Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
Bonus Chapter 5


__ADS_3

.


.


.


beberapa hari berlalu,


kini tiba lagi hari Sabtu dan Minggu, An dan Ana begitu semangat akan pergi ke Hutan bersama kedua Orangtuanya untuk berlatih.


"bagaimana persiapan mu Ana?" tanya An dengan serius.


"udah...! kamu gimana An?" tanya Ana balik malah terdengar lebih bersemangat.


"Pisaumu?" tanya An.


"Ana bawalah." jawab Ana lalu mengeluarkan pisaunya dan memainkannya didepan An yang terlihat sudah biasa melihat kelihaian Ana memainkan pisau.


"aku tidak sabarrr belajarrr sama Mommy...! hahaa." pekik Ana dengan gembira.


"aku yang akan diajarrri sama Mommy." bantah An.


"enak aja..! RRRatu Higanbana cuma 1 dan aku akan menjadi penerrus Mommy selanjutnya." selah Ana tidak terima.


"aku akan menjadi RRaja Higanbana." kata An dengan bangga.


Ana menggeleng kepalanya kuat, "Cuma aku yang pantas menjadi penerrruss Mommy."


mereka malah berdebat ingin dilatih oleh Xabara hingga tiba-tiba mereka berdua terdiam mendengar suara Xabara.


"kalian akan Mommy latih dengan cara yang sama tidak ada yang dibedakan karna kalian memang penerus Mommy."


An dan Ana berlari ke arah Xabara lalu memeluk pinggang Xabara dengan manja, Xabara mengelus kepala anak-anaknya sangat lembut.


"jangan bertengkar ya? kalian itu bersaudara harus ingat pesan Mommy." ujar Xabara dengan lembut.


"ingat Mommy..! kami berrsaudarrra harrus saling melindungi satu sama lain." jawab An dan Ana serentak.


Xabara tersenyum lalu bersimpuh didepan anak-anaknya dan memeluk kedua anak kembarnya itu, "Mommy terlalu menyayangi kalian, maafkan Mommy yang selama ini terus saja mengekang kalian ya?"

__ADS_1


"tidak Mommy, kata Papa Mommy melakukan hal itu karrna mencintai kami." kata An.


"Kami juga sayang Mommy." sahut Ana.


Xabara mengulum senyum melepas pelukannya dari sikembar, "kalian adalah Sang Penguasa Dunia yang baru."


An dan Ana menyeringai senang saat Xabara memuji mereka berdua, "kami penguasa dunia yang baru." beo An dan Ana dengan riang juga begitu bersemangat.


Xabara tertawa kembali memeluk Putra-Putrinya, "aku harus ajari anakku sampai menjadi yang terkuat dan tidak terkalahkan." batin Xabara dengan serius lalu memejamkan matanya.


awal kelahiran An dan Ana memang benar Xabara tidak mau anak kembarnya mengikuti jejaknya karna terlalu berbahaya dan Xabara tidak mau anaknya terluka, tapi seiring berjalannya waktu jujur saja darah dan Takdir memang tidak bisa di kalahkan oleh segala tekat Xabara, yang terjadi pasti akan terjadi. maka nya Xabara tidak lagi mengekang Putra-Putrinya berlatih.


"sudah siap kan?" tanya Xabara.


Sikembar mengangguk semangat hingga Xabara terkekeh.


Rovert menunggu Sikembar dan Xabara di Ruang Tamu pun bangkit dari duduknya di sofa melihat kemunculan Keluarga kecilnya.


"kenapa lama sekali sayang? apa kalian baik-baik saja?" cecar Rovert sembari melangkah menuju Xabara dan anak kembarnya.


"tidak apa." jawab Xabara.


disaat mereka hendak berangkat tiba-tiba kaki Rovert terganjal sesuatu, "apa yan...? Ehhh?" Rovert melebarkan matanya ternyata Putri Bungsunya telah menempel di kakinya entah sejak kapan.


Rovert melihat ke arah Xabara begitu juga sebaliknya lalu Xabara memerintahkan sikembar masuk Mobil duluan tentu sikembar berlari semangat menuruti perintah Mommynya.


"kenapa dia bisa disini? dimana Mom?" tanya Xabara sembari melangkah ke Alena dan berjongkok untuk menggendong Putrinya tapi ternyata Alena begitu kuat memeluk kaki Rovert sehingga Xabara cukup kesulitan menarik Alena.


