
.
.
.
Rovert dan Xabara pun memasuki Mobil lalu meninggalkan kawasan itu, mobil nya melaju mundur lalu mencari jalan lain.
di Apartemen Xabara,
"apa kau tidak mau tinggal bersama kami?" tanya Rovert.
Xabara menggeleng kepalanya, "lebih baik kau tidur disini bersamaku..! aku sangat mengenal watak Ibumu yang bisa saja memberi kita minuman dan terjebak melakukan hubungan itu."
Rovert terdiam memikirkan, "kau begitu mengenal Momku?"
Xabara menoleh ke Rovert dengan tatapan datar, "setiap kali aku bersama Mommu pembicaraannya selalu sama, dia ingin menantu tapi kau tidak normal dan saat kita bersama jika tidak memiliki cucu juga maka dia akan memotong ba*ang mu itu."
Rovert menutupi bagian intinya, "apa kau baru saja melec*hkanku?."
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "kau boleh kembali atau ikut denganku, aku punya banyak kamar."
Rovert pun memilih ikut tidur dengan Xabara tidur di Apartemen Xabara bukan di Mansion, sebenarnya Rovert tau kalau Ratu sangat ingin memiliki cucu tapi tidak tau juga kalau Ratu akan nekat memberi suatu ramuan untuk dirinya.
.
Rovert tertegun melihat Aya menyambut Xabara dan menatap sengit Rovert.
"heiii? matamu kenapa? apa aku pernah membunuhmu? kenapa menatapku seperti itu?" cecar Rovert ke Aya.
"kau..?" Aya menendang kaki panjangnya ke Rovert yang dengan cepat mengelak.
Xabara menggeleng kepalanya mengabaikan kedua manusia itu yang berkelahi.
"jangan sampai kau membunuh suami kontrakku." teriak Xabara.
Aya melototkan matanya, "sial*n kau!! kau suami kontrak Nonaku?"
Rovert merasa kemampuannya sangat di uji melawan Aya, sungguh Aya punya kemampuan diatas rata-rata.
Rovert berhasil mengalahkan Aya walau sempat kalah berkali-kali, "bisakah kau bertingkah sebagai perempuan normal? aku suami Kontraknya bukan suami sebenarnya, dia memanfaatkanku untuk balas dendam pada mantan suaminya dan kau yakin mau menghabisiku sebelum dia berhasil balas dendam? kau mau menjadikan dia janda lagi?." cerocos Rovert terengah-engah.
__ADS_1
Aya terdiam tapi menatap tajam Rovert, "jika kau melukai Nonaku habis kau !"
"ckk..! kenapa kau melindungi Xabara? apa dia pemimpin Higanbana? kenapa kau tidak melindungi Ratumu saja yang di incar banyak orang heh? kau bertingkah seolah Xabara adalah Ratunya." dengus Rovert.
Aya mematung, "kau tidak tau Nonaku? jadi kau berpikir dia siapa?."
"anggota Higanbana kan?" Rovert malah bertanya untuk meyakinkan dirinya tidak salah.
Aya menoleh ke arah Xabara yang sudah tidak terlihat olehnya, Ia berlari ke arah Xabara untuk memastikan mengapa Rovert berpikir Xabara adalah anggota nya bukan Ketua Higanbana yang di juluki Ratu Higanbana karna sangat hebat itu.
Rovert menghela nafas sambil mengelus dada, "kemampuannya sangat hebat! lalu bagaimana dengan pemimpinnya? apa dia tangan kiri? Xabara tangan kanan nya, lalu bagaimana kemampuan Ketua mereka?."
Rovert menghubungi Ratu untuk memberitau dirinya menginap di hotel bersama Xabara, Ratu sangat senang Xabara telah sah menjadi menantunya walau tidak bisa membuat pesta besar tapi itu semua juga karna permintaan Xabara sendiri.
.
Aya menarik tangan Xabara menuju Ruangan khusus yang aman.
"ada apa?." tanya Xabara.
"apa dia tidak tau kalau Nona adalah pemimpin kami?" tanya Aya.
Xabara menaikkan sebelah alisnya, "kenapa aku harus memberitaunya?"
"maafkan saya Nona!" ucap Aya yang memang selalu bertindak impulsif tapi sebenarnya kinerja Aya sangat bagus dan sempurna.
Xabara mengusap kepala Aya, "apa kau mengalami sakit perut?"
