
.
.
.
Rovert melihat itu mengepalkan tangannya dengan berani Ia menghalangi pandangan Pria itu kepada Istrinya.
"aku tidak peduli siapa kau, tapi Istriku hanya aku saja yang boleh memandangnya." batin Rovert yang tidak takut apapun kecuali kehilangan Xabara.
Rovert bisa gila jika Xabara di rebut Pria lain apalagi di perhatikan, Zein saja di buat jatuh miskin oleh Rovert apalagi hanya seorang Pria sok berkuasa diatas sana.
"dasar...!? kau sama sekali tidak takut mati?" ejek Ralista ke Rovert yang berani menutupi Xabara dengan tubuh tingginya itu.
Xabara memutar arah ke Ralista, "kau yakin dia Tuanmu?" tanya Xabara setengah meledek.
Ralista melebarkan matanya, "apa kau tidak tertarik betapa tampannya Tuan Polus ha? kau seharusnya beruntung bisa membuatnya jatuh hati."
Xabara tertawa kecil, "lalu aku harus berterimakasih padamu karna disukai olehnya begitu? lucu sekali." Xabara menggeleng tidak percaya.
"tidak usah banyak drama jika kau mau menyerang lakukan saja..!" Rovert menatap tajam Ralista.
Ralista memutar kedua bola matanya dengan malas, Ia takut tapi karna ada Tuannya harus diberani-beranikan juga.
Xabara melihat Rovert sekilas lalu tersenyum kecil dibalik pakaian tertutupnya, Rovert memang seorang lelaki sejati yang berani membela Orang yang dicintainya.
Xabara tau Rovert mencintainya tapi Xabara tidak pernah mengungkapkan kata-kata apapun kecuali diam dan tidak peduli saja apa yang Rovert lakukan padanya, masalah berset*b*h dengan Rovert dilakukan oleh Xabara karna Ia wanita normal yang ketagihan s**s.
"apa kau tidak panas dengan pakaian seperti itu?" tanya Ralista ke Xabara seakan mengabaikan pertanyaan Rovert.
Rovert segera menepis tangan Ralista yang hendak melepas kain hitam yang menutupi wajah Xabara, "aku tidak akan membiarkan siapapun melihat wajah Istriku..!'
"nyali kau hebat juga." Ralista melihat pergelangan tangannya yang ditepis kuat oleh Rovert.
"pantas saja dia disebut Serigala hitam, kekuatannya memang seperti baja dan pantas mendapatkan julukan itu, aku jadi penasaran siapa yang terkuat diantara Tuan Polus dan Pria ini." batin Ralista.
"Boy..! dia masalahku." Xabara menarik lengan Rovert kesamping sehingga Xabara kembali berhadapan dengan Ralista.
__ADS_1
"ayo kita lakukan petarungan ini sampai mati.!" seringai Xabara segera menyerang Ralista yang memutar tubuhnya untuk mengelak.
"kau sudah tidak sabar ingin menghabisiku?" teriak Ralista disela-sela perkelahiannya dengan Xabara.
"jangan banyak bicara..! simpan tenagamu untuk melawanku WANITA TUA!!?" balas Xabara seakan sengaja memancing amarah Ralista.
Ralista disebut tua berteriak tidak terima akhirnya membalas setiap serangan Xabara, perkelahian mereka sungguh sengit bahkan Xabara masih bisa merendahkan Ralista yang menginginkan gelar wanita terkuat padahal sudah tua.
Aya yang menonton akhirnya melangkah ke arah Xabara dengan berani menyerang Ralista juga sampai Ralista terpental dan batuk darah, tidak ada yang berani bersorak apalagi berteriak ditengah banyaknya para Mafia yang menonton karna Xabara sangat ganas.
"kau curang...!! kenapa dia juga menyerangku?" teriak Ralista menunjuk Aya.
"kalau begitu suruh Orang terkuatmu untuk menyerangku." tantang Aya menyeringai.
Ralista bangkit lalu melihat ke arah Polus yang tidak berniat turun tangan, "aku bisa mati jika dia tidak juga turun tangan, aku tidak boleh membunuh XeniaXabara tapi jika aku mati ditangannya dia juga tidak akan membantuku? aku tidak boleh kalah..!" batin Ralista.
"kalian cepat serang mereka semua..! ini saatnya kita buktikan kalau kita adalah pasukan terkuat..!" teriak Ralista.
krik-krik.. !
