
.
.
.
glek...!!
Pria berbadan besar itu malah gemetar menatap lirikan tajam Xabara, tanpa ba-bi-bu lagi Orang itu malah melarikan diri menunggu Bos mereka datang.
Rovert yang hendak membantu Xabara pun hanya bisa menghela nafas lega.
"kenapa kalian malah lari? katakan kenapa kalian mencariku?" tanya Xabara sambil mengedarkan pandangannya.
"Ratu Higanbana?" suara seorang wanita terdengar oleh Xabara, dia adalah Ralista ternyata sudah ada dibelakang Xabara.
Ratu Higanbana? batin Para pengunjung Pasar yang sedang sepi dan penjual di Pasar itu.
Xabara memutar badannya menghadap Wanita itu, para bawahan Ralista segera berkumpul dibelakang Ralista tampak sekali mereka meminta perlindungan wanita itu.
"akuu??" Xabara menunjuk dirinya dengan raut wajahnya yang bingung.
Rovert menoleh ke Orang-orang pasar dan meminta mereka untuk segera pergi tapi mereka tidak ada yang mau bergerak karna kaki mereka seolah sudah terpaku mendengar sosok wanita periang itu disebut Ratu Higanbana, bukan anggota Higanbana tapi Ratunya Higanbana yang selama ini diagung-agungkan oleh Orang lemah.
Ralista melangkahkan kakinya ke arah Xabara tapi tidak berani terlalu dekat, "XeniaXabara aku tau itu kau..! aku sudah cukup lama mencarimu."
Xabara menyunggingkan senyum tipisnya lalu kakinya melangkah ke arah Ralista yang pura-pura tegar, Ralista mengumpat dalam hati akan rasa takutnya itu sementara bawahan Ralista malah melangkah mundur saling berpegangan satu sama lain dengan Tim padahal yang didekati Xabara bukan mereka melainkan Ralista.
"kau yakin aku XeniaXabara? aku hanya wanita biasa." tanya Xabara sambil memiringkan kepalanya ke arah Ralista.
Ralista bisa melihat sorot mata tajam Xabara, walau XeniaXabara memakai pakaian Ninja ketika bertarung tapi sorot mata Xabara sangat dikenal oleh Ralista dan Pria yang terobsesi ingin mengurung sosok XeniaXabara dalam sangkar emas.
Ralista berdehem menghilangkan rasa gugupnya, "jadi inilah sosokmu XeniaXabara? kau tidak akan bisa mengalahkan Dia."
Xabara menaikkan sebelah alisnya, "siapa Dia yang kau maksud?"
Ralista tersenyum tipis, "Penguasa di Rusia yang menginginkanmu karna mu dia sampai tinggal disini sampai mendapatkanmu lalu membawamu terbang ke Kastilnya di Rusia."
"penguasa di Rusia? siapa?" batin Xabara yang memang tidak mengenal banyak Mafia di mancanegara.
Xabara tertawa pelan, "aku Ketua Higanbana? kau yakin?"
"dia jatuh cinta padamu ketika kau menghabisi Orang setianya di Kanada tepat didepan matanya." balas Ralista yang tidak mempan pengalihan Xabara yang memang tidak akan mau mengaku.
Xabara yang tadinya selalu membantah akhirnya menunduk lalu mengangkat pandangannya memperlihatkan wajah aslinya yaitu dingin dan menakutkan.
__ADS_1
"kau masih hidup ya Ralista..!" seringai Xabara.
Ralista berdebar walaupun Ia sudah tau sosok didepannya adalah Ratu Higanbana tapi sorot mata tajam yang ditunjukkan XeniaXabara ketika memakai pakaian Ninja sungguh menakutkan tanpa menutup wajahnya itu padahal Xabara sangat cantik walau punya gigi kelinci dan kacamata besar.
"akhirnya kau mengaku juga..!" senyum meledek Ralista.
Xabara meninju ke arah wajah Ralista yang tidak kena tapi rambut Ralista beterbangan karna angin kecepatan Xabara, Ralista spontan saja memejamkan mata sementara para bawahan Ralista membekap mulut seperti banci yang penakut dengan gerakan cepat Xabara itu.
Xabara melihat Ralista dengan pandangan meremehkan, "kau masih takut padaku ya? apa karna Orang itu kau berani mencariku? kau tidak takut aku menghabisimu sekarang?"
Ralista terkekeh, "kau tidak akan menghabisiku didepan mereka kan?"
Xabara tertawa menakutkan, Rovert melihat bulu tangannya yang berdiri. "inilah Sosok Ratu Higanbana yang sebenarnya." batin Rovert yang sudah tau tapi selalu saja Ia merinding.
