
.
.
.
DEG!!
"alasan aku menolakmu? apa maksudmu?" tanya Irene dengan nada rendah.
Romi berbalik ke arah Irene, "aku sudah membun*hnya tapi kamu masih menolakku, bukankah kamu yang bilang Iren kalau kamu tidak bisa menerimaku karna Leri??"
Irene melototkan matanya, "ap-apa maksudmu? k-kau yang membun*h Leri?" teriak Irene.
"iya...! aku yang mencekiknya lalu menggantungnya di kamarnya." jawab Romi sumringah begitu bangga dengan hal yang menjadi halangannya memiliki Irene dihabisi olehnya.
Irene seketika menjerit histeris membuat Romi berlari ke Irene dan menanyakan keadaan Irene yang terus menjerit pilu serta menangis sekeras-kerasnya.
"biad*b...!! kemana saja kau selama ini ha? kenapa kau membiarkan rumor itu menyebar?? semua orang mengatakan akulah yang membunuhnya." jerit Irene sampai urat-urat lehernya terlihat.
"karna aku tidak mau ada lelaki lain yang mendekatimu." jawab Romi seakan tidak merasa bersalah sama sekali.
Irene terdiam dengan air mata yang mengalir deras dan menatap benci sekaligus tidak percaya betapa mengerikan Romi selama ini, Irene menyesal pernah jatuh Cinta pada Pria seperti Romi.
"kenapa menangis Iren? bukankah aku sudah bersamamu? kamu hanya milikku dan aku tidak mengerti kenapa Pria itu mau denganmu padahal aku sudah memberi bukti kalau kamu seorang pembun*h sahabatmu sendiri."
Irene menatap tajam Romi, "ap-apa maksudmu?"
"Pria yang berusaha mengambil tempatku disisimu, untung saja aku berhasil menculik Pengantinku." kata Romi.
Irene tidak bisa berkata-kata ternyata Lion sudah tau kebenaran masa lalu kelamnya tapi tetap setia mendatanginya, menyiapkan makan malam yang sangat enak untuknya tanpa bertanya tentang apa yang terjadi dengan Irene.
"lepaskan aku...! lepaskan aku...! aku ingin memeluk suamiku, lepaskaaannnn!!" jerit Irene semakin memberontak sampai tangannya memerah hingga berdarah.
"jangan...!! aku ini suamimu, peluk aku.!" Romi tersenyum seperti Orang tidak waras melebarkan tangannya.
Irene memberontak sampai Ia kembali terjatuh dan sebuah kotak karton tiba-tiba terjatuh dari atas tepat mengenai kepala Irene dan pingsan dengan kening berdarah.
"Iren?? Iren???" teriak Romi merangkak ke arah Irene dan memegang wajah Irene yang kembali berdarah.
"kenapa kamu berontak terus? lihatlah wajah cantikmu jadi banyak lukanya." Romi mengelus darah yang terus saja keluar dari kening Irene.
__ADS_1
Brakkkhhhhh....!
pintu di tendang paksa sampai hancur membuat Romi kaget dan berdiri ditempat.
Lion berdiri dengan mata menyala dan tangan terkepal serta gemetar saking marahnya sementara Xabara dan Rovert disisi kiri-kanan Lion.
"bed*b*h Gilaaa!!! aku akan menghabisimu." teriak Lion berlari seperti anj*ng gila menendang lalu menghajar Romi.
Xabara dan Rovert berlari ke arah Irene, Rovert membantu melepaskan ikatan tubuh Irene sementara Xabara mengeluarkan tisu dan mengelap wajah Irene yang terluka beberapa kali Xabara menampar-nampar pelan pipi Irene supaya sadar.
"aakhhhhh!!!"
Romi dijadikan samsak tinju oleh Lion yang melampiaskan semua amarahnya karna membuat Lion gila kehilangan Irene disisinya serta membuatnya gila mengkhawatirkan Irene.
"tolong tenangkan dia Rovert..!" pinta Xabara ke Rovert yang mengangguk.
Xabara melepaskan tali yang mengikat tubuh Irene sangat banyak sementara mereka tidak bawa pisau tentu modal tangan saja, tidak mungkin Xabara menggunakan jarum beracunnya yang bertengger manis di kepalanya untuk melepas tali.
"Lion sudahhh...! dia sudah mati...!" Rovert menahan lengan Lion yang kedua punggung tangannya memerah padahal memakai sarung tangan kulit warna Putih.
"ak-aku benar-benar belum puas memukulnya..!" Lion menepis tangan Rovert kembali meninju Romi yang rahangnya sampai pecah karna pukulan penuh dendam Lion.
