
.
.
.
ke esokan harinya,
Rovert maupun Xabara memakai pakaian serba tertutup menyaksikan langsung hukuman mati yang ditetapkan pada Zein sebagai dalang utama dari pengedaran nark*ba yang sedang menjadi biang masalah para penerus bangsa.
Para Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak banyak yang datang melempari tomat busuk, telur busuk serta sayur busuk pada Zein yang membuat anak mereka telah rusak dan sampai kapanpun tidak akan bisa disembuhkan karna sudah kecanduan.
Rovert tersenyum miring merendahkan Zein yang sangatlah bodoh telah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah Rovert berikan yaitu bisa hidup sedangkan Xabara hanya memasang wajah datarnya saja dibalik penampilan tertutupnya.
"sayang?" bisik Rovert sambil merangkul bahu Xabara yang melirik ke arah Rovert sejenak.
"setelah ini kita mau kemana?" tanya Rovert sumringah.
Xabara memutar kedua bola matanya dengan malas, "aku tidak mau kemana-mana dan mau tinggal di Mansion aja."
"sayang kita harus merayakan kemenangan ini." bisik Rovert.
Xabara menonyor kening Rovert, "hanya menghabisi seekor lalat kenapa harus dirayakan?"
Rovert nyengir kuda sambil menggelayut di lengan Xabara tentu saja dicuekin oleh Xabara yang matanya fokus dengan hukuman Zein.
Zein sampai tidak bisa mengangkat Wajahnya yang sudah memar dilempari oleh para Orangtua dengan penuh dendam.
"pembun*h ...!"
begitulah teriakan serta makian para Orangtua yang anak-anak mereka sudah pada rusak akibat penjualan ilegal yang dilakukan Zein demi mendapatkan uang masuk sebanyak-banyaknya.
Zein di hukum mati hari itu juga, tidak ada yang mengasihani Zein malah Para Orangtua yang anaknya telah menjadi korban tidak tau mau berbuat apa dan masih menyesali semuanya sebab Anak-anak mereka sudah dalam kecanduan berat sehingga harus dirawat di Rumah Sakit serta di Isolasikan dari pasien manapun.
malam harinya,
berita Zein muncul dimana-mana, banyak sekali para Netizen yang menghujat Zein yang dulu kaya kini demi kembali kaya harus menjadi pengedar obat terlarang, Zein sangat tidak manusiawi telah merusak generasi muda hanya untuk memperkaya diri sendiri saja.
di Rooftop,
Rovert datang membawa banyak buah segar yang sudah di potong-potong, Xabara memperhatikan sikembar menggambar untuk mengerjakan PR mereka tentang pemandangan alam.
"anakku sayanggg?? ini cemilannya..!" ujar Rovert.
An dan Ana menyeringai senang lalu menepuk meja kecil mereka yang membuat Rovert tersenyum saja menuruti permintaan anak-anaknya.
"makan yang banyak ya?" Rovert mengelus kepala An dan Ana yang mengangguk-ngangguk senang.
Rovert beralih ke Xabara yang sedang memainkan ponselnya, "sayang?" panggil Rovert ke Xabara.
__ADS_1
Xabara melirik Rovert sekilas sebab telinganya sudah biasa dipanggil seperti itu oleh Rovert, "hmm?" sahutnya pelan.
Rovert duduk disamping Xabara dan menyandarkan sisi wajahnya di bahu Xabara, "kamu sedang apa hmm?"
Xabara menunjukkan layar ponselnya yaitu berita tentang Zein yang membuat Rovert berdecak pelan lalu bertanya mengapa Xabara mengurusi lalat dan hal itu membuat Xabara tertawa pelan sambil menyimpan ponselnya.
"melihat berita saja juga marah? dia sudah mati." ledek Xabara membuat Rovert mendengus.
"jangan melihat wajah Pria lain sayang, kamu hanya boleh menatap wajahku saja." titah Rovert.
"penyakitmu makin parah." ketus Xabara.
Rovert terkekeh lalu memeluk Xabara yang terus saja memberontak dan mengomelinya karna ada sikembar.
"sayang? mereka sibuk menggambar." bisik Rovert
Xabara menepis tangan Rovert, "jangan gila Rovert..! sebaiknya kamu jemput Alena dari Mom."
"baiklah." jawab Rovert patuh lalu mencuri kecupan di bibir Xabara yang langsung melotot.
Rovert tertawa saat melarikan diri dan bola mata Xabara yang melotot melihat ke arah anak-anaknya yang mengerjab polos saja memandang mereka, Xabara mengumpat dalam hati sebab sikembar melihat apa yang Rovert lakukan tadi.
"Rovert mes*m..! didepan anaknya pun tidak ada malunya." gerutu Xabara tersenyum kikuk ke Anak-anaknya.
"lebih baik kalian belajar aja lagi ya?" bujuk Xabara.
