Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
tau


__ADS_3

.


.


.


Rovert memasang seatbelt di tubuh Xabara lalu memperbaiki tidur Xabara supaya leher gadis yang Ia cintai itu tidak sakit.


"Xabara banyak sekali Pria yang menyukaimu." batin Rovert menatap Xabara lama lalu mengelus kepala Xabara dan menghidupkan mesin mobilnya.


Xabara masih tertidur di samping Rovert sampai tiba di Apartemen pun Xabara masih nyaman dengan tidurnya.


"Xabara apa kamu mabuk? kenapa kamu tidak bangun hmm? tapi aku tidak mencium bau minuman dari mulutmu Xabara." tanya Rovert.


"Roverrt?" Xabara yang masih mengantuk meraba-raba tangan Rovert lalu menariknya sampai Rovert menindih Xabara.


Rovert sungguh membeku ditempat, kakinya terasa lemas bisa melihat Xabara dari jarak yang sangat dekat tapi sikunya tengah menahan berat badannya supaya tidak menimpa tubuh Xabara.


"nyaman sekali." racau Xabara tersenyum lebar dengan mata terpejamnya memeluk Rovert yang otomatis Rovert menimpa tubuh Xabara.


DEG!!?


"Xa-Xabara?" Rovert memegang lengan Xabara yang memeluk lehernya dengan posisi yang masih int*m.


"aku mau tidur nyenyak jadi peluk aku!?" racau Xabara dengan nada memerintahnya.


Rovert menautkan kedua alisnya lalu tangannya mulai berpindah ke pinggang Xabara sampai punggung Xabara dan Ia mengangkat tubuh Xabara.


"aku mengerti." kata Rovert lalu berpindah kesamping Xabara yang langsung memeluk Rovert dengan erat menduselkan sisi kepalanya di bahu Rovert.


"sepertinya aku bisa membuatmu nyaman Xabara, baiklah mulai sekarang aku akan membuatmu percaya padaku. kamu tau perkataanku yang ingin melindungimu maka nya tidurmu nyenyak dipelukanku, ketika kamu sendiri atau bersama Orang lain tidurmu selalu waspada bukan sungguh-sungguh tertidur nyenyak." batin Xabara yang langsung mengerti alasan mengapa Xabara minta tidur dipeluk olehnya.


Rovert pun lama-lama ikut terlelap dengan Xabara sampai jam sudah menunjukkan pukul 12.36 WIB Xabara terbangun dan kaget melihat dirinya tidur dipelukan Rovert.


"a-apa ini? apa aku melakukannya lagi?" batin Xabara melihat kakinya terangkat melingkar paha Rovert, tangannya memegang dada bidang Rovert bahkan dari posisinya terlihat jelas bahwa Xabara yang menempel ke Rovert.


"haissh!? kenapa martabatku bisa serusak ini saat bersama Rovert? apa karna dia yang menolongku saat masih kecil? kenapa aku bisa bertindak memalukan? aku bukan gadis lemah." batin Xabara mengocehi diri sendiri.

__ADS_1


Xabara berusaha bangkit dengan sangat hati-hati tapi Rovert menarik pinggangnya hingga terbentur kembali ke Tubuh kekar Rovert.


"hmm? sudah bangun?" suara Rovert terdengar serak.


Xabara memejamkan matanya, "a-aku tidak bermaksud melanggar kontrak ! ak-aku ...?"


Rovert melepaskan pelukannya dari Xabara, "bisa katakan padaku janjimu? aku penasaran kenapa kau berubah baik padaku."


Xabara terdiam ternyata Rovert tidak mempermasalahkan dirinya yang tidak sengaja memeluk Rovert malah mengalihkan pertanyaan.


Xabara duduk sambil membenahi rambutnya begitu juga Rovert yang duduk memperbaiki bajunya sendiri yang diacak-acak oleh Xabara beberapa jam yang lalu.


"aku akan berterus terang padamu! aku bicara singkat dan sisanya pikirkan olehmu sendiri." kata Xabara dengan serius.


Rovert tertegun, "baiklah tapi jangan membuatku pusing dengan jawabanmu."


"aku adalah gadis kecil yang dulu kau selamatkan ketika Rumah kebakaran di jalan Datuk Bintang, luka dipunggungmu itu karna telah menyelamatkanku." jelas Xabara to the point.


