
.
.
.
ketika matahari sudah terbit dari ufuk timur, Xabara dan Sikembar turun dari Rumah Pohon.
diam-diam Xabara memperhatikan ekspresi sikembar yang terlihat tidak takut sama sekali melihat bangkai bab* yang badannya 2 kali lipat besarnya dari badan anaknya itu.
"badan kalian bagaimana sayang? apa sakit? udah 1 bulan kita tinggal di Rumah Pohon yang tidak ada kasurnya sama sekali." tanya Xabara memancing kesederhanaan dalam diri anak kembarnya.
"tidak Mommy, enak kok." jawab An dengan jujur.
"nyaman Mommy tapi banyak nyamuk hehe.. nggak kapok kok kalau nginap di sini lagi." sahut Ana dengan cengir kudanya.
Xabara tersenyum mendengarnya, "ayo kita pulang..! besok kalian harus sekolah jadi hari ini harus istirahat yang panjang biar tidak lelah."
An dan Ana mengangguk semangat mengikuti Xabara sambil membawa tas mereka yang besar tapi tidak membuat sikembar tidak sanggup membawa tas mereka itu sebab fisik mereka berdua sudah kuat karna didikan Xabara.
Xabara benar-benar keras mendidik anak kembarnya tapi ajaibnya sikembar tidak mengeluh malah begitu senang memiliki guru seperti Xabara yang tegas tidak pandang bulu walau mereka anak kandung Xabara sekalipun.
di dalam mobil,
"apa kalian mau makan sesuatu sayang? Mommy akan traktir bagaimana?" tanya Xabara menoleh ke An dan Ana yang duduk disamping serta dibelakangnya.
"Abang mau makan sate!!" seru An yang duduk dibangku belakang.
"boleh..!" Xabara mengangguk setuju lalu melihat ke Ana yang tampak berpikir.
"Kakak mau jagung bakar." jawab Ana yang membuat Xabara terkekeh lalu meminta Ana meminta hal yang mengenyangkan bukan Jagung bakar yang seperti cemilan saja bagi mereka.
terkadang An dan Ana menyebut dirinya sebutan Abang dan Kakak yaitu panggilan Alena pada mereka berdua.
"kalau begitu kakak mau pecel ayam." sahut Ana lagi nyengir kuda.
"tentu saja.!" Xabara pun menuruti semua keinginannya anak kembarnya.
Xabara berperan sebagai guru yang tegas juga kejam tapi jika berada di luar pelatihan maka Ia akan menjadi seorang Ibu yang normal.
ke esokan harinya,
Rovert berdecak kagum melihat fisik An dan Ana terlihat semakin kokoh serta berisi.
__ADS_1
"kali ini biar Papa yang antar kalian sekolah ya?" bujuk Rovert.
"Oh ya? Mommy harus ikut dan temui bu guru." kata An dengan serius.
Xabara dan Rovert saling melihat satu sama lain lalu kompak menatap Ratu yang juga tidak mengerti mengapa An tiba-tiba bilang begitu.
"kamu buat masalah nak?" tanya Rovert memicing curiga.
"tidak Papa..! kami mau naik kelas 5 SD." jelas Ana dengan santai.
Xabara yang sedang minum tersedak seketika sedangkan Rovert menepuk-nepuk pundak Xabara dan memberi istrinya tisu.
"5 SD?" beo Ratu dengan mata terbuka lebar.
"iya, kenapa?" tanya An dan Ana serentak dengan wajah tenang mereka yang berhasil membuat kepala Ratu terasa pusing dengan kejeniusan cucu kembarnya.
Ratu tidak tau harus bahagia atau khawatir dengan kepintaran cucunya itu yang tidak sesuai dengan umur mereka.
"5 SD? kenapa melompat sayang? seharusnya kalian masih kelas 3 SD kan? itu saja kalian sudah jenius sayang, kenapa lompatnya jauh sekali hmm?" tanya Xabara yang sudah tenang.
"Mommy pelajaran anak kelas 3 SD tidak menyenangkan sama sekali." keluh An.
"kalau bisa Kakak belajar racun aja Mommy, apa ada sekolahnya?" tanya Ana keceplosan.
Ana mengatup bibirnya seketika sambil nyengir malu melihat mata Xabara melebar seperti mengancam Ana yang buka aib padahal mereka berjanji tidak akan beritau Ratu.
Rovert segera menengahi dan akan membawa Xabara bertemu dengan Guru Sikembar.
.
kini Xabara dan Rovert duduk diam di taman sekolah nya sikembar Maldev dengan pandangan lurus kedepan, Rovert terkekeh seketika membuat Xabara menatap tajam Rovert yang masih bisa tertawa.
