
.
.
.
Aya di dalam Mobil bersama Barrest,
"mau bawa aku kemana?" tanya Aya datar.
"aku akan membawamu ke Rumah-ku." jawab Barrest.
"dimana Rumahmu?" tanya Aya.
"kamu akan melihatnya." jawab Barrest.
Aya tak lagi bertanya hanya diam lalu Barrest membawa Kendaraannya menuju Rumahnya, Aya terperangah melihat Rumah yang Barrest maksud ternyata lebih mewah dari perkiraannya bahkan gerbangnya otomatis terbuka.
"kenapa Gerbang Maldev tidak seperti ini?" gumam Aya sangat pelan tapi Barrest mendengarnya.
"Tuan Muda bukan tidak mampu membuatnya seperti ini tapi karna kedua satpam yang berjaga itu tidak mungkin dipecat, Tuan Muda mungkin keliatan kejam tapi sebenarnya dia sangat pengertian." Barrest.
Aya mengangguk pelan, "bagaimana keadaan Nona?"
"mereka sudah berbulan madu ke puncak, sepertinya Nona Xabara memang lagi ingin ke tempat yang teduh dan menenangkan." balas Barrest.
"apa kita tidak bisa kesana?" tanya Aya.
"tentu tapi malam ini tidak bisa." jawab Barrest.
"kenapa tidak bisa?" tanya Aya dengan kesal.
Barrest melirik Aya lalu tersenyum tipis, "jalanan sedang berlumpur disana."
Aya bertanya maksudnya ternyata di sana sedang hujan lebat seharian penuh, itu sebabnya Rovert malas bekerja dan melimpahkan semua pekerjaan itu ke Barrest.
Barrest menahan senyumnya sekuat tenaga, "imutnya." batin Barrest merasa gemas Aya percaya padanya padahal bisa saja Aya memaksa naik Helikopter.
.
keluar dari Mobil,
"apa Pria tadi musuhmu?" tanya Barrest disamping Aya.
"bukan..! dia hanya seekor kucing terlantar yang pernah aku bantu." jawab Aya tenang sembari melangkah memasuki Rumah Barrest seakan Aya sudah tau saja kalau Rumah itu akan menjadi miliknya.
"kucing terlantar?" gumam Barrest.
.
__ADS_1
di tempat lain (malam hari),
Xabara tengah jalan-jalan di sekitar Vila seorang diri hingga Ia tersenyum tipis mengelus perutnya.
"aku tidak menyangka kalau Vila ini milik Rovert, nak?? kamu dengar apa kata Papamu hmm? Papamu bilang Vila ini akan menjadi milikmu." Xabara mulai menikmati perannya sebagai seorang Ibu suka berbicara dengan calon bayinya.
Xabara tersenyum mengingat Rovert yang begitu memanjakannya, cara Rovert memperlakukannya sangat mirip dengan alm. Papanya, jujur saja hal itu sedikit mengobati rasa rindu Xabara pada sosok Papanya yang ingatan Xabara masih kuat walaupun saat itu Xabara berumur 4 tahun.
Xabara duduk di tepi pohon sambil menatap lurus kerlap-kerlip penduduk perumahan dari ketinggian Vila mewah Rovert berada.
"apa aku menyukai Rovert?" batin Xabara mengingat dirinya sudah mengakui Rovert sebagai Ayah dari bayinya.
Xabara mengelus perutnya, "apa yang akan Ralista lakukan? sebenarnya siapa dalang kejadian di tahun itu? kenapa ada komplotan Orang yang menolongnya?" batin Xabara.
Xabara menghela nafas berat melihat ke perutnya, "aku harus melindungi bayiku." gumam Xabara pelan.
"aku juga akan melindungi anakku sayang." sahut Rovert dibelakang Xabara.
Xabara menoleh ke belakang, "bagaimana kamu bisa menemukanku Rovert?"
Rovert mendekati Xabara lalu duduk disamping Xabara dengan manisnya Rovert memakaikan jaket tebal yang Ia bawa ke tubuh Istrinya.
"kenapa kamu keluar tanpa memakai jaket sayang? apa kamu tidak kedinginan hmm?" tanya Rovert mengelus kepala Xabara.
"Rovert kamu sungguh mencintaiku?" tanya Xabara serius.
Rovert tertegun dengan pertanyaan Xabara, "tentu saja..! apa kamu meragukanku?"
"cintaku padamu tidak terukur sayang."
"Cinta papa padamu itu tidak terukur oleh apapun sayang." ingatan kata-kata itu ternyata tidak asing lagi bagi Xabara.
Xabara tiba-tiba saja mencium bibir Rovert, awalnya Rovert kaget tapi pada akhirnya Rovert juga menyukainya.
Xabara melepaskan cium*nnya, wajahnya sungguh merah karna efek kehamilannya membuat Xabara sangat sensitif.
