
.
.
.
perlahan Rovert membuka matanya ketika menoleh Ia kaget ternyata Xabara juga tidur disampingnya dengan posisi yang sangat menggemaskan.
Rovert seketika melebarkan senyumnya tanpa menahan diri bibirnya mengecup bibir merah ceri Xabara yang terbangun seketika.
"kenapa tidur disini?" tanya Rovert.
Xabara pun duduk sambil memijit lehernya, "aku juga tidak tau kenapa ketiduran disini." jawab Xabara memalingkan muka.
Rovert mendekatkan wajahnya di pipi Xabara yang terus saja menjauh lalu Rovert memegang sebelah pipi Xabara dan menghadap padanya.
"mau melakukan itu ya?" tanya Rovert.
Xabara melebarkan matanya, "jangan mengada-ngada! aku tidak menginginkan hal itu."
Rovert terkekeh lalu menggendong Xabara yang melotot seketika, "kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu mulai sayang." bisik Rovert.
Xabara berusaha memberontak sampai gendongan Rovert terlepas segera Xabara lari tapi Rovert sudah mengangkat tubuhnya seperti karung beras, mata indah Xabara benar-benar melotot seperti nyaris keluar dari sarangnya.
"Rovert apa yang kau lakukan? apa kau mau aku racuni ha?" amuk Xabara.
Rovert tetap membawa Xabara ke Kamar mandi, "aku akan ajarimu permainan baru sayang."
"tidak bisa! aku tidak mau." teriak Xabara.
di Kamar mandi mereka malah berkelahi layaknya seperti kucing dan tikus, Rovert kucing yang kelaparan ingin memakan tikus galak seperti Xabara.
"singkirkan tangan mes*mmu !!" pekik Xabara.
Rovert menyeringai, Xabara merasa heran dengan Rovert yang sudah beberapa kali dipukuli olehnya tetap kuat menangkis serangannya, sebenarnya Rovert tidak berniat melukai Xabara membiarkan dirinya sendiri dipukuli oleh Xabara.
Xabara sudah memerah geram, Ia tidak tahan ingin mencekik Rovert segera Ia berlari ke arah Rovert. lari Xabara terhenti seketika melihat Rovert melepaskan celananya sehingga Xabara berteriak melihat inti Rovert sekali lagi.
"dasar tidak tau malu?" pekik Xabara.
"aku harus rajin melakukannya supaya kamu cepat hamil dan bisa memberi Mom cucu." kata Rovert.
"ayolah sayang? bukankah en*k hmm?" goda Rovert mengedipkan matanya.
Xabara mendengar kelemahannya disebut pun tidak melawan, setelah melihat hal yang menantang itu membuat bagian intinya berdenyut seolah menginginkan hal itu juga tapi karna Xabara sangat Arogan jadi pura-pura menerima saja.
.
sore harinya,
Aya pulang ke Apartemen bersama Xabara sementara Rovert harus pergi ke Perusahaan untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal.
__ADS_1
di dalam Mobil,
"Nona? kenapa saya melihat tadi Tuan Rovert wajahnya berseri-seri?" tanya Aya.
Xabara terbatuk seketika lalu melirik Aya sekilas, "fokus saja mengemudi! mereka sedang mengikuti kita."
Aya menautkan kedua alisnya, "apa tidak bisa dijawab sekarang saja Nona?"
"hanya masalah orang dewasa! kalau kau penasaran coba saja menikah, tidak buruk menikah dengan Pria bucin." jawab Xabara.
Aya mengangguk, "masalah Orang dewasa?" gumam Aya pelan tampak berpikir seketika Ia membelalak lebar.
"No-Nona? an-anda??" Aya menuding wajah Xabara.
"fokus jalan!" titah Xabara datar.
Aya segera memutar kepalanya ke arah depan seperti Robot yang patuh, benaknya mengoceh tak percaya kalau Xabara akan menyerahkan dirinya ke Pria yang pernah menyelamatkan hidupnya waktu kecil.
di Apartemen,
ketika Xabara dan Aya Keluar dari Parkiran.
"Haii??" sapa seorang Pria.
Aya dan Xabara menoleh betapa terkejutnya Aya melihat Bramasta.
"sedang apa dia disini Nona?" bisik Aya.
Aya hendak meninju Bramasta tapi ditahan oleh Xabara.
"Aya kau masuklah!" titah Xabara dengan serius.
"tapi Nona?" protes Aya.
