
.
.
.
Lios memang sedang masa pemulihan tapi para bawahannya mulai mencurigai Xabara si hitam dekil, Xabara mendengar percakapan mereka lewat benda yang masih terpasang di bawah ranjang juga dibawah meja kerja Lios, karna itu Xabara jadi tidak pernah menyamar menjadi Xabara si hitam dekil lagi.
Bramasta mengepalkan tangannya melihat Mobil Xabara tidak lagi terlihat, "dari sekian banyak lelaki kenapa harus Tuan Rovert?"
Bramasta sangat tau Rovert memiliki Perusahaan yang sangat besar, satu-satunya Perusahaan yang Produknya sangat diminati kalangan internasional dan jelas saja Rovert adalah saingan Cinta terberat bagi Bramasta ditambah lagi Xabara sudah sah menjadi Istri Rovert Maldev.
ke esokan malamnya,
Xabara dan Rovert bertemu langsung dengan Obel bersama Istrinya (Vellen), mereka berbicara banyak hal tentang bisnis kecuali Xabara dan Vellen malah membicarakan tentang pameran yang akan digelar di Kanada beberapa hari lagi.
"aku mau lihat makam Kakek." batin Xabara teringat sosok Pria tua yang telah membuatnya sampai dititik ini.
"iya Nyonya, aku akan pergi ke Pameran itu." jawab Xabara tersenyum lebar.
"bahasamu sudah formal Xabara tapi kenapa memanggil ku Nyonya? coba panggil Tante!?" pinta Vellen.
"iya Tante." jawab Xabara.
Vellen mencubit kedua pipi Xabara dengan gemas, "jika Tante punya seorang Putra pasti akan lebih baik dijodohkan denganmu sayang, kamu sangat cerdas dan sangat mengagumkan. betapa beruntungnya mertuamu itu."
Xabara tersenyum saja, "sebenarnya Mertuaku juga sangat baik Tante, dia lebih menyayangiku dibanding Putranya sendiri."
"itulah wanita yang cerdas kalau Tante berada diposisi nya pasti akan melakukan hal yang sama." kata Vellen dengan serius.
Xabara tertawa pelan, "setidaknya jika aku ke Kanada tidak akan dicurigai sebagai Istri Rovert." batin Xabara.
Xabara melihat ke arah Rovert, "hidupku menjadi jauh lebih aman ketika bersamanya, aku tidak menyangka bisa bergerak sebebas ini." batin Xabara.
hidup Xabara selalu dalam masalah tapi sejak statusnya berubah menjadi Istri Rovert semua menjadi lebih baik walau masih ada saja masalah, tapi setidaknya Xabara bisa menghindari Pria tanpa harus mengeluarkan kekuatan sehingga penyamarannya tidak terbongkar dan yang terpenting Xabara tidak harus bersembunyi lagi karna parasnya memang buat masalah jika Ia jomblo (terlalu cantik).
Rovert menoleh ke Xabara yang tampak memandangnya, "kenapa Xabara menatapku seperti itu? apa yang dia lamunkan sampai tidak sadar aku juga melihatnya?" batin Rovert.
Rovert beralih lagi ke Obel yang bertanya perihal bisnis lagi, mereka membicarakan Produk baru yang akan di rancang oleh kedua Perusahaan besar miliknya juga Perusahaan Obel lalu dijual ke Pasar Internasional.
__ADS_1
mereka berdua menyalurkan Ide yang sesempurna mungkin supaya tidak membuat kecewa Pelanggan setia mereka selama ini, jadi pembicaraan mereka memakan waktu berjam-jam sedangkan Xabara dan Vellen sibuk dengan pembicaraan perempuan tentu tidak akan bosan.
jam 07.09 pagi.
Obel sudah pergi menggendong Istrinya menuju Kamar Hotel penginapan mereka berdua untuk istirahat.
Rovert menatap lekat Xabara yang tertidur begitu pulas, Ia mengulum senyumnya.
"aku selalu lupa menanyakan mengapa Xabara berubah." batin Rovert yang merasa selalu tidak ada waktu untuk Ia bertanya pada Xabara tentang perubahan Xabara.
Rovert menyibakkan rambut Xabara lalu menggendongnya, bibirnya mengecup kening Xabara yang kelelahan.
"sehebat apapun kamu Xabara tapi kamu tetap perempuan yang kodratnya harus dilindungi serta dijaga sebaik-baiknya harta karun." batin Rovert yang tidak menyangka hidupnya seberuntung ini tengah memeluk sosok misterius yang dicari-cari oleh banyak orang terutama kalangan Orang Kuat dan serakah akan kekuasaan.