"ak-aku penasaran bagaimana Papaku mengenal Papamu?" tanya Xabara.
Rovert tersenyum lembut lalu merangkul Xabara dengan mesra serta memaksa Xabara menyandarkan kepalanya di bahu Rovert.
"akan aku ceritakan sayang!! setau aku Papaku sangat mengagumi cara Kerja Papamu yang sangat bagus dan sangat pantas dijadikan panutan, ketika Papamu menerima kerja sama yang ditawarkan Papaku tanpa berpikir panjang Papaku membawaku ke Rumah Kalian selama dalam perjalanan dia mengatakan kalau Aku kelak harus jadi pemimpin seperti Papamu."
Xabara tersenyum manis mendengarnya, sudah lama sekali Ia tidak pernah mendengar cerita tentang Papanya.
"ceritakan lebih banyak tentang Papaku!?" pinta Xabara terdengar lirih.
Rovert tentu merasakan Xabara sedang merindukan sosok Papanya itu, Ia dengan sabar menceritakan kehebatan Papa Xabara saat menjadi pemimpin.
"tapi aku penasaran siapa yang menawarkan kerja sama Ilegal pada Papamu sayang? kenapa Mafia itu mendatangi Papamu?" tanya Rovert merasa ada yang janggal dengan kematian Keluarga Xabara.
__ADS_1
Xabara seketika melepaskan pelukannya dari Rovert dan memandang Rovert dengan serius, "maksudmu apa Rovert? apa kamu mencurigai ada hal tidak benar dengan kematian Keluargaku?"
"bukankah itu aneh sayang? semua Orang tau bagaimana bersihnya Papamu bekerja lalu kenapa bisa ada yang menawarkan perdagangan Ilegal padanya? pasti ada yang merekomendasikan Keluargamu kan?" Rovert.
Xabara membeku ditempat aliran darahnya seketika terhenti, Ia merasa bodoh selama ini tidak menyadari perkataan Rovert. hati Xabara terlalu diselimuti dengan dendam jadi mengira kematian Keluarganya karna Mafia kejam itu saja sehingga ketika Xabara berhasil menghabisi mereka hati Xabara merasa lega tanpa Xabara sadari ada penyebab dengan semua itu.
"apa kalian punya musuh dulu sayang?" tanya Rovert.
Xabara melamun seperti memikirkan semua itu lalu Rovert mengecup bibir Xabara berkali-kali sampai Xabara tersadar.
"ha?" Xabara menahan bahu Rovert yang tiada henti menciumnya.
"kenapa melamun hmm? kamu tidak boleh stres sayang? biar aku yang cari tau ya?" Rovert mengelus hidung mancung Xabara.
"apa kamu bisa dipercaya?" tanya Xabara.
Rovert tertawa, "kamu terlalu meremehkanku sayang? bukankah kamu tau Perusahaanku memiliki kelebihan dibidang pencarian data, aku pikir kamu menikahiku karna ingin mencari tau misteri terbakarnya Rumah Keluargamu, apa aku salah mengira?"
Xabara terdiam karna awalnya memang begitu tapi Ia tidak mengira akan mencari tau kematian Keluarganya karna Xabara sudah balas dendam.
Rovert menggendong Xabara dan mendudukkan Xabara di pangkuannya, "kamu milikku dan aku juga milikmu sayang ! semua masalahmu itu juga masalahku begitu juga masalahku. ku mohon kita harus menjadi satu sayang bukankah kita 1 tim?"
Xabara memikirkan kata-kata Rovert.
"jadikan aku Babumu sayang !?" pinta Rovert.
Xabara menatap Rovert, "Babu?"
"hmm !? sebagai bayarannya kamu harus jaga bayi kita sampai lahir." balas Rovert.
Xabara tersenyum, "baiklah."
Rovert menggendong Xabara membawa Istrinya kembali memasuki Vila, Xabara melingkarkan tangannya dileher Rovert.
"dimana Mom?" tanya Xabara mengedarkan pandangannya.
"aku menipu Mom tadi mengatakan kamu sedang tidur jadi dia langsung tidur." jawab Rovert berbisik.
Xabara pun tidak lagi bertanya sampai mereka berdua sudah berada di Kamar,
Rovert sedang dikamar mandi sedangkan Xabara terdiam memikirkan Kematian Keluarganya.
"ada yang merekomendasikan Keluargaku?" gumam Xabara.
"siapa dia? apa dia musuh Papa? atau musuh Mama?" gumam Xabara menebak-nebak.
Xabara meremas rambutnya, "kenapa aku tidak memikirkan hal itu?" batin Xabara merasa geram dengan kebodohannya itu yang terlalu percaya diri sehingga tidak memikirkan hal terkecil.
.
__ADS_1
.
.