
.
.
.
malam harinya,
Rovert dan Xabara langsung bergerak akan menghabisi Komplotan Bagos yang menjadi dalang utama Kematian Keluarga Xabara.
"kamu siap?" tanya Rovert yang sedang dalam masa tugas tidak boleh memanggil Sayang sama saja menggali lubang kubur sendiri.
"siap." jawab Xabara.
Rovert mengelus pipi Xabara, "aku akan lempar gas tidur untuk mereka semua."
Xabara menganggukkan kepalanya lalu Rovert langsung bergerak melempar gas racun untuk membuat para penjaga tertidur pulas selama beberapa jam.
hanya selang beberapa menit semua penjaga Mansion itu sudah terkapar di semua tempat, Rovert membukakan gerbang untuk Xabara yang berjalan dengan mata menyala, Ia sudah dipenuhi dendam yang sangat kuat.
Xabara melangkahi setiap penjaga yang masih dalam keadaan tidak sadar, Rovert mengikuti Xabara disisi kanan sambil memegang pisau yang sudah di lumuri racun Higanbana, inilah keunggulan Rovert memasuki Higanbana memiliki racun mematikan diatas kemampuannya.
memasuki Mansion,
"siapa kalian?" teriak salah satu penjaga yang samar-samar melihat Xabara dan Rovert memakai pakaian serba tertutup.
dengan langkah sempoyongan penjaga itu menyerang Xabara tapi Rovert sudah bergerak menendang Pria itu hingga terlempar dan matanya tertutup karna terkena pengaruh bius dalam kadar tinggi pemberian Xabara.
Xabara terus berjalan hingga Ia menemukan kamar Bagos yang baru saja keluar dari Kamarnya dalam keadaan pusing.
"si-siapa kalian?" tanya Bagos dengan badan atas terbuka.
Xabara meninju Bagos sampai terlempar ke dinding, "penghianat...!! aku akan membuatmu merasakan apa yang Keluargaku rasakan."
Bagos menegakkan badannya, "siapa Keluargamu? berani sekali kau memasuki tempatku? apa kau sudah bosan hidup?"
Bagos mengusap sudut bibirnya yang berdarah, Xabara terus meninju Bagos sebelah kiri-kanan sampai wajahnya penuh dar*h.
"Sudahh!! dia bisa mati sebelum kamu membakarnya." Rovert menghentikan Xabara.
Xabara menarik nafas dalam-dalam, Ia menendang Bagos sampai terlempar tanpa hati menyeret rambut Bagos yang menjerit kesakitan, Rovert hanya diam saja melihat kekejaman Xabara ditambah mata Xabara begitu merah sampai mengeluarkan air mata saking emosinya.
"le-lepaskan..! sa-sakiiit!!" teriak Bagos memegang lengan Xabara yang menarik rambutnya seakan mau lepas dari kepalanya.
"aaahhh" jerit Bagos ketika Xabara mencengkram rambut Bagos semakin kuat.
Xabara mengikat Bagos di pilar Gudang penuh dengan harta nya,
"ka-kalian mau mengambil hartaku? ambil saja ak-aku akan membiarkan kalian pergi dengan syarat jangan membunuhku." pinta Bagos terbata-bata.
"Aku akan cari 2 pelakunya." kata Rovert dan pergi dari Xabara yang sibuk mengikat Bagos dengan sangat kuat sampai Bagos menjerit merasa kesakitan.
__ADS_1
Xabara melihat Bagos pingsan segera meninju Bagos sampai tersadar dari pingsannya.
"si-siapa kau??" tanya Bagos menahan rasa sakit.
"akuu?? Xabara Putri dari Abaroni yang kau bantai puluhan tahun yang lalu." kata Xabara dengan datar.
"ap-apa? ti-tidak mungkin." Bagos menggeleng kepalanya.
Xabara meninju Bagos lagi nyaris pingsan, wajah Bagos sudah penuh dengan dar*h.
"kau hidup dengan bahagia setelah itu ya? aku akan membak*rmu hidup-hidup bersama Keluargamu dan harta kebanggaanmu ini."
Bagos menggeleng-geleng kepalanya, "am-ampuni aku...!! ampuni pamanmu ini."
Xabara meninju dagu Bagos ke atas sampai gigi Bagos terasa goyang akibat pukulan Xabara yang tidak biasa.
"aku tidak pernah punya Keluarga, semua mati karnamu." desis Xabara begitu geram mendengar perkataan Bagos yang menyebut dirinya Pamannya Xabara.
tak lama kemudian Rovert kembali menyeret 2 pelaku yang di ikat olehnya dan mengikat mereka berdua bersama Bagos sehingga 3 Pelaku di ikat dalam tempat bersamaan.
