Identitas Tersembunyi Nona Xabara

Identitas Tersembunyi Nona Xabara
dari mana belajar nya


__ADS_3

.


.


.


"Irene?" panggil Aya sementara Xabara memegang bahu Irene.


Irene menatap mereka berdua bergantian lalu menggeleng kepalanya sambil tersenyum, "tidak apa..! dia Romi hmm..? bisa dikatakan Cinta pertamaku."


Xabara dan Aya saling pandang seolah langsung mengerti kalau Irene masih menaruh hati pada mantannya itu.


"bukan-bukan. ! dia bukan pacarku, kami sama sekali tidak pernah berpacaran." jelas Irene seolah mengerti alur pemikiran kedua temannya itu.


Xabara memicingkan matanya, "Orang bodoh pun tau kalau kau masih menyukainya."


"Tidakkk!! aku tidak menyukainya, ak-aku hanya takut padanya." cicit Irene.


"kita duduk aja.!" ajak Aya seakan tertarik dengan cerita Irene.


Aya dan Xabara menuntun Irene yang masih gemetaran serta tangannya terasa dingin.


"ceritakan..!" pinta Xabara serius.


Irene menarik nafas dalam-dalam, "di-dia Romi memang pernah aku sukai tapi dia berpacaran dengan sahabatku setelah menid*ri sahabatku dia malah memutuskan sahabatku hanya karna dia tidak peraw*n lagi lalu menyatakan perasaannya padaku setelah putus 2 hari dengan sahabatku."


"menurut kalian siapa yang tidak akan marah coba? dia memutuskan sahabatku lalu menyatakan perasaannya padaku karna dialah sahabatku memusuhiku padahal kami sudah berteman baik sejak masuk SMA, sahabatku benci padaku dan menyebarkan berita di kampus kalau aku merebut kekasihnya dan bilang aku musuh dibalik selimut."


Xabara dan Aya mendengarkan cerita Irene dengan seksama.


"lalu siapa sahabatmu itu?" tanya Xabara.


"bagaimana kabarnya? dimana dia?" sahut Aya juga.


"akita....! aku pernah dengar dia hamil. terakhir dia menghubungiku dan memakiku mengatakan kalau akulah penyebab dia putus dengan Romi setelah itu aku tidak melihatnya lagi, beberapa hari kemudian temanku meninggal di Rumahnya banyak yang bilang kalau dia bun*h diri dan saat itu satu kampus memusuhiku. huhh..! aku tidak tau harus bagaimana lagi, bisa dikatakan Romi yang membuat kekacauan dalam hidupku."


"aku dituduh sebagai Orang yang telah menghabisi sahabatku, hiks.. hiks..! ak-aku sama sekali tidak pernah berniat menghancurkan hidupnya." tangis Irene akhirnya pecah seketika.


Aya mengelus-ngelus kepala Irene lalu memeluknya sambil memandang ke arah Xabara yang menatap lurus kedepan sepertinya pemikiran Xabara sama dengan apa yang Aya pikirkan.


"Xabara? Aya? kalian tidak akan meninggalkanku kan? Xabara,, kamu adalah satu-satunya Orang yang mau berteman denganku ketika semua Orang menganggapku jahat sampai tidak mau dekat denganku." Irene menoleh ke Xabara.


Aya tidak menyangka kalau Irene punya masa lalu serumit itu dan Ia penasaran apakah Xabara tau masalalu Irene sampai mau berteman dengan Irene karna setaunya pribadi XeniaXabara memang seperti itu, sekarang ia mengerti mengapa Irene begitu lengket pada Xabara.

__ADS_1


Xabara menoleh ke Irene, "aku tidak akan menjauhimu."


"ter-terimakasih Xabara...! jujur saja selama ini aku tidak berani didekati oleh dia karna Ray ta-tapi sekarang sepertinya dia kembali pasti sudah tau Ray tidak waras sehingga tidak mungkin melindungiku lagi." ucap Irene dengan mata memerah.


Xabara melihat ke arah Aya yang merasakan hal yang sama tapi mereka juga tidak punya pilihan selain membuat Ray gila sebab menurut mereka itu sudah hukuman yang paling ringan.


"kami akan menjagamu..! tenanglah..!" ujar Aya memeluk Irene kembali.


beberapa saat kemudian,


Lion berlari dengan pakaian serba hitam, memakai masker serta topinya dengan warna yang senada, tak lupa tangannya juga dibungkus dengan sarung kulit khusus. Lion terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang lalu Ia melihat layar ponselnya segera dijawab olehnya.


"baby !!? kamu dimana?" tanya Lion cemas.


