
.
.
.
Xabara pergi ke Toko baju bersama Aya tapi tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang tentu saja Xabara menoleh hingga bisa melihat Randy.
"akhirnya aku menemukanmu." kata Randy menyeringai.
Xabara merubah ekspresinya menjadi datar, "kenapa kau menggangguku? bukankah kau sudah menjadi Duda? kau bisa menikah dengan perempuan mana saja yang kau inginkan."
"aku harus menjualmu..! Kedua orangtuaku menghabiskan uangku jadi kau harus ganti rugi." kata Randy tidak tau malu.
Xabara tertawa sedangkan Randy berusaha menarik Xabara tapi tidak bisa seolah-olah kaki Xabara tertancap di tanah sehingga sulit untuk ditarik.
"kau??" Randy menggeram marah.
Aya yang sudah tidak tahan pun memukul rahang Randy hingga jatuh tersungkur, "maafkan saya Nona! saya tidak bisa mengendalikan emosi." bisik Aya.
Xabara menghela nafas saja karna Ia tau Aya memang tipe gadis yang tidak sabaran, Aya sudah terbiasa menghabisi jadi kalau ada lawan yang patut dihabisi namun Xabara tidak menghabisinya juga maka kesabaran Aya benar-benar sangat di uji tapi sayangnya Aya bukan seorang penyabar.
"si*lan kau itik jelek berani kau memukulku?" teriak Randy menggema tidak peduli pandangan orang lain.
Randy bangkit dan hendak memukul Aya tapi Aya bukan gadis yang bisa dipukul jika Pria sudah mengangkat tangan.
"buugggh"
Randy sekali lagi tersungkur, "aku akan menghabisimu." desisnya geram.
Xabara melipat kedua tangannya membiarkan Randy dan Aya yang sibuk berkelahi tapi pada akhirnya Randy selalu kalah sampai tidak sadar wajah Randy itu sudah babak belur.
"aku tidak ada masalah denganmu itik jelek." Randy memaki Aya.
Randy menarik tangan Xabara dengan kasar dan mencoba menariknya pergi, namun lagi-lagi Randy tidak kuat menarik tangan Xabara hingga Ia terjatuh tak elit.
Xabara menepis tangan Randy, "sekarang kau mengerti kenapa aku tidak tahan denganmu? kau tidak pernah menafkahiku dengan uangmu tapi kedua orangtuamu itu hanya tau cara berhutang."
Randy mengepalkan tangannya, "kalau begitu kau bayar hutang mereka, mereka mengambil semua uangku."
"cuiiihhh...!" Xabara meludah kesamping.
__ADS_1
"aku tidak ada urusan denganmu lagi jadi jangan bertindak sebagai pengemis, apa kau tidak sadar sedang direkam oleh orang lain ha?." Xabara merendahkan Randy.
Randy menoleh dan bisa melihat banyak orang melihatnya bahkan ada yang merekamnya.
"tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu jika kau tidak membayar hutang mereka padaku, itu tugasmu." umpat Randy.
Xabara tertawa kecil, "mereka bukan tugasku tapi kaulah yang sudah mencampakkanku dengan berselingkuh sama perempuan lain, kenapa aku harus menafkahi kedua orangtuamu yang boros itu? kau buang saja mereka." kata Xabara lalu berbalik pergi di ikuti Aya yang ingin sekali mencekik mati Randy.
Randy mengepalkan tangannya kuat-kuat, "anak itu sok jual mahal padaku, apa dia berpikir kalau dia itu seorang dewi padahal dia itu hanya seorang itik jelek."
Randy tidak peduli dengan wajahnya yang sudah babak belur, rasa geram dan bencinya pada Xabara sangat besar sehingga mengalahkan rasa sakit diwajahnya itu.
selama 1 tahun memang Randy tidak pernah memberi Xabara uang banyak kecuali hanya untuk makan mereka saja, sungguh dibatasi tapi kedua Orangtuanya yang banyak hutang memang Xabara yang selalu membayar hutang sehingga Randy tidak tau apapun.
.
"Nona?" panggil Aya.
Xabara menoleh ke Aya, "tidak apa!"
Aya tidak percaya lalu melihat tangan Xabara yang memang tidak terluka dan Xabara dengan serius mengatakan bahwa Ia bisa saja menghabisi Randy hanya dengan sekali gerakan cepat saja yaitu memutar kepala Randy. namun, Xabara tidak melakukannya karna belum ada apa-apanya dibanding masalah yang Keluarga Randy berikan padanya dulu.
