Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
penasaran


__ADS_3

.


.


.


ke esokan harinya,


Xabara dan Rovert menginap di Mansion Ratu, disana mereka berdua terus saja bertengkar didepan Ratu tapi Ratu bukannya marah malah tertawa terpikal-pikal.


"sini kau!!?? hanya karna kau seorang Tuan Muda Maldev kau berani mengejekku ha??" teriak Xabara yang sifat bar-barnya keluar begitu saja.


Rovert malah beranjak pergi dengan senyum ledekannya, Para pelayan sampai merinding akan amarah Xabara ketika Rovert memancing Istrinya.


"tidak ada yang bisa melawan Tuan Muda Maldev." ujar Rovert santai.


"tidak ada yang mengalahkan Nona Maldev." pekik Xabara berlari diatas kursi.


Ratu tertawa sampai air matanya menetes, Rovert yang tidak pernah berlari karna sifat Arogannya itu kini berlari menjauhi kejaran Xabara.


"kemari kauu!!?? Nona Maldev memerintahmu!" teriak Xabara.


"aku Tuan Muda Maldev." ketus Rovert.


Xabara yang tidak pernah kalah sampai melompati Kursi hingga Ratu terkejut lalu Ia semakin syok lagi ketika Xabara bersalto ke arah Rovert yang cepat menunduk malah berbalik ke tempat lain.


"Rovert!!" geram Xabara berlari ke arah Rovert.


Bughhh!!


Xabara meninju punggung Rovert tapi segera Rovert berbalik, Ratu terperangah melihat perkelahian sengit sepasang suami Istri itu bahkan para pelayan sampai menganga dan lupa menutup rahang mereka saking syoknya menonton pertarungan itu.


"kau fikir aku wanita lemah hah? aku tidak akan kalah darimu." marah Xabara.


"aku tidak pernah kalah dari perempuan." kata Rovert malah suka menantang Xabara.


"dia imut sekali ketika marah." batin Rovert diam-diam merasa gemas.


Xabara melototkan matanya, Ia benar-benar tidak menyangka akan ada Pria yang bisa begitu menyebalkan seperti Rovert bahkan berani menantangnya.


"kau mau aku tembak ha??" ancam Xabara memperagakan pistol ditangannya padahal tidak ada.


"benarkah? nanti kau jadi Janda." ejek Rovert.


"Matiii !!" Xabara menembak dengan cara yang lucu ke Rovert sambil memanjat ke punggung Rovert.

__ADS_1


"Monyet!! lepaskan aku, apa kau akan marah hanya karna aku berkomentar tentang tingkahmu diatas ranj*ng ha?? aku bicara apa adanya." gerutu Rovert.


"kau fikir kalau kau hebat diatas ranj*ng?? aku hanya belum berpengalaman." Xabara memukul-mukul kepala Rovert.


pertengkaran mereka memang bermula dari pertanyaan Ratu tentang Ranjang dan berakhir dengan adegan perkelahian keduanya, entah sandiwara atau tidak tapi Ratu benar-benar terhibur.


"mati kau !!" geram Xabara meletakkan jari telunjuknya di pelipis Rovert dan menarik pelatuk.


tingkah mereka yang seperti itu kembali membuat Ratu tertawa terbahak-bahak, seketika Xabara dan Rovert menoleh ke Ratu.


"Mom?? lihat? menantumu ini sangat bar-bar." adu Rovert.


bugghh!!


Xabara tanpa hati memukul kepala Rovert yang mengaduh kesakitan, Xabara segera turun dari punggung Rovert.


"maaf Mom! dia buka-buka hal yang tidak seharusnya dibahas." ucap Xabara menunduk hormat dengan anggun walau rambutnya berantakan.


Ratu berlari ke arah Xabara dan mencium kening serta memeluk Xabara dengan gemas.


"kamu pasti tidak mau tinggal disini karna hal ini kan??" tebak Ratu.


"yess!! mengerti juga." batin Xabara berpura-pura tidak tau.


"Mom sangat menyukainya sayang, anak itu memang harus memiliki pawang yang hebat. wajar saja dia tidak bisa diatas ranjang sayang karna dia itu dikenal g*y. Mom sempat khawatir kalau Mom tidak akan punya cucu karna dia suka bat*ngan." Ratu bersikap terang-terangan membahas Rovert.


"Mommm??" rengek Rovert memperingati.


"benar Mom! dia tidak pandai tapi menyalahkanku." Xabara menatap sengit Rovert yang membuang muka.


