Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
cerita


__ADS_3

.


.


.


"sekarang Enyah kau dari pandanganku!!?" usir Rovert dengan suara menggelegar.


"aaahhh!" Dr. Astah yang memekik segera Rovert menoleh dan Ia sangat terkejut Xabara, Taylor, Ratu bersama Dr. Astah ada di sekitarnya.


"ka-kalian sejak kapan disana?" tanya Rovert.


Wanita yang sudah penuh dengan bekas tamparan itu segera melarikan diri, inilah alasan mengapa setiap wanita yang mendekati Rovert tidak pernah lagi muncul didepan Rovert berkat kekejaman Rovert itu sendiri.


"Tan-Tante tidak lihat." Taylor segera pergi diikuti Dr. Astah yang tidak sanggup berada didekat Rovert sungguh mengerikan baginya padahal Ia seorang dokter yang memegang pisau bedah.


"kalian bicaralah!" kata Ratu pun pergi, walau sempat syok tapi Ia sedikit bangga dengan tembok kokoh yang memagari diri Anaknya itu.


"sayang?" Rovert sampai tidak berani mendekati Xabara karna takut Xabara akan langsung berlari darinya.


Xabara tersenyum manis lalu berjalan cepat ke arah Rovert dan memeluk erat tubuh gagah Rovert, "Kamu yang terbaik Suamiku."


Rovert berdebar kencang mendengar kata Suamiku dari bibir Wanita yang Ia cintai, Rovert membalas pelukan Xabara.


"kenapa menyusulku sayang? aku kan sudah bilang untuk menungguku saja." tanya Rovert dengan cemas.


Xabara terkikik gemas di pelukan Rovert sehingga Rovert kebingungan apa yang membuat Istrinya tertawa dan senang, seharusnya Xabara takut atau lari kan? kenapa Xabara malah tertawa.


walaupun Xabara kejam tapi melihat seorang lelaki bersikap kejam pada wanita pasti sangat menjengkelkan di nilai Xabara.


"sayang? kamu tidak takut padaku kan? ak-aku benar-benar hanya ingin melindungimu saja sayang, aku tidak suka didekati wanita lain selain dirimu saja." Rovert berujar dengan serius.


Xabara melepaskan pelukannya lalu menangkup rahang Rovert dan mengecup pipi Rovert dengan gemas, "aku suka kekejamanmu tadi benar-benar sangat seksi."


Rovert menjatuhkan rahangnya, "bukan takut?"


"kenapa takut?" tanya Xabara balik sehingga Rovert kehabisan kata-kata langsung memeluk Xabara.


"syukurlah kamu tidak takut sayang." ucap Rovert dengan perasaan lega.


Xabara melepaskan pelukannya dari Rovert lalu mendongakkan kepalanya sambil menyandarkan dagunya di belahan dada Rovert, Rovert sungguh lemas melihat tingkah Xabara yang terlalu imut itu.

__ADS_1


"bagaimana kamu bisa tahan dengan aroma itu?" tanya Xabara penasaran.


Rovert tersenyum lembut, "aku meminum ramuan khusus ketika belajar di Kanada dan gunanya aku tidak akan mempan dengan segala macam obat yang bisa merangs*ngku."


Xabara mengangguk mengerti, "kamu tau siapa yang merancang ramuan itu?"


"King Demon." jawab Rovert tersenyum membuat Xabara menebarkan senyum mempesonanya.


"aku tidak menyangka kamu mau meminum ramuan itu, bukankah kamu tau efek ramuan itu bisa membuatmu dalam bahaya yang bisa saja mengalami kematian na*su, kamu tidak akan berna*su lagi." ledek Xabara.


"mana buktinya? buktinya kamu bisa membuat intiku berdiri gagah sayang." gemas Rovert.


Xabara memukul bahu Rovert, "dasar mes*m..??"


Rovert tertawa lalu menanyakan keadaan Istrinya yang ternyata sudah baikan malah minta makan sebab Ia sudah memuntahkan semua isi perutnya, dengan penuh Cinta Rovert merawat serta memanjakan Xabara.


.


ke esokan harinya di Mansion Maldev,


Pesta pernikahan Aya dan Barrest sudah selesai, malam tadi Rovert langsung membawa Xabara pulang atas permintaan Xabara sendiri sedangkan Aya masih di Resort itu berbulan madu karna paksaan Lienda.


Xabara duduk berhadapan dengan Rovert dan mereka berbicara serius tentang Zein.


Xabara mengangguk pelan, "terserahmu saja Rovert tapi aku peringatkan jangan pernah remehkan Orang pendiam."