Irene pingsan lalu Aya menghubungi Lion dengan ponsel Irene untuk menjemput Irene yang tiba-tiba saja sakit.


"aku Aya...! lihat jarum jam angka 5." titah Aya yang menjawab panggilan Lion.


Lion melihat ke arah yang diberitau oleh Aya, Ia berlari dengan langkah lebar ke arah Irene lalu memegang kedua bahu Irene dan menangkup pipi Irene.


"kenapa dia tiba-tiba bisa pingsan?" tanya Lion khawatir.


"dia ketemu kesialannya." jawab Aya.


"bawa dia ke Rumah Sakit." titah Xabara dengan sorot mata tajamnya.


Lion mengangguk, "tolong kabari aku..!?" pinta Lion serius lalu tanpa berpamitan lagi Ia buru-buru meninggalkan Xabara dan Aya.


Aya memijit pelipisnya, "jadi tebakan kita apakah memang benar?" tanya Aya ke Xabara yang diam seperti memikirkan sesuatu.


"tidak ada yang kebetulan cari tau secepatnya sebelum hari pernikahan Lion dengan Iren." jawab Xabara.


"hnm..!" sahut Aya dengan patuh.


mereka pun berjalan bersama layaknya wanita normal yang sangat suka berbelanja.


di dalam Mobil,


"apa kamu sudah tau kalau Irene punya masalalu seperti itu Xabara?" tanya Aya penasaran.


"hmm..!" jawab Xabara.


Aya tidak lagi bertanya karna Ia tau Xabara memang suka berteman dengan Orang yang punya masa lalu sulit karna menurut Xabara hal itu merupakan cerminannya.

__ADS_1


"aku tidak menyangka, dia keliatan sebagai gadis periang biasa yang sepertinya diperlakukan seperti Tuan Putri." gumam Aya sungguh tidak mengerti bagaimana Irene bisa bertahan selama itu dicap sebagai pembunuh sahabatnya sendiri.


"tidak apa..!? itu sebabnya aku sedikit bersemangat mencarikannya Pria dari kalangan kita supaya bisa menjaganya." jelas Xabara.


Aya mengangguk membenarkan, anggap saja Lion pengganti Ray bagi Irene bahkan jauh lebih baik lagi sebab Lion pandai memasak sementara Ray pasti pandainya bertarung saja.


.


ke esokan harinya,


Xabara mendatangi Perusahaan Rovert serta meminta bantuan Rovert mencarikannya identitas anak-anak kampus yang tamat ditahun tertentu supaya Xabara bisa menemukan identitas Romi yang sebenarnya karna Ia yakin ada yang ditutupi oleh Romi dilihat dari sorot mata Romi ketika memandang Irene.


Xabara tidak mungkin bertanya pada Irene yang hanya membuat luka lama Irene semakin menguak lebar saja, biarlah Xabara mencari tau.


"untuk apa sayang?" tanya Rovert sambil membenahi rambut Xabara yang semakin panjang dan Xabara semakin cantik saja dengan rambut warna abu-abu gelapnya itu.


"aku tidak menyuruhmu bertanya, mau bantu atau tidak?" tanya Xabara dengan tatapan datar.


Rovert mengulum senyumnya, "baiklah..! kebetulan pemilik kampus yang kamu sebutkan itu aku kenal, dia pasti bisa mencarikan seluruh Mahasiswa/i yang tamat ditahun yang kamu sebutkan itu."


Xabara mengangguk lalu berbalik tapi dipeluk dari belakang oleh Rovert, "lepas..!" pinta Xabara dengan suara rendah.


"sayang kita sudah lama tidak makan berdua di luar, bagaimana jika kita makan siang berdua hmm?" tanya Rovert setengah berbisik.


"ya sudah lepaskan tanganmu." pinta Xabara.


Rovert melepaskan tangannya sambil menatap punggung Xabara dari belakang sungguh kelihatan seksi dan begitu cantik, pantas saja Xabara tidak pernah membuat seorang Rovert bosan selalu saja jatuh cinta pada Xabara dilihat dari segi manapun.


Rovert mengelus rambut ikal Xabara yang panjang, "rambutmu indah sekali sayang."


Xabara berjalan saja meninggalkan Rovert yang segera berlari menyusul Xabara, Ia juga merangkul bahu Xabara sambil bertanya keadaan si kembar di Mansion.


"kan nanti kamu juga akan melihat mereka." jawab Xabara.


"kamu tidak tau sih kalau aku sangat mencintai buah cinta kita itu, dan lagi bagaimana Ana pandai mencuri hmm?" gemas Rovert.


Xabara menghentikan langkahnya dan menoleh ke Rovert, "Ana? bukan An?"


"An juga?" tanya Rovert kaget.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2