Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
Bonus Chapter 7


__ADS_3

.


.


.


Pelatihan selama 2 hari di Hutan membuat semangat An dan Ana semakin berkibar menginginkan cepat menguasai ilmu yang Xabara berikan.


ke esokan harinya di Mansion Maldev.


Xabara memasuki Kamar An dan Kamar Ana yang masih betah tidur, Xabara membangunkan An yang tidak bandel sama sekali tapi ketika membangunkan Ana cukup sulit.


"lelah sayang? kalau begitu tidak usah pelatihan lagi ya?" Xabara.


Ana langsung duduk dengan mata terbuka lebar, "tidak Mom..! Kakak tidak lelah kok, Kakak bisa sekolah."


Ana melompat dari ranjangnya berlari menuju Kamar mandinya, Xabara tersenyum lalu mengambilkan baju sekolah Ana dan memakaikannya ke tubuh Ana yang sudah mandi. Xabara mengantar sikembar sendiri dan Ia juga akan mampir di Perusahaannya yang sedang banyak pesanan namun ingin model terbaru.


.


"adek mau kemana sayang?" tanya Ratu melihat Alena memeluk Rovert yang sudah memakai pakaian formal untuk berangkat kerja.


"elja..! elja..! eli ueee." Alena semangat sekali ingin ikut dengan Rovert kerja dan membeli kue.


"sama Nenek bagaimana sayang? Nenek kesepian." Ratu memelas manja dengan raut wajah sedih.


Alena pun merentangkan tangannya ke Ratu lalu membujuk Neneknya untuk tidak sedih, Ratu begitu senang Alena mau tinggal dengannya sedangkan Rovert tersenyum saja melihat cara Alena menyenangkan hati Ratu.


Alena memang kesayangan Mansion Maldev, saat ada Pelayan yang sedih pun Alena menghiburnya membuat siapapun sangat menyayangi Alena termasuk para Pelayan dan Pengawal sekalipun.


"Papa kerja ya sayang? nanti dibawa Main sama nenek ya?" bujuk Rovert ke Alena yang manggut-manggut cerah.


Rovert mencium kening, puncak hidung serta pipi Alena dan Ratu mengantarkan Rovert ke depan Mansion sambil menggendong Alena, Alena melambaikan tangannya ke Rovert yang sudah pergi.


Ratu mencium sayang wajah Alena yang sangat menggemaskan, "mau beli kue apa sayang? kita keluar ya?"


Alena memekik kegirangan lalu Ratu tertawa sambil menghubungi Nike (pengawal Maldev) membawa mereka Keluar Mansion, Ratu belanja besar-besaran dengan Alena yang banyak minta kue serta cemilan manis.

__ADS_1


"Ireeennn?" pekik Ratu melihat Irene sedang menggandeng seorang gadis kecil yang umurnya tidak berbeda jauh dengan An dan Ana.


"Tante?" Irene menggendong Putri kecilnya dan berlari ke arah Ratu lalu mereka berpelukan layaknya anak tidak lama bertemu Ibu nya.


"Lenli?" sapa Alena dengan riang.


Arenli memegang kedua tangan Alena dan melompat-lompat senang memeluk adik kesayangan Maldev.


"sudah lama ya sayang?" gemas Ratu mengelus pipi Irene.


"iya Tante, Xabara gimana keadaannya Tan?" tanya Irene.


"baiklah, kenapa kamu jarang ke Mansion hmm?" tanya Ratu dengan kesal.


Irene terkekeh lebar, "maaf Tante..! penyakit cemburu dan posesifnya Lion makin parah tapi kami sering VC-an sama Aya kok Tan."


Ratu tersenyum lembut karna tau Aya, Irene dan Xabara sudah berkeluarga tentu saja sibuk dengan keluarga masing-masing sehingga mereka jarang berkumpul kecuali kalau ada acara penting itupun kalau tidak ada halangan sama sekali.


Irene dan Ratu pergi ke Taman bermain yang ada dalam Mal, Alena bermain bersama Arenli yang juga sangat menyayangi Alena apalagi Irene yang sudah lama tidak bertemu dengan Alena yang kian menggemaskan.


"jangan jauh-jauh ya sayang?" pinta Irene dengan lembut ke Arenli dan Alena.