"sayang?? kenapa begini? kamu sama Nenek aja ya? Mommy sama Papa cuma pergi 2 hari." Ucap Xabara dengan serius dan lembut.


"Ituuuuttt...! Alllena ituuuttt!!" pekik Alena dengan mata berkaca-kaca.


Rovert menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "kenapa dia minta ikut sayang? biasanya Alena tidak pernah begini."


"sayang? biasanya Mommy dan Papa tinggal selama 1 bulan tidak apa kan? kenapa sekarang tiba-tiba minta ikut hmm?" bujuk Xabara


"ituuuttttttt!!!" pekik Alena sampai terbatuk-batuk dan Rovert menjadi iba.


"sudah sayang..! biarkan Alena ikut ya?" kata Rovert membela Alena.

__ADS_1


Xabara mendongak ke Rovert dengan mata melotot penuh ancaman, "dihutan banyak nyamuk aku tidak mau kulitnya memerah."


"ituuuttt!! hiksh.. hiks.. ituuutttt!" tangis Alena pecah seketika.


Xabara terkejut melihat tangis Alena yang kali ini benar-benar sungguhan bukan drama seperti yang Xabara ketahui, Rovert langsung panik dengan cepat menggendong Alena lalu membujuk Putri kecilnya yang segera memeluk leher Rovert seakan tidak akan melepaskan diri dari Rovert.


Ratu tiba didekat mereka dengan wajah khawatir, Ia menjelaskan pada Xabara kalau Alena bangun sendiri dan mandi sendiri serta ganti baju sendiri seolah sudah merencanakan semua itu untuk ikut dengan Kedua Orangtua juga kakak kembarnya.


"sayang? sama Nenek aja ya?" Ratu berusaha mengambil Alena yang menggeleng kepala memeluk erat leher Rovert.


Xabara memperhatikan saja tingkah Alena yang begitu keras kepala mau ikut sampai Ratu memberikan benda serta mainan yang Alena inginkan pun tetap saja Alena tidak mau tinggal bersama Ratu.


"kenapa anakku begini? apa dia mendengar sesuatu?" batin Xabara yang merasa yakin kalau Putrinya ingin ikut karna menginginkan sesuatu yang lebih menyenangkan hati dan dahaga ahehnya itu.


Rovert sampai kebingungan sendiri berulang kali Rovert membujuk Alena tapi tetap tidak bisa, Alena sudah mantap ingin ikut dengan Kedua Orangtua nya walaupun Rovert sudah bilang berbahaya, banyak nyamuk, tidak ada kasur, tidak ada mainan dan tidak ada makanan enak juga manis kesukaan Alena. akan tetapi, tetap saja Alena bersikeras meminta ikut.


"Alena tinggal..!" titah Xabara serius.


"idaaaakkkk!! dekk ituuuuttt!" jerit Alena lalu menangis kencang seketika dipaksa oleh Ratu melepaskan diri dari Rovert.


"sudah cukup Mom..! aku akan menjaganya, jangan membuatnya menangis lagi." pinta Rovert yang malah ikut sedih mendengar tangis Putri bungsunya itu.


Xabara memijit pelipisnya melihat Rovert membawa Alena pergi, Ratu menanyakan tujuan Xabara mengapa Alena bersikeras meminta ikut walau dibilang tidak ada makanan enak padahal 1 Mansion tau bagaimana suka nya Alena dengan makanan manis.


"kami mau berburu Mom." jawab Xabara membuat mata Ratu membelalak lebar.


"Alena tidak boleh ikut!" kata Ratu segera berlari menyusul Rovert.


Xabara mengikuti Ratu dan sekali lagi tangis Alena pecah digendong oleh Ratu padahal Alena sudah di dalam Mobil Rovert, Alena dibawa pergi jauh dari Mobil Rovert, Alena sampai harus guling-guling di lantai dan tangannya tergores meminta ikut dengan Rovert serta kakak kembarnya.


"Momm??" Rovert yang tidak tahan pun turun dari Mobilnya.


An dan Ana menonton saja apa yang Alena lakukan sedangkan Xabara hanya diam tidak berkutik sama sekali karna Ia mengenal watak Alena yang keras sama seperti dirinya jika sudah menginginkan sesuatu pasti akan didapatkan walau badannya sendiri harus penuh luka.


"Papaaaa??" jerit pilu Alena berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Ratu.


"sayang? Nenek tidak mau kamu terluka sayang." Ratu pun sampai kebingungan sendiri mengapa Alena begitu histeris ditinggal hanya 2 hari oleh kedua orangtuanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2