Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
aneh


__ADS_3

.


.


.


Lion memperhatikan Irene yang berlari mengejar Xabara, mereka berdua keliatan sangat dekat seperti besar bersama-sama saja.


niat Lion yang awalnya hanya ingin melihat sosok XeniaXabara saja malah teralihkan oleh Irene yang tidak membuatnya terkena penyakit kulit yang parah (alergi perempuan).


"apa dia memang perempuan?" gumam Lion memperhatikan bentuk tubuh Irene yang memang ideal seperti perempuan.


Lion mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ketika Irene terjatuh menimpanya tentu Ia merasakan kalau Irene memang perempuan, Lion memukul kepalanya sendiri.


"apa yang ku pikirkan? tidak mungkin seorang Ratu Higanbana berteman dengan waria." gumam Lion menggeleng kepalanya tapi Ia benar-benar belum percaya kalau Irene seorang perempuan.


selama ini Lion tidak pernah bersentuhan dengan perempuan karna membuat penyakitnya kambuh lalu mengapa Irene tidak? apalagi coba? kalau bukan waria yang operasi alat kel*min dan payud*r*.


"aku harus mengujinya sendiri." gumam Lion senyum miring tercetak jelas di wajah tampannya itu.


"Xabara..?" pekik Irene dengan mata melotot horror.


Xabara mencibir bahkan Ia merasa sangat bahagia membuat Irene berteriak seperti itu hingga tiba-tiba Xabara berubah datar, Irene merasa merinding pun memutar kepalanya ke arah belakang sehingga matanya bertemu dengan mata Lion yang tajam seperti menelanj*nginya.


"aaaahhhh!!" Irene terpekik kuat sambil melindungi asetnya yang ditatap curiga oleh Lion.


"kenapa kau bisa membuat alergiku tidak kambuh? apa kau memang seorang wanita?" tanya Lion to the point.


Xabara melipat kedua tangannya menonton drama gratis didepannya.


Irene melototkan matanya, "kau gila ya??? kenapa menatapku seperti itu? aku benar-benar geli dan apa kau bilang? aku wanita?? aku GADIS yang masih dibawah umur."


Xabara pun tertawa lepas seketika, seorang XeniaXabara tertawa selepas itu benar-benar hal yang sangat menakjubkan jika ada Rovert pasti Xabara sudah di karungin dan disembunyikan didalam kamar.


Irene menoleh tajam ke arah Xabara yang masih tertawa, "ini semua karnamu. ! kenapa aku dikenalkan sama Mafia cab*l??" tunjuk-tunjuk Irene ke Xabara karena tidak terima.


Xabara membekap mulutnya dengan muka yang sungguh merah, kenapa Ia bisa tertawa selepas itu ketika Irene berteriak mengatakan Ia masih anak dibawah umur.


"Xabara?" Irene berlari ke Xabara tapi dicekal oleh Lion.

__ADS_1


"kau mengatakan aku apa?" tanya Lion dengan nada dingin sambil memegang tangan Irene dan sorot mata tajamnya menatap mata Irene tapi sesekali Ia juga melihat tangannya yang lain.


"lepaskan aku...! lepas..!! aku tidak mau dengan Mafia cab*l sepertimu." berontak Irene seperti cacing kepanasan saja.


Xabara yang tadi tertawa pun terdiam sambil memiringkan pandangannya melihat Lion yang seperti ingin menguji sesuatu, segera Xabara memanggil Pelayan perempuan yang memasuki Ruangan itu.


"coba kamu pegang Pria ini..!" pinta Xabara.


Irene melepaskan tangannya dari Lion lalu dengan cepat melarikan diri ke Xabara serta bersembunyi dibelakang Xabara sambil mengomeli Xabara yang memperkenalkannya pada Pria cab*l.


"kita lihat apa yang terjadi." bisik Xabara.


Lion yang tersadar langsung melangkah mundur ketika Pelayan wanita Restaurant mendekati Lion.


"aku ingin bukti..!" titah Xabara yang ingin melihat langsung apakah Lion benar alergi perempuan atau hanya ingin mencari alasan supaya ingin melihatnya saja walaupun Ia percaya Mex tapi Identitas bisa saja dipalsukan apalagi Lion selalu hidup bersembunyi tidak berbeda jauh dengannya.


"ta-tapi..? serahkan dia padaku jika aku benar." pinta Lion melihat Irene yang bersembunyi dibelakang Xabara.