Rovert membelalak, "KK-Kau?"


"aku akan buat makan siang." kata Xabara memilih bangkit dan meninggalkan Rovert yang masih memikirkan semua itu.


tujuan Xabara menikahi Rovert untuk balas dendam pada Randy dan kedua orangtua Randy tapi sekarang semua dendam sudah selesai, mengapa Xabara masih bersama Rovert?


Rovert mematung di tempat, "Ga-Gadis kecil itu Xabara?"


Rovert teringat kejadian naas yang menimpa 1 Keluarga dermawan yang sangat disayangi oleh tetangga serta para pekerja bawahan Orang dermawan itu hanya karna menolak tawaran kerja sama Ilegal dengan Orang Mafia membuat Keluarga hebat itu musnah dalam semalam.


"Xa-Xabara? apa yang terjadi setelah itu? ke-kenapa dia bisa berubah sejauh itu? apa dia langsung memasuki dunia Mafia? ak-aku masih belum mengerti kehidupan Xabara." batin Rovert merasa prihatin dengan apa yang Xabara lalui.


gadis kecil berumur 5 tahun telah memiliki dendam begitu besar, jika Rovert ingat-ingat lagi 3 tahun kemudiannya Bunga Higanbana muncul pertama kalinya menghabisi 1 Mafia yang pernah membantai Keluarga Xabara. saat itu Rovert tidak tau kalau sosok ketua Higanbana di hari itu adalah Xabara yang masih berumur 8 tahun.


Rovert membayangkan apa saja yang Xabara lakukan dari umur 5 tahun itu membuatnya ngeri, "hidupmu pasti sulit sekali Xabara." lirih Rovert merasa hatinya diremas-remas dan sangat sakit tapi tidak ada darah sama sekali.


beberapa saat kemudian,


Rovert mendatangi Xabara yang memakai celemek dapur.

__ADS_1


"sudah mandi?" tanya Xabara dengan wajah datar.


Rovert mengangguk, "apa aku boleh makan?"


"aku memang membuat 2 porsi untuk kita makan." jawab Xabara masih datar.


Rovert mengangguk lalu langsung duduk, Xabara pun ikutan duduk dihadapan Rovert sambil menatap Rovert heran.


"apa dia tidak marah dan bertanya padaku?" batin Xabara.


tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya selain suara sendok saja yang beradu dengan piring kaca, ketika Rovert bangkit Xabara memegang ujung baju Rovert.


Rovert menahan senyumnya sekuat tenaga lalu merubah ekpresinya dengan tenang, Rovert membalik tubuhnya menatap Xabara.


"kau tidak marah?." tanya Xabara.


Rovert menaikkan sebelah alisnya, "kenapa aku harus marah?"


"luka di punggungmu pasti masih nyeri sampai sekarang kan? akulah penyebabnya dan kau tidak marah? apa kau tidak menampar atau melakukan apapun padaku?." tanya Xabara.


Rovert menghela nafas, "aku tidak sejahat itu! lagian aku tidak menganggap itu salahmu."


Xabara mengerjabkan matanya menatap Rovert yang tidak membencinya walau sudah tau kebenarannya.


"aku senang kau bertahan dengan baik selama ini." kata Rovert dengan tulus.


Xabara terdiam lalu melihat arah lain dengan sorot mata yang berusaha menyembunyikan kesedihannya, memang apa yang Rovert katakan sangat benar Bertahan dengan Baik, selama ini Xabara tidak hidup melainkan hanya bertahan sebaik mungkin hingga sampai di titik ini.


Rovert melangkah mendekati Xabara lalu tangannya terulur mengelus kepala Xabara yang menundukkan kepalanya seperti tidak berani menatap Rovert yang tau kelemahan terbesarnya selama ini yaitu Rahasia masa lalu nya.


"aku sudah bilang siap menjadi temanmu kan? apa perasaanmu jauh lebih tenang?" tanya Rovert lalu tersenyum tipis melihat Xabara mengangguk dengan kepala tertunduk itu.


"aku tidak menyangka takdir mempertemukan kita lagi Xabara, aku sama sekali tidak menyesal telah menyelamatkanmu saat itu. masalah luka dipunggungku tidak sebanding dengan luka hatimu selama ini." batin Rovert.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2