
.
.
.
Rovert tersenyum puas melihat penampilan Xabara, "aku rasa mereka tetap tidak akan bisa mengenalimu."
Xabara melihat penampilannya di cermin, "sungguh aneh."
Rovert mengambil sebuah spidol lalu menarik lengan Xabara hingga Xabara masuk ke pelukan Rovert.
"apa yang kau lakukan?" tanya Xabara dengan mata melotot.
"pejamkan matamu !?" pinta Rovert.
"tidak bisa." jawab Xabara hendak melepaskan dirinya dari pelukan Rovert seketika lengan Rovert merangkul pinggang Xabara dengan erat.
"aku harus memberimu tahi lalat." kata Rovert.
"ciih!!? apa tompel ini juga belum cukup?" kesal Xabara.
"belum." jawab Rovert lalu menarik pinggang Xabara semakin dekat padanya.
Rovert memberi spidol ke mata, hidung, bibir dan terkekeh seketika melihat wajah datar Xabara.
"kau sengaja ya? kenapa wajahku semua nya kau coret?" omel Xabara.
Rovert tertawa lalu menarik pergelangan tangan Xabara menempelkan sebuah tato tempel, Xabara terkejut melihatnya.
"ini apa?" tanya Xabara.
"ini sebagai pengalihan kalau mereka menandaimu lewat ini aku jamin kamu aman dari kejaran mereka." jawab Rovert menekan-nekan tato tempel itu seperti sungguhan.
"bahkan warna kulitku lebih pekat daripada Tatonya, ini juga tahi lalat untuk apa? kau yang meminta wajah dan tubuhku diwarnai." ujar Xabara dengan datar.
"Xabara! dengarkan aku !? keahlian para pejuang di Negara ini adalah mata yang sangat jelas walau didalam gelap sekalipun." kata Rovert.
Xabara terkejut karna Ia memang tau akan hal itu tapi hampir saja Ia melupakannya kalau sampai Xabara ketahuan akan banyak orang yang mencurigainya dan itu pasti merepotkan.
"bahasa apa saja yang kamu kuasai?" tanya Xabara.
"hampir merata tapi aku paling fasih Belanda, kita gunakan bahasa Belanda saat berbincang." jawab Rovert seakan tau maksud pertanyaan Xabara itu.
.
malam hari di jam yang membuat para penjaga mengantuk.
Xabara meletakkan aroma tipis yang bisa membuat para Penjaga Makam ketiduran hanya butuh waktu 5 menit semua Penjaga sudah tertidur.
(Nae : anggap saja Translete ya?)
"ayo!!?" ajak Xabara dan Rovert mengangguk lalu tiba-tiba Rovert menarik tubuh Xabara dan mereka tersungkur sambil berpelukan.
braashhhh!!
Xabara melebarkan matanya menoleh kebelakang ternyata tempat yang Ia pijak tadi ada jebakan. sungguh Xabara terlalu bersemangat ingin tiba di makam Kakek angkatnya sehingga kewaspadaannya berkurang.
"kamu tidak apa-apa?" tanya Rovert.
"apa kau terluka?" tanya Xabara serius memegang bahu Rovert.
__ADS_1
"tidak juga, tapi aku merasa kakiku terkilir.!" jawab Rovert.
Xabara pun bangkit membantu Rovert berdiri, Xabara berjongkok meminta Rovert menahan rasa sakitnya.
"baiklah." jawab Rovert.
Xabara bergerak memegang kaki Rovert perlahan lalu memutarnya cepat,
Kretakkk
Rovert memejamkan matanya menahan rasa sakit supaya tidak mengeluarkan suara, "terimakasih!" ucap Rovert yang kakinya merasa lebih baikan.
"ayo kita bergerak sebelum mereka terbangun." ajak Xabara dan Rovert mengikuti Xabara sesekali Ia harus waspada melihat sekitar.
setibanya di Makam King Demon.
Xabara berkaca-kaca melihat nama yang tertera di atas makam itu, "Kakek aku datang untuk menemuimu !!? maafkan aku karna aku bukan murid yang baik jarang sekali melihatmu." batin Xabara.
Rovert melirik Xabara yang tengah menahan tangisnya sekuat tenaga, "kenapa dia menahannya?." batin Rovert menggeleng kepalanya sambil melihat sekitar.
Xabara sudah terbiasa melatih ekspresinya sehingga saat sedih pun harus ditahan dengan baik, Xabara sebagai pemimpin memang harus tegar, tegas, berwibawa serta kuat dan jangan sampai kalah.
1 jam kemudian,
Rovert mendengar suara langkah kaki dan Rovert segera menemui Xabara lalu mengatakan kawanan penjaga sudah berganti, mereka mulai mencurigai ada yang tidak beres.
"ayo kita pergi!" bisik Rovert.
Xabara pun menghapus air matanya lalu berlari mengikuti Rovert, sungguh Rovert sangat hebat padahal bukan pemimpin Mafia.