An dan Ana saling melihat satu sama lain lalu kembali menggambar dengan serius mengabaikan Xabara yang menghela nafas berat berkali-kali memijit pelipisnya yang terasa pusing karna Rovert sendiri.
Rovert menggendong Alena disusul Ratu yang langsung berlari ke arah An dan Ana sambil menyaksikan lukisan hasil karya dari tangan kecil itu.
"sayang? udah mam?" tanya Xabara sambil memangku Putri bungsunya.
Alena memegang kancing baju Xabara yang tersenyum lembut membuka kancing bajunya dan Alena langsung menyambar put*ng Xabara.
"sayang? apa asinya masih ada?" tanya Rovert penasaran.
"masih, kenapa?" tanya Xabara.
"tapi Putri kita sudah bisa lepas asi sayang, kok bisa asimu masih banyak?" tanya Rovert.
"mungkin asiku banyak karna anak pertamaku anak kembar dan sekarang hanya satu jadi beginilah." jawab Xabara sambil mengelus rambut tebal Alena di usia kecil rambutnya begitu tebal dan memiliki warna hitam pekat.
Rovert menyaksikan Alena menyed*t asi Xabara, beberapa kali Xabara harus memukul lengan Rovert yang begitu nakal. setelah puas menyed*t asi Xabara, Alena melepaskan diri dari Xabara dan berlari riang mengelilingi kedua Orangtuanya.
hap...!
Rovert menangkap Alena yang tertawa menggemaskan dan Rovert mencium wajah mungil Alena yang mengeluarkan pekikan lucunya membuat Xabara tertawa.
"sudah berapa Kue kakak dihabiskan sayang?" tanya Xabara dengan lembut ke Alena yang mengerjabkan matanya.
__ADS_1
"ntah?" jawab Alena dengan wajah polosnya.
Xabara mencubit pelan hidung kecil Alena yang memekik riang dan Rovert mengulum senyum saja dengan tingkah pencuri si mungil kesayangannya itu.
"sudah rindu dengan Papa sama Mommy ya sayang? maafkan Papa sama Mommy yang terlalu sibuk bekerja ya?" ucap Rovert.
Alena menyeringai senang saja, Rovert menurunkan Alena yang segera berlari dan Rovert mengejarnya pelan. Xabara tertawa lebar melihat Alena yang ketar-ketir dengan kaki kecilnya berlari menjauhi Rovert bahkan semua pekikan serta tawanya itu terdengar menggemaskan.
hap.!
"ketangkap kan?" Ana tiba-tiba menangkap tubuh Alena dan An memegang kepala Alena.
Alena mengerjabkan bola mata besarnya ke Kakak serta Abangnya sehingga Sikembar melepaskan adik kecil mereka yang segera melarikan diri.
"adek curang..!" teriak An dan Ana dengan nada kencang.
Ratu tertawa terbahak-bahak sementara Xabara tercengang saja melihat sikembar bisa tertipu dengan wajah polos Alena, Rovert tertawa lepas masih mengejar Alena yang menyalip-nyalip meja serta kursi sampai harus merangkak dibawah kolong meja ketika Ia terkepung disemua tempat.
"dapat kan?" Rovert mengangkat meja yang menjadi tempat persembunyian Alena.
Ratu dan Xabara mendekati Alena yang dipeluk oleh An dan Ana,
"aah..? hahaha..! hihi..!" Alena tertawa begitu riang wajahnya di cium gemas oleh An dan Ana belum lagi Rovert juga ikut-ikutan.
"neneknya juga." Ratu tidak mau kalah.
"Mommynya juga." sambung Xabara merasa hal itu sangat menyenangkan juga memilih ikut-ikutan.
"adek lucu banget sih udah pandai nipu kakak ha?" omel Ana.
"adek jangan nakal ya?" gemas An mengusap kepala Alena.
mereka berpelukan erat dengan posisi Alena ditengah-tengah mereka, Alena bukannya gerah dicium oleh Keluarganya malah memekik kegirangan begitu dimanja dan disayang oleh Keluarganya yang jarang berkumpul itu.
The End...!!
.
.
.
terimakasih buat semua Readers setianya Nae, Novel Nae sudah tamat dengan Ending memuaskan...!! Nae mengucapkan banyak sekali ucapan terimakasih sama Readers setia Nae yang rajin Like, Favoritkan, komentar, memberi Vote dan dukungan lewat manapun yang tidak bisa Nae sebutkan.
Nae minta Maaf ya kalau banyak Typo atau kesalahan ya? Nae akan Comeback lagi deh kalau kesibukan Nae sudah kelar, buat yang mau Kisah Sikembar In Sya Allah Deh bakal Nae buatkan Ekstra Partnya buat sikembar yang Doyan mencuri serta gemar senjata tajam... wkwk... Selamat beraktifitas semuanya...! Love You...!! ❤❤
.
.
__ADS_1
.