Ralista menyerang Xabara secara tiba-tiba tapi tidak mengenai Xabara sama sekali, Xabara dengan mudahnya membuat Ralista bersimpuh didepannya.
"kau fikir aku takut?" tanya Xabara dengan suara pelan.
Ralista segera berdiri, "Kau tidak bisa mengalahkanku dengan cara seperti ini..! kita harus berkelahi di tempat terbuka seperti hari itu."
Xabara menyunggingkan senyumnya, "kau fikir aku bodoh kau mencoba bermain trik dengan Dia yang kau maksud itu kan?"
Ralista tertawa kecil seolah meledek Xabara, "bukankah kau si pemberani? kenapa takut dengan pertarungan terbuka kalau kau selama ini tidak pernah kalah."
"wanita tua ini tidak juga berubah." sindir Xabara sambil menepuk kedua tangannya seperti menghilangkan debu.
"Ny--Nyonya..??"
Xabara menatap tajam mereka semua yang menggigil malah langsung bersimpuh tanpa Xabara serang sedikit pun.
"Ratu Mawar Hitam? ciih...! hanya di dukung Orang lain saja bangga bukannya berdiri sendiri." ejek Xabara ke Ralista.
"ayo pergi...!" ajak Xabara melirik ke Rovert yang tak jauh darinya.
Rovert berlari ke Xabara yang berjalan lurus melangkahi Ralista, Para bawahan Ralista malah memberi jalan dengan kepala tertunduk. Xabara berhenti ditengah-tengah mereka semua.
"mereka sudah melihat wajahmu? apa perlu aku habisi mereka?" tanya Rovert.
seketika mereka semua gemetar ketakutan, Xabara menggeleng kepalanya melihat mereka satu persatu.
"aku penasaran siapa penguasa yang dimaksud wanita itu, apa kamu tau sesuatu tentang Mafia di Negara Rusia?" tanya Xabara ke Rovert.
"yang aku tau mereka ahli senjata dan Bom tapi aku belum pernah melihat penguasa yang sebenarnya, sepertinya dia juga tertutup sepertimu." jawab Rovert.
Xabara pun melangkah pergi diikuti Rovert.
__ADS_1
buugghh...!
Orang-orang Ralista terduduk lemas seperti kaki kokoh mereka tidak ada gunanya saat berhadapan langsung dengan Xabara, mereka merasa beruntung bisa memiliki atasan seperti Ralista walau tumbang oleh satu pukulan Xabara tapi mereka bisa menemukan sosok XeniaXabara secara langsung.
"dia lebih menakutkan dari cerita Orang-orang tentangnya."
"N--Nyonya??"
para bawahan Ralista pun akhirnya segera membantu Ralista.
Orang-orang pasar hanya termangu selama beberapa puluh menit mencerna semua itu, sepertinya Xabara yang sebagai Anita tidak akan datang lagi ke Pasar itu karna mereka menebak sosok Ratu Higanbana tidak suka terekspos, ajaibnya mereka tidak ada yang berani merekam Xabara.
.
di dalam Mobil,
Rovert melirik Xabara yang tampak diam memikirkan kata-kata Ralista tentang penguasa Rusia itu.
"aku pernah menghabisi Orang setianya didepan matanya?" batin Xabara tampak serius mencoba mengingat-ngingat jumlah manusia yang berakhir ditangan Xabara.
"sayang? Ralista itu benar-benar tidak punya kekuatan apapun dibanding denganmu sayang, dia hanya menang nyali saja." Rovert.
Xabara menoleh ke Rovert, "sebenarnya dia cukup kuat tapi mungkin karna sudah tua dan dia masih trauma padaku, mungkin saja masih syok karna tebakannya benar kalau aku memang XeniaXabara."
Rovert mengangguk lalu menanyakan keadaan Xabara.
"aku baik-baik saja." jawab Xabara.
"apa kamu memikirkan Orang itu sayang?" tanya Rovert.
"hmm, aku tidak tau yang mana orangnya karna saat itu aku hanya menghabisi Orang yang berusaha menghalangiku saja." Xabara.
mereka diam beberapa saat lalu Rovert menanyakan apakah Xabara ingin makan es krim untuk menenangkan kepala supaya lebih dingin dan encer.
"apa ada cara seperti itu?" tanya Xabara yang baru tau.
Rovert tersenyum, "ketika aku kehilangan Papaku kepalaku terasa panas mau meledak sayang, aku sering memakan es krim untuk mendinginkan kepalaku yang panas, efeknya memang ada walau tidak banyak."
Xabara pun mengangguk setuju dengan ajakan Rovert yang tidak ada salahnya mencoba hal itu.
.
.
.
__ADS_1