"lihat!? mereka itu ? kejarrr !" teriak salah satu penjaga.
"Kejar!!"
"berhentiiii !!?"
Dor!! dor!!
Xabara melempar 1 bola kecil lalu mengeluarkan asap yang semakin tebal, Rovert dan Xabara kembali berlari sambil berpegangan tangan.
"lepaskan bajumu!?" pinta Rovert.
Xabara melepas jaket luarnya begitu juga Rovert, mereka membuangnya ke tong sampah lalu kembali berlari memasuki setiap gang sempit yang ada sampai mereka melihat banyak kerumunan.
"ayo bergabung dengan mereka !?" ajak Rovert.
"kenapa kita harus lari? apa kita tidak bisa melawan?" gerutu Xabara seperti masih memiliki dendam dengan orang yang mengejarnya tadi.
"mereka bergerak dibawah kendali seseorang." bisik Rovert.
Kerumunan itu ternyata langsung menaiki Kereta Api, Orang-orang yang mengejar pun berdecak sial. mereka segera berkomunikasi dengan rekan-rekan yang lain untuk menghentikan Kereta Api yang mereka curigai.
Rovert menarik Xabara sampai tiba di gerbong paling belakang lalu membuka pintu dan melompat ke semak-semak sampai mereka berguling-guling dan berada di tempat yang aman.
cup!!
"Rovert kau?" kesal Xabara ketika bibirnya sekali lagi harus bersentuhan dengan bibir Rovert.
"Sssttt !!" Rovert menutup bibir Xabara dengan telapak tangannya serius.
Rovert melihat sekitar, "kita sudah dekat Hotel !!? kita bersihkan warna di tubuh kita lalu kita berangkat !" ajak Rovert.
__ADS_1
mereka berdua membersihkan tubuh mereka yang berwarna dengan mata air kecil disekitar semak-semak.
.
Xabara mendengus, "kau memperlakukanku seperti gadis lemah."
"Xabara aku tau kemampuan mereka semua, jika jumlah mereka hanya sekitar 20 Orang kita bisa mengatasinya tapi mereka berkelompok, ckkk!! mereka seperti sekumpulan serigala yang menangkap mangsa dengan cara berkelompok." dengus Rovert.
"bukankah kau Serigala hitam?" ketus Xabara.
"Xabara aku ini manusia bukan DEWA yang tidak bisa lelah." bisik Rovert.
"jadi kau lelah? kenapa tidak bilang?" ledek Xabara.
"Xabara aku akan menciummu jika berani berbicara lagi, kita bisa ketahuan." bisik Rovert.
Xabara memutar bola matanya dengan malas, "aku akan menggigit bibirmu jika berani menciumku."
"kalau itu bisa membuatmu diam kenapa tidak?" balas Rovert begitu santai.
Xabara melototkan matanya dengan galak, "awas saja kau mencari kesempatan."
"ckkk!! aku masih mau hidup tidak sepertimu yang tidak takut mati." tegas Rovert.
Xabara terdiam lalu Rovert menarik tangan Xabara berjalan dengan pelan sampai tiba dibelakang hotel, mereka berdua harus memanjat pagar yang ketinggiannya tidak biasa.
hap!!
Rovert berhasil menangkap Xabara yang masuk ke pelukan Rovert.
"hei aku bisa...?" kesal Xabara yang tak terima dianggap tidak bisa apa-apa oleh Rovert tapi dibekap oleh Rovert.
"kakiku sakit Xabara tolong bekerja samalah!" pinta Rovert serius lalu Xabara melirik kaki Rovert pun menghela nafas pasrah.
Rovert menahan senyumnya, "rasa sakit dikakiku tidak sebanding dengan rasa takutku kamu tertangkap Xabara." batin Rovert.
Rovert dan Xabara mengendap-ngendap sampai hendak memasuki Lift, mereka berdua seketika berbalik.
"kita lewat tangga." bisik Rovert dan Xabara menganggukkan kepalanya.
setibanya di Kamar mereka dilantai 40-an pun mereka berdua langsung terkulai lemas.
"apa yang kamu lakukan di Makam kakekmu hampir 1 jam lebih?" tanya Rovert.
"berisik!!? apa kamu itu jiwa perempuan yang tertukar? kenapa rewel seperti Aya." Xabara.
"cepat ganti pakaianmu lalu kita tidur layaknya pasangan suami Istri." titah Rovert.
"kau sedang memerintahku?" tanya Xabara dengan mata melotot tajam.
"kalau begitu silahkan bergerak Nona!" ralat Rovert menundukkan setengah badannya.
"Rovert!! kenapa kau semakin menyebalkan?" tanya Xabara berubah datar.
Rovert diam dengan posisi yang tidak berpindah sama sekali yaitu membungkukkan setengah badannya.
.
.
.
__ADS_1