Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
Iren dilema


__ADS_3

.


.


.


2 hari berlalu,


Xabara dikagetkan dengan kedatangan Irene dengan wajah ditekuk masam.


"kenapa?" tanya Xabara menaikkan sebelah alisnya ke Irene.


"Xabara kamu harus bertanggung jawab, Pria gila itu mengejarku...! aku benar-benar malu dibuatnya." adu Irene.


"memang apa yang dia lakukan?" tanya Xabara heran.


"dia mengejarku di Apartemen, Perusahaan dan bahkan terang-terangan mengatakan aku ini calon istrinya." pekik Irene.


Xabara tertawa, "selamat ya?"


Irene melototkan matanya, "Xabara aku tidak mau tau kamu harus tanggung jawab, aku tidak mau dengannya."


"kenapa? apa karna penyakitnya?" tanya Xabara serius.


Irene terdiam, "bu-bukan.? ak-aku hanya tidak suka karna dia tidak menantang sama sekali."


"karna dia yang mengejarmu bukan kamu yang mengejarnya?" tanya Xabara lagi.


Irene kaget langsung menatap mata Xabara yang tengah tersenyum padanya.


"Irene aku tidak tau bagaimana tipe idealmu, kamu tau sendiri kalau aku tidak akan memberi Pria yang buruk padamu, awal aku bersama Rovert benar-benar bukan karena cinta tapi dia mencintaiku dan buktinya kamu lihat sekarang aku bahagia tanpa harus tersakiti." Xabara.


Irene mengerutkan keningnya, "kamu tidak mencintainya?"


"tidak..? dia serigala berbulu domba dan diam-diam menargetkanku tapi Lion? Lion terang-terangan mengejarmu bukankah seharusnya kamu bangga? jangan menilainya rendah hanya karna penyakitnya, dia juga tidak mau punya penyakit seperti itu." Xabara berkata dengan serius.


Irene menundukkan kepalanya, "ak-aku..?"


Xabara memegang tangan Irene dan tersenyum, "dia memang kejam dan terkesan seperti Pria Playboy yang mudah jatuh cinta tapi percayalah dia melakukan itu karna kamu sangat berharga baginya, di dunia ini siapa yang mau hidup menderita hmm? dia menderita selama ini bersama perempuan ketika ada perempuan yang membuat penyakitnya tidak kambuh menurutmu bagaimana?"


"menggila?" tanya Irene dibalas anggukan oleh Xabara.

__ADS_1


"aku jamin dia akan menghargaimu seperti harta karun yang tidak boleh tergores sedikitpun dan yang paling utama kamu adalah yang pertama baginya dan tanganmu yang pertama disentuh olehnya." Xabara mengelus hidung Irene yang sepertinya terpengaruh oleh kata-kata Xabara.


"Pria penyakitan seperti itu akan mencintaimu seumur hidupnya dan tidak akan pernah berpaling ke wanita manapun karna hanya kamu yang bisa disentuh olehnya, aku rasa hubunganmu akan terbebas dari Orang ketiga." jelas Xabara lagi.


Irene lagi-lagi termangu sebab kata-kata Xabara sangat-sangatlah benar, impian terbesar Irene adalah menikah sekali seumur hidup dan sekarang Ia mendapatkan celah impian itu didepan mata namun Irene malah membuang muka.


"ingatlah pepatah lebih baik dicintai daripada mencintai, percayalah padaku yang berpengalaman ini dan Aya adalah bukti kedua dariku karna akulah yang menikahkannya dengan Barrest." Xabara.


Irene menatap lekat Xabara, "ja-jadi aku menerima lamarannya?"


Xabara terkejut, "la-lamaran?" tanya Xabara tidak percaya kalau Lion akan secepat itu melamar sahabatnya.


Irene menghela nafas lalu menceritakan kemarin malam Lion melamarnya dengan cincin berlian serta sebuket mawar merah, Lion mengatakan kalau Irene adalah Obatnya dan meminta Irene untuk menikahinya serta Lion juga berjanji akan menjaga Irene dengan sepenuh jiwa-raganya.


Xabara memijit pelipisnya, "aku tidak mengira sosok Singa tersembunyi itu adalah Pria yang tidak suka menahan diri." gumam Xabara.


Irene memandang Xabara, "kenapa Xabara?"


"aammh..? tidak ada. lalu bagaimana pendapatmu mengenai lamarannya?" tanya Xabara mengalihkan.