"sepertinya mereka semua takut..!" ejek Xabara terkekeh pelan.
Orang-orang Higanbana pun melangkah ke arah Ralista yang bisa saja mati jika Para bawahan Ralista tidak juga menyerang balik.
"kenapa jadi beginii? kenapa jadi kacau?" teriak Ralista dalam hati.
"cepat ...!!?" teriak Ralista dengan geram dan sorot mata tajam.
Orang-orang Higanbana ternyata langsung menyerang para bawahan Ralista padahal mereka tidak berani menyerang, mereka menghabisi Orang-orang itu dengan begitu mudah yakinlah sampai tidak akan ada yang tersisa nantinya.
Ade begitu senang bisa membantu Orang Higanbana walaupun Ia tidak banyak menghabisi Orang tapi Ia bisa mengalahkan 2 Pria saja sudah membuatnya bahagia.
Xabara dan Aya kembali menyerang Ralista yang memekik meminta bantuan Polus.
"Tuann?? dia bisa menghabisi saya kalau anda tidak juga bergerak..!" teriak Ralista.
Rovert menatap lurus ke arah Polus yang begitu santai meneguk minumannya, tiba-tiba benaknya muncul ide yang sangat beresiko tapi jika Ia berhasil maka Rovert akan menang.
__ADS_1
Rovert menghitung dengan ilmu fisika dan mengeluarkan jarum terkecilnya dilumuri racun Higanbana segera Ia menyentilnya seperti melepas anak panah ketika Orang-orang Polus lengah dan Jarum beracun itu meleset karna bentuknya sangat kecil tapi ilmu Rovert cukup akurat sehingga tepat mengenai kaki Polus.
Rovert mengalihkan diri membantu Orang Higanbana mengalahkan para bawahan Ralista yang jumlahnya sangat banyak tapi nyalinya sangat kecil.
"apa kalian juga mau membantu mereka?? ayo maju...!" Barrest menantang Orang yang sedang menonton mereka tanpa berkedip.
"kita habisi saja mereka..!" teriak Rovert.
"siap...!" Barrest berlari ke arah para penonton yang berlarian kocar-kacir seketika.
"mau kemana kalian?" teriak Barrest menangkap satu Orang lalu memat*hkan lehernya begitu mudah dan terjatuh.
Barrest menangkap siapa saja yang Ia dapatkan, dalam hitungan menit tempat itu sudah kosong dari para penonton. rencana mereka kacau balau tapi sebenarnya tidaklah buruk sebab melawan Orang kuat memang harus modal nekat, beresiko dan yang utama memang harus berani.
Ralista diserang oleh Xabara dan Aya sekaligus sampai menjadi samsak tinju, Ralista berteriak memaki mereka curang tapi Aya dan Xabara seolah tidak punya telinga mendengar makian Ralista.
Ralista tersungkur lalu Aya menginjak punggung Ralista sedangkan Xabara berjongkok lalu mencengkram dagu Ralista dengan kuat.
"kau fikir aku akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu ha? aku tidak peduli nilai curang itu jika menghabisimu harus dengan cara mengeroyok apapun akan aku lakukan.. !" seringai Xabara.
"ak-aku baru tau semakin dewasa umurmu kau malah semakin curang dan bertindak pengecut..!" geram Ralista dengan wajah yang sudah bersimbah dar*h.
Xabara terkekeh, "aku harus menggunakan cara ini supaya kau kalah dan tidak akan ada kesempatan hidup untuk ketiga kalinya." kata Xabara lalu mengeluarkan belati beracun dari kakinya.
"ka--kau mau apa? ja-jangan membunuhku dengan racun, ka-kau sudah berjanji kan?" teriak Ralista begitu panik.
Xabara mana pernah berjanji pada Ralista hanya Ralista saja yang menganggap Xabara berjanji padanya.
Xabara menusuk belati itu di punggung tangan Ralista yang menjerit seketika, dengan santainya Xabara mencabutnya dan diberikan tisu oleh Aya segera dihapus belatinya yang bagian terkena darahnya saja lalu belati itu dimasukkannya kembali ke kakinya.
"itu hadiah dariku..!" kata Xabara dengan senyuman dibalik penutup wajahnya itu.
Aya yang ahli dengan sulap segera mengulurkan tangannya dan Xabara menyerahkan Tisu itu dibakar dalam sekejab mata oleh Aya.
.
.
__ADS_1
.