Aya menggeleng kepalanya lalu Xabara bertanya lagi dibagian-bagian tertentu karna Xabara tau bekas luka Aya ketika berumur 17 tahun masih terasa denyutan walau sekarang sudah berumur 25 tahun, kekerasan yang dilakukan Ayahnya dulu sungguh masih membekas di tubuh Aya walau Pria itu sudah lama meninggal ditangan Xabara.
"apa kau yakin tidak mau Operasi kulit?." tanya Xabara.
"saya akan operasi kalau Nona mengizinkan saya menghabisi kedua Orangtua Pria brengs*k itu." jawaban Aya terdengar serius.
Xabara terkekeh pelan lalu mengusap pipi Aya seperti saudara kandungnya sendiri.
"dalam waktu 4 hari lagi kau lihat kesana, aku yakin dia akan terbunuh oleh Massa." jawaban Xabara membuat Aya heran.
"kenapa Nona begitu yakin Orang bodoh itu akan dibunuh? lagian kenapa para tetangga aneh itu mau meminjamkan uang mereka pada kedua Orang itu kalau tau mereka tidak akan bayar hutang?." tanya Aya.
Xabara menjelaskan bahwa dulu para Tetangga memberi pinjaman karna diancam oleh kedua manusia itu, kalau meminjam uang tidak tau malu menunjuk barang emas yang terpakai di tubuh yang punya uang dan selalu mengikuti orang sampai mau meminjamkan uang walau sampai ke kamar, anggap saja mereka semua terpaksa meminjamkan pada orang tidak tau malu dan tidak tau diri itu.
__ADS_1
Aya berdecak geli membayangkan mereka yang tidak tau malu memaksa diberi pinjaman uang, "kalau dia mengikuti saya akan langsung saya tebas kepalanya Nona."
Xabara terkekeh dan menganggukkan kepalanya mengerti perkataan Aya, Aya suka melakukan tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu itulah karakter Aya, walau begitu Xabara sebenarnya sayang pada Aya yang paling dekat dengannya dari pada anggota Higanbana yang lain.
.
ke esokan harinya di meja sarapan,
"dimana tangan Kiri Ratumu?." tanya Rovert seperti menyindir saja.
"tangan kiri?" Xabara tidak mengerti.
"yang menyerangku kemarin menyebutmu Nonanya." jelas Rovert.
"dia sedang keluar berolahraga." jawab Xabara.
Rovert menyanggah dagunya sambil memandang Xabara yang begitu seksi tapi Xabara tidak peduli diperhatikan Rovert kalau perempuan lain pasti sudah kejang-kejang karna malu tapi Xabara malah bertingkah lain, sungguh unik. sifat acuh Xabara berhasil membuat sudut bibir Rovert terangkat sempurna.
"kalau kalian saja sehebat itu bagaimana dengan Pemimpin kalian? pasti lebih hebat lagi ya?." tanya Rovert.
Xabara menghentikan aktifitasnya lalu melirik ke Rovert dengan acuh dan kembali bergerak mengambil Roti panggangnya dari Oven.
"tidak usah bicara tentang pemimpinku !" titah tajam Xabara.
Rovert mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, "baiklah."
"kau tangan kanannya sedang dia tangan kirinya, hidup masyarakat begitu aman jika kalian bertindak cepat ! jujur saja aku sejak dulu mengagumkan kalian, aku tidak tau umur pemimpin kalian tapi saat Papaku meninggal ditangan orang terdekatku dan aku tidak berdaya untuk melawan nya, saat itu juga aku ingin sekali meminta bantuan kalian menghabisi Pria tua itu."
Xabara diam saja pura-pura tidak dengar padahal Ia mendengar perkataan Rovert.
"berapa umurmu?" tanya Rovert seketika.
"bukankah kau sudah lihat dibuku nikah?" sindir Xabara.
"disana memang dikatakan kau sudah berumur 25 tahun tapi itu Identitas palsu kan? kau bahkan punya 2 kartu tanda Pengenal."
"tidak ada tipuan dengan umurku hanya tanggal, bulan, potretnya saja berbeda sementara nama kedua Kartu Tanda Pengenalku sama, tidak ada bedanya seharusnya kau faham akan hal itu." ucap Xabara dengan santai.
"maaf!" ucap Rovert sambil memandang Ekspresi Xabara yang tampak acuh saja.
.
__ADS_1
.
.