"aku menolaknya tapi dia bilang akan terus menungguku bahkan dia meminta restu Kedua Orangtuaku, haissshh..! aku sungguh malu dalam 3 hari bertemu dia sudah berani memintaku pada kedua Orangtuaku." cerocos Irene.


Xabara tercengang, "dia benar-benar Gentle."


"kedua orangtuamu bagaimana?" tanya Xabara.


"apalagi??? tentu saja mereka menyukai nya, ternyata dia seorang Pemilik Hotel raksasa di Dubai dan Papa sangat mengenalnya." keluh Irene.


"wowww...!" Xabara.


"apanya yang wow?" tanya Irene dengan kesal.


"Hotel raksasa di Dubai? dia Orang kaya-raya juga." jawab Xabara.


"kenapa tidak memberitauku Xabara? aku benar-benar dilema." pekik Irene.


"kenapa harus dilema hmm? bukankah aku sudah jelas bilang kamu harus terima lamarannya?" kekeh Xabara membuat Irene memejamkan matanya.


"aku belum siap." ucap Irene begitu sabar.


Xabara mengangkat bahunya acuh, "kalau begitu Pria itu akan terus mengejarmu dan apa salahnya kamu membuka hati untuknya hmm? tidak perlu membalas cintanya hanya biarkan saja dia mencintaimu sebesar apapun karna itu akan membuatmu bahagia."

__ADS_1


Irene terdiam, "bagaimana ceritamu ketika menikah dengan Rovert? bukankah tadi kamu tidak mencintainya awal pernikahan kalian kan?"


Xabara menceritakannya lalu meminta Irene menemui Aya serta minta masukan berdasarkan pengalamannya Aya.


.


Irene berada di Cafe bertemu dengan Aya yang baru saja tiba di cafe tempat janji temu mereka berdua.


"ada apa Irene?" tanya Aya to the point sambil membenarkan jaketnya.


Irene melihat jejak di leher Aya tapi Aya tidak tau kalau Irene melihatnya sebab Aya membetulkan jaketnya padahal untuk menutupi tanda itu, Irene tidak mengatakan apapun hanya tau kalau Aya sudah bersuami dan itu wajar saja.


"Xabara mengatakan kalau kamu menikahi Barrest karna dia kan? bisa ceritakan padaku pengalamanmu yang belum mencintai Barrest?" tanya Irene juga to the point.


Aya menatap Irene dengan heran, "aku mempercayai Xabara dan aku memang menikahi Barrest karna nya tapi aku tidak pernah menangis oleh Pria pilihannya, memangnya kenapa?"


"bisa katakan padaku apa saja dari pengalamanmu? Xabara mengenalkanku pada Pria yang punya alergi perempuan tapi aku tidak membuatnya alergi jadi dia melamarku pada Kedua Orangtuaku, ak-aku benar-benar dilema... tolong bantu aku mengatasi masalahku." pinta Irene.


Aya langsung faham lalu mengulum senyum, "menurutku kamu harus percaya penilaian Xabara, matanya tidak pernah salah menilai orang."


"aku harus menerimanya, Xabara mengatakan itu tap-tapi ak-aku." Irene tergagap.


"Lebih baik memilih lelaki yang mencintai kita daripada memilih lelaki yang kita Cintai tapi mencintai perempuan lain, perbedaannya sangat besar dan contohnya aku juga Clara yang memaksa menikahi dokter Shen sementara Shen mencintai Xabara." Aya.


Irene mematung karna Ia melupakan Clara yang terpaksa menikahi Shen karna kesalahan dan Ia baru ingat kalau saat itu Shen mengejar Xabara sehingga Clara sebagai tunangan Shen marah besar hingga menghalalkan berbagai cara untuk mempermalukan Xabara.


Aya melihat Irene yang memikirkan kata-katanya lalu Ia memesan minuman dan membiarkan Irene merenungi semuanya sampai bisa membuat keputusan yang benar.


.


malam hari,


Irene tiba di Apartemennya ternyata sudah ada Lion yang menunggunya, betapa terkejutnya Irene melihat Lion ada di Apartemennya.


"ka-kau?? sedang apa di Apartemenku? ba-bagaimana bisa kau tau sandi baru Apartemenku?" tanya Irene tergagap.


"jangan takut..! bagi seorang Lion sangat mudah mengetahui sandi apartemen targetku tanpa harus merusak." jawab Lion mendekati Irene yang terus saja mundur.


"sudah makan?" tanya Lion dengan sedikit membungkukkan badannya ke Irene yang tidak mengenakan heels sehingga tidak setinggi biasanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2