
.
.
.
Malam itu juga Xabara dan Rovert berangkat ke Kanada tidak memperdulikan masalah yang mereka berdua tinggalkan.
di Apartemen Xabara (Aya),
"hah? siapa pelakunya?" gumam Aya.
"apa Tuan Rovert?." tebak Aya lagi.
Aya menggeleng kepalanya, "tidak mungkin juga Tuan Rovert, dia baru saja bergabung dan tidak mungkin sudah bisa seprofesional itu."
Aya mendumel membuang pikiran itu jauh-jauh namun seketika Ia teringat bahwa Rovert adalah Serigala Hitam dari Kanada, Aya tercengang ditempat.
"ja-jadi benar?." gumam Aya seakan sudah bisa menebak Rovert pelakunya.
"apa Nona tau?" oceh Aya lagi lalu hendak menghubungi Xabara tapi tidak bisa (diluar jangkauan).
Aya memukul kepalanya dengan ponselnya sendiri, "dasar Aya!! Nona kan berangkat ke Kanada sama Tuan Rovert."
Aya pun meletakkan Ponselnya dan memilih menonton berita yang sedang gempar itu, tidak ada bukti sama sekali walau detektif handal sekalipun yang bekerja mencari sebab kematian itu bahkan CCTV sudah di rusak tepat di menit itu sehingga sulit mencari tersangka.
pekerjaan Orang itu benar-benar bersih, tidak ada Saksi, tidak ada Bukti, tidak ada tersangka dan semua benar-benar buntu seolah kasus Korban itu memang bunuh diri.
"tapi kenapa mereka tidak meninggalkan setangkai Bunga ya?" gumam Aya.
Aya menghubungi Mex demi menanyakan kasus itu ternyata pelakunya mungkin saja Xabara dan Rovert tapi enggan meninggalkan jejak karna target berasal dari kewarganegaraan asing, akhirnya Aya mengerti mendengar penjelasan Mex.
Aya terdiam menatap Potret Xabara yang sangat cantik, "saya tau Nona sangat kuat tapi saya mohon Nona harus berhati-hati saat melihat makam Kakek Angkat Nona itu." gumam Aya dengan lirih.
Aya tau cerita masalalu Xabara karna mereka sudah lama hidup bersama, Xabara memang seperti Saudara kandung bagi Aya, Ibu, Ayah dan Sahabat baik bagi Aya, kesimpulannya Xabara sangat penting bagi Aya.
.
di Negara asing,
Xabara dan Rovert akhirnya menginjakkan kaki di Hotel, mereka sangat lelah karna menempuh perjalanan hampir 2 hari di dalam pesawat.
"Xabara bagaimana dengan lehermu?" tanya Rovert tanpa menoleh ke Xabara yang tengah berada di ranjang yang sama dengannya.
Xabara dan Rovert langsung terlentang di Ranjang empuk Hotel penginapan mereka tanpa memikirkan barang-barang lagi.
__ADS_1
"masih sakit." jawab Xabara.
"Kakek aku datang." batin Xabara tersenyum samar dengan mata terpejam.
"apa perlu aku carikan Obat?" tanya Rovert.
Xabara terkekeh pelan, "mana ada obat untuk leher yang pegal kecuali kepalaku sakit."
"ah iya juga sepertinya aku sangat kelelahan." gerutu Rovert lalu Xabara kembali tertawa.
Rovert tersenyum lebar mendengar tawa Xabara, "aku benar-benar sudah berada di tahap yang lebih dekat dengan Xabara." batin Rovert.
"aku lelah jangan ganggu aku !?" titah Xabara berubah datar.
"hmm." sahut Rovert memunggungi Xabara begitu juga dengan Xabara.
mereka berdua terlelap dengan posisi saling tolak punggung.
ke esokan malamnya,
Rovert dan Xabara menghadiri Pameran bertemu dengan Obel bersama Istrinya, mereka semakin mesra berkat nasihat Xabara.
"benarkah Tante?" tanya Xabara.
Xabara pun tidak melarang apapun keinginan Vellen karna hal itu kehidupan Vellen bersama Obel, Xabara tidak berhak ikut campur juga.
"tapi saya kagum akan Cinta kalian, walaupun tidak punya keturunan Tuan Obel tetap mencintai Tante." senyum tulus Xabara.
Vellen tersenyum malu, "sebenarnya kami pernah memiliki anak tapi meninggal di Umur 7 tahun."
