
.
.
.
"tunggu sebentar!" pinta Rovert berdiri lalu berlari entah kemana.
Para Pelayan mematung ditempat saja sementara Xabara tersenyum anggun ke Ratu yang terlihat sangat bahagia dengan perhatian Rovert, akting Rovert memang meyakinkan juga.
Rovert kembali membawa kotak obat juga sendal bulu biasa yang ukuran kaki Rovert, Rovert mengobati kaki Xabara persis sebagai Kekasih yang sangat perhatian.
"singkirkan heelsmu itu." titah Rovert.
Xabara melototkan matanya, "apa? tidak bisa.!! itu pemberian sahabat baikku."
Rovert mendengus, "aku akan belikan yang lain kenapa kau memakai heels yang membuat kakimu terluka?."
"diamlah! aku tidak akan memaafkanmu jika berani membuang heelsku lebih baik ini saja yang dibuang, kenapa aku harus memakai sendal sebesar itu." Xabara pada dasarnya memang tidak suka diatur oleh lelaki pun membuang sendal Rovert.
Rovert menghela nafas panjang, "aku akan beli dengan ukuranmu." kata Rovert yang malah tidak marah.
Ratu awalnya menonton saja, Ia semakin yakin ada sesuatu dengan Rovert yang sangat perhatian pada Xabara bahkan tidak marah saat Xabara membuang sendal Rovert yang harganya cukup menguras dompet.
makan malam pun berjalan lancar, Rovert menerima paketan malam itu juga yaitu sendal yang Ia pesan ukuran kaki Xabara dan memakainya ke Kaki Xabara.
"jangan pakai heels lagi." pinta Rovert.
"aku akan terus memakainya sama sepertimu yang memakai sepatu pantofelmu itu." balas Xabara malah menantang.
"bisakah kau patuh sedikit?" tanya Rovert tidak habis fikir.
"tidak bisa." jawab Xabara lalu mereka saling menatap tajam satu sama lain hingga mereka menoleh bersamaan ke arah Ratu yang tertawa seperti merasa terhibur dengan pertengkaran keduanya.
"kalian sangat lucu." puji Ratu merasa Mansion seluas ini begitu ramai.
diluar sana kebanyakan perempuan selalu menjaga Image supaya tidak ketahuan sifat buruknya tapi Xabara satu-satunya Gadis yang berani melawan Rovert dan tidak menjaga Image manis didepan Rovert membuat Ratu semakin menyukai Xabara.
Xabara berdiri, "kalau begitu Tante aku pulang dulu karna aku harus menyiapkan mental menghadapi Pria tukang atur ini."
Rovert menatap kesal Xabara, "aku mengaturmu demi kebaikanmu sendiri."
"aku tau yang terbaik untukku sendiri." balas Xabara dengan angkuh.
"kalau begitu kenapa kau mau menikah dengan Pria tukang atur sepertiku?." tanya Rovert menantang.
"karna aku ingin menjatuhkan harga dirimu yang setinggi langit itu." jawaban Xabara membuat Rovert menatap tajam Xabara tapi tidak terbesit permusuhan.
"ahahahaha." Ratu sekali lagi tertawa terpikal-pikal.
__ADS_1
"kau pulang saja sana dan jaga dirimu SENDIRI baik-baik Nona Maldev." ucap Rovert penuh penekanan lalu melenggang pergi.
Xabara mendengus juga langsung berbalik pergi setelah berpamitan dengan Ratu yang tak kuasa menahan tawanya bahkan sampai Xabara keluar dari pekarangan Mansionnya. Ratu menghapus air matanya akibat terlalu bahagia membayangkan Rumah ini akan sangat ramai.
"aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba." senyum haru Ratu akhirnya mendapatkan menantu yang terbaik pilihan Rovert sendiri.
Ratu sempat cemas mencari seorang pendamping untuk Rovert tapi selalu saja gagal karna Rovert tidak mau hingga Ia tidak sengaja mengangkat panggilan Xabara membuatnya penasaran langsung meminta bertemu dan jatuh hati pada Xabara.
ke esokan harinya,
Rovert sarapan namun Ratu terlihat sibuk bertanya ke Rovert untuk acara pernikahan Rovert dan Xabara yang akan digelar 2 minggu setelah ini.
"Mom? kenapa buru-buru? 1 bulan lagi juga bisa yang penting nikahnya aja kan? apa harus pesta juga?"
"benarkah? tapi Mom mau pernikahan kalian dikenal publik." kata Ratu serius.
Rovert menjelaskan bahwa Ia sangat sibuk dan belum bisa mengadakan pesta lagian Xabara tidak memaksa pernikahan mereka harus mewah.
"tidak bisa..! kalian harus pesta besar." bantah Ratu.
