
.
.
.
Rovert kembali ke Mansion dan heran melihat Ratu tengah memasukkan pakaiannya ke dalam Kopernya, Ia menaikkan sebelah alisnya sungguh-sungguh heran mengapa Ratu terlihat bersemangat.
"apa yang Xabara katakan sampai Mom sendiri yang menyusun pakaianku?" batin Rovert melangkahkan kaki menuju kedua perempuan yang tengah sibuk dalam penglihatannya itu.
"bagaimana dengan ini sayang??" tanya Ratu memperlihatkan style baju Rovert.
"kebanyakan Mom, tidak usah banyak-banyak juga lagian kami ingin belajar mandiri saja bukan mau pindah permanen. Mom tidak mengusir kami kan?." Xabara.
"tentu saja tidak !? baiklah, ini tidak usah." Ratu menyingkirkan pakaian itu.
Xabara memegang kedua tangan Ratu lalu berkata dengan lembut, "Aku janji Mom akan menginap di Mansion ini sekali dalam seminggu dengan Rovert."
Rovert diam mendengarkan, "apa mereka menganggapku patung? sudah jelas mereka melihatku tadi." batin Rovert menggerutu karna tidak dianggap.
"sayang?? Mom akan sangat senang." Ratu menangkup kedua pipi Xabara dan mencium kening gadis itu dengan begitu lembut.
Xabara tertegun sejenak, ada perasaan aneh menggerogoti tubuhnya. "apa itu?? perasaan apa itu?" batin Xabara menautkan kedua alisnya.
"Mom? Mom mengizinkan kami tinggal berdua di Apartemen?" tanya Rovert.
Ratu menoleh ke Rovert dengan senyum merekah hingga Rovert sangat penasaran mengapa Ratu bisa senang melepasnya padahal kemarin Ia merasa Ratu paling histeris tidak mengizinkannya pindah.
"iya sayang !!? Mom izinkan, sekali-sekali Mom akan datang ke Apartemen kalian." ujar Ratu mengelus rahang kokoh Rovert.
Rovert menoleh ke Xabara menuntut jawaban mengapa Ratu bisa seperti ini, tapi Xabara malah mengangkat bahunya acuh.
di Mobil,
Ratu sampai turun tangan membantu anak dan menantunya pindahan, Ia mengangkat sekiranya barang-barang ringan merupakan hadiah dari temannya untuk Xabara.
"kalian berhati-hatilah sayang !!? Mom akan datang besok pagi ke Apartemen kalian berdua." teriak Ratu melambai-lambaikan tangannya.
"Mom jaga kesehatan ya?" pinta Xabara.
"iya sayangku." jawab Ratu tersenyum lebar.
Ratu melambaikan tangannya saat Mobil Rovert mulai meninggalkan kawasan Mansion, Rovert masih terheran-heran mengapa Ratu malah paling semangat mengusirnya berbeda sekali dari sebelumnya.
"sebenarnya apa yang kamu katakan sama Mom Xabara? kenapa Mom jadi mengerikan begitu?." tanya Rovert melirik Xabara sesekali.
__ADS_1
"nanti kita bahas!!?" jawab Xabara memejamkan matanya.
Rovert pun tidak lagi bertanya membiarkan Xabara yang tengah bersantai seperti memikirkan sesuatu.
"nanti malam aku harus keluar dan memberi pelajaran pada wanita jal*ng itu, enak saja dia mengutus anak buah Colder untuk membunuhku!! hah?" batin Xabara tersenyum tipis nan sangat misterius.
setibanya di Apartemen,
Rovert dan Xabara tampak kompak menyusun kamar pengantin hingga terlihat seperti pasangan sesungguhnya, lemari pakaian dan sebagainya harus disusun sesempurna mungkin.
Xabara melihat jam dinding yang baru saja dipasang, "aku harus keluar..!"
"ha? ada masalah??" tanya Rovert.
"huhh!! aku harus memberi pelajaran pada wanita bernama Ariel Terre itu." jawab Xabara melenggang pergi.
Rovert berlari mengejar Xabara dan menanyakan maksudnya, dengan wajah datar Xabara menjelaskan wanita itu mengutus orang untuk menghabisinya.
"A--apaa?? biar aku yang habisi." Rovert hendak keluar tapi ditahan oleh Xabara.
"aku bisa mengatasi masalahku sendiri, besok sore kau harus menemaniku ke Rumah mantan suamiku." pinta Xabara.
"ehh?? ba--baiklah." jawab Rovert.
"aku pergi!" Xabara pun langsung berbalik dan pergi sementara Rovert menatap kepergian Xabara lalu membuang nafas panjang.
Rovert menggaruk kepalanya yang tak gatal, "aku tidak tau nama perempuan yang galak itu." Rovert teringat Aya untuk menanyakan nama gadis itu apakah Xabara juga.
