
.
.
.
ke esokan harinya di tempat lain,
"siapa kau?" teriak seorang Pria dengan raut wajah marah melihat seorang ninja berpakaian serba hitam dan wajah tertutup.
"kau akan mati seperti saudara kembarmu." kata Ninja itu dengan senyuman.
"tidaaakkk!! apa kau Ratu Higanbana?" tanya Pria itu yang tak lain adalah Bion.
sosok Ninja itu ternyata adalah Inkaya (Aya), Aya memainkan pisau kecil di tangannya dengan sangat lincah bahkan Ia tidak menjawab pertanyaan Bion.
"kau sungguh merepotkan kedepannya, lebih baik aku habisi saja kau." kata Aya lalu melompat ke arah Bion.
Bion mengelak hingga semua yang ada di Ruangan Kerjanya berserakan, Aya menyeringai dan dengan gerakan yang sangat cepat juga gesit berhasil menancapkan pisau kecilnya di Punggung Bion yang hendak melarikan diri.
"aaahhh." Bion tersungkur merasa tubuhnya langsung terbelah dua hanya karna sebuah pisau kecil menancap di punggungnya.
"si*l." umpat Bion yang tau kematiannya telah tiba.
"semua anak buahmu sudah aku habisi dengan racun udara, sudah aku bilang jangan mencari masalah dengan kami." kata Aya dengan senyuman dibalik pakaian serba tertutupnya.
Aya mengeluarkan setangkai bunga Higanbana lalu diletakkan dihadapan Bion yang terbelalak melihat bunga yang sama ada disisi Bian ketika meninggal, Bion tidak menyangka Ratu Higanbana sehebat ini bahkan bisa menemukan tempat persembunyiannya dengan mudah.
"hanya seekor tikus ingin melawan seekor Singa." sinis Aya lalu mengambil pisau yang tertancap di punggung Bion.
Bion merintih kesakitan, badannya tidak bisa bergerak dan lidahnya terasa kelu untuk sekedar bertanya apa yang Aya berikan padanya. Aya memberi racun lewat pisau kecil itu yang akan menyatu dengan darah serta menghentikan kinerja dalam darah ke jantung sehingga tidak akan bisa terdeteksi oleh apapun.
hanya dengan luka kecil di punggung Bion tidak akan ada yang tau kalau luka itulah penyebab kematian Bion, setiap manusia tau kalau luka sekecil itu tidak akan membunuh manusia.
"bukankah aku baik? aku mempertemukanmu dengan saudaramu di Neraka." kata Aya lalu dengan entengnya melangkahi Bion dan keluar dari Pintu.
Aya tidak takut ada CCTV karna pakaiannya tertutup, asalkan ada Bunga Higanbana tidak ada Polisi ataupun detektif yang berani mencari tau hal itu karna pekerjaan orang-orang Higanbana sangat bersih dari sidik jari atau jejak sejenis apapun, mereka tau korban Higanbana diracuni tapi tidak ada jejak keracunan setiap korban selain tusukan pisau kecil, jarum saja.
__ADS_1
Aya berjalan dengan santai hingga berada di tempat yang aman langsung berganti pakaian layaknya seorang gadis yang suka berolahraga, mana mungkin ada yang mencurigai Aya yang sudah terlatih sejak umur 17 tahun. pekerjaannya sangat bersih sama seperti Xabara jadi banyak yang salah berpikir kalau Aya adalah Ratu Higanbana yang menyamar padahal bukan.
Aya berlari lalu menoleh kebelakang tidak ada siapapun lalu saat berbalik, "aahhh."
tangan kekar memegang lengan Aya yang hampir saja terjatuh lalu membantu Aya berdiri, "kau tidak apa-apa?"
Aya melepaskan tangannya dari Pria itu tanpa berkata-kata mengambil tasnya yang terjatuh langsung berlari meninggalkan lelaki itu.
"ehh?? tidak ngucap terimakasih?" gumam Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"aneh..! masa Olahraga bawa tas." ucapnya pelan lalu melanjutkan pekerjaannya ke Perusahaan X Company Group ternyata Pria itu adalah Barrest yang tengah membeli minuman dingin di swalayan kecil disana.
Aya tiba di Apartemen Xabara lalu membongkar isi tasnya untuk memastikan tidak ada barang yang hilang, "huuh..!"
Aya menghela nafas lega karna memang tidak ada yang hilang saat tidak sengaja menabrak Pria tadi, karna saking takutnya ada benda yang terjatuh Aya buru-buru pulang untuk memastikan setiap benda didalam tasnya karna tidak mungkin Aya membuka nya di tempat terbuka, sama saja Aya gali lubang kuburan sendiri.