Irene hanya bisa meraup angin saking gemasnya dengan tingkah kedua anak menggemaskan itu, tak lupa juga Irene meminta Arenli menjaga Alena yang jauh lebih muda dari Arenli.


Arenli berlari menggandeng tangan Alena bermain wahana yang masih batas wajar umur mereka, Nike sebagai pengawal menjaga Alena dengan jarak aman tapi tidak mengganggu Alena yang ceria.


.


hari berlalu begitu cepat sampai hari liburan kenaikan kelas An dan Ana telah tiba, mereka tidak liburan keluar Negeri melainkan mengikuti pelatihan Xabara selama 1 bulan penuh dan ternyata karna pelatihan itu lidah An dan Ana menjadi lebih baik bisa menyebut huruf R dengan sempurna.


Rovert bekerja seperti biasa membiarkan Xabara melatih sikembar dengan cara Xabara sendiri walau tidak ada kemewahan tapi Rovert mengerti kalau Xabara memang pribadi yang sederhana hanya memberi cinta serta perlindungan khusus pada anak-anaknya bukan harta atau kemewahan.


selama pelatihan itu Ana sangat menyukai racun yang diajari oleh Xabara sementara An juga menyukai Racun tapi lebih menyukai rakitan Bom yang diajari oleh Xabara untuk melatih mental anaknya supaya tidak gentar dengan waktu yang singkat.


"bagaimana sayang? kalian sudah menguasai semua ilmu inti yang Mommy miliki, sisanya kalian berlatihlah sendiri ya?" kata Xabara.


Sikembar melompat memeluk Xabara dan mengucapkan banyak terimakasih, Xabara sampai terharu mendengar cita-cita anaknya yang akan menjadi Penguasa Dunia yang disegani oleh banyak orang sehingga tidak ada orang jahat yang berani mencari sosok Ratu Higanbana tentu mereka akan membuat Xabara hidup nyaman tanpa dikejar-kejar oleh orang jahat sebab mereka akan melindungi Xabara.

__ADS_1


"Mommy tidak butuh perlindungan kalian sayang, kalian bisa menjaga diri sendiri dan menolong orang lemah itu adalah kebanggaan Mommy sebagai Ibu sekaligus guru kalian." kata Xabara dengan lembut.


Sikembar tersenyum lebar, Xabara meminta mereka untuk istirahat lebih awal supaya bisa berangkat pagi-pagi, memang tinggal ditengah hutan sangat tidak aman tapi Rumah diatas Pohon yang dibangun oleh Rovert sangat berguna.


malam-malam,


An mendengar suara aneh lalu Ia bangun dari tidurnya sambil mengucek-ngucek kedua matanya, ternyata ada Ana yang juga sudah bangun mengintip ke arah luar.


"Ana?" panggil An yang membuat Ana menoleh serta memberi kode An untuk diam.


An merangkak ke arah Ana dan ikut mengintip ternyata ada seekor Bab* hutan yang ukurannya sangat besar, Xabara yang pura-pura tidur hanya mengulum senyum mendengar bisikan anak-anaknya.


"mana pistol yang Mommy berikan?" tanya Ana.


"kenapa malah menyuruh abang?" tanya An balik dengan kesal.


"kita hanya selisih 5-10 menit An." kesal Ana dengan mata melotot.


An mendengus lalu mengambil pistol unik pemberian Xabara yang kalau pelurunya lepas tidak akan mengeluarkan suara apapun, Ana berdecak sebal ketika An yang menembak Bab* hutan yang langsung mengamuk badannya terluka.


"jangan ribut.! cepat bantu !! kita harus bekerja sama." titah An dengan serius.


"itu buruanku kenapa kamu mengambil buruanku?" kesal Ana sambil merangkak mengambil pistol nya yang berwarna salam (Pink).


mulut mereka berdebat tapi masih bisa bekerja sama menembak Bab* hutan yang sedang mengamuk itu, Xabara duduk memperhatikan cara menembak anaknya yang ternyata tidak meleset sama sekali padahal target nya tidak diam melainkan bergerak-gerak seperti hewan kesurupan.


"Yeeesss!!"


tosss..!


An dan Ana bertos ria lalu mereka mematung seketika mendengar suara Xabara, mereka langsung memeluk Xabara dengan gembira.


"hebat sayang...! kemampuan kalian semakin matang dan sangat sempurna Mommy percaya semakin dewasa kalian akan semakin mengagumkan."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2