
.
.
.
malam itu juga Rovert benar-benar memiliki raga Xabara sepenuhnya, Rovert tidak tau jiwa Xabara dimana yang membuat Rovert bahagia bisa memiliki raga Xabara itu jauh lebih berharga dari apapun, Rovert yakin suatu saat nanti Rovert akan memiliki jiwa-raga Xabara sepenuhnya.
sekitar jam 06.19 pagi,
Xabara perlahan membuka matanya dan yang pertama terlihat olehnya adalah Rovert yang tengah memeluknya begitu erat seperti takut Xabara akan terbang ke udara.
diam-diam Xabara tersenyum merasa lucu dengan hidupnya sendiri, Ia tidak menyangka akan menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Rovert walau Ia tidak tau tentang Cinta tapi menurut Xabara hidupnya pasti bahagia dicintai oleh Rovert.
prinsip perempuan Arogan lebih baik dicintai daripada mencintai sehingga harga diri perempuan itu akan sangat mahal dan tidak akan merasa sakit hati jika suatu saat berpisah, tapi jika dipikir-pikir lagi oleh Xabara sepertinya Rovert tidak akan melepaskannya.
"sudah bangun sayang?" tanya Rovert tersenyum sangat lebar tanpa membuka mata sudah tau kalau Xabara tengah menatapnya.
"aku tidak menyangka melakukan hal itu sangat menyenangkan tapi darimana kau bisa seprofesional itu?" tanya Xabara yang tidak malu malah jujur.
Rovert membuka matanya, "aku hanya mengikuti insting dan perasaanku saja yang sangat menginginkanmu."
Xabara duduk menutupi tubuhnya dengan selimut, "sekarang kau sudah menjadi milikku Rovert!? jika kau berani menyakitiku kepalamu bayarannya."
Rovert tersenyum lebar lalu ikut duduk namun tidak menutupi bagian atas tubuhnya, Ia duduk dengan gagah dihadapan Xabara.
"justru aku yang berbicara seperti itu sayang." kata Rovert dengan lembut.
Xabara memicingkan matanya, "kau menginginkan kepalaku?"
Rovert tertawa sambil menggeleng kepalanya, "kamu sudah menjadi milikku Xabara dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Xabara tersenyum tipis saja, "cepat carikan aku makanan!" titah Xabara.
"baiklah Istriku !" jawab Rovert segera berdiri dan Xabara membelalakkan matanya langsung membuang muka.
"dasar tidak tau malu!" umpat Xabara dengan wajah memerah.
Rovert tertawa, "bagaimanapun ini sudah resmi menjadi milikmu seorang sayang."
Xabara menahan tawanya sekuat tenaga, Ia merasa gemas dengan jawaban Rovert. Rovert berlari ke Kamar mandi membersihkan diri setelah selesai berpakaian Ia mengecup pipi Xabara dan pergi mencari sarapan.
Xabara betah di ranjangnya sambil memainkan Ponselnya, Ia merasa bahagia melihat berita di Negara ini sekarang membahas kematian tiba-tiba Pejab*t ternama yang dikenal dengan kekejamannya menghabisi penjahat tanpa diketahui publik bahwa Barbel lah Monster yang sebenarnya.
"ciih..? anj*ng teriak anj*ng." umpat Xabara.
__ADS_1
Xabara tidak suka sebuah artikel mengatakan Barbel adalah Orang baik dan membela kebenaran menuduh musuhnya Penjahat padahal Barbel sendiri juga jahat jadi perumpamaannya anj*ng teriak anj*ng.
beberapa saat kemudian Xabara berdiri tapi Ia kembali terduduk, Xabara mengerjab-ngerjabkan matanya.
"apa sesakit ini?" gumam Xabara yang tidak menangis sama sekali intinya sangat sakit.
Xabara malah mencari tau lewat Ponselnya yang ternyata hal yang sangat wajar bagi gadis saat pertama kalinya melakukan hub*ng*n bad*n dengan lawan jenisnya.
Xabara menghela nafas pasrah, Ia sudah terbiasa dengan rasa sakit jadi tidak menggerutu atau mengumpat hanya berusaha melawan rasa sakit di bagian intinya sampai ke Kamar Mandi.
.
"sayang?" Rovert mencari Xabara.
ceklek..!