Rovert menggendong Xabara terlihat jelas oleh Para Karyawan Hotel yang tengah bersih-bersih, mereka malu-malu melihat pasangan itu sangat romantis sekali.
seorang Lelaki baru saja Keluar dari kamar penginapannya, tadi malam Ia bicara dengan Direktur Hotel sampai larut malam lalu menginap semalam sebab membahas tentang Para Dokter Magang yang butuh penginapan beberapa hari menyelesaikan pelatihan di gedung Hotel itu yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 hari lagi. kini Ia melihat Rovert terlihat tidak suka lalu matanya terbelalak melihat Xabara.
"Xabara? kenapa dia pingsan?" batin Pria itu yang ternyata Bramasta.
"Xabara!" Bramasta berlari menyusul Rovert lalu menghalangi jalan Rovert.
"apa yang kau lakukan pada Xabara?" tanya Bramasta.
"apa dia kenal Xabara?." batin Rovert.
"kenapa kau diam?" tanya Bramasta hendak mengambil Xabara tapi Rovert melangkah mundur hingga Bramasta hanya memegang angin.
"apa yang aku lakukan pada Xabara? apa aku tidak salah dengar pertanyaan konyolmu itu? apa salah jika aku menggendong Istriku yang sedang tertidur pulas karna kelelahan?." Rovert tersenyum sinis seolah perkataannya penuh makna akan sesuatu.
Bramasta mengepalkan tangannya, "iya !? aku sangat mengenal Xabara yang tidak akan pernah tidur walau dia kelelahan sekalipun, aku yakin kau membuatnya tertidur dengan Obat tidur kan?."
Rovert tertawa miring, "woo!? sepertinya aku menemukan segelintir Pria yang menyukai Istriku."
Bramasta tidak memikirkan perkataan Rovert yang terpenting baginya melihat Xabara digendong seperti itu oleh Rovert pasti Xabara dijebak atau apalah pikiran liarnya berkelana di otak Bramasta itu padahal Ia melupakan fakta Xabara itu ISTRInya Rovert Maldev.
"serahkan dia padaku!?" Bramasta melangkah ke Rovert tapi Rovert mengangkat kaki panjangnya menendang lutut Bramasta sampai terduduk.
"kenapa aku harus menyerahkan Istriku pada Pria asing sepertimu? Xabara ISTRIKU bahkan dunia juga tau itu, menyingkirlah dari jalanku." ucap tajam Rovert.
__ADS_1
Bramasta berdiri lalu berusaha merebut Xabara dari Rovert seperti Pria yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Pria ini benar-benar sudah Gila!." batin Rovert yang merasa mulai geram dengan tindakan Bramasta begitu kurang ajar.
Rovert melihat CCTV di atasnya, Ia tidak mungkin menyerang dengan terang-terangan karna ini sebenarnya masalah reputasi.
"lepaskan Xabara!?" teriak Bramasta.
"jika Istriku sampai terbangun aku tidak akan mengampunimu." ancam Rovert dengan serius.
Bramasta terdiam sesaat lalu kembali berusaha merebut Xabara hingga tiba-tiba Xabara terbangun dipelukan Rovert, biasanya Xabara bisa terbangun hanya karna satu lidi terjatuh ke lantai tapi anehnya ketika dipelukan Rovert malah berbeda.
"Rovert?" panggil Xabara dengan suara serak tapi matanya terpejam melingkarkan tangannya di leher Rovert.
"iya Sayang, maaf aku membangunkanmu!?" balas Rovert ke Xabara.
Bramasta yang seperti cacing kepanasan seketika berteriak memanggil Xabara, "Bangun Xabara ?? apa kepalamu sakit? pusing? pasti karna dia melakukan sesuatu padamu kan?."
Xabara mengerjabkan matanya lalu menoleh ke Bramasta yang mengulurkan tangannya ke dirinya, Xabara bukannya berpindah malah melingkarkan lengannya lebih erat ke Rovert.
"cepatlah Rovert!!? aku sangat mengantuk, kau harus bertanggung jawab terhadapku!?" kata Xabara yang sangat nyaman dipelukan Rovert.
Bramasta mematung lalu Rovert menyeringai ke Pria itu.
"sudah dengar?" tanya Rovert.
"menyingkir dari hadapanku sebelum aku berbuat lebih !?" ancam Rovert lagi.
Bramasta pun berpindah tempat sambil memandang Xabara yang memeluk Rovert begitu erat, sejak dulu Bramasta tidak pernah melihat Xabara mau disentuh oleh Pria manapun bahkan disaat banyak Senior Xabara ingin sekali membuat Xabara kelelahan sampai tertidur atau mabuk tapi tetap tidak bisa menggendong Xabara apalagi menyentuhnya.
Bramasta bisa melihat mata Xabara yang terpejam di bahu Rovert layaknya perempuan normal pada umumnya.
"Xabara? jika dia bisa memegangmu kenapa tidak denganku?" gumam Bramasta mengepalkan tangan sekuat-kuatnya.
.
.
.
__ADS_1