Rovert merasa anggota Higanbana sangat hati-hati terhadap apapun tapi kalau dipikir-pikir nama Xabara memang ada disetiap kartu tanda pengenal hingga sebuah pemikiran timbul begitu saja.
"apa dia Ratu Higanbana?" gumam Rovert mengingat Aya sangat terkejut saat Rovert mengatakan Xabara adalah anggota Higanbana bahkan langsung berlari mencari Xabara.
Rovert terduduk disofa lalu memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri, "dia membohongiku!!?"
Rovert akhirnya tau Identitas Xabara yang sebenarnya adalah Ratu Higanbana yang asli tapi Xabara malah bertindak seolah bukan Ketuanya.
Rovert yang heran lalu menelfon Barrest untuk menanyakan alasan mengapa seorang perempuan menyembunyikan Identitasnya.
"bukankah sudah jelas? dia tidak ingin ketahuan dan dia belum sepenuhnya mempercayai anda Tuan." jawaban Barrest seperti menyadarkan Rovert bahwa Xabara pasti tidak mau Rovert tau.
Rovert pun memilih diam dan kembali ke Kamarnya sambil berpikir bagaimana bisa Ia menemukan Ketua Higanbana yang dikejar banyak Penguasa dikalangan Bisnis dan Mafia kini tinggal seatap dengannya bahkan telah sah menjadi Istrinya.
"apa Xabara berpikir aku sama dengan Pria lain yang mengejarnya??" seketika pertanyaan itu muncul dibenak Rovert.
"baiklah Xabara !!? aku tidak akan mengatakan apapun, aku mencintaimu apapun statusmu sekalipun kamu hanya seorang Preman pasar." gumam Rovert tersenyum lembut.
__ADS_1
Rovert tidak marah Xabara menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya, memang tidak aman jika Xabara mengakui dirinya adalah seorang ketua Higanbana. diam-diam Rovert merasa bangga dengan apa yang menimpanya ketika dikejar oleh Rombongan Bowo sehingga Rovert menemui si perempuan Ular yang berganti kulit itu.
di tempat lain,
Xabara tengah mengikat tubuh Ariel Terre, Xabara memiliki banyak kekuatan fisik dan apapun itu untuk memasuki kawasan yang penjagaannya sangat ketat begitu mudah baginya tanpa dicurigai.
Ariel Terre seketika sadar dari pingsannya dan panik melihat sekitarnya adalah jurang serta pepohonan.
"di--dimana ini?" gagap Ariel Terre.
Xabara yang tengah menyamar menoleh ke Ariel Terre yang membelalak dengan tubuh kian gemetar melihat bunga higanbana berada di tangan kiri Xabara, cahaya rembulan menerangi tempat itu sehingga Ariel Terre bisa melihat dengan jelas.
"kau tau aku bukan?" tanya Xabara.
"s-- siapa kau??" tanya Ariel Terre dengan suara bergetar.
"bukankah kau mengutus orang untuk menghabisiku? apa kau melupakanku? sayang sekali."
Ariel Terre seketika membelalakkan matanya yang seperti akan keluar dari tempatnya.
"K--Kau??"
"yaahh!! sekarang kau ingat?" seringai Xabara dibalik penyamarannya.
Ariel Terre memandang Bunga yang menakutkan itu walau takut tapi berpikir bisa saja Xabara menipunya atau mempermainkannya, "K--Kau yang membawaku kesini? ba--bagaimana bisa?"
"kemana nyalimu itu hmm?? kau berani meminta Mafia The Cold untuk menghabisiku kan??" seringai Xabara.
Ariel Terre bergetar ketakutan, keringat membasahi sekujur tubuhnya.
"jja--jangan menghabisiku atau kau akan dalam masalah besar." Ariel Terre memalingkan muka dengan tubuh gemetar.
Xabara terkekeh, "siapa yang lebih menakutkan dari si Ratu Higanbana hmm??"
Ariel Terre membeku ditempat, aliran nafasnya tersumbat seketika dengan pandangan lemah dan ketakutan Ia melihat bola Xabara.
"Ke--Ketua Mafia Higanbana??" beo Ariel Terre.
"aku tidak peduli kau artis atau anak Raja sekalipun, siapapun yang mengusikku artinya dia mengantar nyawa padaku."
Ariel Terre belum sempat berbicara untuk minta pengampunan Xabara telah menancapkan jarum kesayangannya ke Ariel Terre lalu mencabutnya sambil mengelap darah yang menempel dengan tisu begitu santai membakarnya tepat didepan mata Ariel Terre yang tidak bisa mengeluarkan suara.
Xabara tidak mengasihani Ariel Terre sedikitpun, Ia menyelipkan Bunga Higanbana di tali yang mengikat sekujur tubuh Ariel Terre lalu Xabara pergi dari sana.
.
__ADS_1
.
.