"kesuksesan Obel membuat perubahan besar bagi kehidupan kami, anak kami jadi target kejahatan Orang yang benci dengan kami." Vellen berubah sendu.
Xabara merasa tidak enak pun meminta maaf karna itu semua diluar pemikirannya, Vellen memaafkan Xabara karna fakta tentang anaknya memang di tutup dari publik.
"ehh? bagaimana dengan patung ini Xabara?" tanya Vellen menunjuk patung pameran yang ada didepannya.
Xabara memperhatikan itu tersenyum, "iya Tan ! bagus juga."
Xabara merasakan banyak mata-mata di Pameran ini seperti sedang mencari jarum ditengah tumpukan jerami.
"apa mereka selalu datang di tempat yang ramai?." batin Xabara.
"aaahh?? yang itu bagaimana Tan?" tunjuk Xabara ke Lukisan abstrak yang tak jauh dari pandangannya.
Xabara yang sudah profesional dalam menyimpan ekspresi nya sudah jelas tidak akan di curigai terlebih lagi Profil Xabara memang suka mendatangi Pameran, semua data diri Xabara tidak akan dicurigai.
__ADS_1
Rovert mendatangi Xabara, "apa ada yang kamu inginkan Sayang?" tanya Rovert dengan bahasa yang sangat manis.
Vellen terkikik saja mendengar kemesraan pasangan suami-istri itu. tak lama setelah itu Vellen pun dibawa oleh Obel untuk dikenalkan pada rekan-rekannya, Vellen yang awalnya pemalu sehingga tidak mau terekspos kini mau menunjukkan diri demi keselamatan hubungannya dengan Obel.
"apa hanya perasaanku saja?." bisik Rovert ditelinga Xabara terlihat begitu mesra.
Xabara menoleh ke Rovert dan hidung mereka bersenggolan lalu bertatapan cukup lama.
"apa?" tanya Xabara setengah berbisik.
Rovert tersadar segera mendekatkan bibirnya dengan bibir Xabara terlihat jelas mereka seperti berci*man padahal sedang membahas kecurigaan Rovert terhadap orang yang berada di Pameran yang sama dengannya.
"mereka musuh Kakekku, aku tau mereka sudah lama mencariku dan setiap ada Pesta, Acara apapun yang berbaur perkumpulan tentu saja mata-mata itu ada disana." bisik Xabara dengan bibir yang nyaris menempel dengan Rovert.
"kakekmu? apa Kakek kandungmu?" tanya Rovert.
"dia yang menemukanku setelah kau menyelamatkanku di umurku 5 tahun ... !?" Xabara menceritakan masalalunya dengan singkat namun berhasil membuat Rovert mengerti.
"woo!! kamu murid pribadi King Demon." bisik Rovert tampak kaget bercampur kagum.
Xabara mencubit perut Rovert yang meringis seketika lalu tiba-tiba ada penjaga Pameran yang menyenggol Rovert sehingga bibirnya menyatu dengan Xabara. mata Xabara membulat sempurna begitu juga Rovert segera Rovert menjauhkan bibirnya dengan bibir Xabara.
"tenanglah Xabara!!? disini banyak mata-mata." bisik Rovert menenangkan sembari memperhatikan sekitar.
Xabara tidak bereaksi, ia merasa jantungnya berdebar tapi tebakan Xabara mungkin karna kaget sebab Ia tidak pernah berc*uman dengan Pria manapun padahal Xabara sangat cantik banyak yang menginginkan Xabara, Rovert sudah 2 kali melakukannya walau tidak intens tapi sudah menodai bibir suci Xabara.
"Xabara aku harus ke Toilet ! jangan kemana-mana ya?" pinta Rovert ke Xabara sambil memegang kedua bahu Xabara dan menatapnya serius.
"iya." jawab Xabara.
Rovert berbalik lalu membuang nafas berkali-kali, wajahnya sungguh kian memerah mengingat Ia tadi baru saja menempelkan bibirnya ke bibir Istrinya.
Xabara diam melihat sekitar,
"Xabara kau disini?" Bramasta tiba-tiba memegang tangan Xabara.
Xabara seakan tersadar langsung menepis tangan itu dan berbalik, "kau? kenapa kau bisa ada disini?"
"Xabara kau tidak berubah !!? kau masih sangat menyukai Pameran ya?" senyum lebar Bramasta seakan sangat akrab saja dengan Xabara.
.
.
.
__ADS_1