Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
murung


__ADS_3

.


.


.


"bagaimana keadaan kalian? apa ada yang terluka sayang?" tanya Rovert dengan serius dan khawatir.


"tidak ada Papa, Ana baik-baik aja." jawab Ana dengan senang.


"An?" Xabara memicing memperhatikan tubuh Putra kecilnya.


"An baik-baik aja Mommy, maapkan An ya melepotkan Mommy halus datang kesini menjemput kami." An yang sangat dewasa malah meminta maaf pada Xabara.


Xabara memeluk An dengan sayang sembari melangkah menuju bangku dan duduk disana serta memangku An menghadap para polisi yang berjaga.


"dimana Keluarga penculik itu?" tanya Xabara dengan dingin.


"Ehh? Ahh? Maaf Nyonya..! keluarga Penculik ti-tidak berani kemari." jawab Salah satu Polisi dengan gemetaran.


Xabara melihat mereka satu persatu lalu tiba melihat 3 guru An dan Ana yang masih tampak begitu pucat malah menundukkan kepala begitu takut pada Orang yang berkuasa itu.


"lalu kenapa kalian menahan anak kecil ha?" tanya Xabara dengan dingin.


"Ehh? ahhh? it-itu Nyonya..? Hmm??" semua polisi tambah ketakutan.


"tidak ada Undang-undang untuk menangkap anak kecil yang masih dibawah umur." sambung Rovert tiba-tiba juga duduk disamping Xabara sambil memangku Ana yang memejamkan mata di bahu Rovert.


"ka-kami hanya ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya..! ka-kami tidak melakukan apa-apa pada Tuan kecil dan Nona Kecil, bahkan ka-kami menyiapkan makanan untuk mereka." salah satu Polisi memberanikan diri menjelaskan lalu menunjuk dengan sopan meja yang begitu berantakan dengan segala cemilan dan makanan yang dihabiskan oleh sikembar.


Xabara dan Rovert mengangguk pelan, "baguslah kalian bisa diandalkan." puji mereka berdua serentak.


"aku akan ganti rugi pada Keluarganya..!" kata Rovert serius membuat Para Polisi membelalak dan ketiga Guru itu juga sama.


Xabara setuju perkataan Rovert, "dengan syarat mereka harus tutup mulut sampai akhir hayat mereka." sahut Xabara.


"ba-baiklah Nyonya..? Tuan..! ka-kami akan menghubungi keluarga penculik itu." jawab salah saty Polisi segera menghubungi Keluarga dari para Penculik yang dihabisi oleh kedua anak hebat itu.


"sayang? kamu bawalah Putra-putri kita ke Mobil..! aku akan urus sisanya." pinta Rovert mengelus kepala Xabara.

__ADS_1


"aku mau disini..!" bantah Xabara yang tidak mau pergi dari tempat itu.


Rovert pun tidak lagi membantah dan membiarkan Xabara menunggu Keluarga Penculik itu, beberapa saat kemudian Keluarga Penculik itu datang ternyata berasal dari Keluarga miskin yang tidak punya apa-apa untuk di jadikan balasan karna tindakan si penculik itu.


"ka-kami tidak punya apa-apa Nyonya, Tuan..! ka-kami hanya punya sertifikat Rumah." ucap salah satu dari mereka memperlihatkan sertifikat Rumah masing-masing.


Rovert yang menggendong Ana mendekati para Keluarga penculik itu begitu juga dengan Xabara yang menggendong An.


"kalian tau kesalahan kalian kan?" tanya Rovert dengan datar.


mereka segera bersimpuh ketakutan dan berkali-kali meminta maaf.


"kenapa kalian yang meminta maaf? seharusnya kami yang meminta maaf." sahut Xabara tiba-tiba.


sontak saja kepala Para Keluarga Penculik itu memandang Xabara dan Rovert tidak mengerti, Rovert menghela nafas.


"anak-anakku memang sedikit aneh dan aku mengajarkan mereka membela diri jika ada Orang yang berniat menyakiti mereka, aku tidak mengira tangan kecil mereka ini bisa menghabisi Keluarga kalian." kata Xabara.


"berikan nomor Rekening kalian..!?" titah Rovert sambil mengeluarkan ponselnya.


