
.
.
.
Xabara menghela nafas panjang, "apa kau sudah pulih Aya?"
Aya mengangguk mantap lalu melompat-lompat didepan Xabara sambil berputar-putar demi menunjukkan pada Xabara kalau Aya sudah sangat sehat.
Xabara pun setuju hingga Aya bersorak senang, "berhati-hatilah Aya! kecelakaan seperti apa yang akan kau perbuat untuk Pria itu?"
Aya tampak berpikir, "akan saya pikirkan Nona."
Xabara sudah berulang kali memerintahkan Aya untuk bicara non formal padanya tapi Aya tidak mau, Xabara pun tidak lagi memaksa tutur bahasa Aya yang menganggap Xabara itu tuannya bukan kakak angkatnya.
Xabara menoleh ke Balkon bahan kaca tebal yang jelas bisa melihat sesuatu dari Luar tapi yang di luar tidak bisa melihat apa saja orang lakukan di dalam Apartemen itu.
"Rovert?" gumam Xabara melihat Mobil Rovert telah memasuki pekarangan Mansion.
Aya tersadar seketika, "Nona?? saya benar-benar penasaran kenapa Nona menyerahkan tub*h Nona pada Tuan Rovert? apa dia mengancam Nona? apa dia membahas balas budi?"
Xabara menggeleng kepalanya, "semua tutur katanya sangat mirip dengan Kakek angkat serta Papaku, kata Kakek sosok Pria yang mencintaiku dengan tulus akan mengingatkanku pada Orang yang pernah aku sayang."
Aya terdiam mendengar suara Xabara terdengar serius, "baiklah Nona! jika itu membuat Nona senang saya setuju tapi kalau suatu saat dia berkhianat saya yang akan mem*ngg*l kepalanya."
Xabara tertawa pelan lalu mengelus kepala Aya, "aku berharap kamu akan menemukan Pria yang bisa membuatmu teringat pada Orang yang kamu sayang Aya."
Aya membeku ditempat mendengar perkataan Xabara yang sangat tulus, Aya memeluk Xabara dan mengatakan jika Pria itu bisa membuat Aya selalu berada dilingkungan Aya tentu Aya akan lebih bahagia.
.
Xabara memasuki Apartemen Rovert yang ternyata Rovert sedang membersihkan diri lalu keluar dengan handuk melilit menutupi di bagian intinya saja.
"sayang?" Rovert mendekati Xabara yang bersidakap dada menunggunya.
"apa kau itu perempuan? kenapa mandi lama sekali?." kata Xabara dengan datar.
Rovert nyengir kuda lalu menangkup pipi Xabara dan mencium kening Xabara, Xabara mengerjab-ngerjabkan matanya.
__ADS_1
"maaf sayang !? tadi ada perempuan jal*ng yang memelukku dari belakang jadi aku mandi sampai kulitku seperti ini." adu Rovert.
Xabara melebarkan matanya melihat tangan Rovert yang memerah, awalnya Xabara marah tapi melihat kulit Rovert sampai memerah begitu membuatnya faham Rovert tidak suka di sentuh perempuan jal*ng sama seperti Xabara yang benci disentuh oleh Pria kotor.
"Rovert kenapa kau melukai tanganmu sendiri?" tanya Xabara menyadari semua tubuh Rovert merah saat diperhatikan lagi dari dekat.
Rovert tersenyum melihat raut wajah Xabara yang terlihat mengkhawatirkannya, Xabara menarik lengan Rovert dan duduk di ranjang sedangkan Xabara sedang mencari salep khusus milik Xabara untuk mengobati alergi.
Xabara menemukan salepnya lalu memakainya ke tubuh Rovert yang pasrah sambil menatap lekat-lekat Xabara.
"ini?" Rovert tanpa malu menanggalkan handuknya didepan Xabara.
Xabara melebarkan matanya segera membuang muka, "Rovert kenapa kau bertingkah seperti anak-anak hah? apa kau tidak sadar punya mu itu 10 kali lipat berbeda ukurannya dari anak-anak."
Rovert terkekeh, "aku suka raut wajahmu sayang."
"jangan menggodaku! area situ pasang sendiri." ketus Xabara menyodor-nyodorkan salep itu ke Rovert tapi Xabara tidak melihat ke arah Rovert sama sekali.
"pakaikan sayang! lagian kita sudah saling melihat kan? kenapa malu? anggap saja kamu sedang berlatih merawat bayi." kata Rovert yang tidak tau malunya.
