
.
.
.
di tempat lain,
Bus yang akan di An dan Ana pun telah tiba,
semua anak-anak sekolah memasuki Bus dibantu oleh guru-guru yang menjaga anak muridnya.
An dan Ana duduk berdua dan tidak ada masalah sama sekali diantara banyak anak sekolah malah anak-anak begitu bahagia karna akan jalan-jalan.
Ana tidak sengaja melihat supir Bus mereka dan mata nya memicing curiga, "An?" bisik Ana ke An.
An menoleh ke Ana dengan heran lalu Ana mendekatkan bibirnya ke telinga An untuk memberi tau kecurigaannya, An pun akhirnya merasakan ada yang berbeda dengan supir itu.
"sebenarnya pelasaan apa yang kita punya Ana? kenapa kita bisa melasakan hal sepelti ini?" tanya An dengan heran.
Ana mengangkat bahunya lalu berdecak pelan, "pasti papa yang punya ide begini."
tidak ada bantahan lagi diantara mereka, baik An maupun Ana menganggap supir itu angin lalu hingga tiba-tiba Mobil Bus yang sejak tadi sudah jalan harus berhenti membuat para guru didalam memekik dan anak-anak celingukan kedepan.
"maaf bu guru..! ada Mobil yang menghadang jalan kita." ucap supir Bus bayaran Rovert.
sikembar hanya melihat ke depan dan ke samping ternyata puluhan Orang sudah mengepung Mobil Bus mereka, sikembar yang masih kecil tentu hanya menatap heran mereka semua.
"apa pekeljaan meleka tukang belhenti-in Mobil?" tanya Ana dengan linglung.
"iya mungkin." jawab An.
An dan Ana hanya selisih 5 menit dan Ana juga tidak mau memanggil Abang ke An karna harga dirinya yang tidak mau dikatakan adik, jadi mereka hanya berbicara layaknya teman saja.
"KELUAR!!?" teriak para Orang jahat di luar sana.
"bagaimana ini?" panik salah satu guru didalam Bus.
"pegangan semua..? saya akan bawa kendaraannya." teriak si Supir.
__ADS_1
Mobil Bus yang tadi berhenti tiba-tiba melaju dan sengaja menabrak Mobil yang menghadangnya serta menyorongnya sampai berpindah karna menghalangi jalan, Orang-orang yang menghadang Bus itu berteriak tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa berlari ke Mobil yang masih bagus lalu mengejar Busnya An dan Ana.
si Supir segera menghubungi Rovert dan memberitau situasinya, betapa terkejutnya Rovert segera Ia menanyakan lokasinya dan menyusul, sepanjang jalan Rovert juga mengabari Xabara yang marah seperti Singa liar yang lepas akan mengamuk.
didalam Bus,
anak-anak seumuran An dan Ana menangis histeris di dalam Bus normalnya anak kecil karna ketakutan sementara para Guru menenangkan murid yang bisa di tenangkan hanya Sikembar Maldev saja tidak menangis, tidak takut atau pun khawatir.
"kenapa kalian baik-baik saja Ana? An?" tanya salah satu guru kaget melihat ekspresi sikembar biasa saja.
"kenapa halus menangis? kalian belisik sekali." kata An.
"bosan dengalnya." sambung Ana juga.
si Guru wanita menjatuhkan rahang nya yang terbuka semakin lebar saja mendengar perkataan Ana yang tidak normal menurutnya.
ditengah pengejaran Mobil dibelakang mereka sikembar masih bisa tenang tanpa rasa takut sedikitpun, hingga bantuan pun tiba.
Rovert ternyata menghubungi Polisi untuk menahan Orang-orang itu dengan cara Razia besar-besaran anehnya Mobil Bus yang An serta Ana tumpangi tidak diberhentikan sama sekali.