Aya menoleh ke Pintu dan tersenyum melihat Xabara yang baru saja pulang dari Mansion Rovert, Aya berlari ke arah Xabara.
"saya sudah menghabisinya Nona." ucap Aya dengan senang.
Xabara mengangguk, "baguslah..! apa pekerjaanmu bersih? tidak ada yang lihat?"
Xabara berjalan melewati Aya lalu Aya mengikuti Xabara yang ternyata memakai pewarna hitam di sekujur tubuhnya dan berganti pakaian.
"apa Nona mau kesuatu tempat?" tanya Aya.
"aku ingin mencari tau siapa Ratu Higanbana palsu yang selalu datang ke Para Lelaki Mafia yang mengejarku." jawab Xabara.
Aya tersentak kaget, "dengan penampilan seperti ini Nona? apa Nona yakin?."
Xabara melihat penampilannya sendiri, "masalah?"
Aya mengangguk, "anda bisa ditangkap, dikurung dan dihabisi lalu di buang seperti sampah kalau ketahuan oleh mereka."
"kau tenang saja Aya..! dalam hal menyamar aku yang terbaik." ujar Xabara dan Aya menghela nafas pasrah.
"kalau begitu Nona harus berhati-hati memasuki kandang harimau." Aya
__ADS_1
Xabara mengusap pipi Aya lalu memakai topi dan maskernya, "aku berangkat!"
Aya berlari mengikuti Xabara tapi mendengar perkataan Xabara pun Ia langsung menghentikan langkah kakinya. Aya memang tidak punya siapa-siapa lagi selain Xabara jadi saat Nonanya itu pergi dalam misi berbahaya sudah jelas Ia khawatir, Aya tidak takut mati tapi Aya takut kehilangan Xabara.
Xabara mengendarai Motor biasanya sebagai Xabara si dekil juga hitam tapi saat ini sedang berpakaian tertutup, Ia mendatangi sebuah Mansion megah yang sudah jelas Xabara ketahui Pria Gila yang sangat terobsesi memiliki Ratu Higanbana.
"tunggu...!"
Xabara melihat seorang kurir paket makanan sontak saja pengendara Motor itu berhenti dan menoleh ke Xabara yang tidak ada cantiknya sama sekali tapi Ia tidak merendahkan Xabara karna kulit mereka tidak berbeda jauh sama-sama hitam.
"ada apa Mbak?" tanya Pria itu dengan sopan.
"apa kau mau mengantar makanan ke Mansion Itu?." tanya Xabara.
"benar!" jawab Pria itu dengan anggukan.
Xabara dan Pria itu berbincang cukup lama sampai mereka serentak bertukar seragam luar lalu menitipkan Ponsel biasa yang tidak terlalu penting dan Motornya ke Pria itu supaya dipercaya memegang Ponsel dan Motor Pria itu mengantar paketan kedalam.
"hati-hati Mbak..! saya takut di curigai." ucap Pria itu ketakutan dan cemas.
"bilang saja aku ini Sahabat baikmu dan menggantikanmu sementara, sedangkan kau menunggu didepan." jawab Xabara dengan serius.
Xabara pun memasuki Mansion dengan membawa paketan yang telah dipesan oleh Orang dalam. tidak ada gangguan saat Xabara memasuki tempat itu karna para Mafia yang berjaga sangat kelaparan sementara Xabara memakai masker dan Helm.
"tunggu disini jangan kemana-mana nanti kau kesasar." pinta salah satu Pria Botak dengan penuh ancaman ke Xabara mengangguk-ngangguk di tempat.
Xabara berakting kebelet ke penjaga lainnya malah disuruh buang air kecil di sekitar sini tapi Xabara mengaku perempuan dan kebelet buang air besar bukan kebelet buang air kecil.
"kau menjijikkan sekali." kata si Penjaga dengan ngeri melihat seorang perempuan berkulit hitam seperti Xabara.
mereka tidak mencurigai Xabara seorang mata-mata karna saat memesan makanan memang kurirnya terkadang perempuan dan terkadang laki-laki.
"cepat..? jangan lama-lama!" teriak Pria gemuk ke Xabara mendorong gadis hitam itu ke Toilet belakang Mansion.
Xabara berlari memasuki tempat itu seolah memang sudah di ujung tanduk dan akan dikeluarkan, memang dewi keberuntungan berpihak pada Xabara yang terkentut mengeluarkan bau busuk sehingga penjaga disekitar sana jijik segera menyeret paksa Xabara untuk buang air.
.
__ADS_1
.
.