"bagaimana Keluarganya?" tanya Xabara.
"mereka dalam keadaan tidak sadar, aku akan bawa semuanya kesini tanpa tersisa." jawab Rovert.
"aku bantu!?" Xabara hendak bergabung lalu Rovert menahannya.
"mereka bertiga pelakunya kan? balaskan dendammu tapi jangan membuat mereka sampai mati, bukankah kamu ingin memb*k*r mereka hidup-hidup?"
"aku sudah cukup lama membiarkan kalian hidup enak selama ini ya?" Xabara mengelilingi ketiga Pria itu yang sebagian Ia ingat walau hanya dalam sekali lihat ketika masih kecil.
"si-siapa kau?" tanya kedua Pria yang baru saja di ikat bersama Bagos.
"tanya padanya." titah Xabara tersenyum menakutkan dibalik penampilan tertutupnya itu.
"di-dia Xabara anaknya Abaroni." jawab Bagos tergagap.
"ha?" kedua rekan Bagos ternganga.
"apa kalian tidak mengira kalau aku akan datang? ciih..! kalian berhasil mengecohku, aku sudah berhasil menghabisi Para Mafia yang membun*h keluargaku dalam jangka 3 tahun tidak ku sangka Otak dari kematian Trag*s keluargaku masih hidup sampai sekarang."
Bagos dan kedua rekannya terbelalak, efek Bius yang masuk dalam paru-paru mereka melemah seketika saking syoknya dengan kebenaran yang Xabara ungkapkan.
"Ka-Kau??"
"iya..! akulah pelakunya, bagaimana? pekerjaanku bagus bukan? para PENGECUT dan PECUNDANG?" kata Xabara menekan kata-kata merendahkannya.
Xabara memukul kedua Pria yang wajahnya belum terkena pukulan Xabara, Xabara benar-benar mengeluarkan tenaganya 60% sampai ketiga Pria itu beberapa kali harus pingsan tapi tersadar lagi karna pukulan Xabara.
Rovert kembali membawa semua Keluarga Ketiga Pria itu.
"Aku sudah mengikat mereka sekaligus." Rovert.
__ADS_1
Xabara menoleh.
"anak-anakku ja-jangann??" pinta Bagos dan kedua rekannya.
Xabara memiringkan kepalanya ke arah mereka semua, "kalian pikir bisa bernegoisasi denganku? kalian menghabisi abangku."
"ma-maafkan kami."
"aku tidak butuh maaf kalian..! kematian keluarga kalian akan membuat aku bahagia." Xabara menatap nyalang ke mereka semua.
"aku sudah siram gas api lewat Udara kesemua tempat, jika ada api semua akan terbakar tanpa tersisa." potong Rovery.
"ja-jangannn!!"
"kenapa kau begitu kejam? apa kau memang Putrinya?"
"kau bukan anaknya."
Xabara tertawa keras, "aku kejam? lalu kalian apa? hebat sekali kalian bisa hidup bahagia akibat perbuatan rendah kalian itu, kalian begitu bahagia setelah membuat Keluargaku mati dalam sekejap."
"ayo kita pergi !?" ajak Rovert.
Xabara menghentikan Rovert lalu meminta Rovert mencarikan air.
"kita pergi saja !!?" pinta Rovert serius.
Xabara pun melihat ke Kumpulan Keluarga Bagos yang di ikat, "mereka masih belum sadar..! aku ingin mereka tau betapa kejamnya Suami dan Ayah mereka itu."
"kita tidak punya waktu..! mereka akan sadar setelah terkena api."
Xabara pun di gendong oleh Rovert tidak menoleh sedikitpun mendengar teriakan Bagos dan kedua Rekannya mengatai mereka berdua kejam.
memang benar kata pepatah semut diujung pandang terlihat jelas sedangkan gajah tepat didepan mata tidak terlihat, mereka semua mengatai Xabara dan Rovert kejam tanpa disadari mereka lebih kejam dari Xabara.
Rovert mengunci Gerbang Mansion itu, "aku sudah menghidupkan api di dapur mereka, dalam waktu 5 menit semua akan terbakar."
"Rovert?"
"sayang? Polisi utusan mereka dalam perjalanan kesini, aku sudah menyuruh Orang untuk memblokir perjalanan mereka."
Xabara diam tak lagi membantah, "aku sangat ahli dalam hal melarikan diri." gumam Xabara.
Rovert mengangguk, "itu keahlianmu tapi kamu harus ingat sayang ada nyawa yang harus kita jaga."
Xabara memegang perutnya seketika, "baiklah."
.
.
.
__ADS_1