Para Mobil yang mengejar Bus itu tentu dihadang oleh Polisi dengan jumlah tidak biasa, para Polisi tanpa segan menembak ban mobil mereka sampai pecah sehingga semua menjadi lebih terkendali.
ketika sudah tiba di Lokasi StudyTour semua anak-anak berlarian keluar Bus dengan riang hanya An dan Ana saja yang begitu tenang seperti sudah dewasa hingga guru-guru merasa takjub dengan tingkah sikembar yang sangat unik tapi juga menggemaskan ketika bertingkah seperti Orang dewasa dengan tubuh kecil mereka itu.
"sayang?" panggil Rovert membuat para guru berbalik dan terkejut dengan kedatangan Tuan Muda terkaya itu.
"Papa?" An dan Ana pun tidak menyangka Rovert akan datang ke tempat perkumpulan mereka.
Rovert berlari ke arah sikembar lalu berjongkok didepan anaknya serta memeluk mereka dengan penuh kasih sayang.
"bagaimana keadaan kalian nak?" tanya Rovert dengan cemas.
"Papa An sudah besal." kata An dengan serius.
"kenapa Papa lepot-lepot bayal supil?" tanya Ana.
Rovert kaget ternyata Sikembar menyadari mata-mata yang ia utus, lalu Rovert meminta izin pada guru membiarkannya berbicara dengan kedua Putra-Putrinya. tidak ada yang melarang sang Penguasa itu.
kini Rovert membawa sikembar ke dalam Mobilnya dan menatap sikembar dengan serius, "kalian sudah besar tapi kalian adalah anak kami sayang, apa kalian tidak mau tau kenapa kami sangat posesif pada kalian hmm?"
__ADS_1
Sikembar menggeleng kepala.
Rovert memangku kedua anaknya dan membubuhi kecupan di kening sikembar, "Papa banyak musuh yang jahat ingin menghancurkan Papa, mereka mengira kalian adalah anak yang lemah yang bisa di jadikan kelemahan Papa dan Mommy."
An melototkan matanya, "An bukan anak lemah."
"enak aja..! siapa yang bilang begitu? kakak akan habisi olang itu." bantah Ana juga.
Rovert tersenyum, "tapi kalian memang bukan anak lemah hanya saja mereka sangat licik dan bisa saja bermain curang."
Rovert merasa anaknya memang sudah dewasa sebelum waktunya, mereka malah berbicara yang bisa membuat Rovert merasa tenang.
"kalau begitu pegang ini An, Ana." Rovert mengeluarkan sebuah kotak persegi lalu mengaturnya ke jari sikembar sebagai sandi benda persegi itu.
sikembar hanya melihat-lihat dengan serius benda apa yang diberikan oleh Papanya.
"udah nak..! kalian tekan dengan Ibu jari tangan kalian." pinta Rovert.
Sikembar pun menekannya tiba-tiba mata mereka melebar melihat benda apa yang keluar dari dalam kotak itu.
"bagaimana? kalian sudah berlatih sangat lama tanpa sepengetahuan Papa dan Mommy kan? kalian bisa menggunakannya ketika terdesak." tanya Rovert.
An berubah sangat senang sedangkan Ana memekik riang langsung melompat memeluk Rovert serta mengucapkan terimakasih diberi hadiah berupa pisau yang didesain khusus untuk Putra-Putrinya.
"kalian pergilah..! Papa harus kembali lagi, kalian aman kan Papa tinggal?" tanya Rovert dengan serius.
"aman Pa..? Terimakasih." ucap An pun memeluk Rovert yang tersenyum lembut mencium puncak kepala kedua Putra-Putrinya.
"tapi Papa mohon jangan sampai Mommy dan Nenek kalian tau ya? nanti Papa bisa bermasalah." pinta Rovert memelas ke Anak kembarnya.
"siap..!!?" jawab sikembar serentak dengan hormat ala prajurit membuat Rovert tertawa.
Rovert pun mengantarkan sikembar kembali ke gurunya lalu pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Rovert memang sudah memanjakan Sikembar sejak kecil berbeda dengan cara Xabara merawat Putra-Putrinya supaya tidak membangkang atau saling mencelakakan sesama.
.
.
__ADS_1
.