"ta-tapi Tuan Kecil dan Nona Kecil mau diculik oleh Suami saya? la-lalu kenapa anda yang ganti rugi Tuan?" tanya Istri si penculik.


"kita akhiri dengan damai tapi kalian harus berjanji tidak akan mengungkit hal ini sampai kapanpun." titah Xabara.


Para keluarga penculik itu menangis terharu, malu, takut bercampur senang dengan apa yang Rovert dan Xabara lakukan, walaupun Rovert dan Xabara begitu mencintai anak-anak mereka tapi tidak membuat mereka menyalahgunakan kekuasaan malah tetap adil diatas apapun kesalahan keluarga mereka.


Rovert mentranfer uang kepada keluarga Penculik untuk biaya hidup yang diganti akibat kehilangan Keluarga mereka, Xabara mengganti biaya makan anak kembarnya ke Para Polisi sebab sikembar memang sangat suka makan bahkan suka sekali mencuri makanan yang dibuat pelayan untuk dimakan sehingga Xabara, Ratu maupun Rovert cukup kewalahan dengan kelakuan si pencuri kecil itu.


Para Guru pun dibayar untuk tutup mulut, tanpa dibayar pun mereka tidak akan membocorkan masalah sikembar itu dan yang paling utama tidak akan ada yang percaya.


"masalah selesai kan?" tanya Xabara.


"Terimakasih Nyonya..? Terimakasih Tuan Muda..! maafkan kesalahan Keluarga kami." ucap para Keluarga penculik meminta pengampunan Xabara.


"tidak apa..! untuk kedepannya tidak akan ada dendam diantara kita kan?" Rovert berujar dengan dingin.


"ti-tidak ada Tuan." jawab mereka kompak.


Rovert langsung melenggang pergi bersama Xabara tanpa berpamitan pada Para Polisi dan Guru Sikembar tapi tidak ada yang marah dengan hal itu sebab wajar saja Kedua Orangtua Sikembar seperti itu, Orangtua mana yang tidak akan khawatir anak mereka nyaris diculik walau bisa menjaga diri tapi sebagai Orangtua jelas juga takut.

__ADS_1


di Mansion,


"kenapa An dan Ana sayang?" tanya Ratu khawatir melihat banyaknya bekas darah yang sudah kering di tubuh kedua cucunya itu.


"mereka tidak sengaja menghabisi Penculik Mom dan ditahan Polisi." jawab Rovert membuat mata Ratu membelalak lebar sedangkan Xabara memukul bahu Rovert yang tidak bisa menyembunyikan kejadian tadi.


"apaaa??" pekik Ratu.


"Mom? jangan khawatir ya? kami sudah menyelesaikannya dengan cepat." jelas Xabara dengan senyuman.


"ta-tapi mereka tidak terluka kan?" tanya Ratu dengan khawatir dan pucat mengelus kepala cucu-cucunya.


"tidak ada yang terluka Mom..? kami harus membersihkan tubuh mereka yang bau amis ini." izin Rovert meninggalkan Ratu disusul Xabara yang izin dengan baik-baik pada Ratu.


"Mom ikut..!" Ratu pun ikut-ikutan mengekori Xabara.


Sikembar di mandikan dengan mata terpejam seolah mereka begitu lelah akibat hari yang panjang telah mereka lalui tanpa istirahat.


di kasur,


Ratu mengelus kepala An dan Ana yang terlelap sedangkan Xabara bersama Rovert juga membersihkan diri di kamar mereka, Ratu melihat tempat tidur Alena yang masih tidur di Box Bayi.


"huh...! untung saja Cucuku tidak jadi diculik." gumam Ratu dengan lega.


"kalian hebat cucuku." puji Ratu sambil tersenyum lebar.


Ratu tidak peduli kalau Cucunya menghabisi Orang yang penting sikembar tidak terluka, jika Ratu melihat ada luka ditubuh sikembar maka habislah orang yang menyakiti Cucunya itu.


di kamar Rovert dan Xabara,


"mau tidur dimana sayang?" tanya Rovert.


"aku mau tidur dengan sikembar." jawab Xabara sambil melangkah pergi meninggalkan Rovert yang juga mengikutinya ke Kamar sikembar.


"kenapa sayang?" tanya Rovert melihat Xabara terlihat murung saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2