Xabara memejamkan matanya, "dasar si mes*m ini !apa dia bangga dengan miliknya itu?" batin Xabara mengumpat.
"pantas saja waktu pertama kali sangat sakit." batin Xabara.
Rovert menahan tawanya sekuat tenaga melihat wajah merah Xabara, Ia merasa hari ini adalah hari yang buruk karna dipeluk jal*ng tapi ketika bersama Xabara malah membuatnya bahagia seperti menang lotre.
Xabara berdiri setelah memberi salep pada Bayi besarnya itu, "sebenarnya kau sakit apa Rovert? kenapa kau bisa seperti ini?"
Rovert menepuk ranjang disampingnya, Xabara menghela nafas lalu duduk disamping Rovert walau malu tapi Ia menjaga harga dirinya dengan sangat baik, jujur saja Xabara sudah biasa melihat inti laki-laki tapi hanya inti Rovert saja yang bisa membuat seorang XeniaXabara merasa malu.
Rovert tersenyum lebar, "kan kamu tau sayang sejak umur 17 tahun aku menjadi Presdir dan perjuanganku menjadi Presdir di usia yang sangat muda mendapat banyak pertentangan jadi aku minta bantuan pada pemilik saham dengan syarat wanita yang dekat denganku harus di gil*ri, aku yang lemah saat itu hanya bisa pasrah sejak saat itu aku merasa jijik dengan perempuan yang mau digil*ri."
Rovert pun memberitau awal masa lalunya sejak pernah diculik ditambah lagi kehilangan Papanya dalam beberapa tahun lagi.
Xabara diam mendengarkan cerita Rovert yang sama persis dengan yang diberitau Ratu, Rovert tidak peduli Xabara menganggapnya lemah yang penting Rovert harus menjaga harga diri Xabara untuk selalu diatasnya dengan begitu Istrinya itu akan terus bersamanya, Rovert adalah Pria yang punya harga diri dan Arogan yang sangat tinggi tapi sejak bersama Xabara tentu saja Ia rela menanggalkan semuanya.
Xabara tersenyum tipis lalu mengelus rahang Rovert yang tertegun dengan apa yang Xabara lakukan padanya,
"Rovert kau bukan Pria lemah! asal kau tau aku juga merasa diriku lemah tapi aku bertahan karna dendamku, rasa sakit hatiku jauh lebih menyakitkan dibanding benda tajam mengenai tubuhku seperti yang kau katakan aku hanya bertahan dengan baik selama ini." ujar Xabara.
__ADS_1
Rovert merasa Xabara mengasihaninya dan merasa mereka berdua adalah korban dari takdir yang dibuat oleh manusia serakah, tapi mengapa Rovert merasa senang dengan perhatian Xabara? Rovert tidak pernah seperti ini.
"aku benar-benar sudah terlalu gila karnamu sayang." batin Rovert.
Rovert menarik lengan Xabara hingga terhuyung dan masuk ke pelukan Rovert lalu Rovert membaringkan Xabara dengan cepat ke ranjangnya, Xabara melototkan matanya Rovert tepat berada di atasnya.
"apa yang mau kau lakukan Rovert?" tanya Xabara dengan galak.
"seperti biasa." seringai Rovert.
Xabara berusaha menangkis tangan nakal Rovert, "kau mencoba melec*hkanku ha?"
Rovert tertawa, "kepada istriku sendiri tidak masalah sama sekali."
Xabara benar-benar wanita bar-bar yang sulit dijinakkan.
.
kini Rovert dan Xabara berada di Bath-Up kamar mandi.
Rovert tengah serius menggosok punggung Xabara serta memijit-mijit kaki Istrinya seperti seorang Pelayan, hal itu adalah bagian dari hukuman Xabara karna Rovert sudah membuatnya nyaris pingsan walau sebenarnya merasa berada di surga dunia (Xabara menikmati) tetap saja Xabara yang punya harga diri tinggi tidak boleh terlihat murah*n didepan Rovert.
"dimana lagi sayang?" tanya Rovert.
"bahu !" titah Xabara.
Rovert pun berpindah memijit bahu Xabara, diam-diam Xabara tersenyum tipis.
"kau Algoj* s**s yang sangat handal ya?" ledek Xabara.
"aku senang dengan pujian Ratu-ku." kata Rovert malah senang dianggap pelampi*san saja oleh Xabara yang penting Xabara tidak melampiaskannya pada Pria lain.
asalkan Xabara senang apapun akan Rovert lakukan, Rovert Maldev sudah bucin tingkat akhir pada Xabara.
.
.
.
__ADS_1