"tidak mau..!" bantah Irene.


"yah..! dia yang akan merawatmu." Xabara yang menjawab membuat Irene memukul lengan Xabara.


Xabara tersenyum tipis saja karna tau wajah Irene pasti sangat masam saat ini dibelakangnya.


"aahkkh!" Lion melangkah mundur dan mundur sampai bersandar di dinding lalu merosot kelantai melihat tangannya memerah dan mulai bengkak-bengkak kemerahan.


Pelayan itu membekap ketakutan sehingga langsung pingsan ditempat, sementara Xabara melihat hal itu sungguh heran mengapa bersama Irene tidak terjadi apapun pada Lion.


"Irene..! kau yang bertanggung jawab..!" Xabara malah menarik lengan Irene dan mendorongnya ke arah Lion.


"aahhh?" Irene tersungkur kali ini bibirnya tidak sengaja mencium leher Lion yang terkapar memegang tangannya kelihatan begitu kesakitan.


"Tol--Tolong aku..!" pinta Lion memelas lemah ke Irene.


Irene menjauhi Lion lalu gelagapan karna tidak tau apa yang harus Ia lakukan melihat tangan Lion membengkak berbeda ukuran dengan tangan Lion yang lain yang tidak bersentuhan kulit pelayan wanita tadi,


"Xabara? ba-bagaimana ini? ak-aku bukan seorang dokter." tanya Irene begitu panik.


"tanyakan Obatnya..!" pinta Xabara.

__ADS_1


"aah.. iya..? Obatnya mana? Obatmu?" tanya Irene tanpa berani memegang tubuh Lion yang bergetar-getar itu.


"sa-saku jas..!" jawab Lion terbata-bata.


Xabara mengambil air minum sementara Irene meminta maaf meraba tubuh Lion lalu mengambil obat alergi Lion dan mengambil 2 butir obat sesuai dengan permintaan Lion.


Irene berhasil membuat Lion meminum obatnya lalu Irene terduduk dengan keringat yang membanjiri pelipisnya sebab baru kali ini Irene melakukan pertolongan pertama pada seseorang, Irene menoleh ke Xabara dengan raut wajah ketakutan.


"ke-kenapa dia punya penyakit seperti itu?" tanya Irene.


Xabara menyunggingkan senyum tipisnya, "selamat Irene, kamu akan di kejar oleh Pria cab*l ini." kata Xabara lalu melenggang pergi meninggalkan Irene yang melotot tidak terima.


"Xabaraaaa...?? tunggu..? kita belum makan..!" teriak Irene berdiri tapi gelangnya malah tersangkut di kancing jas Lion.


"isssh..! kenapa aku sial sekali hari ini?" gerutu Irene menarik paksa tangannya sampai gelangnya terlepas dan tangannya memerah.


"aahh!" Irene terduduk dilantai sambil memegang pergelangan tangannya segera Ia bangkit dan berlari menyusul Xabara membiarkan saja gelang tangannya yang tersangkut di kancing jas Lion.


Lion masih tidak sadarkan diri bersama pelayan tadi yang belum sadar dari pingsannya sudah ditinggal oleh kedua perempuan cantik itu.


Irene berlari menyusul Xabara dan melingkarkan tangannya di lengan Xabara yang menoleh ke Irene malah bertanya mengapa menyusulnya.


"aku lapar..! kamu harus tepati janjimu dan traktir aku makan mewah..!" ketus Irene tanpa melihat Xabara seperti sedang marah.


Xabara terkekeh lalu membiarkan Irene mengikutinya dan makan di Restaurant lain.


.


di dalam Mobil,


Irene menoleh ke Xabara yang membawa Mobil sementara Irene tidak membawa Mobil tinggal di Apartemennya.


"kenapa kamu bisa kenal dengan Orang Mafia Xabara?" tanya Irene penasaran.


Xabara diam lalu menoleh ke Irene sesekali dan tersenyum tipis, "aku pernah menjadi dokter ditahun pertama di berbagai Rumah Sakit jadi setiap ada pasien terluka pasti aku merawatnya dan sebagian dari yang aku rawat adalah orang Mafia."


Irene mengangguk percaya karna Ia tidak pernah berpikir kalau Xabara adalah Ratu Higanbana bahkan Ia tidak mengingat apapun mengapa Ray bisa menjadi gila.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2