"kamu tertawa?" tanya Xabara dengan kesal.
Rovert mengatup bibirnya seketika, "maaf sayang.! aku terlalu gemas dengan tingkah mereka, apa kamu tidak dengar apa kata gurunya tadi hmm? mereka bukan murid tapi guru yang kadang membantu mengoreksi kesalahan guru."
"lalu kamu bangga sekolah ini tidak bisa menampung anakku?" kesal Xabara.
Rovert menggeleng kepalanya, "aku sudah memutuskan akan mengundang guru privat untuk mereka belajar di Mansion saja, lebihnya kamu bisa ajari mereka beladiri kan? mereka punya hobinya masing-masing sayang, apa kamu tidak sadar hmm?"
Xabara mendengus memijit pelipisnya yang terasa berat mengatasi masalah anaknya yang kepintarannya itu tidak bisa diterima di Sekolah itu bukan karna benci melainkan sikembar tidak akan dapat ilmu baru untuk mereka sendiri, dimana-mana anak belajar untuk dapat ilmu lalu bagaimana dengan sikembar yang belajar tapi Ilmunya sudah dikuasai? tentu saja pihak sekolah malah meminta Xabara dan Rovert menyekolahkan sikembar ke tempat yang ilmunya lebih baik dari sekolah yang sekarang.
.
__ADS_1
Ke esokan harinya,
Rovert, Xabara menggendong Alena menjemput An dan Ana yang akan keluar dari Sekolah dengan diantar semua murid dan guru yang ada begitu hormat.
Alena begitu tenang di gendongan Xabara bahkan tidak takut dengan keramaian sama sekali seolah dalam dirinya sudah ada jiwa Artis yang sudah biasa menjadi pusat perhatian.
"terimakasih bu Guru..!" ucap Xabara pada guru-guru yang mengajar An dan Ana selama ini.
"sama-sama Nyonya..! sayang sekali jika Tuan Muda dan Nona Kecil dipaksa sekolah disini karna nanti wawasannya tidak bertambah sama sekali, menurut saya Nona kecil dan Tuan kecil akan tamat sekolah di umur yang sangat muda."
"menurut saya tidak perlu sekolah lagi Nyonya..! pemikiran mereka akan dewasa dengan mereka belajar sendiri." sahut guru yang lain.
Xabara tersenyum kikuk saja mendengar segala pujian Guru terhadap anaknya yang tidak nakal sama sekali tapi memang sangat pintar sehingga mereka sebagai guru yang berpendidikan tinggi saja malu mengajari anak kembar jenius itu.
Alena melihat ke segala arah sampai matanya menangkap sosok anak laki-laki yang pernah Alena beri permen caramel, sepertinya anak itu memang disisihkan oleh banyak anak lainnya.
"haiii??" sapa Alena ke anak laki-laki itu.
Xabara melihat ke arah sapaan Alena pada anak laki-laki yang sorot matanya seperti sedih memandang Putri kecilnya, Xabara bertanya siapa anak itu ke Alena yang dijawab semangat bahwa itu adalah anak yang Alena hibur.
"ooh..! itu anak Tuan Agam yang baru-baru ini kehilangan ibu kandungnya jadi begitu Nyonya..?" jawab guru An dan Ana.
Xabara melihat ke arah Gurunya An dan Ana, "Anaknya Tuan Agam berarti yang Istrinya meninggal tabrakan waktu sedang hamil besar itu ya?" tanya Xabara.
"benar Nyonya..!" jawab guru yang lain.
Xabara melihat anak itu sepertinya ingin berbicara dengan Alena, Ia pun menurunkan Alena dan meminta Rovert mengawasi Putri kecilnya.
Alena berlari riang ke arah Anak laki-laki itu lalu Ia mendongak memandang anak itu yang lebih tinggi dari tubuh mungil Alena dan dengan wajah menggemaskannya Alena bertanya, "idak edih agi tan?"
anak laki-laki itu menggeleng pelan lalu mengeluarkan sebuah coklat dari saku celananya, Alena dengan senang hati menerima coklat itu tapi Ia malah menatap bingung Anak yang pernah ia hibur itu malah melarikan diri dan bersembunyi entah dimana.
"Papa napa aliii??" tanya Alena menunjuk anak tadi yang sudah tidak terlihat lagi dengan polos ke Rovert yang menahan tawanya seketika.
Rovert menggendong Alena, "sepertinya Putri kecil Papa sudah punya fans ya?" gemas Rovert.
Alena malah memiringkan pandangannya tidak mengerti lalu Ia memekik riang diangkat tinggi dan diputar tubuhnya oleh Rovert.
.
.
.
__ADS_1