Rovert tidak bisa mencegahnya lalu mengirim pesan mengatakan pada Xabara tentang pernikahan besar yang direncanakan Momnya.
"tidak masalah." jawaban Xabara pun membuat Rovert tak lagi protes akan rencana Ratu yang ingin mengadakan pesta besar.
.
ditempat lain,
"Nona mau kemana?." tanya Aya.
"aku akan pergi ke suatu tempat, tenang saja aku akan baik-baik saja." balas Xabara.
Aya pun tak lagi menyela, Ia membiarkan Xabara pergi dan memilih melanjutkan pekerjaannya yang sudah lebih melonggar karna Higanbana tidak banyak lagi mencari mangsa.
Xabara memarkirkan Mobilnya di Cafe terakhir Ia melihat mobil Randy ternyata tebakannya benar Mobil Randy memang ada diparkiran.
"kau benar-benar keras kepala ya? apa otakmu isinya hanya ingin punya Istri cantik dan Kaya-raya saja? ckkk..!" Xabara berdecak merendahkan siasat Randy yang sudah jelas menunggunya di Cafe itu.
takdir? Xabara tidak percaya suatu kebetulan bahkan Cinta pertama itu menurutnya tidak ada melainkan obsesi semata saja.
Xabara menunggu sampai malam lalu pergi dari sana tanpa berniat keluar.
ciiittt!!
Xabara tiba-tiba harus menginjak rem melihat ada seseorang muncul didepan Mobilnya.
"to.. tolong kami!" pinta orang itu memohon.
Xabara berdecak lalu memperbaiki rambutnya dan cukup terkejut ternyata pelaku yang membuatnya harus berhenti mendadak adalah Nandini.
__ADS_1
"to.. tolong kami Tuan." Nandini berjalan ke sisi Xabara mengira orang didalam Mobil mewah itu seorang lelaki.
Xabara menurunkan kaca mobilnya, "apa kau mau mati? kalau memang begitu jangan didepan mobilku tinggal terjun bebas saja ke jurang." kesal Xabara.
Nandini merasa kagum dengan kecantikan Xabara belum lagi Mobil mewah yang Xabara bawa pasti sangat mahal, pikiran ingin punya menantu Kaya-raya menari-nari dibenaknya.
Nandini berakting untuk membuat Xabara merasa kasihan tapi sayangnya Xabara sudah sangat mengenal wanita seperti Nandini yang ingin menjilatnya saja.
"aku tidak terima penipu!" ketus Xabara hendak menutup kaca mobilnya tapi Nandini menahannya sekali lagi memohon sambil menoleh ke Suaminya yang di pukulin penagih hutang.
Xabara mengumpat dalam hati lalu melempar semua uang yang Ia miliki ke Nandini, "aku bisa memberimu uang tapi tidak untuk membawamu pergi! aku harus menjaga nyawaku dari musim penipuan dizaman sekarang."
Xabara berakting seolah menuduh Nandini seorang penipu lalu pergi dari sana, Nandini mengutip uang yang Ia dapatkan sambil sumringah.
"sama orang asing aja main kasih uang tanpa berpikir, bagaimana jika dia menjadi menantuku? alangkah bahagianya hidupku." gumam Nandini begitu senang.
.
di Apartemen Xabara,
"huuh..!" Xabara merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya.
tiba-tiba Xabara tersenyum miring, "tampaknya mereka benar-benar kewalahan tidak ada Xabara si hitam tidak berguna."
Xabara terkekeh sendiri sebab keluarga itu sudah terpecah belah karna Xabara sudah bisa meninggalkan kekacauan diantara Randy dan kedua orangtuanya.
"siapa suruh kau menyia-nyiakan perempuan dekil dan sehebat diriku? mau wanita yang sempurna tapi tidak sadar kalau dia sendiri tidak punya apa-apa untuk dibanggakan." decak Xabara merendahkan.
.
sementara di Rumah kontrakan Randy.
Randy kembali dan mencecar kedua orangtuanya supaya tidak berhutang lagi karna Ia masih lama gajiannya.
"tidak Ran..! Ibu menemukan menantu idaman untukmu, dia memberi Ibu uang yang sangat banyak." kata Nandini dengan bangga.
"katanya mobilnya sangat mewah warna merah." sahut Bando yang tidak merasa sakit dengan wajahnya yang babak belur saking senangnya hutangnya terbayar.
"merah?" Randy menanyakan merek mobilnya dan Nandini menceritakan apa yang Ia lihat.
Randy langsung menebak itu adalah gadis yang Ia cari-cari, "dia memang targetku."
"APA??" Nandini dan Bando kaget.
"kalian jangan berulah sampai aku mendapatkan perempuan super kaya itu." kata Randy lalu memilih memasuki kamarnya sambil bersiul bangga.
.
.
__ADS_1
.