Xabara keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya.
"sayang?" Rovert tersenyum lebar berlari ke arah Xabara yang menatap datar Rovert.
"ahhh?" Rovert seketika meringis saat Xabara memukul kepalanya tapi Rovert tidak marah hanya memandang Xabara penuh tanya.
"kakimu baik-baik saja setelah melakukan itu padaku, dan itu benar membuatku kesal." keluh Xabara berjalan lambat melewati Rovert.
Rovert memperhatikan jalan Xabara pun merasa kasihan lalu menggendong Xabara.
"baguslah!" kata Xabara melingkarkan tangannya di leher Rovert.
seharusnya nanti malam Xabara dan Rovert kembali tapi karna Xabara masih sakit membuat Rovert menunda jam pulangnya dan akan kembali esok paginya saja.
Ke esokan harinya,
Rovert dan Xabara pun kembali ke Indonesia serta menempuh penerbangan berjam-jam lamanya 1 harian penuh.
di tempat lain,
"bagaimana?" tanya Lios ke para bawahannya.
"kami sudah mencari tau Tuan tapi ternyata wanita itu sedang tidak ada di Negara ini." jawab bawahan Lios.
Lios menaikkan sebelah alisnya, "kemana dia?"
Lios mendengar penjelasan bawahannya pun tertawa akan kebodohan mereka semua.
"jadi kalian tidak tau kalau wanita itu sedang keluar negeri bersama suaminya?" tanya Lios dengan dingin.
__ADS_1
"ampuni kami Tuan! kami pikir setelah kejadian itu malamnya dia langsung pergi sementara kami mencari tau keesokan paginya ja-jadi maafkan kami Tuan."
Lios membenarkan juga, "ya sudah !? aku yang akan melawan wanita jal*ng itu, berani-beraninya dia melukai ku terutama bagian keperkas**nku ! tidak ada wanita yang selamat jika aku sudah menargetkan kematian seseorang."
Lios mengepalkan tangannya tersenyum penuh misterius, "kalian pergilah!"
Lios pun ditinggal oleh para bawahannya tiba-tiba saja Ray menerobos masuk sehingga Lios memejamkan matanya.
"kau menargetkan wanitanya Rovert Maldev Lios?" tanya Ray.
Lios menatap dingin Ray, "dari mana kau tau? apa kau mengawasiku?"
Ray berdecak lalu duduk disisi Lios, "berita Nona Maldev melawan Lios si Ketua Mafia sudah tersebar dimana-mana."
"ohh..!" jawab Lios.
"kalau bukan karna Irene yang memberitauku pasti aku tidak akan tau masalah besar itu." keluh Ray.
bagi seorang Ketua Mafia memang tidak pernah melihat berita-berita viral sebab menurut mereka semua tidaklah penting.
"aku juga akan balas wanita itu! dia sangat sombong dan angkuh." kata Ray.
"kau juga tau dia? apa dia juga menendang aset mu?" tanya Lios.
Ray menautkan kedua alisnya, "tidak!"
Ray seketika melebarkan matanya menujuk wajah Lios tak percaya, "ja-jadi dia?"
"ckk!! iya."
Ray menggeleng kepalanya tak percaya, "ternyata dia pemberani ya? aku penasaran dengan kemampuannya, apa dia bisa beladiri atau hanya sedang beruntung saja."
"hanya kebetulan aku terlalu meremehkannya, jika aku menemukannya lagi aku tidak akan berbelas kasih." jawab Lios.
"yah! kita mencari Nona XeniaXabara bukan mengawasi wanita itu, lebih baik kau beri dia pelajaran sampai mengguncang jiwanya dan jatuhkan kesombongannya itu." Ray.
"hah! aku akan buktikan kalau dia memang jal*ng dan sesuai dengan apa yang aku katakan." seringai Lios.
Ray mengangguk, "hanya Nona XeniaXabara yang boleh bersikap sombong bukan jal*ng sepertinya, hanya pandai bersolek saja sangat bangga."
(bersolek artinya berdandan).
Lios dan Ray ternyata membenci Xabara yang angkuh dan berani melawan mereka, seorang Ketua Mafia tidak pantas direndahkan karna itu sangat melukai harga diri mereka sebagai pemimpin.
.
__ADS_1
.
.