Ratu mengelus perut datar Xabara, "tidak apa sayang!! kalian bisa pelan-pelan melaluinya dan pada akhirnya akan menjadi Profesional lalu pasti punya keturunan."


Rovert yang berlalu wajahnya sudah memerah, "Mom menantumu itu hanya bersandiwara." batin Rovert merasa tubuhnya sangat panas lalu memilih kembali ke Kamarnya.


Xabara tersenyum lebar, "jadi Mom jangan desak kami ya?? kami belum profesional dan masih banyak malu-malunya." cicit Xabara bertingkah layaknya perempuan pemalu tingkat dewi.


para pelayan benar-benar terhipnotis dengan akting Xabara yang seperti itu, Xabara terlihat jujur bahkan tidak memakai topeng manis dan anggun saat bersama Ratu. mana mungkin mereka tau Xabara berbohong sedang Xabara berakting sangat natural dan hidup sehingga celah untuk curiga itu tidak akan pernah ada walau hanya setitik ujung pensil.


.


beberapa jam kemudian,


Xabara memasuki kamar Rovert dan duduk lemas di sofa tepat disamping Rovert yang tengah bersantai membaca majalah bisnis Internasional.


"aktingmu sungguh mengerikan !! aku akui kau sangat pantas mendapat Trofi kebanggaan, aku sampai menangis melihat aktingmu tadi." Rovert memuji entah menyindir Xabara.

__ADS_1


Xabara memukul paha Rovert, "aku tidak tahan dengan pertanyaan Mom yang selalu menanyakan tentang anak padaku jadi aku terpaksa melakukan hal itu. kau tidak tersinggungkan??"


Rovert terkekeh, "kenapa aku harus tersinggung??"


Xabara mengangguk payah, "jujur menghadapi Mom-mu jauh lebih merepotkan dari pada menghadapi 100 Mafia hebat yang mengeroyokku."


Rovert sekali lagi berdecak pelan, "Mom memang merepotkan !"


Rovert tak heran Xabara membahas medan perang karna sudah tau Xabara anggota Higanbana bahkan Ketua nya.


Xabara menghela nafas panjang, "hidupku kacau sejak bertemu denganmu."


Rovert terdiam, "hmm??"


Xabara tersenyum tipis, "tapi aku senang bisa merasakan kasih sayang Ibu setelah sekian lama."


Rovert tertegun tapi tidak bertanya apa-apa hanya melirik Xabara yang tersenyum sendu seperti menyimpan banyak luka yang sangat dalam.


"sebenarnya apa masalahmu Xabara?? umurmu masih 25 tahun tapi sudah menjadi Ketua Mafia yang sangat disegani, umur berapa kau menjadi seorang pembun*h??" batin Rovert.


saat Rovert berumur 17 tahun sosok Ratu kematian itu sudah terkenal tapi tidak tau kalau Ketua Higanbana sangat muda, Rovert tidak bisa membayangkan sosok gadis kecil sangat ahli menghabisi nyaw* orang. selisih umur Rovert dengan Xabara hanya 3 tahun saja, berarti Xabara sudah bisa memb*nuh di umur 14 tahun.


"disaat anak-anak lain masih sekolah dan suka main boneka tapi Xabara harus berlatih hal ekstrim, apa aku benar? Xabara!! bersandarlah padaku!!" batin Rovert merasa kasihan pada Xabara.


Xabara memang sosok yang ditakuti tapi Rovert bukan orang bodoh yang tidak tau mengapa Xabara memilih jalan sesulit itu, pasti ada alasan.


Xabara tertidur di sofa lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin.


"Ti--Tidakkk!!?? Ja--Jangaaannn!!" racau Xabara seketika.


Rovert menoleh ke Xabara dengan cemas memegang kening Xabara yang basah, "haisshh?? apa dia berkeringat??" gumam Rovert kaget.


Rovert menyambar tisu dimeja dengan cepat lalu mengelap wajah Xabara, "Xabara !!? Xabara??"


Rovert menepuk-nepuk pipi Xabara untuk cepat sadar, "Xabara?? bangunlah!! Xabara?"


Xabara tidak menunjukkan reaksi apapun, Rovert memeluk Xabara dengan cepat dan mengelus kepala Xabara begitu lembut.


"Xabara!! tenanglah aku disini, aku ada disisimu. aku akan melindungimu." ucap Rovert berkaca-kaca khawatir mengapa sosok yang Ia anggap kuat itu tengah ketakutan akan sesuatu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2