"aku ingin dia tau kalau kedua orangtuanya itu sangat merepotkan, aku akan buat mereka terpecah belah dan akan saling membunuh satu sama lain. aku jamin padamu tangan kita tidak akan kotor oleh darah mereka." kata Xabara.
.
malam harinya,
Xabara berada di Apartemennya sambil memperhatikan layar ponselnya.
"aku sudah membereskan masalah Pria tua itu dan Band*r nark*b* itu, aku bisa meminta bayarannya kan?"
Xabara menyeringai lalu menghubungi nomor Hp nya yang pernah Xabara berikan sebuah ponsel ke Rovert.
"halooo?"
Xabara mengerutkan keningnya mendengar suara perempuan, setau nya dari Aya kalau Rovert tidak pernah berhubungan dengan perempuan manapun, bahkan media mengatai Rovert G*y.
"haloo? siapa ini?." tanya Xabara dengan serius seperti mengintimidasi.
"Oh ya Tuhan..! perempuan? kamu siapa nak? apa kamu kekasihnya Rovert? kenalkan aku Ibunya." suara perempuan itu ternyata Ibunya Rovert.
__ADS_1
Xabara menaikkan sebelah alisnya, "ibunya?"
"apa dia tidak mengatakan apa-apa padamu sayang? dasar anak durhaka dia itu, bisa katakan siapa namamu sayang? boleh bertemu dengan Tante?." tanya Ratu.
Xabara menarik nafas pelan, Ia ingin bicara dengan Rovert kenapa malah ibunya Rovert yang menjawab, Xabara terpaksa menuruti kemauan Ratu yang ingin bertemu dengannya malam ini juga.
Xabara tidak memakai gaun seksi melainkan baju besar serta celana besar, tak lupa topi dan masker menutupi wajahnya.
"kenapa aku harus berpenampilan menarik? dia hanya Ibunya calon Rivalku." kata Xabara mengangkat bahunya acuh melihat penampilannya sendiri jauh dari kesan menantu Idaman.
Xabara mendatangi sebuah cafe dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang Ia cari, Xabara tidak tau wajah Ibu nya Rovert jadi cukup kesulitan terlebih lagi Cafe itu juga sangat penuh karna malam mingguan.
drrrtttt..!
"nomor asing?" gumam Xabara lalu mengangkatnya tapi Xabara tidak berbicara hingga Ia merasa lumayan lega ternyata nomor Ibunya Rovert.
"saya sudah di Cafe." kata Xabara.
"benarkah sayang? kalau begitu bisa kebelakang taman? Tante sudah sewa tempat khusus untuk kita bisa berbincang lama." kata Ratu dengan sangat semangat.
Xabara bertanya pada pelayan lalu salah satu pelayan menunjukkan jalan ke Xabara, Ratu melihat seorang gadis tanpa terlihat menarik sama sekali malah seperti gadis tomboy yang hobi berolahraga.
"tidak apa..! yang penting ada payud*r*nya dari pada batang*n." batin Ratu tersenyum lebar.
Xabara mendekati wanita yang tampak glamor itu lalu Ia melepas masker serta membuka topinya, "saya Xabara Tante." kata Xabara.
Ratu seketika terpana melihat wajah Xabara, "ya ampun cantik sekali." gumam Ratu.
Ratu semakin mendekati Xabara sedangkan Xabara hanya memandang dengan tenang tanpa ada rasa takut dimatanya, Ratu semakin menyukai Xabara lalu menuntun Xabara duduk.
"maaf ya sayang! Tante memintamu datang malam-malam, tadi Rovert sedang mandi dan tidak sengaja mendengar ponsel berdering. anak itu sangat kurang ajar punya ponsel lain untuk menyembunyikan kekasihnya dari Ibunya sendiri." Ratu berbicara dengan senyuman tanpa tau kalau Ponsel itu pemberian Xabara.
"Tante diam-diam mengambil nomormu darinya apa kamu tidak marah sayang?." tanya Ratu.
Xabara tersenyum tipis, "tidak masalah Tante."
"kurang ajar anak itu, katanya tidak punya kekasih tapi gadis yang dia sembunyikan sangat cantik..! ini permata berlian yang disembunyikan dengan baik." batin Ratu dengan dongkol pada Putranya yang menyembunyikan Xabara darinya.
.
.
__ADS_1
.