"baby?" Lion yang sudah kelihatan kacau bangkit dan berjalan sempoyongan seolah tenaga nya yang sangat kuat tadi langsung hilang entah kemana ketika melihat sosok yang Ia cintai tidak sadarkan diri dengan penuh luka diwajahnya.
Xabara berdiri dan sedikit menjauh dari Irene karna tau Lion alergi perempuan, kalaupun Lion tidak alergi perempuan seorang XeniaXabara tidak akan mau bersentuhan dengan Lion karena Xabara adalah wanita yang mahal bukan wanita obral.
"Baby?? kita pulang ya? maafkan aku..!" Lion menangkup pipi Irene dan memeluknya dengan isak tangisnya.
Rovert memijit pelipisnya sementara Xabara diam saja karna Ia sangat tau rasanya ketika Orang satu-satunya begitu berharga terluka karena kelalaiannya, Ketika Xabara lalai menjaga Demon sampai meninggal dunia dan hanya Xabara yang tau rasa sakit dan penyesalan itu. mungkin itulah yang Lion rasakan kini maka nya Xabara diam tanpa berbicara.
Lion mengangkat tubuh Irene dengan tubuh gemetar seperti tidak bertenaga, air matanya luruh begitu saja hanya dalam waktu singkat hatinya sudah terpaut dalam pada Irene.
"sayang?" panggil Rovert mendekati Xabara yang diam seperti memikirkan sesuatu.
Xabara tersadar dan menatap dengan linglung, "ha?"
Rovert mengerutkan keningnya lalu merangkul Xabara mencium kening Xabara yang pasti teringat masa lalu, Rovert tidak tau ingatan apa yang Xabara pikirkan jadi Ia hanya menghibur Xabara saja.
"ayo !!" Rovert menuntun Xabara pergi.
Rovert melihat Lion yang masih gemetar menatap Irene dan suaranya begitu rendah memanggil Irene untuk sadar karna membuatnya takut, Irene memang masih bernafas tapi kaki Lion begitu lemas dan tidak bisa berlari apalagi punya tenaga.
__ADS_1
.
di Rumah Sakit,
Lion diam dengan pandangan kosong ke arah depan penampilannya juga sangat kacau tapi masih kelihatan seksi karena Ia pria macho yang gila pun masih kelihatan Macho.
Xabara duduk disamping Mama nya Irene yang menangis memeluk Aya, Papanya Irene berada di samping Lion menepuk-nepuk pundak Lion untuk membuat menantunya itu kuat dengan masalah yang terjadi padahal Ia sendiri juga sedang menguatkan diri.
Rovert dan Barrest berdiri dengan posisi bersandar di dinding sambil bersidakap dada melihat ke arah pintu ruang rawat inap, Irene di rawat karena luka di kepalanya perlu dijahit.
pintu tiba-tiba terbuka,
semua Orang berdiri menyambut dokter sementara Lion menoleh ke Papanya Irene.
"Pa? bisa bantu aku berdiri..? kaki aku lemas!" pinta Lion ke Papa Irene.
Papanya Irene membantu Lion yang terlihat begitu mencintai Putrinya, walau Ia juga khawatir tapi Lion lah yang paling menderita.
.
Lion duduk dikursi sambil menggenggam tangan Irene yang masih tertidur, Ia beberapa kali bergumam lirih meminta maaf pada Irene karna kelalaiannya.
Rovert dan Barrest mencari minuman untuk kedua Orangtua Irene, Mamanya Irene (Iria) memandang ke arah Lion yang begitu setia menunggu Putrinya membuka mata sedangkan Papanya Irene (Guntur) di luar karena tidak sanggup melihat Putrinya terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"kenapa Lion seperti itu nak?" tanya Iria ke Aya dan Xabara.
Aya melihat ke Xabara sebab Ia juga tidak tau.
"Tan, Lion tidak pernah jatuh cinta dan tidak punya siapapun untuk dijaga tapi ketika dia punya seseorang yang dia cintai dan sangat ingin dijaga dengan seluruh jiwa raganya malah terluka karna kelalaiannya jadi dia begitu..! Irene sangat penting bagi Lion." jelas Xabara yang sangat tau bagaimana perasaan Lion karena pengalamannya.
Iria tersenyum menghapus air matanya, "Putriku beruntung dicintai olehnya."
Aya tersenyum, "benar Tante.! Xabara tidak pernah sembarangan mencari Pria untuk sahabat baiknya."
Iria menoleh ke Xabara dan menggenggam tangan Xabara sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca sambil mengangguk karna terharu sekaligus berterimakasih pada Xabara yang sudah memberikan Lion pada Putrinya.
.
.
.
__ADS_1