flu atau batuk, tubuhnya sedang sensitif kalau kurang makan kamu mau tanggung jawab." omel Ratu dengan mata melotot.
Rovert pun terpaksa harus membersihkan dirinya terlebih dahulu bahkan sampai berlari sehingga Xabara tertawa senang melihat Rovert lari terbirit-birit.
"kenapa aku bisa senang sekali melihatnya menderita seperti itu?" gumam Xabara setelah tersadar.
Xabara melihat perutnya, "apa ini karnamu anakku?"
__ADS_1
.
.
malam harinya Aya datang berbicara hal serius dengan Xabara, Rovert tepat disamping Xabara diruangan kerja Rovert.
"Ralista?" beo Rovert.
Xabara menganggukkan kepalanya.
"siapa dia?" tanya Rovert menatap Xabara dan Aya bergantian untuk menjawab pertanyaannya.
"dia musuhku waktu di Kanada, aku tidak menyangka dia masih hidup." jawab Xabara.
"bukankah Nona bilang saat itu ada Insiden pengejaran?" tanya Aya.
"berarti Orang yang mengejarmu saat itu bagian dari Wanita itu." jawab Rovert.
Xabara tersenyum miring, "kau juga menebak seperti itu Rovert?."
"iya." jawab Rovert.
"Nona saya merasa Ralista ini sangat licik, picik dan pandai menjilat targetnya untuk berpihak padanya, saya yakin dia lah yang akan menjadi Pemimpin angota Lios." Aya.
"apa dia punya kemampuan yang setara denganmu sayang?" tanya Rovert penasaran.
"tapi aku rasa dia punya sesuatu dibelakangnya sampai berani menunjukkan diri padaku sekarang ini." ujar Xabara serius.
"maksud Nona? apa ada Orang yang lebih kuat lagi?" tanya Aya kesal.
Xabara heran ke Aya lalu bertanya sejak kapan Aya jadi terkejut seperti itu, mereka sudah biasa hidup dikejar musuh karna Posisi Xabara sebagai Ketua Higanbana yang menjadi target banyak Orang.
"mungkin dia tidak mau pernikahannya dengan Barrest terganggu." celutuk Rovert.
Aya melototkan matanya, "tidak usah sok tau Tuan."
Xabara tersenyum tipis, "tidak usah malu Aya..! mencoba hal baru bukanlah sesuatu hal yang buruk, aku senang kau percaya padaku dengan mau menikahi Barrest."
Aya menundukkan kepalanya dengan malu, Rovert lagi-lagi menyemburnya dengan mulut berbisanya itu.
"kalian selalu saja berdebat didepanku lagi, apa kalian pikir aku tidak akan segan menghukum kalian berdua jika berani berdebat didepanku lagi?" Xabara berbicara dengan nada dingin dan serius.
Rovert dan Aya pun berhenti berdebat lalu saling menatap sengit satu-sama lain.
Aya tidak akan terima lamaran Lienda jika bukan karna Xabara yang menerima lamaran itu, alasan Xabara sangat baik hanya ingin Aya hidup normal tidak menjadi bayang-bayang XeniaXabara.
__ADS_1
"Rovert aku ingin bicara empat mata dengan Aya." pinta Xabara.
Rovert menghela nafas pasrah lalu segera pergi dari sana, mana pernah Rovert membantah Xabara tapi kalau sama Aya jelas Rovert tidak pernah mengalah.
Xabara memegang tangan Aya, "apa kamu memang suka dengan Barrest, Aya? apa benar yang Rovert tebak?"
"bukan Nona, hanya saja dia memang sedikit imut dan patuh, ak-aku tidak sabar menakutinya." balas Aya.
"jangan terlalu meremehkannya Aya jika senjatanya sudah bekerja kamu tidak akan sanggup berdiri." kata Xabara penuh makna.
Aya menatap bingung Xabara, "senjata apa yang bisa membuat saya tidak bisa berdiri Nona? apa sakit? saya akan menyingkirkannya sebelum senjata itu mengenai saya."
Xabara tertawa lebar seketika membuat kening Aya berkerut dalam, pasti hal serius mengapa perkataan Aya bisa membuat Xabara tertawa.
"senjata apa itu Nona?" tanya Aya penasaran.
"senjata yang bisa membuatmu hamil." jawab Xabara santai seketika wajah penasaran Aya berubah menjadi warna merah tomat.
Xabara tertawa lalu berkata bahwa hal itu tidak buruk bisa menghilangkan stres jika melakukan hubungan seperti itu, Xabara meminta Aya untuk mencobanya di malam pernikahan mereka nanti.
Aya memang bukan gadis polos, melihat adegan int*m didepan mata sudah biasa namun membayangkan dirinya akan mende**h dibawah kendali lelaki sangat mengerikan tapi sebenarnya Aya penasaran bagaimana nikm*tnya berset**uh dengan lawan jenis.
.
Aya kini tiba di Apartemen Xabara yang kini ditempati olehnya dengan pandangan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu, Aya terdiam didepan Pintu Apartemennya cukup lama.
"aku tidak bisa berdiri? apa separah itukah?" batin Aya merenungi kata-kata Xabara yang membekas dalam benaknya sampai detik ini.
2 Minggu lagi Aya akan menikah dengan Barrest, memang pernikahan mereka hanya digelar sederhana di tepi pantai.
Aya berjalan terus sampai keningnya terbentur pintu Apartemennya seketika Ia mengaduh kesakitan.
"aaduuuhh??" Aya mengelus-ngelus keningnya.
"Hmmmmfff??!!" seseorang tertawa, ternyata Orang itu baru saja keluar dari Lift dan tidak sengaja melihat aksi Aya yang terbilang sangat menggemaskan itu.
"apa kau tidak bisa minggir? kau mau aku suntik dengan jarum beracunku?" bentak Aya ke Pintu Apartemen yang tidak bersalah itu.
Aya tidak sadar ada yang melihat Aya kini malah kakinya sibuk menendang-nendang Pintu Apartemen itu yang tidak bersalah membuat Pria yang melihatnya tertawa tanpa suara.
"awalnya aku ragu beli Apartemen bekas Bramasta tapi ternyata disini sangat baik." batin Pria itu ternyata Orang baru yang ingin melihat Apartemen yang pernah Bramasta miliki namun harus dijual Oleh Ibunya Bramasta karna Bramasta sudah meninggal kecelakaan.
.
.
__ADS_1
.