Xabara mendorong Aya pergi dengan terpaksa Aya pergi sambil menatap tajam Bramasta, Bramasta menarik nafas dalam-dalam.
"gadis itu preman kasar dan suka main pukul." gerutu Bramasta.
"kenapa kau menempeliku? bukankah sudah aku bilang kalau kau harus menjauh dariku? aku tidak mau Ibumu mencakarku lagi." kata tajam Xabara dengan pandangan datar.
Bramasta memegang tangan Xabara yang segera diputar oleh Xabara dan menendang bok*ngnya Bramasta sampai Bramasta terjatuh lalu Bramasta memutar kepalanya ke Xabara dengan pandangan tak percaya.
"Xabara apa itu?" tanya Bramasta yang baru saja melihat sisi berbeda dari Xabara bisa melawannya.
"aku belajar dari Aya!" jawab Xabara santai.
"aku peringatkan kau ya? jangan datang lagi kepadaku ! sana pulang temui Ibumu yang sombong itu." usir Xabara lalu melenggang pergi dari Bramasta yang bangkit memegang telapak tangannya yang tergores.
Bramasta menatap kepergian Xabara, "aku tidak peduli dengan ancamanmu Xabara! obsesiku semakin besar menginginkanmu, Shen tidak akan bisa menjadi sainganku lagi."
Bramasta tertawa mengingat penderitaan dr.Shen yang harus menikah dengan Clara dan hidupnya sudah dibatasi demi menjaga nama baiknya yang tercoreng oleh Clara yaitu menginginkan Xabara yang dikenal sebagai Istri Tuan Muda Rovert Maldev.
__ADS_1
di Luar Apartemen mewah,
sebuah Mobil mewah tiba di pekarangan luar Apartemen itu lalu pengemudinya turun dari Mobilnya disambut oleh Para bawahannya yang sejak tadi bekerja untuknya mengawasi Xabara.
"Lios?"
Ray keluar dari Mobilnya yang mengikuti Mobil Lios, Lios tidak menjawab pertanyaan Ray lalu membuka kaca mata hitamnya memperhatikan setiap sudut Apartemen itu.
"apa dia tinggal disini?" tanya Lios.
"benar Ketua ! tadi kami melihatnya memasuki tempat ini dan tidak juga keluar hampir 1 jam."
Lios tersenyum miring, "pantas saja dia sombong! ternyata dia jal*ng kaya."
"aku punya mantan pacar yang tinggal di Apartemen ini." ujar Ray tiba-tiba sumringah.
Lios menoleh ke Ray, "kau rayu dia lagi untuk membawamu masuk ke Apartemen ini !? tidak sembarang Orang bisa memasuki tempat ini."
Ray mengeluarkan Ponselnya dan mencari mantan pacarnya. namun, karna terlalu banyak Nomor Ponsel membuatnya cukup kesulitan.
"tekan saja namanya." titah Lios.
"masalahnya nama Ayu ada 10 di Ponselku." jawab Ray nyengir.
"si*lan kau!! kau cari tau terlebih dahulu." ketus Lios yang merasa geram dengan kebodohan ketua Mafia yang satu itu dikenal sebagai Mafia Tulen.
"iya-iya." jawab Ray menelfon satu persatu mantannya dengan nama Kontak yang sama.
Lios memasuki Mobilnya dan memilih pergi meninggalkan Ray yang sibuk mencari nomor mantannya yang tinggal di Apartemen itu juga.
.
di Apartemen Xabara bersama Aya,
Apartemen Xabara berhadapan dengan jalan sehingga bisa melihat situasi didepan gerbang berbeda dengan Apartemen Rovert yang banyak pemandangan alam yang bagus untuk mencuci mata.
"Nona? bagaimana dengan Bramasta?" tanya Aya dengan wajah memberengut.
"tidak apa!? aku juga sudah muak dengannya tapi bagaimana caraku menghabisinya tanpa dicurigai?" gumam Xabara tampak berpikir balasan apa yang pantas untuk Orang tidak tau malu seperti Bramasta.
"tangan saya sudah gatal Nona, bolehkah saya yang melakukannya? saya akan menghabisinya dengan cara yang sangat natural seperti kecelakaan yang tidak disengaja." tanya Aya.
Xabara menoleh ke Aya yang segera memberitau rencananya, "aku bisa melakukannya sendiri!" kata Xabara.
"Nona masih dalam pengejaran Lios, saya saja yang mengatasi Pria gila yang tidak tau diri itu." balas Aya tersenyum lebar.
.
.
.
__ADS_1