"iya sayang kamu benar." Rovert pun mengakui hal itu tidaklah salah sebab dari pengalaman Rovert memang Orang pendiam yang berani bertindak diluar batas.


Rovert pun menjalankan aksinya dengan meminta seseorang membuat Perusahaan Perabotan kelas atas milik Zein semakin terpuruk dan tidak punya pilihan lain harus dijual demi membayar denda tentu sudah jelas akan bangkrut, sebenarnya Rovert sudah banyak memberi peringatan lewat keuangan Zein tapi tetap saja Zein tidak jerah seolah peringatan Rovert dianggap angin lalu saja oleh Zein.


dalam hitungan menit Zein sudah kalang-kabut dengan masalah Perusahaannya, banyak keluhan-keluhan yang membuat Zein harus ganti rugi serta jumlah perabotan yang dikembalikan tidaklah dalam batas normal sehingga Zein berhutang banyak, harga Perabotan Zein terbilang mahal tapi kualitas sangat bagus namun kendalanya adalah Pembeli.


di tempat lain,


"aahhhhh!!!"


Zein menjerit di Ruangan kerjanya.


"Rovert haruskah sejauh ini?? apa begini caramu menghalangiku memperebutkan Xabara? kau benar-benar terlalu berlebihan." geram Zein dengan tatapan nyalang.


tangan Zein terkepal kuat, sorot matanya benar-benar tajam memperlihatkan betapa marahnya Ia saat ini.

__ADS_1


"kau fikir aku akan menyerah? kau memancing amarahku Rovert." Zein menggeram mencengkram sudut meja nya dengan sangat kuat.


dalam waktu sehari saja Zein berhasil di jatuhkan oleh Rovert, yang pasti Zein sangat dendam pada Rovert yang menurutnya bertindak terlalu berlebihan.


Zein sibuk dengan Perusahaannya yang mau tidak mau harus di jual dan ditutup, tidak ada yang mau membantu Zein seolah semua jendela pertolongan sudah di tutup rapat oleh Rovert yang tentu mau tidak mau Zein harus lewat Pintu kebangkrutan.


Zein berjanji akan kembali lagi ke Rovert dan merebut semuanya termasuk wanita kesayangan Rovert itu, Zein bukannya bertobat malah semakin kuat keinginannya menjatuhkan Rovert dengan memiliki Xabara. karna Kebangkrutan Zein tanpa sadar malah membuat Perusahaan Aldo meningkat pesat sebab mereka punya Perusahaan dibidang yang sama.


di Mansion Rovert,


"kenapa sayang? kamu mengasihaninya?" tanya Rovert melihat Xabara membaca berita tentang Perusahaan Zein yang telah resmi di tutup.


Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "aku tidak pernah punya perasaan kasihan pada siapapun."


"termasuk padaku?" tanya Rovert.


"iya." jawab Xabara santai.


Rovert terkekeh bukannya marah, "lalu pada siapa?"


"Mom, aku sangat kasihan Mom yang sakit saat itu aku mual bukan karna hamil." jawab Xabara sendu mengingat saat itu.


Rovert tersenyum lembut lalu mengelus pipi Xabara.


"Rovert apa yang kau fikirkan ketika melihatku meraung di tengah kebakaran waktu aku masih kecil itu?" tanya Xabara penasaran.


"aku hanya ingin menyelamatkanmu ketika melihat sorot matamu yang begitu sedih itu sampai berani menerobos api, aku tidak bermaksud apa-apa yang aku pikirkan saat itu kalau aku berhasil menyelamatkanmu maka aku akan jadi pahlawanmu, kamu akan bangga serta berterimakasih padaku dengan sorot mata berbinar memandangku bukan tatapan sedih itu lagi."


Xabara tersenyum menurunkan pandangannya, "aku tidak mengira kalau kamu sudah narsis sejak kecil."


Rovert mengangkat dagu Xabara sehingga bertatapan dengannya, "sekarang aku yang bertanya, apa yang kamu rasakan ketika aku menolongmu saat itu?"


Xabara tampak berpikir entah mengapa Ia tanpa sadar telah terbuka pada Rovert dan Ia sangat nyaman mengutarakan segala isi hati dan pikirannya tanpa berpikir harga diri nya akan tergores lagi.


"malaikat tanpa sayap." jawab Xabara membuang muka.


Rovert tertegun, "aku mengira kamu akan menganggapku spiderman atau batmanmu ternyata penilaianmu jauh diatas pemikiranku, apa kamu sudah jatuh cinta padaku saat itu?"


Xabara memukul kepala Rovert yang terbahak seketika bukannya marah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2